Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Kematian Nenek Dandi


__ADS_3

Keesokan harinya, adzan subuh berkumandang. Tangisan anak Bu Sumi kembali terdengar di telinga Bu Ina.


"Sayang, sudah bangun. Cari Ibu, yuk. Siapa tahu, Ibu sudah pulang," ajak Bu Ina ke anak Bu Sumi.


Bu Ina dengan sabar menggandeng anak Bu Sumi, yang sudah mulai tenang dengan tangisannya. Mereka berdua membuka pintu rumah dan melihat beberapa orang sudah mulai berlalu lalang sesuai aktivitasnya. Begitu juga dengan keluarga Ranti. Dia bangun dan menyapu halamannya.


"Bu Ina, mau kemana?" tanya Ranti dengan lembut.


"Mau ke rumah sumi ini, Ran. Dia dari sore kemarin nitipin anaknya, tapi hingga hari ini tak ia jemput," jawab Bu Ina.


"Oh iya, Bu," ujar Ranti yang memang selalu tak ingin mau tahu urusan orang lain.


Bu Ina kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Sumi. Ternyata, sedari ditinggalnya, satu pun lampu tak ia nyalakan.


"Ibu!" tangis anak Bu Sumi kembali pecah, kala melihat rumahnya masih tertutup raat dan tak ada penerangan di sana.


"Sabar ya, Nak. Mungkin, Ibu lagi sibuk. Kamu, saat ini aman kok bersama Ibu dan Bapak," ujar Bu Ina mencoba menenangkannya.


Tetapi, Bu Ina tetap memanggil-manggil Bu Sumi, meski tau rumahnya gelap gulita, tetapi tak ada sahutan sama sekali. Hingga membuat tetangganya yang berlalu bertanya-tanya. Saat ada pertanyaan, Bu Ina pasti menjawab hal yang sama.


Bahkan, saah satu tetangganya saat itu memilih untuk memberikan kabar ini ke mantan suaminya Bu Sumi. Beliau pun kebingungan dan menjelaskan jika Bu Sumi tak berada di sana.


"Bu Ina, bawa anak Bu Sumi pulang dulu aja. Kata mantan suami Bu Sumi, nanti anaknya bakal di jemput dia. Tapi, dia juga nggak tahu Bu Sumi berada di mana sebenarnya." Tetangganya memberitahu.


"Baik, Bu. Biar saya bawa pulang, kasihan nangis terus cari Ibunya." Bu Ina agi-lagi mencoba menenangkan anak Bu Sumi yang menangis.


Bu Ina kembali membawanya pulang. Saat ini, Bu Sumi pun menjadi bahan omongan satu kampung gara-gara meninggalkan anaknya semau dia sendiri. Ada yang berpikir ia pergi terbawa laki-laki dan ada juga yang berpikir memang Bu Sumi berniat minggat tak ingin merawat anaknya lagi.


Sejak kejadian itu, hingga saat ini Bu Sumi pun tak pernah pulang. Anaknya pun sudah baik di rawat oleh ayahnya sendiri.


***

__ADS_1


Bu Sumi, hingga saat ini tak pernah menemukan jalan setapak yang ia cari. Walaupun sebenarnya, setelah dua minggu menghilangnya Bu Sumi di desa sebelah tersiar kabar penemuan jasad perempuan yang sudah membusuk.


Tetangga Bu Sumi pun tak pernah mau tahu dan cari tahu, siapa sosok di balik jasad itu. Sebab, mereka semua menganggap jika Bu Sumi memang pergi dengan kemauannya kepada orang lain dan tak pernah berpikir jika Bu Sumi meninggal dunia.


Bu Sumi pun tak pernah menyadari, jika dirinya sudah berada di dunia lain. Dia masih kekeh mencari jalan untuk dirinya pulang ke rumah. Dua minggu yang di lewati di dunia, hanya berasa dua hari di sana.


****


Semenjak kepergian Bu Sumi, kehidupan Ranti pun lebih tenang dan tentram. Tak ada lagi yang mengusik kehidupannya dengan kata-kata pedasnya.


Ranti hidup nyaman, tentram bersama Nando dan buah hatinya hingga akhir hayat yang mampu memisahkan mereka berdua.


____


"Saya anaknya, Dok." Ayah Dandi menghampiri dokter.


"Maaf, Pak. Ibunya sudah meninggal duni," ujar dokter memberitahu.


"Nenek!" teriak Dandi sembari berlari masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat tubuh tua renta Bu Ranti ditutup kain putih. Dandi merengkuh tubuh itu dengan erat, dia menangis tersedu-sedu.


"Bangun, Nek. Jangan tinggalkan Dandi sendirian, aku bersama siapa?" Dandi mengguncang tubuh neneknya yang terbujur tak berdaya lagi.


Ibu Dandi pun mendekat dan mencoba menenangkannya.


"Dandi, pulang bersama Ibu, ya. Kami yang saat ini akan menjagamu," ujar ibunya sembari mengusap kepalanya.


"Pergi! Aku hanya mau, Nenek. Kalian yang seharusnya merawatku dari dulu, kenapa harus Nenek? Kalian jahat!" Dandi dengan deraian air mata tetap kekeh mengusir orang tuanya itu.


"Dandi," panggil ayahnya dengan lembut.


"Pergi! Kalian ke mana saja, saat nenek sakit. Kalian tak pernah peduli denganku dan Nenek. Kalian jahat!" teriak Dandi dengan kencang.

__ADS_1


Dandi merasa terpuruk. Orang yang selama ini diharapkan untuk melihat kesuksesannya harus terhenti hari ini. Rasa yang pernah ia harapkan dan cita-cita yang pernah ia dambakan serasa musnah seketika. Dia merasa sia-sia jika tak ada Bu Ranti di sisinya.


Setelah itu, perawat pun datang. Mereka berniat membersihkan jenazah Bu Ranti sebelum dibawa pulang. Dandi memilih duduk sendiri di ruang tunggu. Tangis haru yang sebelumnya memecahkan keheningan, saat ini sudah tak terdengar lagi.


Dandi hanya sanggup menatap lantai dan melamun. Pikirannya kosong, membuat dia tak merespon siapapun yang mengajaknya berbicara.


"Dandi, Sayang. Pulang, yuk. Doakan Nenek mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya. Kamu harus ikhlas, Nak." Ibu Dandi mencoba merengkuh tubuhnya, tetapi lagi-lagi Dandi mengelak dan menjauh dari orang tuanya.


Dandi memilih jalan sendiri, sembari sesekali mengusap air mata. Jenazah Bu Ranti dimasukan ke dalam ambulance. Meski kedua orang tuanya membawa kendaraan sendiri, si Dandi memilih menemani Neneknya di dalam mobil ambulance itu. Dandi memeluk peti mati yang digunakan Bu Ranti.


"Dek, hapus air matamu. Ikhlas beliau, jangan sampek air matamu yang memberatkan beliau di akherat nanti," tegur salah satu perawat yang ikut mengantarkan jenazah itu.


Mendengar perkataan itu, seketika membuat Dandi mengusap air matanya dengan cepat. Ia mencoba tegar, meski bekali-kali air matanya hendak terjatuh kembali.


Sesampainya di rumah, peti jenazah pun di turunkan dan Dandi menjadi satu-satunya orang terlihat terpuruk dan diam di sana. Saat itu, Dinar yang mengetahui ambulance yang lewat daerah Dandi pun membuat ia bertanya-tanya.


"Dandi? Kenapa ini?" gumam Dinar sembari menuntun sepedanya.


Saat melihat bendera kuning di sematkan di tiang rumah Dandi, membuat jantung Dinar berdegup kencang. Dia tanpa sadar melepas sepeda dalam pegangannya. Luka kehilangan Keyla masih membekas, sehingga dia tak ingin kehilangan Dandi.


Dia berjalan mengamati orang di sekitar itu. Orang berlalu lalang pun ia terobos dengan seenaknya.


"Dek, cari siapa?" tanya salah satu tetangga Dandi.


"Siapa yang meninggal? Dandi di mana?" tanya Dinar dengan panik dan wajah kebingungan.


"Ada, kok. Nenek Dandi yang meninggal, dia ada di dalam. Mari saya antarkan," ajak tetangga Dandi itu.


Dinar pun mengekor di belakang tetangganya Dandi itu, terlihat dengan jelas Dandi menundukkan kepala dan matanya terlihat sembab.


"Dandi," gumam Dinar.

__ADS_1


__ADS_2