Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Arwah Penunggu Lukisan


__ADS_3

*Hai reader, maafkan saya selaku author kalau kemarin tidak memberitahukan kalau ada surprise di dalam ceritanya.


Di cerita ini, ada satu visual dari judul cerita ya..


sudah itu saja yang saya sampaikan, selamat membaca..


Semoga suka.. salam sayang dari author*.


***


Cukup lama kami di Mall ini, satu persatu belanjaan ibu sudah terpenuhi. Kami pun memutuskan untuk pulang.


Selepas itu, kami berempat mulai melangkahkan kaki menuju parkiran mobil, aku dan Dinar yang masih merasa ketakutan akan kejadian tadi hanya menggandeng tangan ibu.


"Ibu, nanti sihan (si hantu) keluar lagi gimana?" tanyaku.


"Makanya jangan kamu omongin, nanti dia keluar lagi loh," jawab Ibu.


"Ibu mah gitu, malah nakut-nakutin," ucapku sembari cemberut.


Sampailah kita di dekat mobil, aku dan Dinar bergegas memasuki mobil.


"Buruan Yah," kataku.


Ayahku tidak menjawab apapun, beliau hanya tersenyum sembari Menggelengkan kepalanya.


Ayah mulai melajukan mobilnya dengan perlahan, di perjalanan pulang aku melihat jalanan sekitar, merasa kalau ini bukan arah pulang ke rumah.


"Tante, Om, ini bukan jalan pulang kan?" tanya Dinar.


Ternyata Dinar memikirkan hal yang sama denganku.


"Bukan Din, ini Om mau mengajak kita ke rumah temannya, katanya mereka sekeluarga mau minta bantuan ke kami," jawab Ibu.


"Bantuan apa Bu?" sahutku mencoba bertanya.


"Belom tahu Nak, tadi sebelum kami berdua jemput kalian, teman Ayah telfon katanya suruh ke sana," jawab Ibuku lagi.


"Ibuku, mengizinkan ga Tante?" tanya Dinar.


"Kamu, sudah di izinin kok sama Ibumu, tadi Tante sudah bilang kalau mungkin seharian kamu bakal kami ajak jalan," jawab Ibu.


"Oh, iya Tante, makasih," ucap Dinar.


kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat yang akan di tuju. Perjalanan kami cukup lama, karena jalanan cukup macet.


"Macet banget ya Yah," kataku.


"Iya Dek, biasanya jalanan sini lenggang, kok tumben macet," sahut Ayah.


Ayah hanya bisa melajukan mobilnya secara perlahan, karena di depan aku lihat lagi ramai di jalanan.


"Ada apa sih, Yah? kok rame banget," tanya Ibu.


"Kecelakaan mungkin Bu," ucapku.


Kami berempat merasa penasaran, soalnya jalanan padat merayap, tapi banyak orang di pinggir jalan.


Perlahan kami mulai mendekat, ternyata benar ada truk bertabrakan dengan mobil pribadi.


"Beneran kecelakaan itu, Key," ucap Dinar.


"Iya, padahal jalan searah kok bisa," kataku.


"Sopir truknya ngantuk mungkin, itu kan kelihatan dia dari arah sana," ucap Dinar dengan menunjuk truk yang arahnya beda sama kita.


"Makanya, kita sebagai pengendara kalau merasa lelah lebih baik istirahat, lama ga papa asalkan kita selamat," sahut Ayah mencoba menasehati.


"Iya Yah, ini rumahnya masih jauh ya?" tanyaku.


"Bentar lagi Dek, sehabis lampu lalu lintas di depan," jawab Ayah.


Tak begitu lama, sampailah kita di depan rumah teman ayah. Kami semua pun turun.


Aku dan Dinar hanya mengikuti Ibu dari belakang.


Tok tok tok...


Ayah mengetuk pintu.

__ADS_1


"Iya sebentar," dari dalam terdengar suara orang menjawab ketukan pintu Ayah.


Pintu pun mulai terbuka, aku melihat di sana ada seorang ibu muda seumuran ibuku, beliau melemparkan senyuman manisnya ke arah kami.


"Mari masuk," ucapnya.


Tanpa basi-basi, kami melangkahkan kaki ke dalam rumah.


"Silakan duduk, saya panggilkan Mas Adi sebentar," ucapnya lagi.


Beliau, pergi meninggalkan kami di ruang tamu. Kebiasaan buruk ku, melihat rumah yang tampak asing bagiku pasti mataku melihat-lihat, memutari setiap sudut ruangan yang dapat dijangkau penglihatan ku.


"Lukisannya banyak banget," kataku.


"Iya Dek, teman Ayah ini suka banget koleksi lukisan yang menurut dia bagus," jawab Ayah.


Begitu banyak lukisan di ruang tamu ini, tetapi mataku terfokus ke salah satu lukisan yang menurutku aneh, yaitu dua mata seperti sedang mengintip kita.



Aku melihatnya, lukisan itu tampak seperti melihat ke arahku.


"Bu, lihat deh lukisan itu," kataku menunjuk ke arah lukisan.


"Itu lukisan dua mata... Itu dari mata orang berbeda deh," kataku lagi.


"Terus kenapa Dek?" tanya Ibu.


"Lihatin deh Bu, semakin kita menatapnya, kaya aneh gitu rasanya," ucapku.


"Perasaanmu doang Key," sahut Dinar.


Pemilik rumah pun, menghampiri kami yaitu seorang perempuan yang tadi membukakan pintu untuk kita dan seorang pria.


"Hai Bro, apa kabar? lama ga pernah ketemu," ucap Pria yang menurutku adalah pemilik rumah ini.


"Baik, kalau tidak kamu yang menghubungi aku, mungkin aku juga ga akan datang ke sini," jawab Ayahku.


"Ini anakmu semua?" tanyanya lagi.


"Bukan, ini anakku, Keyla namanya," jawab Ayah sembari menunjuk kearahku.


"Hallo Om, aku Keyla," ucapku sembari menjabat tangan pria itu.


"Kalau ini, namanya Dinar, dia teman dari anakku," ucap Ayah gantian menunjuk Dinar.


"Hallo Om," ucap Dinar dengan menjabat tangan Om Adi.


"Tumben, ada perlu apa kamu menyuruhku ke sini?" tanya Ayah.


"Begini, kamu tahu sendiri aku baru sebulan pindah ke sini, nah selama itu juga anakku gelagatnya menjadi aneh," jawab Om Adi.


"Anehnya bagaimana sih, Di?" tanya Ayah.


"Jadi pendiam, aneh banget deh, biasanya dia periang banget," jawab Om Adi.


"Om, kenapa ada lukisan mata itu?" sahutku.


Aku yang merasa penasaran, mencoba memberanikan bertanya.


"Oh, itu pemberian dari salah satu teman Om, Dek, kenapa?" tanya Om Adi.


"Ada penunggunya, mending di buang mungkin itu salah satu penyebab anak Om ketakutan," ucapku.


"Anakmu bisa lihat hantu?" tanya Om Adi ke Ayah.


"Iya begitulah, coba anakmu panggil saja, siapa tahu kalau sama anakku mau cerita," saran Ayah.


"Mah, Sasa panggil saja ajak ke sini," Om Adi menyuruh istrinya.


Istri Om Adi tanpa menjawab langsung berdiri dari tempat duduknya, untuk memanggil Sasa anak dari Om Adi.


"Namanya anak Om, Sasa?" tanyaku.


"Iya, namanya Keysa tapi biasa di panggil Sasa," jawab Om Adi.


"Kaya namaku, tapi beda belakangnya saja," ucapku sembari tersenyum.


Dari lantai atas, terlihat istri Om Adi sedang menggandeng anak perempuan yang terlihat tak jauh umurnya denganku.

__ADS_1


"Seusiaku juga kah Om?" tanyaku lagi.


"Dia sudah SMA kelas 1 tahun ini, kalau kamu?" Om Adi berbalik bertanya.


"Oh, ga beda jauh ya Om, selisih 1 tahun saja sama aku, aku kelas 3 SMP tahun ini," jawabku.


Istri Om Adi dan anaknya yaitu si Sasa sudah berada di dekat kami, aku melihat Sasa tampak menunduk tidak berani menatap sekelilingnya.


"Hai Kaka Sasa, aku Keyla," aku memperkenalkan diri dengan menyodorkan tanganku ke arahnya.


"Aku Sasa," ucapnya singkat dengan membalas jabat tanganku.


Dia masih tetap berdiri dan tampak gelisah.


"Mah, Pah, aku naik ke atas lagi Ya?" ucap Sasa.


"Duduk sini saja Kak, dekat Aku sama Dinar," ucapku menawari.


"Maaf Keyla, aku takut di bawah, naik aja yuk ke kamarku," ajak Sasa.


"Kamu takut mereka ya Kak?" ucapku sembari menunjuk ke arah lukisan mata.


Di sana sebenarnya dari tadi aku melihat, ada dua anak perempuan terlihat samar-samar.



"Iya, kamu kok tahu?" tanya Sasa.


"Iya, aku bisa melihat mereka, selama lukisan mata itu masih di sini, mereka pun juga masih di sini,"jawabku.


Sontak mama dan papa Kak Sasa langsung melihatku.


"Jadi, lukisan mata itu ada hantunya?" tanya Istri Om Adi.


Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Istri Om Adi.


"Pa, kita buang saja Ya?" ucap Istri Om Ade.


"Buang ke mana Ma?" Om Adi balik bertanya ke Istrinya.


"Kembalikan ke orang yang ngasih aja Om, Tante," saranku.


Mereka berdua tampak memikirkan sesuatu. Hingga seketika Om Adi berdiri dari tempat duduknya.


"Mau ke mana kamu, Di?" tanya Ayah.


"Mau ku kembalikan saat ini juga, kamu temani aku ya?" ajak Om Adi ke Ayah.


Ayah mengiyakan ajakan Om Adi. Mereka berdua mencoba mencopot lukisan itu dari dinding.


Selepas itu, mereka berlalu pergi meninggalkan kami dengan membawa lukisan itu.


Aku mencoba melihat ke arah Kak Sasa.


"Kak, coba deh Kakak lihat, apa Kakak masih takut?" kataku.


Kak Sasa perlahan melihat ke arah dinding, yang sebelumnya ada lukisan mata di sana. Kak Sasa tampak tersenyum dan langsung memelukku.


"Makasih ya, kamu sudah ke sini, jadi mereka pergi dari rumah ini," ucapnya.


"Sama-sama Kak," jawabku.


"Kok kamu tidak pernah bercerita sama Mama sih, Nak?" tanya Mama Kak Sasa.


"Bagaimana mau cerita? Mamah saja jarang di rumah, pasti sibuk kerja," ucap Kak Sasa dengan nada sedikit ketus.


Kak Sasa sedikit demi sedikit, mencoba menceritakan yang selama ini dialaminya, selama keberadaan lukisan itu di rumah ini.


"Begini, kalau siang aku hanya melihat mereka di sekitaran lukisan, kalaupun malam juga begitu,"


"Tapi, walaupun malam mereka hanya di situ tetapi tawa mereka sampai terdengar dari lantai atas kamarku, tawa mereka menakutkan," cerita Kak Sasa.


"Tapi, gak pernah mengganggu kamu kan?" tanya Mama Kak Sasa.


"Ga ganggu gimana Mah? kalau malam aku takut tidur, aku mendengarnya dari tengah malam sampai hampir terdengar adzan subuh mereka baru diam,"


"Aku hampir gila Mah, aku ketakutan," ucap Kak Sasa.


"Maafin Mama ya, Nak," ucap Mama Kak Sasa sembari memeluknya.

__ADS_1


Kami meneruskan ceritanya, hingga Ayah dan Om Adi telah kembali ke rumah ini.


Sesampainya ayah ke rumah ini, kami langsung berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah mulai menjelang malam.


__ADS_2