
"Kenapa kalian tak menghubungiku kala Ranti pingsan?" tanya Nando kembali.
"Keburu istrimu lebih parah, kala menunggumu sampai di rumah. Jangan terlalu dangkal otakmu. Si Bu Sumi memfitnah keluargamu, bahkan dia yang menyebabkan kalian berdua bertengkar. Kepercayaan apa yang kamu tanam, sehingga badai menyapu dengan lembut, bisa goyah begitu saja," ujar Bu Heny sembari membawa Ranti pergi dari sana. Bu Heny dan Ranti berjalan tepat di depan Bu Sumi. Mereka menatap Bu Sumi dengan lekat, tetap Bu Sumi tanpa merasa bersalah hanya menyunggingkan senyumannya.
Bu Heny mengajak Ranti ke rumahnya. Nando pun saat itu tak ada pikiran untuk menyusul istrinya, sebab hatinya masih benar-benar bimbang dengan semua yang terjadi. Orang-orang yang berkerumun, seketika pergi ketika Bu Heny dan Ranti pergi.
"Ranti, sementara di rumahku dulu, ya. Biarkan Nando meredakan amarahnya." Bu Heny mengajaknya.
"Nggak habis pikir aku, Bu. Kenapa suami saya lebih mendengarkan ucapan orang lain. Aku gunanya aku selama ini berusaha, agar mendapatkan keturunan." Bu Sumi tetap menangis sesenggukan.
"Sabar, Ranti. Percayalah, Allah akan selalu bersama orang yang jujur. Kebenaran pasti akan terungkap. Allah memberikan ujian ini, agar kamu lebih sabar dari sebelumnya," nasihat Bu Heny.
Ranti pun menganggukkan kepalanya. Mereka tetap berjalan hingga sampai ke dalam rumah Bu Heny. Bu Heny di rumah tinggal bertiga dengan kedua orang anaknya, sedangkan suaminya yang sebagai abdi negara tak bisa selalu pulang.
"Assalamualaikum," ucap mereka secara bersamaan kala masuk ke dalam rumah.
"Ranti, kamu duduk dulu, ya. Saya ambilkan minum," pinta Bu Heny.
Bu Heny pergi ke arah dapurnya, saat itu muncul dua anak gadis dari Bu Heny. Yang pertama usia sebelas tahun dan yang kedua usia tujuh tahun. Mereka berjarak empat tahun, namun si bontot badannya yang lebih mirip ke Ayahnya sehingga terlihat cepat besar daripada kakaknya. Bu Ranti saat melihat mereka dengan cepat menyeka air matanya agar tak terlihat.
"Tante Ranti, kenapa?" tanya si bontot.
"Nggak apa-apa, Nak. Tante lagi kangen sama kalian, jadi Tante memutuskan untuk tidur di sini sementara waktu," jawab Bu Ranti.
Si bontot pun memeluk tubuh Ranti. Sedangkan anak Bu Heny yang kedua ngerti jika bukan alasan itu yang menjadi faktor ia datang ke sini.
"Tante," panggil anak Bu Heny yang besar.
Ranti pun paham dengan apa yang ia maksud, beliau memilih untuk menggelengkan kepala.
"Loh, anak-anak Ibun ada di sini." Bu Rsnti meletakkan segelas air putih untuk Ranti. "Diminum dulu, Ranti."
"Makasih, Bu," jawab Ranti dengan lembut.
__ADS_1
"Ibun ajakkin Tante Ranti istirahat dulu ya, Nak. Biar dedeknya juga sehat, bolehkan?" tanya Bu Heny ke anaknya yang bontot.
Anaknya pun nurut dengan melepaskan pelukannya dari tubuh Ranti. Lalu, mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan berangsur keluar rumah entah pergi ke mana.
"Maaf, Ranti, ya," ujar Bu Heny. "Ayo, saya antarkan. Maaf, ya jika harus sekamar dengan saya. Soalnya anak-anak sudah minta tidur sendiri."
"Nggak apa-apa, Bu. Makasih, loh. Mungkin besok saya akan pulang kampung saja, Bu. Untuk apa saya di sini, kalau Mas Nando tak mampu percaya dengan saya. Jujur sakit kala dia bertingkah seperti itu. Memang ini jalan takdir kami," ujar Ranti sembari berjalan beriringan dengan Bu Heny.
"Ranti, jangan mengambil keputusan kala hati kamu sedang marah seperti ini. Pikir anak yang ada di rahim kamu." Bu Heny kembali mencoba menenangkannya.
"Saya sih, memperjuangkan dia meski Ibu tahu sendiri, badai apa yang selama ini kami terjang demi mendapatkan dia. Tapi, Bu. Nggak mungkin, saya berjuang sendiri untuk mempertahankan, sedangkan Mas Nando tak menghiraukan. Berjuang itu berdua, Bu. Kalau sendiri, lebih tepatnya bod*h. Sudah tahu tak dihiraukan tapi masih tetap tinggal," ujar Ranti.
"Tapi, Ranti. Kalian sama-sama marah. Masa kamu kalah dengan ucapan orang yang salah. Untuk beberapa hari, biar kamu di sini. Jangan sampai kedua orang tuamu tahu, jika kalian bertengkar. Mereka cukup tahu bahagiamu, tanpa tahu rasa sedihmu. Biar saya bantu menasehati suamimu, dia bukannya tak mau berjuang, sayang. Lebih tepatnya, dia hanya bimbang dengan apa yang ia dengar saat ini," ujar Bu Heny tetap kekeh meminta mereka mempertahankan hubungan itu.
"Makasih, Bu. Biar saya pertimbangkan untuk itu." Ranti mencoba berpikir-pikir kembali.
Memang tak mudah bagi dia. Kala hidup bahagia ada saja badai yang mencoba menghancurkan mereka berdua. Tak kunjung memiliki anak, dia digunjing dengan sebutan wanita mandul. Kala ia memilikinya, badai berlalu semakin kencang. Fitnah perselingkuhan menerpa mereka. Bukan hal mudah untuk mereka lalui berdua. Tak bisa dipungkiri, jika mendengar dari mulut ke mulut walaupun tak melihatnya langsung, membuat hati suaminya lebih percaya, sebab orang bagi Nando tak mungkin orang lain berkata jika tak ada sebabnya.
Begitu juga dengan Ranti, ia selama ini kekeh menutupi segala cemoohan dari orang lain dari suaminya, demi kebahagian mereka selama ini. Saat Ranti tak kunjung hamil orang di luaran sana menyarankan jika wanita seperti Ranti tak pantas dipertahankan dan lebih baik dia menikah dengan orang lain. Namun, saat melihat Ranti hamil, saat itu juga keadaan berbanding terbalik dengan cemoohan Nandolah yang mandul diantara mereka.
***
Hari berganti dengan cepat. Pagi menyapa dengan sapuan angin yang menembus kulit Ranti. Kala itu ia sedang membantu Bu Heny untuk membersihkan halaman. Bu Sumi orang yang selalu menjadi kompor meleduk pun dengan sengaja lewat ke sana tanpa tahu harus bertujuan ke mana.
"Eh, Ranti. Minggat kok cuma sejengkal, itu namanya bukan minggat, Neng. Itu ngungsi!" Bu Sumi pagi-pagi buta sudah menyalakan api membara di kehidupan orang lain.
Bu Heny yang saat itu juga sedang memotong rumput di halamannya, seketika berdiri kala mendengar ucapan yang dilontarkan Ibu Sumi itu.
"Eh, Bu Sumi. Ini masih pagi, jangan buat ulah, ya. Kalau punya uang jangan dibiasain beli korek api, ya. Lain kali, dibeliin vitamin biar sehat badannya," ujar Bu Heny untuk membela Ranti.
"Eh, Heny! Maksud kamu apa ngomong seperti itu?" Bu Sumi pun bertanya menggunakan nada tinggi.
Bu Heny pun tersenyum sembari memegang bahu Ranti untuk mengajaknya hendak masuk rumah.
__ADS_1
"Nggak ada maksud, Bu. Jangan biasain manas-manasin hati orang, kalau nggak mau disangkut pahutin sama korek api. Yang bisanya membakar tapi tak bisa meredamkan. Masih pagi, Bu. Silakan belanja, kasihan anak dan suaminya. Ups, canda suami, Bu," ujar Bu Heny jika berkata suka ada benarnya.
______
Bu Heny suka melontarkan kata suami ke Bu Sumi, sebab ia janda. Bukan masalah apa-apa, jika Bu Sumi tak membuat ulah, Bu Heny pun juga malas untuk mengurusinya. Bu Heny pun dulunya juga menjadi salah satu sasaran orang untuk menjadi bahan gunjingannya. Kala ia baru menikah dan suaminya yang abdi negara jarang pulang, bisa hamil.
Bu Sumi pun menggunjing Bu Heny selingkuh pun tak hanya sekali. Namun, mereka berdua yang berpendidikan tinggi dan paham betul dengan sistem kehamilan pun tak menghiraukan ucapan Bu Sumi itu. Dia janda sebab ditinggal pergi suaminya. Suaminya yang tampan tetapi hanya menjadi buruh karyawan pabrik tak tahan dengan cemoohan istrinya itu.
Bu Sumi bukan wanita yang cantik, tetapi selera dan ucapannya yang tinggi malah membuat dia terlihat buruk oleh orang lain. Suaminya dari dulu pun tak lepas dari cemoohannya. Suaminya yang sabar pun tak tahan, kala istrinya setiap hari selalu menyebutnya tampan saja tapi tak mampu mencukupi.
Sebenarnya Suami Bu Sumi bukan tak mampu untuk mencukupi. Jika untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membeli pakaian anaknya pun masih tergolong cukup dan melampaui. Tetapi, karena gaya Bu Sumi yang selalu iri kepada orang lain membuat dia tak pernah bersyukur kepada apa yang ia miliki.
_______
Bu Sumi pun tetap marah-marah di depan rumah Bu Heny. Warga yang mulai aktivitasnya dan saat itu berlalu lalang di dekatnya pun malas untuk meredamkan emosinya. Mereka jenuh, dengan Bu Sumi yang terlalu ikut campur dengan orang lain. Namun, dengan tingkahnya seperti itu, masih daja beberapa orang mempercayainya. Terkadang godaan setan lebih menggoda untuk menjadi topik setiap harinya.
"Sumi, pagi-pagi berisik. Pulang sana, anakku lagi rewel dengar teriakanmu malah menjadi-jadi!" usir tetangga Bu Heny yang rumahnya bersebelahan.
"Alah, kamu aja yang nggak bisa ngurus anak. Ngapain urusi mulutku ini. Mulut-mulutku, kenapa kamu yang nyinyir," ujar Bu Sumi dengan santainya.
"Heh, kalau kamu tak teriak-teriak pun, aku tak akan hiraukan mulutmu. Masalahnya, kamu teriak di lingkungan rumahku. Pergi sana, jangan jadi orang gila. Punya masalah hidup apa, sih. Jadi orang kok sibuk banget, sesekali diam nggak bisa apa?" cecar tetangga Bu Heny.
Bu Sumi melipat tangannya di atas perut. Dia malah seakan-akan tak bersalah, malah menanggapi ucapan tetangga Bu Heny.
"Heh, ini jalan umum. Suka-suka aku dong mau ke mana saja! Jadi orang kok repot banget sama orang." Bu Sumi mengatakan itu tanpa melihat dirinya sendiri seperti apa.
Suaminya tetangga Bu Heny pun meredam amarah istrinya agar masuk ke dalam rumah, lalu menghampiri Bu Sumi.
"Bu, kalau tak ada kepentingan. Silakan pergi, ya. Bukan apa-apa, kasihan anak kecil lagi rewel." Suami tetangga Bu Heny pun mengusirnya dengan nada halus.
"Ngomong halus gini kan enak. Kamu kok mau sih, jadi suami orang cerewet seperti dia. Ih, kalau aku sih ogah, bikin pening kepala," ujar Bu Sumi sembari pergi menjauh dari lingkungan rumah Bu Heny.
Dalam hati suami tetangga Bu Heny berkata, 'Istriku mendadak cerewet ya gara-gara kamu, Bu. Mending istriku cerewet untuk kebaikan, lha kamu malah sibuk sibuk dengan urusan orang. Gemes deh, pengen beliin kaca Bu Sumi. Orang kok kaya gitu.'
__ADS_1
Suami tetangga Bu Heny pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Dia nggak habis pikir, Bu Sumi pandai menilai orang tapi tak bisa berkaca bagaimana dirinya sendiri.