
Cukup lama kami menunggu kedatangan Bu Salma. Ayah, ibu dan Pak Andi sambil mengobrol, aku yang masih kecil hanya mendengarkan jika tidak ada yang mengajakku berbicara.
Mataku melihat sekeliling isi rumah Bu Salma. Tiba-tiba saat mataku melewati satu kamar, di sana aku melihat ada sosok anak perempuan di balik kelambu kamar itu. Aku pun berdiri hendak menghampiri, lalu melangkahkan kakiku mendekat ke arahnya.
"Dek, kamu mau apa? Ayo duduk di sini! Tidak sopan, ini rumah orang," kata ibu.
Aku berbalik ke tempat duduk yang tadi kutempati, tetapi mataku masih terpaku melihat sosok anak tadi. Dia masih berdiri di sana, di balik kelambu.
Ibu Salma pun datang dan anak itu pun sudah tidak ada, di balik kelambu kamar itu.
"Maaf ya, lumayan lama. Silakan di minum, tadi masih beli minuman dingin dulu, jadi agak lumayan lama," kata Ibu Salma sambil menyuguhkan minuman ke kami.
"Terima kasih, Bu. Kok jadi ngerepotin gini," ucap ibu.
"Tidak kok, saya justru senang akan ke datangan Bapak, ibu dan Adik Keyla ke sini. Kalau boleh tahu, ada apa ya, Pak, Bu? Oh, iya tunggu mungkin suami saya juga agak lama datangnya," kata Ibu Salma memberitahu.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Kami kesini hanya sekadar silahturahmi saja," jawab ibu, mencoba mencari alasan sebelum suami Bu Salma datang.
Di sini mereka mulai akrab mencoba menanyakan soal kegiatan Bu Salma dan Pak Hendro. Bu Salma pun antusias menjawabnya dengan senang hati. Dari kejauhan, mulai terdengar lamat-lamat suara motor yang parkir di depan rumah Bu Salma.
"Assalamualaikum." Salam Pak Hendro.
"Wa'alaikumsalam." Kami semua menjawab hampir bersamaan.
Pak Hendro mulai duduk di samping Bu Salma.
"Ada apa, Bu? Kok rame-rame ini." tanya Pak Hendro ke Bu Salma.
Pak Hendro tampak kebingungan dengan kedatangan kami.
"Maaf ya, Pak. Kami jadi mengganggu Bapak yang lagi mengojek," ucap ayah.
"Tidak apa-apa kok, Pak. Saya dengan senang hati, ini tadi kebetulan lagi sepi. Ada apa ya, Pak? Maaf kalau saya lancang bertanya-tanya, Pak," kata Pak Hendro.
"Tidak, Pak. Justru saya yang berterima kasih atas sambutan yang baik dari Bapak dan Ibu. Saya di sini, hanya menyampaikan keinginan anak semata wayang kami, Keyla," ucap ayah.
Bu Salma dan Pak Hendro melihatku secara bersamaan dengan senyuman yang terlihat di wajah mereka.
"Ada apa ya, Key?" Ibu Salma menanyaiku.
"Tunggu dulu, Bu. Aku ambil tasku di mobil sebentar," kataku.
Aku pun berjalan ke mobil mengambil tasku.
Setelah itu aku duduk kembali.
"Ini, Bu." Aku memberikan buku gambarku ke Bu Salma dan Pak Hendro.
Mereka melihat lukisanku dengan seksama. Aku lihat, tiba-tiba Bu Salma mulai menangis dan memeluk buku gambar yang aku berikan ke beliau.
"Ini Diana, Nak!" Pak Hendro memberitahu.
Pak Hendro mencoba menenangkan Bu Salma, yang mulai banjir dengan air mata.
"Ini Diana, Key. Ini Diana hiks hiks hiks." Bu Salma memberitahuku sambil menangis.
"Bagaimana Keyla bisa menggambar anak kami, dengan detail yang sangat persis?" tanya Pak Hendro.
Sebelum aku menjawab aku melihat sosok anak itu, tetapi sekarang dia berada tepat di depan kamar.
"Itu, Pak." Aku menunjuk ke arah sosok itu.
"Iya itu kamar Diana, Nak," kata Bu Salma yang sudah agak tenang.
"Dia di sana, lagi tersenyum ke arah kita," jelasku tetap menunjuknya.
Tiba-tiba, Bu Salma jalan agak berlari ke arah kamar yang aku tunjuk.
"Diana, kamu di mana, Nak? Ibu kangen, Nak," Ibu Salma menangis kembali.
Ibu mendekati Ibu Salma lalu memeluknya dan mencoba menenangkanya. Semua mendekat kecuali aku. Aku masih belum berani mendekat, sehingga memutuskan untuk tetap masih di tempat duduk.
"Diana masih di situ, Bu. Dia mulai menjauh," kataku.
"Mengapa kamu pergi lagi, Nak? Ibu mau bertemu sebentar saja," kata Ibu Salma lagi.
Aku melihat sosok Diana yang lama-lama sudah mulai hilang. Aku menyampaikannya kepada semua orang. Bu Salma dipapah ibuku untuk kembali duduk di kursi.
"Apa Dek Keyla, tahu maksud Diana?" tanya Pak Hendro.
"Tidak, Pak. Justru saya ke sini hendak mencari tahu apa maksud Diana datang juga ke mimpi saya," jawabku.
"Apa mungkin dia ada maksud tertentu ya, Pak kira-kira?" Pak Andi ikut bicara.
"Ayah, itu lihat saku Diana." Aku memberitahu ayah.
__ADS_1
"Oh, iya Pak, Bu. Di mimpi Keyla melihat Diana mengantongi sesuatu di sakunya, coba Bapak Ibu lihat gambar, Keyla," Ayah berbicara sambil menunjuk ke gambar. Pak Hendro dan Bu Salma pun bergegas melihat gambar saku Diana.
"Kata Pak Andi, beliau ketika kecelakaan berada di sana Bu, Pak. Beliau juga melihat kalau ada secarik kertas terbang di sana, ketika jenazah Diana diangkat." Aku mencoba menjelaskan.
"Iya, Bu, Pak. Saya berada di sana ketika kecelakaan itu, saya melihat ada yang terjatuh dari jenazah anak Bapak dan Ibu seperti kertas. Mungkin Diana mau menunjukan sesuatu kepada Bapak serta Ibu," sahut Pak Andi.
"Bagaimana ini, Pak? Kejadian itu sudah lama empat tahun yang lalu, kemungkinan kertas itu sudah tidak ada, bahkan sudah hancur karena panas dan hujan." Ibu Salma mulai bingung.
Aku pun mulai berpikir ada benarnya juga, kalau sudah selama itu kemungkinan kertas itu sudah mulai hilang bahkan sudah hancur.
"Ayah bisa tidak sih, kalau aku mencoba berinteraksi dengan arwah Diana?" tanyaku ke Ayah.
"Jangan aneh-aneh kamu, Dek. Ibu sama Ayah tidak ingin kamu kenapa-napa." Ibu mencoba menghentikan keinginanku.
"Bu, tetapi kasihan Diana. Siapa tahu Diana mau meminta pertolongan sampai-sampai dia datang ke mimpi Dedek," kataku sembari membujuk ibu agar mengizinkanku.
"Lalu, bagaimana cara kamu berinteraksi? Apa Diana masih di sini?" tanya Pak Andi.
"Tidak ada, Pak," jawabku.
Aku mencoba berpikir sejenak, bagaimana caraku untuk memanggil Diana.
"Pak Hendro, apa saya bisa meminta tolong untuk memanggilkan Pak ustad atau Pak Kyai yang dekat di daerah sini?" tanyaku.
"Bisa, Dek. Lalu, Adik mau apa?" tanya Pak Hendro kepadaku.
"Aku mau minta tolong untuk memanggilkan arwah Diana ke sini, Pak," kataku lagi.
"Dedek, Ibu mohon. Jangan, nanti bahaya buat kamu." Ibu kembali mencoba menghentikan niatanku.
"Maaf, Bu. Kali ini Dedek harus bantu, Bu. Dedek mohon." Aku mencoba merayu ibu.
"Bagaimana, Yah?" tanya ibu ke ayah.
"Izinkan saja, Bu. Kalau kita tidak izinkan Keyla, masalah ini tidak akan pernah selesai, Bu." Ayah menyetujuinya.
"Insyaallah nanti kalau ada Pak Ustad, Keyla akan baik-baik saja, Bu," ucap ayah lagi.
Ibu menganggukan kepalanya meski berat.
Itu tanda ibu menyetujui permohonanku. Aku kembali meminta Pak Hendro untuk memanggil kan pak ustadz.
Pak Hendro pun berlalu pergi dari rumah untuk memanggilkan pak ustaz. Di sini kami semua mulai berbincang-bincang. Aku kembali melihat sorot mata ibu yang tampak mengkhawatirkan keinginanku kali ini.
"Iya, Bu. Dedek yakin banget untuk membantu arwah Diana," jawabku.
"Nak Keyla, kalau itu beresiko buat Adek, lebih baik urungkan niat Adek. Ibu tidak apa-apa kok Nak, Ibu sudah mengikhlaskan kepergian Diana anak Ibu." Ibu Salma juga mencoba membujuk untuk mengurungkan niatku.
Aku tidak menjawab pertanyaan ibu dan Ibu Salma. Aku tetap kekeh dengan ke
inginanku dari awal untuk membantu Diana.
Tidak berselang lama Pak Hendro dan Pak ustadz mulai datang. Mereka berdua memasuki rumah. Bu Salma menyambutnya dan mempersilahkan beliau untuk duduk bersama kami.
"Ini tamu saya, Pak. Mereka dari kota, hendak mau meminta pertolongan kepada Bapak." Pak Hendro memperkenalkan kami ke Pak Ustad yang mau menolong kami.
"Ada apa ya, Pak, Bu. Sehingga saya juga di panggil untuk datang kesini? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak ustad.
Sebelum ada yang menjawab, aku mecoba berbicara terlebih dahulu.
"Saya mau minta tolong untuk memanggil arwah Diana untuk datang ke sini, Pak," jawabku.
"Untuk apa, Dek? Biarkan dia tenang di alamnya," kata Pak ustad.
"Enggak, Pak. Justru sebaliknya Diana belum tenang, Pak," Jawabku.
"Maksud Adek apa ya?" tanya pak ustad lagi.
Aku mulai bercerita semua kejadian yang aku alami. Mulai dari saat camping pertama kali melihat Diana. Sampai Diana datang ke mimpiku dua kali.
"Baiklah, saya coba, ya," jawab Pak ustad.
"Sebentar, Pak. Apa ini berbahaya untuk anak saya?" tanya ayah ke pak ustad mencoba memastikan.
"Insyaallah tidak, Pak. Semoga yang Maha Kuasa selalu memberi perlindungan kepada kita semua," jawab pak ustad.
Pak ustad mulai dengan baca-bacan surat Al-Qur'an, tidak terlalu lama aku melihat arwah Diana kembali.
"Diana sudah ada di sana, Pak. Di depan kamar." Aku memberi tahu semua orang.
Aku mendekat, lalu Pak ustad, ayah dan ibu mendampingiku.
"Silakan, Dek. Kalau mau berinteraksi," kata pak ustad.
Aku mencoba memanggil Diana.
__ADS_1
"Hey, Diana. Aku Keyla, apa ada yang bisa saya bantu buat kamu? Apa ada hubungannya dengan surat itu?" tanyaku.
Aku melihat Diana tetap diam terpaku di tempatnya, aku melihatnya tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa menangis? Ayo ceritalah Insyaallah kami bantu," kataku.
"Nak, apa ada maksud tertentu sehingga selama ini kamu selalu datang ke Ayah?" tanya Pak Hendro yang tidak melihat keberadaan Diana.
Aku lihat Diana dan di sana dia kembali melihatku dengan mata yang sayu.
Diana mulai membuka mulutnya.
"Tolong aku ... tolong aku!" kata arwah Diana.
Aku bercerita ke semua kalau Diana minta tolong.
"Tanya ke dia, Key. Dia mau minta tolong apa?" Ibu Salma menyuruhku bertanya.
"Kamu minta tolong apa?" tanyaku lagi.
"Tolong aku ... tolong aku, Aku kesakitan," jawab arwah Diana.
"Kamu kesakitan kenapa?" tanyaku lagi.
Aku kembali melihat orang tua Diana, mereka berdua kembali menunggu jawaban arwah Diana yang sedari tadi aku yang menyampaikan.
"Ada yang sengaja membuat aku kesakitan, tolong aku," kata arwah Diana lagi.
"Ada apa? Coba bicaralah!" kataku.
"Ketika aku kecelakaan, darahku berceceran orang beramai-ramai untuk menutupi darahku dengan pasir, tetapi pasti tetap ada yang terlewat."
"Ketika semua berlalu pergi meninggalkan tempat kecelakaan itu, ada kurang lebih empat anak yang sengaja menetesi darahku dengan perasan jeruk nipis. Tolong aku ... aku kesakitan," kata arwah Diana mencoba menjelaskan.
Aku memberitahukan itu ke semua orang.
Ibu Salma dan Pak Hendro menangis bersamaan.
"Kenapa, ada yang tega kepada anak kami? Apa salah anak kami?" kata Bu salma.
"Aku beri tahu rumah mereka, aku ingin mereka meminta maaf kepadaku. Tak hanya itu, aku juga ingin mereka meratapi kesalahan yang mereka perbuat kepadaku," kata arwah Diana lagi.
Pak Hendro mengajak kami ke tempat kecelakaan itu. Tak butuh waktu lama akhirnya kami sampai. Aku lihat Diana menunjuk ke anak, yang berada di depan rumah sekitar tempat kecelakaan itu.
"Diana menunjuk dia, Pak." Aku memberitahu semua orang sembari menunjuk ke arah anak itu.
Ayahku memanggilnya dan dia ikut bersama kami
"Aaa ... Aku mohon ampun. Aku bersama teman-temanku hanya ingin tahu yang di omongkan orang-orang, kalau darah orang kecelakaan di tetesi dengan air perasan jeruk nipis malamnya pasti kita mendengar rintihan dari tempat kecelakaan itu." Anak itu menjelaskan dengan wajah ketakutan.
Sepertinya anak ini sudah melihat keberadaan Diana di sini.
"Apa kamu melihat anak yang kecelakaan di sini sekarang?" tanya pak ustad.
"Iya, saya melihatnya. Dia sekarang menatapku dengan mata yang terbuka lebar dan mengeluarkan darah, Dia menatapku dengan amarah," jawab anak itu lagi sembari menyembunyikan wajahnya.
"Kalau kamu melihatnya, mengapa kamu tidak bergegas meminta maaf?" tanya Bu Salma sambil memendam rasa amarah.
Anak itu mulai meminta maaf, anak itu di izinkan pergi oleh keluarga Bu Salma.
"Maafkan saya Bu, Pak." Anak itu berpamitan.
Mereka berdua hanya mengangguk. Kami mulai mengirim doa di tempat kejadian agar Diana tenang di sana. Kami selesai berdoa kembali pulang ke rumah Bu Salma. Aku melihat dari kejauhan Diana mengucapkan terima kasih, aku pun hanya mengangguk.
Sesampainya di rumah Bu Salma. Pak Hendro dan Bu Salma menyampaikan, ucapan terima kasih kepada kami yang mau membantu. Terutama ucapan terima kasih itu di tujukan kepadaku.
"Mungkin selama ini mau menyampaikan kepada saya, Nak. Tetapi Bapak tidak pernah mengerti," kata Pak Hendro.
"Lalu mengapa Mas selama ini tidak memberitahu, kalau Mas sering melihat Diana?" tanya Bu Salma ke Pak Hendro.
"Aku hanya tidak mau membuat kamu sedih, Dek. Dengan kejadian ini semoga arwah Diana tenang di alamnya, amin," ucap pak Hendro.
"Amin ...." Kita semua mengucap hampir bersamaan.
"Sekali lagi terima kasih ya, Nak Keyla. Berkat kamu, semoga arwah Diana tenang di sana dan tidak kesakitan lagi," ucap Bu Salma.
"Beruntung sekolah kamu dulu mengadakan acara di sini, jadi ada yang membantu anak kami," ucap Bu Salma lagi.
"Iya, Bu. Walaupun sudah tidak ada apa-apa, selalu kirim doa ya buat arwah Diana, agar dia tenang di sana," kataku.
Aku, ibu, ayah dan Pak Andi berpamitan untuk pulang.
Aku masuk ke mobil, hatiku lega apa yang aku pikirkan selama ini sudah terjawab. Dan aku berpikir, kok masih ada orang yang jahat untuk mencoba-coba, menyakiti arwah orang yang sudah meninggal dengan perasan jeruk nipis.
Bersambung....
__ADS_1