
Kami merasa lega dengan kabar yang diberikan ayah. Namun di hatiku tetap khawatir dengan keadaan Kevin dan berharap wanita jahat itu segera tertangkap.
"Bu, kita lihat keadaan Kevin, ya? Kita ke rumah sakit," ujarku.
"Jangan dulu, Dek. Masih belum kondusif keadaannya, takut wanita itu mengetahui pertolongan dari ayah dan yang lain." Ibu melarangku.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahiku, nggak tahu harus bicara apa lagi.
"Dinar, Keyla sama Jeje kalian istirahat ya." Nenek menyuruh kami bertiga.
"Iya, Nek," jawab Dinar sembari beranjak dari tempat duduknya lalu mendorong kursi rodaku.
"Kamarmu yang mana, Key?" tanya Dinar.
Aku yang masih merasa khawatir sehingga tak menjawab pertanyaan Dinar. Aku hanya menunjuk ke arah salah satu kamar yang memang kamarku.
"Aku nggak bisa temanin kalian, ya. Aku ada les sebentar lagi, bye-bye," ujar Jeje sembari berjalan menuju kamarnya.
Kami berhenti sejenak sembari melambaikan tangan ke Jeje. Setelah itu, Dinar kembali mendorongku menuju kamar. Dia membuka pintunya perlahan lalu mendorongku masuk ke dalam kamar.
"Key, gimana aku mindahin kamu? Aku panggil ibumu bentar ya," ujar Dinar sembari kembali pergi keluar kamar.
Sembari menunggu, aku memutuskan untuk menggerakkan kursi rodaku menuju jendela dengan susah payah. setelah itu, aku menyingkap gorden yang ada di jendela itu.
Terlihat sosok wanita di balik jendela lantai dua rumah tetangga nenek yang rumahnya tepat di depan rumah. Aku sengaja menatapnya, perlahan terlihat pergerakan dari wanita itu. Jari yang terlihat putih pucat mencoba menyibak gorden itu secara perlahan, aku terus mencoba memfokuskan pandanganku.
"Keyla, maaf lama," ujar Dinar mengalihkan pandanganku.
Aku pun sontak menengok ke arah Dinar saat mendengar panggilannya. Aku terperanjat kaget karena itu.
"Sini, Din," aku melambaikan tanganku ke dia.
Dinar pun menghampiriku, aku mencoba untuk memberitahukan apa yang aku lihat ke dia.
"Apa, Key?" tanya Dinar.
"Lihat deh rumah itu, di lantai atas ada sosok wanita namun tangannya terlihat putih pucat," ujarku sembari menunjuk ke sana.
Aku mencoba kembali melihat ke arah sosok itu, namun sudah tak kutemui dia di sana.
__ADS_1
"Mana, Key? Hantu lagi, ya?" tanya Dinar tampak penasaran.
Sebelum aku menjawab, terdengar suara ibu memanggil kami.
"Dinar, Keyla. Kalian ngapain?" tanya ibu.
Kami sontak menoleh ke arah ibu, lalu Dinar bergegas mendorongku kembali ke arah kasur. Ibu dan Dinar membantuku untuk berdiri sebisanya dan akhirnya aku dapat duduk di kasur. Aku gerak-gerakan badanku sendiri hingga dapat berbaring.
"Kalian istirahat dulu, ya. Ibu tinggal dulu," ujar ibu sembari berlalu meninggalkan kami.
"Iya, Bu," jawabku.
Dinar duduk di pinggiran kasurku, dia mencoba menyalakan televisi.
"Key, sebenarnya ada apa di rumah itu? Kamu lihat apa?" tanya Dinar masih penasaran dengan rumah itu.
"Aku dari kemarin melihat sosok wanita di balik jendela di lantai atas rumah itu, Din. Dan dengar-dengar lagi dari nenekku, ternyata yang punya rumah istrinya dikabarkan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini," ujarku.
"Jangan-jangan hantu wanita di lantai dua itu pemilik rumah yang hilang itu sendiri." Dinar menduga-duganya.
Aku terdiam sebentar mencoba mengingat sesuatu.
"Tapi sebelum wanita itu dikabarkan hilang, waktu aku main ke sini itu pernah juga melihat sosok di balik jendela lantai dua itu, Din," jelasku.
Aku hanya bisa mengedikkan bahuku, sebab aku sendiri belum tahu pasti sosok orang yang ada di lantai itu. Kami berdua memutuskan untuk tidur namun masih dengan keadaan televisi menyala.
Tanpa waktu lama akhirnya kami pun tertidur. Aku pun tak mimpi sesuatu menyeramkan, hanya aku bermimpi jalan di depan rumah melihat sosok wanita cantik di rumah tetangganya nenek itu.
Dia tersenyum ke arahku sembari melambaikan tangan. Aku kira aku juga seperti mengenal dia, aku hanya membalas senyumnya lalu pergi begitu saja. Tak ada hal yang membuat aku penasaran di mimpiku kali ini.
_________________
"Keyla, Dinar. Bangun yuk, sudah sore mau Ashar," terdengar suara ibu membangunkan aku.
Perlahan aku membuka mata dan langsung tertuju ke arah jam dinding, jam menunjukan pukul 15.35 WIB. Dengan mata yang masih malas aku mencoba untuk tetap beranjak bangun.
"Din, bangun," ujarku membangunkan Dinar yang berada tepat di sampingku.
Tak berselang lama, ayah pun masuk ke dalam kamarku. Aku melihatnya sangat bahagia, sebab tak ada luka apa pum di tubuh ayah.
__ADS_1
"Ayah," ujarku saat ayah pertama kali masuk ke dalam kamar.
"Eh, anak kesayangan Ayah. Ayah bantu berdiri yuk, kamu mandi sama Ibu," ujar ayah dengan tergesa-gesa menghampiri.
Aku hanya menganggukkan kepala. Ayah membantuku untuk berdiri, sedangkan ibu menyiapkan pakaianku.
"Dinar, ganti baju punya Keyla ya. Kamu nggak bawa baju gantikan?" tanya ibu memastikan.
"Nggak bawa, Tante," jawab Dinar.
"Kamu ambil sendiri saja ya bajunya, kamu pilih sendiri. Tumpukan bagian atas baju baru semua, coba kamu ambil dari sana Din untuk kamu pakai," ujar ibu.
Ayah mengantarkan aku sampai kamar mandi, kadang parno juga kalau saat berada di depan kamar mandi. Takut makhluk menyeramkan itu datang lagi di hadapanku. Tak perlu waktu lama ibu membantuku untuk mandi, setelah itu bergantian dengan Dinar.
Kemudian setelah semua selesai mandi seperti biasa kami salat berjamaah dulu sebelum keluar kamar, lalu setelah itu aku di bantu oleh Dinar mendorong kursi rodaku menuju keluar kamar.
"Kamu kalau sore ngapain, Key?" tanta Dinar.
"Nggak ngapa-ngapain sih, cuma nonton televisi aja," jawabku.
Tanpa banyak kata, Dinar bergegas mendorongku menuju tempat televisi yang berada di ruang tengah itu. Dari kejauhan terlihat di sofa ada yang duduk di sana, dia ditemani ayah dan Kak Andre.
Dalam hatiku mulai bertanya-tanya, apa itu Kevin?
"Key, siapa yang bersama Ayahmu dan Kak Andre? Apa si Kevin yang kamu maksud itu?" tanya Dinar.
Ternyata dia memiliki pertanyaan yang sama dengan diriku.
"Nggak tahu, kita lihat saja ke sana," jawabku.
Kami semakin mendekat ke arah mereka, terdengar suara mereka sedang mengobrol. Saat mendengar kursi rodaku mendekat sontak mereka bertiga menoleh ke arahku.
Benar saja, yang bersama ayah dan Kak Andre memang Kevin. Dia terlihat luka di bagian keningnya, terlihat ada perban di sana.
"Kak Kevin? Bagaimana keadaanmu, Kak?" tanyaku.
Kak Kevin tersenyum ke arahku.
"Ya seperti yang kamu lihat, Key. Aku baik-baik saja berkat keluargamu, aku merasa beruntung kala bisa mengenal kamu dan keluargamu," jawab Kak Kevin.
__ADS_1
Saat kami sudah berada di dekat mereka, terlihat jelas tidak hanya kening Kak Kevin yang terluka tetapi bagian badan lain juga ada, termasuk kakinya yang dibilang saat telepon mengalami patah. Ternyata tangannya juga banyak juga luka.
Bersambung ....