
Entah ayah melihatnya atau tidak aku juga tidak mengerti, tetapi ayah berperilaku aneh. Ketika wanita itu sedikit menoleh, ayah bergegas memutar balikkan kursi roda yang aku kenakan.
Makhluk ini terlaku kuat aura- nya. Aku yang semula merasa baik-baik saja, tetapi saat menatapnya, rasa sedih dan putus asa berkecamuk di dalam hatiku.
Saat itu juga, ayah mencoba memalingkan wajahku, ketika aku mencoba terus menatap.
"Dek." Panggil ayah mencoba membuyarkan lamunanku.
Tetapi mataku tetap terfokus ke makhluk itu, kian lama makhluk itu terlihat jelas wajahnya. Wajah yang terlihat sadis, tapi entah kenapa aku masih terpaku ke tatapannya.
Ayah dengan langkah cepat tetap kekeh mencoba mengajakku pergi, sedangkan ibu mencoba menutupi pandanganku ke arah makhluk itu.
"Bu, tolong halangi pandangan Dedek dari yang dia lihat," ucap Ayah.
"Baik, Yah." Ibu berusaha menghalangi pandanganku.
Aku tetap mendengar percakapan mereka, walaupun mataku terfokus ke satu arah. Semakin lama semakin menjauh, namun terdengar suara yang membisiki telingaku dengan keras.
"Kamu anak payah, anak yang tak berguna, kamu hanya beban untuk kami kedua orang tuamu," terdengar suara yang berbisik namun terdengar menusuk hatiku.
Saat itu juga, ibu menepuk bahuku sebelah kanan. Aku yang terkejut seolah-olah sadar dari lamunanku.
"Dek, hadap depan," ucap ibu dengan tegas.
Aku pun menuruti perintah ibu, namun suara itu tetap terdengar begitu dekat di telingaku.
"Anak payah, kenapa kamu hidup? Menyusahkan!" terdengar suara itu lagi.
Aku mencoba menutup telingaku, namun suara itu tetap terdengar keras di telingaku.
"Pergi!" teriakku.
Ayah dan ibuku yang berada di dekatku, sontak terperanjat kala mendengar teriakanku. Ayah pun memberhentikan kursi rodanya. Ibu yang sedari tadi berada di sisi kananku tetapi agak belakang, saat ini beralih ke depanku dengan posisi jongkok sembari memegang tanganku.
"Dedek, kenapa? Kamu lihat apa lagi sayang?" tanya ibu.
Entah kenapa aku tak menjawabnya, tetapi malah menangis sesegukan. Aku mendengar ucapan yang aku dengar seolah-olah ucapan suara hati kedua orang tuaku. Saat ini merasa hanya beban untuk mereka, aku yang menghambat kebahagiaan mereka.
"Bu, kita pindah ke taman sebelah sana. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Keyla," ucap ayah sembari mendorong ke arah taman sebelah rumah sakit.
Perasaan sedih, putus asa, merasa tak ada perkembangan dari tubuhku, saat ini hinggap di dadaku. Untuk pergi ke taman yang akan di tuju, otomatis melewati kamarku terlebih dahulu. Saat berada tepat di depan pintu ruanganku, ibu berpamitan ke ayah.
__ADS_1
"Yah, ibu ke kamar sebentar. Ada yang perlu ibu ambil." Ucap ibu berlalu pergi.
Ayah mengiyakan ucapan ibu. Lalu ayah terus mendorongku menuju tempat yang beliau maksud. Aku tetap meneteskan air mata, perasaan itu masih bersarang di hatiku.
"Dek, kok nangis? Kenapa?" tanya ayah.
Aku hanya diam seribu bahasa, tak ada yang mampu mengetuk hatiku ketika bisikan itu terlalu kuat di telingaku.
"Payah, kamu nggak pantas hidup. Kamu mati aja!" terus terdengar suara yang membuat aku patah semangat.
Ayah menepuk bahuku.
"Keyla." Panggil ayah.
Aku pun menengok ke ayahku, aku menatapnya dengan mataku yang sendu. Deraian air mata tetap membanjiri pipiku.
"Dedek, kenapa? Jujur dong sama ayah?" tanya ayah.
"Dedek, hanya membebani ayah dan ibu, ya. Dedek anak yang payah?" ujarku.
Ayah yang mendengar ucapanku, sontak memberhentikan kembali kursi rodanya. Ayah mengunci rodaku, sebelum berpindah duduk secara jongkok di depanku.
"Dedek ... kamu anak hebat. Ayah dan ibu tak pernah berpikiran seperti yang kamu ucapkan, kamu anak istimewa ayah dan ibu," ucap ayah mencoba menenangkanku.
Aku terus menangis dan menangis. Aku tak ingin, ayahku berkata seperti itu karena hanya kasian terhadap diriku semata. Aku menundukkan kepalaku, suara tangisku yang kian lama kian terdengar.
Ayah mendorong kursi roda itu, dari jauh nampak pepohonan tanaman rumah sakit ini. Tempat begitu asri yang diperlihatkan, siapa yang menyangka kalau ini hanya rumah sakit.
"Kita ke sana ya, Dek," ucap ayah.
Aku mengangguk, tanda aku merespon ucapan ayah. Tanaman di halaman rumah sakit kian terlihat lebih jelas kala dekat. Di sana terdapat satu air mancur yang di bentuk sedemikian rupa, mungkin agar pasien tak jenuh dan membuat suasana terasa lebih fresh.
Ayah mendorongku tepat di hadapan air mancur itu, terdapat kursi yang membuat ayah bisa duduk di sana.
"Dedek, suka?" tanya ayah.
"Iya, Yah," jawabku, sembari mengusap air mataku.
Namun, aku tetap menangis sebab suara itu pun yang begitu jauh jaraknya, tetap terdengar begitu jelas.
"Payah! Pecundang! Nggak pantas hidup," ucap suara itu lagi.
Aku yang semakin lama terasa geram pun, langsung menjawab yang diucapkan.
__ADS_1
"Aku memang pecundang, aku anak tak berguna, hanya menambah beban!" teriakku.
Entah sejak kapan ibu datang, tiba-tiba memelukku dari belakang dengan erat. Beliau juga ikut meneteskan air mata, karena terasa membasahi bajuku.
"Dek, jangan ngomong gitu. Kamu anak yang paling berharga dalam hidup kami," ucap ibu.
Namun suara itu tetap terdengar di telingaku, suara keputusasaan, suara yang membuat aku semakin down.
"Tinggalin Keyla di sini sendiri, aku anak tak berguna, Bu," ucapku.
Tetesan air mata yang semakin deras, mungkin membuat ayah dan ibuku semakin khawatir dengan kondisiku saat ini. Lalu, ayah juga ikut ibu di depanku dengan posisi yang sama, mereka mencoba menguatkan aku.
"Dek, kok ngomong gitu. Kenapa? Dedek lihat apa?" tanya ayah.
Aku yang biasanya mempunyai semangat yang luar biasa, hanya karena bisikan itu berubah menjadi Keyla yang berlawanan arah, hanya keputusasaan, tidak percaya diri bersarang di hati.
Ayah menoleh ke arah ibu.
"Bu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu Dedek," ucap ayah.
"Iya, Yah. Keyla nggak mungkin mempunyai pikiran yang seperti ini, kalau tidak ada yang mengganggu," sahut ibu.
Ayah dan ibu semakin erat menggenggam tanganku, lalu mereka berdua berdiri merengkuh tubuhku kepelukannya.
"Dek, kamu harus ingat Allah bersama orang-orang yang sabar, orang yang selalu berusaha untuk merubah dirinya, orang yang tawakal, mungkin tidak ada orang yang tahu bagaimana nanti hasilnya, tetapi yang terpenting berusaha," ucap ayah.
Ibu melepaskan pelukannya, lalu beliau berdiri membuka Al-Quran yang sedari tadi di bawanya. Sayup-sayup perlahan aku mendengar suara ibu membaca Al-Quran, namun bisikan itu tetap kuat.
"Jangan dengarkan dia. Itu hanya tipu muslihat mereka, kau tak pantas untuk hidup!" suara itu terus berbisik.
Suara bisikan yang awalnya kuat saat ibu pertama kali membaca Al-Quran, saat ini suara itu terdengar kian menjauh.
"Dasar manusia penghalang! Kau tak perlu hidup, kamu tak pantas di muka bumi ini!" suara itu walaupun terdengar lirih namun tetap menusuk hati.
Aku tetap meneteskan air mata, ibu tetap membaca ayat suci Al-Quran itu dengan lantang. Sedangkan ayah, mencoba menguatkan aku dengan pelukan hangatnya dan sesekali mencium keningku.
Suara bisikan itu, kian menjauh dan hilang tak terdengar lagi. Perlahan hatiku terasa tenang, air mata yang bercucuran semakin berkurang, lalu aku menatap ke arah ibu.
"Bu." Panggilku.
Ibu pun mengakhiri bacaannya, lalu duduk jongkok kembali di depanku.
"Dedek sudah merasa baik?" tanya ibu.
__ADS_1
Aku mengangguk, kemudian tersenyum ke arah kedua orang tuaku secara bergantian. Saat aku menatap ayah yang berada di sampingku, tak sengaja bangunan yang berada di seberang mataku membuat aku terkejut.
Bersambung...