
Entah kebodohanku yang terlalu mendarah daging. Sehingga aku yang menyadari bahwa berada dalam alam mimpi, tak bergegas untuk kembali dan bangun karena satu alasan, yaitu penasaran dengan kehidupan Kevin ini.
****
Mobil Kevin melaju menuju ke suatu tempat. Tak begitu jauh dari rumahnya kami pun sampai, terlihat rumah yang kecil dan terpencil.
Aku menengok ke kiri dan kanan. Aku melihat situasi di sekitar rumah ini. Rumah yang di sampingnya banyak pohon dan semak belukar di pinggirannya. Rumah yang terlihat tak terawat, lalu apa tujuan Kevin kesini?
Kevin pun turun dari mobilnya, lalu berjalan menuju rumah ini. Kevin dengan mudah membuka handle pintu itu karena dia membawa kunci di tangannya. Aku kembali melihat keadaan sekitar.
"Ma." Ucap Kevin ketika masuk ke dalam rumah ini.
Aku melongo kala mendengarnya.
"Mama, Kevin datang," ucapnya lagi sembari melangkah menuju ke satu kamar di rumah ini.
Ketika aku mengikuti Kevin masuk, terlihat wanita yang cantik namun tak terawat. Di kakinya terlihat ada rantai yang melingkar di pergelangannya. Wajah yang kusam, rambut yang berantakan, namun bajunya terlihat bersih.
Aku terperangah kala pertama kali masuk ke dalam rumah ini, sebab di halaman depan terlihat mengerikan yang ditimbulkan banyak pohon dan semak belukar. Namun di dalam rumah ini, terlihat rapi dan bersih.
"Anak Mama," ucap Mama Kevin ketika melihatnya.
Kevin pun bergegas memeluk wanita itu, dia terlihat tak canggung untuk menciumnya. Begitu terlihat kasih sayang yang tulus dari wajahnya.
Anak yang ku kira tak sopan ini, terlihat luluh ketika berada di depan wanita yang tak terawat ini.
"Ma, Kevin jemput Mama. Mama nggak pantas tinggal di sini, kita kembali ke rumah Papa, ya," ujar Kevin sembari melepas rantai secara perlahan.
"Papamu akan marah nanti, Mama benar-benar terlihat seperti orang gila. Kamu yakin kan kalau Mama sebenarnya nggak gila?" tanya wanita itu.
Kevin hanya mengangguk sembari tersenyum. Setelah itu mereka beranjak pergi dari kamar itu menuju ke depan. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, aku pun tetap ikut dengan leluasa, sebab mereka tak akan pernah melihatku.
"Ma, ini sisirku. Pakai saja, biar rambut Mama terlihat lebih tertata," ucap Kevin dengan lembut.
Mamanya menuruti keinginan Kevin, beliau dengan susah payah mencoba menyisir rambutnya. Rambut yang lurus namun tak terawat menjadikannya ikal tak beraturan.
Saat itu juga, Kevin kembali melajukan mobilnya, tetapi tak seperti tadi yang menggunakan kecepatan tinggi. Kevin terlihat begitu telaten dan sabar saat wanita ini bersamanya. Entah saat ini ke mana tujuan mereka pergi, aku pun tak tahu.
"Kevin, kamu nggak malu jalan sama Mama?" tanya mamanya.
"Kenapa harus malu?" tanya Kevin.
Mamanya hanya diam dan terus melanjutkan menyisir rambutnya itu.
"Ma, nanti kita ke salon dan boutique juga ya," ajak Kevin.
"Nggak perlu, Nak. Langsung pulang saja, di rumah baju Mama masih banyak di sana," ujar Mama Kevin.
"Mama yakin, jika wanita itu tak membuang baju Mama?" tanya Kevin.
Beliau lagi-lagi hanya terdiam, lalu menundukkan kepalanya.
Tak berselang lama, kami pun berhenti tepat di depan boutique. Kevin turun dengan menggandeng wanita yang disayang. Pertama kali kita masuk, terlihat Kevin dan mamanya menjadi pusat perhatian orang yang berada di sini.
Mereka seakan-akan heran ketika melihat cowok bertampang keren, ganteng dan putih ini menggandeng wanita yang berpakaian lusuh, muka kusam dan rambut berantakan walau sudah di sisir.
"Kevin." Panggil mamanya sembari melihat orang yang memperhatikannya.
"Biarin saja, Ma. Mama mau apa? Ambil saja yang Mama perlukan," ucap Kevin.
Mamanya hanya menuruti sesuai perintah Kevin, dia dengan tekun menemani. Tak ada rasa malu, tak ada rasa gengsi Kevin ketika berada dekat mamanya.
Setelah semua di rasa cukup, mereka pun bergegas ke kasir. Beberapa pasang baju, sepatu dan sendal sudah berhasil mereka dapatkan. Lalu mereka pergi meninggalkan orang yang berada di sana yang menatap mereka terheran-heran.
"Ma, kita ke salon yuk. Aku kangen Mama yang berpakaian rapi dan anggun," ucap Kevin.
"Nggak usah, Nak. Kita pulang saja," ujar mamanya.
Kevin hanya mengangguk. Aku yang duduk di kursi belakang dan tak terlihat hanya bergumam sendiri.
"Sesekali berteman sama orang tajir melintir, siapa tahu kecipratan rejeki mereka hehehe," celetukku.
Aku yang menyadari ucapanku seakan-akan tak punya rasa syukur, bergegas menutup mulutku dengan telapak tangan.
"Astagfirullah, Ampuni hamba yang kufur akan nikmatmu," ucapku.
Menyesal dalam hati berucap seperti itu tadi. Sesampainya di rumah, Kevin hendak membawa mamanya ke kamar yang dulunya di tempati beliau. Tampak bibi yang terlihat bahagia saat melihat Kevin bersama mamanya datang.
__ADS_1
"Nyonya, apa kabar?" tanya bibi sembari membantu membawakan barang belanjaan tadi.
"Alhamdulillah, Bi. Saya ke kamar dulu ya," ujar Mama Kevin berlalu pergi masuk ke dalam kamar.
"Ma, Kevin keluar sebentar ya. Ada janji sama temanku," Kevin berpamitan.
"Iya, Nak. Hati-hati!" ucap Mama Kevin sembari kembali melanjutkan langkahnya memasuki kamar.
Rumah ini begitu terlihat tentram dan damai ketika wanita yang culas itu tak ada di rumah ini. Kenyamanan, ketenangan begitu terasa saat ini.
Bibi dengan wajah yang sumringah bergegas pergi ke dapur, beliau memasak hidangan yang mungkin akan diberikan ke majikannya itu. Beliau dengan senandung lagu jawa, memasukan satu persatu bahan masakan ke dalam penggorengan.
"Bi Asih," terdengar suara yang lembut ketika memanggil.
Aku dan Bi Asih menoleh ke sumber suara itu secara bersamaan. Terlihat wanita yang begitu cantik, anggun, rambut terurai dan riasan wajah yang begitu natural ketika digunakan.
"Eh, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Asih pada Mama Kevin.
Aku yang melihatnya, begitu terpesona dan lupa kalau sebenarnya wanita yang cantik itu adalah Mamanya Kevin.
"Nggak perlu, Bi. Saya ikut masak ya," ucap mama Kevin, sembari membantu memotong kentang tang sedari tadi sudah dikupas kulitnya oleh bibi.
"Nggak usah, Nyonya," ucap bibi sembari mencoba mengambil pisau dari tangan majikannya itu.
Namun ketika mereka sedang asik memasak, tiba-tiba terdengar suara bel di pintu gerbang berbunyi.
Mereka berdua saling bertatap mata, sebelum bibi berlalu pergi untuk membukanya.
"Sebentar ya, Nyonya," ucap Bibi.
Aku melesat menuju pintu utama, dari kejauhan aku melihat wanita culas itu pulang dengan menenteng tas belanjaan yang begitu banyak.
"Itu Nenek lampir, foya-foya?" tanyaku merasa heran.
Dari kejauhan wanita itu terlihat sinis, ketika bibi begitu dirasa lama untuk membuka pintunya.
"Bi, lama banget sih! Lelet, gini kok nggak di pecat aja," celetuk wanita itu.
"Maaf, Nyoya. Saya lagi masak makanya lama," jawab Bibi.
"Oh, wanita kesayangan suamiku. Habis belanja ya sayang," ucap Mama Kevin.
Wanita culas itu terperangah kala melihat Mamanya Kevin berada di rumah itu.
"Sejak kapan kamu di sini? Lancang!" hardiknya.
Mama Kevin terlihat tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Nggak salah? Siapa yang lancang? Apa kamu lupa, siapa yang lancang mengambil suami sahabatnya sendiri, hah!" ucap Mama Kevin.
Aku terperanjat kaget, kala mendengar bahwa mereka adalah sahabat. Persahabatan mereka hancur karena mencintai satu lelaki yang sama.
Wanita culas itu segera mengambil barang belanjaannya, lalu pergi ke satu kamar di rumah ini.
"Nyonya, yang sabar," bibi mencoba menenangkannya.
Mamanya Kevin hanya tersenyum namun terlihat menutupi segala luka dalam hatinya. Lalu, mamanya Kevin pergi ke kamar, tak meneruskan membantu bibi memasak.
Sedangkan aku, mencoba mengikuti tingkah laku Mama Kevin ini. Sebelum aku ikut masuk ke dalam kamar, aku melihat wanita culas itu kembali keluar dari kamarnya.
Wanita itu menghampiri bibi yang berada di dapur.
"Bi." panggilnya.
Bibi menoleh.
"Iya, Nyonya," jawab bibi.
"Tolong beliin saya, ketoprak di seberang jalan gang depan ya," suruh wanita ini.
Bibi pun menuruti kemauan wanita ini. Bibi pun pergi, sedangkan wanita itu, melangkah menuju kamar Mamanya Kevin berada.
"Nadin." panggilnya sembari mengetuk pintu.
Dari sini aku dapat mengetahui nama Mamanya Kevin, dia bernama Nadin. Tak begitu lama, pintu pun terbuka terlihat Mama Kevin berdiri di sana.
"Iya, ada apa?" tanya Mama Kevin dengan lembut.
__ADS_1
Aku melihat bahwa Mamanya Kevin adalah orang yang baik. Dari tutur bicaranya beliau terlihat sopan dan tenang kala di depan wanita yang sudah menyakitinya.
"Makan bareng yuk, bibi sudah aku suruh beli ketoprak langganan kita, mungkin agak lama kan biasanya ramai. Aku ingin kita bisa memperbaiki semuanya," ucap wanita culas itu.
Aku merasa aneh dengan kelakuan wanita ini yang tiba-tiba mendadak baik. Aku curiga pasti ada hal yang sedang direncanakan. Mereka berdua duduk di sofa depan televisi, mereka bercanda seperti tidak ada apa-apa.
"Nad, aku bikin minuman dulu, ya. Buat tanda maafku ke kamu," ucap wanita itu dengan kata-kata sok manis.
Aku yang melihatnya masih penasaran dengan maksud wanita itu. Ketika wanita itu pergi ke dapur, aku mencoba mengikutinya. Dalam benakku berkata, siapa tahu nenek lampir ini merencanakan sesuatu.
Wanita itu mulai membuat dua minuman dari sirup. Tetapi saat selesai, salah satu gelas di masukkan bubuk obat entah itu apa aku tak tahu. Lalu wanita itu kembali menghampiri Mama Kevin, dengan membawa nampan berisikan dua gelas minuman rasa jeruk yang terlihat menyegarkan.
"Nad, minum," ucap wanita itu sembari memberikan gelas.
Tetapi anehnya dia tak memberikan minuman yang di dalamnya terdapat obat yang ditaburkannya tadi.
"Ini, nggak kamu ngeracunin aku 'kan?" ucap Mamanya Kevin.
Ternyata Mamanya Kevin juga menaruh rasa curiga, ketika wanita ini berubah menjadi baik.
"Enggaklah, sini coba aku yang minum punyamu," ucap wanita ini.
Di sini aku menyadari, emang tujuan dia menukar minuman ini agar Mamanya Kevin tak menaruh curiga. Sehingga kalau ada pertanyaan seperti yang dilontarkan Mamanya Kevin, wanita itu dengan suka cita menukarnya.
Wanita itu menenggak minuman itu.
"Lihat Nih, nggak apa-apakan?" tanya wanita itu.
Mereka pun bertukar minuman dan saat ini minuman yang ada obatnya berada di tangan Mama Kevin. Saat ini, Mama Kevin menenggak minuman yang di berikan wanita itu sampai habis tak tersisa.
___________
Mereka mengobrol kembali, hingga lambat laun aku melihat Mama Kevin terlihat mulai sayu di matanya. Beliau terlihat mengantuk dan saat itu juga wanita culas itu menyeret badan Mama Kevin ke kamarnya.
Wanita culas itu, meletakkan di depan lemari di kamar Mama Kevin. Kemudian wanita itu pergi entah ke mana. Aku yang melihatnya mencoba berteriak membangunkannya.
"Tante! Bangun, cepat bangun," ucapku.
Aku sadar usahaku pasti sia-sia, karena lagi-lagi aku hanya bayangan semu dan tak terlihat. Setelah itu, aku melihat wanita itu membawa tali tambang, lalu dikaitkan tali itu di kayu dekat jendela yang ada di kamar Mama Kevin.
Lalu tali itu, di buat ada lingkaran yang cukup dimasuki kepala orang dewasa, setelah itu di bawahnya di letakkan kursi. Aku merasa tidak beres dengan hal ini.
"Tante! Bangun!" Teriakku.
Wanita culas itu, dengan susah payah membopong Mamanya Kevin hingga duduk di atas kursi, kemudian tali yang masih belum terikat kuat dikalungkan ke leher Mamanya Kevin yang sedang duduk namun terkulai karena kesadarannya hilang.
Wanita itu dengan sekuat tenaga menarik tali itu, hingga Mamanya Kevin terlihat tercekik dan susah bernapas. Wanita itu menariknya dengan kuat hingga Mama Kevin yang sebelumnya duduk, saat ini berdiri dan kakinya tak nampak ke lantai.
Wanita itu hanya tertawa ketika melihat Mamanya Kevin kejang-kejang. Wanita itu mengambil kertas dan bolpoin yang berada di kamar itu. Aku mencoba mendekat, agar aku tahu apa yang ditulisnya.
Di kertas itu tertulis.
Kevin, Papa ... Mama memang tak pantas untuk di samping kalian.
Kalian terlihat lebih baik, jika Candra berada di sisi kalian berdua.
Jaga dia baik-baik.
Salam sayang
Mama
Dari tulisan wanita culas itu, aku berhasil kembali mengetahui namanya. Dia bernama Candra, dia begitu licik hingga tega membunuh sahabatnya. Setelah menulis itu, dia meletakkan surat di bawah jenazah Mama Kevin dalam posisi tak beraturan.
Wanita itu tertawa sebelum meninggal Mamanya Kevin yang sedang meregang nyawa.
"Hahaha, bye-bye Nadia. Kamu sih, di biarin hidup banyak tingkah," ucap wanita itu sembari berlalu pergi.
____________
Saat aku mencoba untuk keluar dari kamar, tiba-tiba tubuhku terasa bergetar. Seperti ada orang yang menggoyang-goyangkan aku. Lalu terdengar lirih suara yang memanggil-manggil namaku.
"Keyla, Keyla," panggil suara itu.
Bersambung....
__ADS_1