Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Rumah Dewi~2


__ADS_3

Aku dan Dinar mengerjakan tugas di rumahku.


Selesainya mengerjakan Dinar tidak langsung pulang tetapi masih di rumahku terlebih dahulu.


"Key aku di sini dulu ya, pengen cerita-cerita dulu!" Ucap Dinar.


"Iya Din silakan, aku malah seneng nanti biar aku minta tolong Ibuku memberitahukan Ibumu kalau kamu masih di sini biar tidak khawatir," kataku.


Aku tinggalkan Dinar di depan tv untuk menemui Ibuku duduk di sofa ruang tamu.


"Ibu, minta tolong telfon Ibunya Dinar ya kalau Dinar masih di sini terlebih dahulu," aku meminta tolong Ibu.


"Sudah kok dek, tadi semenjak kamu datang bersama Dinar langsung Ibu menelfon Ibunya Dinar biar tidak mencemaskan nya," Ucap Ibu.


"Terima kasih ya Bu!" ucapku.


"Iya sayang, Dinar ajak mandi sekalian salat ya Nak sudah sore ini!" perintah Ibu.


"Baik Bu," jawabku.


Aku menghampiri Dinar kembali.


"Din Ibuku sedari tadi ternyata sudah menelfon Ibumu, ayo mandi lalu salat dulu yuk," ajakku ke Dinar


Aku dan Dinar bergegas mandi, selesai semua yang kami lakukan kita kembali bercerita tetapi kami pindah tempat di kamarku.


Aku duduk di kasur dan Dinar di kursi samping meja belajar.


"Key kita bahas di rumah Dewi ya, kamu lihatnya tadi memangnya persis banget si Dewi ya?" tanya Dinar.


"Iya Din tetapi yang bikin aneh itu lho mengapa dia bisa tahu kalau aku mengintip dari jendela, terus dia kaya sudah menunggunya di sana," jawabku.


"Aneh ya, jangan-jangan dia penunggu rumah si Dewi Key?" si Dinar menduga-duga.


"Mungkin sih, besok tanyain ke Dewi langsung saja deh, yang bikin aku heran itu dari senyum nya itu Din kaya lain gitu lihatnya," jawabku lagi.


"Ihh kok jadi merinding aku, kalau aku yang mengintip mungkin nampaknya bukan Dewi tetapi yang lain, hii serem deh," Dinar berkata sembari menggetarkan bahunya.


Aku pun dengan spontan mengikutinya.


"Kamu sering lihat hantu saja bisa takut Key," kata Dinar.


"Terus kamu kira aku tidak takut kalau sudah sering melihat, ya pasti ada rasa takut lah Din ada-ada saja," ucapku.


Kami melanjutkan cerita-cerita, hari menunjukan sudah mulai senja Dinar berpamitan untuk pulang dan dia di antar Ibuku.


Aku sendiri di rumah menunggu Ibuku ketika aku duduk sendiri di depan tv aku mendengar ketukan pintu rumahku.


Tok.. Tok


Ketukan pintu.


Aku tidak lekas membukanya aku kira memang Ibuku sudah pulang. Tetapi sedari tadi belum mendengar suara motornya.


Aku masih tetap duduk santai menonton tv.


Tok..Tok


ketukan pintu kedua kalinya.


Dalam pikirku, siapa ya sore-sore bertamu kok tidak mengucapkan salam?


Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku intip jendela sebelum membukanya.


Aku tidak menemukan seorang pun di luar rumahku. Aku kembali ke tempat dudukku.


Tok..Tok..


suara ketukan ketiga terdengar lagi.


"Siapa sih, sore-sore kok ngerjain orang," Ucapku menggerutu.


Aku beranjak pergi membukakan pintu.


"Aaaaaa," teriakku.

__ADS_1


Tepat ketika aku membukakan pintu ada sesosok perempuan bermuka rata.


Seketika aku terjatuh melihatnya aku tidak berani melihat ke arahnya.


Aku tetap duduk di depan pintuku. Sampai aku di kagetkan ada yang menyentuh bahuku.


"Pergi sana, pergi," Ucapku dengan tetap duduk dan mukaku tetap ku hadapkan ke lutut.


"Dek ini Ibu dek, Dedek sedang apa duduk di sini?" tanya Ibuku.


Aku langsung memeluk Ibu. Ibu mengajakku duduk di sofa ruang tamu dan menutup pintu depan kembali.


"Ibu sejak kapan pulang?" tanyaku.


"Baru saja dek dan Ibu kaget ketika memasuki pagar sudah melihat kamu duduk di dekat pintu," jawab Ibu.


"Kamu sedang apa di sana? Ibu dan Ayahkan kerap kali bilang sama kamu jangan duduk di teras rumah ketika senja seperti ini," Ucap Ibu lagi.


"Tadi ada yang mengetuk pintu Bu, dua kali ketukan aku hanya melihatnya dari jendela tidak ada siapa-siapa Bu, ketika ketukan ketiga aku langsung membukanya," jawabku.


"Terus kamu lihat apa kok sampai ketakutan seperti itu?" tanya Ibu.


"Ada perempuan bermuka rata tepat di hadapanku Ibu, dedek takut," jawabku dengan memeluk Ibu semakin erat.


Aku di ajak Ibu untuk salat terlebih dahulu.


Malam ini dengan adanya kejadian itu aku tidak berani tidur sendiri, aku tidur bersama Ibuku. Malam ku lewati dengan hati was-was takut wanita itu datang lagi.


Hari sudah mulai pagi aku hendak berangkat ke sekolah.


"Bu dedek berangkat, assalamu'alaikum," aku berpamitan ke Ibu.


Seperti biasa aku berangkat sekolah sendiri, aku kayuh sepedaku dengan cepat.


Sampai aku di sekolah, aku berlari cepat hendak menemui Dinar untuk menceritakannya.


Belum sampai kelas aku bertemu dengan temanku yang lain yang tidak menyukaiku dari dulu.


"Eh anak aneh, ngapain lari-lari sok pintar kamu," Ucapnya.


"Sudah aneh tidak bisa mendengar lagi, kasihan banget sih kamu," Ucapnya lagi.


"Aku ada salah apa sih sama kamu sebenarnya heran aku," Ucapku menjawabnya.


"Jadi anak jangan suka cari gara-gara kamu pembawa sialkan dari dulu, bisanya cuma nakut-nakutin orang saja, mengapa tidak pindah aja sih dari sini?" Ucap anak itu lagi.


"Yang cari gara-gara itu ya kamu, aku ganggu kamu aja tidak pernah,"


"Di kasih lihat hantu baru tahu rasa kamu, biar ngerasain tidak enaknya jadi aku, biar kamu tahu kalau memang ada hantu di sekitar kita," jawabku lagi.


"Aku tidak percaya, dasar anak sukanya menghayal," jawabnya.


Aku malas meladeni anak itu aku tinggalkan dia yang masih tetap berucap tidak karuan.


"Hai Din, kesel banget aku sama anak kelas sebelah pagi-pagi sudah cari gara-gara," Ucapku ke Dinar.


"Pantesan aku dengar ramai-ramai ternyata kamu Key, tidak usah di ladenin anak kaya gitu kalau belum tahu sendiri belum kapok," jawab Dinar dan di iringi dengan tertawa.


"Tahu tidak sih kamu, ketika Ibuku nganter kamu ada wanita bermuka rata neror aku tahu," Aku bercerita.


"Neror bagaimana? kan sama Ibumu kamu tidak boleh duduk di depan rumah, masih kamu duduk di sana saat senja?" tanya Dinar.


"Dia mengetuk pintuku berulang-ulang tahu, ketukan yang ketika ada dia di depanku," jawabku.


"Hantunya sopan dong masih mengetuk pintu tidak main masuk saja hahaha," jawab Dinar dengan becanda.


Tidak lama Dewi datang dan menghampiri kami.


"Maaf ya Din, Key kemarin aku lupa, soalnya mamaku ngajak aku ke rumah temennya terlebih dahulu habis belanja,"


"Saking asiknya sore baru ke ingat aku, maaf ya," Ucap Dewi.


"Aku kemarin di rumahmu lihat kamu di dalam rumah, kamu lihat aku mengintip dari jendela dengan senyum mengerikan tahu Wi," Ucapku.


"Aku jam 5 aja baru pulang, mana bisa aku di dalam rumah lagian kalau kamu mau mengintip apa iya aku langsung tahu aneh saja kamu Key," Jawab Dewi.

__ADS_1


"Tanya aja ke Dinar aku kan kemarin sama dia," ucapku lagi.


"Penunggu rumahmu kali itu Wi," sahut Dinar.


"Main ke rumahku lagi yuk, pengen tahu aku," Ajak Dewi.


"Tidak mau aku takut," Ucap Dinar.


"Keyla saja deh kalau begitu nanti biar di bonceng sekalian sama Mamaku, aku nanti minta izin deh ke Ibumu Key," ajak Dewi lagi.


"Dinar kamu tidak ikut beneran?" tanyaku ke Dinar.


"Tidak ah aku takut, mau bantuin Ibu dan kakakku buat kue saja," Jawab Dinar.


Sepulang sekolah Mama Dewi kebetulan menjemputnya dengan mobil. Sebelum ke rumah Dewi aku di antar pulang untuk izin Ibu dan ganti pakaianku.


Tidak begitu lama kami sampai. Aku mulai memasuki rumah Dewi.


"Duduk saja Key, Dewi biar ganti baju dulu," Ucap mama Dewi.


"Iya Tante," jawabku.


Dewi berlalu pergi ke kamarnya dan Mama Dewi pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah di belinya tadi sebelum menjemput dewi.


Mataku melihat setiap sudut ruang tamu Dewi. Rumah dewi masih ada unsur bangunan belanda dulu karena ini rumah peninggalan Kakek Neneknya.


Mataku di buat terkejut ketika melihat tepat di dekat hiasan di pojok ruang tamu, ada sosok wanita berdiri di sana dan membelakangi aku.


Dewi yang cepat datang menghampiri aku.


Aku tidak ceritakan apa yang aku lihat.


"Keyla sama Dewi makan dulu ya Nak, terburu dingin nanti lauknya tidak enak," ajak Mama Dewi.


kami berjalan ke dapur Dewi, di rumah Dewi aku lihat ada banyak kamar di sana.


"Tante di rumah sama siapa saja selain Dewi?" tanyaku.


"Di rumah berdua saja Key, kedua kakaknya sama Ayah Dewi kerja di luar kota," jawab Mama Dewi.


"Keyla bisa lihat hantu loh Ma, katanya kemarin ke sini di dalam rumah ada yang kayak aku," Dewi bercerita ke Mamanya.


"Masa sih Key, kamu lihat Dewi lagi ngapain,"?


"Aku kemarin maaf Tante aku hanya ingin memastikan ada orang tidak jadinya aku mengintip dari jendela,"


"Waktu aku mengintip dari jendela Tante aku di kagetkan melihat dewi yang sedang melihat ke arahku dan tersenyum dia sedang memakai handuk hendak mandi," aku bercerita.


Selesai aku bercerita betapa aku di kagetkan ada sosok yang aku lihat kemarin dan dia tersenyum ke arahku.


"Maaf Tante aku lihat sosok Seperti Dewi sekarang ada di sana Tante," aku menunjuk ke salah satu kamar tanpa melihat ke arahnya.


"Kamar yang mana Key?" tanya Dewi.


Seketika aku melihat ke arah sosok itu aku dibuat kaget lagi dan spontan aku berteriak.


"Aaaa," aku berteriak.


"Apa Key?" tanya Mama Dewi.


"Aku lihat sosok wanita bermuka rata yang kemarin sore datang ke rumah ku," kataku.


Mama Dewi bergegas memelukku dan mengajakku berjalan menuju mobil. Dewi pun mengekor di belakang kami.


"Tante antar pulang saja ya Key, takut kamu tidak nyaman di rumah kami," ucap Mama Dewi.


Kami bertiga sudah memasuki mobil di sepanjang jalan aku meminta maaf ke Dewi dan Mama nya. Karena aku takut menyinggung perasaan mereka.


"Maaf ya Tante, Dewi aku jadi menyinggung perasaan kalian," Ucapku.


"Tidak apa-apa sayang nanti biar Tante panggil Pak kyai sekalian Tante adain pengajian," jawab Mama Dewi.


"Apa mungkin sosok yang kamu lihat kemarin mengikutimu ya Key?" tanya Dewi.


"Aku kurang tahu juga soalnya kemarin aku dan Dinar yang sudah kelelahan tidak menghiraukannya," Ucapku.

__ADS_1


__ADS_2