
Kami pun beranjak melangkahkan kaki keluar dari rumah Om Adi. Kami menghampiri mobil ayahku yang terparkir di depan rumah. Dari kejauhan, aku melihat di seberang jalan tepat di bawah pohon ada seseorang yg berdiri di sana.
"Ayah," panggilku.
"Iya Dek," jawab Ayah sembari menoleh ke arahku.
"Lihat deh Yah, di seberang jalan, itu beneran orang kan? bukan cuma aku kan yang lihat?" tanyaku, sembari mengisyaratkan wajahku dengan memiringkan ke arah yang aku lihat.
Ayah pun sontak melihatnya.
"Iya Dek, jangan-jangan ada yang mau menyelakai Om Adi lagi," jawab Ayah, sembari melangkahkan balik ke arah pintu rumah Om Adi, dan aku pun mengekor di belakangnya.
Karena Om Adi, istri dan Kak Sasa masih menunggu kepergian kami.
"Di, lihat di seberang jalanmu, kaya ada yang sengaja memata-matai rumah mu,"ucap Ayah memberitahu.
"Sepertinya ada yang berniat buruk lagi, terus aku harus bagaimana?" tanya Om Adi.
"Aku pura-pura telepon polisi, bagaimana?" tanya Ibu.
Mama Kak Sasa bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil handphone nya, sedangkan kami menunggu di teras rumah.
Ibuku yang sedari tadi berada di dekat mobil pun ikut menghampiri, tentunya Pak Kyai dan Dinar pun ikut juga.
"Ada apa, Yah?" tanya Ibu.
"Ada orang di seberang jalan...." ucap Ayah tetapi masih belum selesai.
Mereka yang mendengar ucapan ayah, hendak menolehkan kepalanya pun di berhentikan oleh ayah.
"Stop!" ucap Ayah.
"Kalian jangan menoleh, sepertinya ada orang yang sengaja memata-matai rumah ini, takutnya berbuat yang nekat kepada keluarga ini," ucap Ayah lagi.
Istri Om Adi pun kembali menghampiri kami dengan membawa telepon genggamnya.
"Halo, Pak Polisi, sepertinya ada yang sengaja mau berbuat jahat kepada keluarga kami, boleh kami minta pertolongan," ucap Istri Om Adi yang sendang pura-pura telepon, dengan menaikan suaranya agar terdengar jelas dari jauh.
"Oke, baik kami tunggu, Pak," ucap Istri Om Adi lagi.
"Bagaimana Ma? Pak Polisi segera datang kan?" tanya Om Adi.
"Iya Pa, sudah meluncur katanya," jawab Istrinya.
Hari itu, memang sepertinya keberuntungan sedang berpihak keluarga ini. Tak berselang lama terdengar suara sirine mobil yang mendekat. Kami melihat orang yang sedari tadi berdiri di seberang jalan pun lari tunggang langgang kaya lihat hal yang menakutkan.
"Alhamdulillah, sudah pergi, kalian cepat masuk rumah dan kunci rapat semua pintunya," nasehat Ayah.
__ADS_1
"Oh iya, mending kalian juga kasih cctv yang mengarah ke jalan, tapi aku saranin cctv itu tersembunyi," sahut Ibu.
"Iya juga ya, kenapa dari dulu tidak terpikirkan, kita juga lebih mudah mengetahui sebenarnya selama ini yang meneror kita itu siapa," ucap Istri Om Adi.
"Iya Ma, jadi kita ada bukti buat laporan kepolisian kalau ada perilaku yang buat kita tidak nyaman," sahut Kak Sasa.
Aku melihat Om Adi mengangguk.
"Oke, besok kita juga coba pasangkan cctv itu," jawab Om Adi.
"Makasih ya, buat bantuan kalian semua, jangan lupa cek mobil kalian juga takut ada yang nyalahin mobilnya," ucap Om Adi, mencoba mengingatkan.
Ayah dan Om Adi pun segera mengecek keadaan mobil dan alhamdulillah tidak ada kekurangan apapun di mobilnya. Kami pun kembali berpamitan.
Setelah kami semua memasuki mobil, ayah pun segera melajukan mobilnya.
"Makasih ya Pak, sudah berkenan membantu kami?" ucap Ibu ke Pak Kyai.
"Sama-sama Bu, selama saya bisa membantu kenapa tidak," jawab Pak Kyai.
Tak berselang lama kami oun sampai di depan rumah Pak Kyai.
"Mari Pak, Bu, kalau berkenan mampir terlebih dahulu," ucap Pak Kyai menawari kami sebelum turun dari mobil.
"Makasih Pak, kita langsung pulang saja, kasian anak-anak belum istirahat sedari siang," jawab Ayah.
"Waalaikum salam, mari Pak," ucap Ayah.
Ayah pun kembali melajukan mobilnya, kali ini langsung ke arah rumah Dinar untuk mengantarkannya pulang.
"Makasih Ya Om, Tante, sudah mengizinkan Dinar untuk ikut," ucap Dinar.
"Sama-Sama Din, maaf kalau seharian ini kamu tidak istirahat sama sekali, nanti sampai rumah langsung istirahat ya," jawab Ibu.
"Tidak apa-apa Tante, Aku seneng kok ikut bersama kalian, iya nanti aku langsung istirahat Tante," ucap Dinar lagi.
Tak terasa rumah Dinar pun terlihat, dan hanya hitungan satu menit kita pun sampai di depan rumah Dinar.
"Saya pulang dulu ya Om, Tante," ucap Dinar sembari menjabat tangan Ayah dan Ibu secara bergantian.
"Duluan ya Key," ucap Dinar.
"Iya Din, makasih ya," kataku.
Dinar pun keluar dari mobil, lalu melangkahkan kaki menuju rumahnya. Dia mengetuk pintu, hingga Ibu dan Kakaknya keluar secara bersamaan.
Kami sengaja tidak langsung meninggalkan Dinar, karena itu juga tanda kami untuk memastikan Dinar aman.
__ADS_1
Aku melihat Ibu dan Kaka Dinar tersenyum ke arah kami, lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
"Aku ngantuk banget, Yah," ucapku.
"Mandi dulu sayang, baru istirahat," jawab Ayah.
Kami pun sampai di rumah. Aku turun dari mobil dan menuju teras rumahku. Ibu pun membuka pintu, aku pun bergegas menuju kamarku.
Aku laksanakan perintah ayah, aku segera mandi dan salat. Setelah itu, aku baringkan tubuhku di atas kasur.
Aku pun memejamkan mataku, aku harap aku segera menuju alam mimpiku. tidak butuh waktu lama aku terlelap, tiba-tiba ada suara teriakan dan suaranya berdengung di telingaku.
"Aaaaa," suara teriakan yang membuat telingaku pengang.
Dengan kesal aku pun membuka kembali mataku.
"Bisa tidak sih aku tidur dulu, ga sopan malam-malam teriak-teriak," ucapku kesal.
Aku lihat di atas lemari ku, dia teman gaib ku walaupun setan satu ini menurutku rada sengklek.
"Maaf kuy, ada kecoa," ucap temanku itu.
Aku pun menghela nafasku panjang.
"Esteeeeh, aku ngantuk mau tidur ini, kamu ini setan takut kecoa, tinggal terbang saja tidak perlu teriak," ucapku.
Aku pun kembali mencoba menutup mataku.
"Esther lah namaku, esteh terus dari awal, lupa kalau bisa terbang hehehe," ucapnya dengan sembari tertawa.
Aku mendengar jawabannya kembali membuka mata sembari menepukkan telapak tanganku ke kening.
"Sengklek bener sih, sudahlah mau tidur, aku ngantuk," kataku.
"Key, turunin," ucapnya memohon.
"Kamu naik bisa, kenapa turun enggak bisa? kamu main sana lah," tanyaku.
"Iya aku turun," ucapnya.
Aku berteman dengan Esther sedari aku pulang dari rumah nenekku waktu itu. Entah dia datangnya dari mana aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia sudah nyangkut di atas lemari kamarku.
Nanti deh, next episode aku ceritain kisah soal si Esteh ini, eh Esther maksudku.
***
Ikutin terus ya ceritanya, jangan lupa sebelum dibaca diusahakan like terlebih dahulu. Kalau mau selalu mengikuti kisahnya, jangan lupa klik tombol favorit.
__ADS_1
Kalau perlu di komen juga ya🤗🤗