Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Keluarga Sasa


__ADS_3

Ayah mengendarai mobil langsung menuju ke rumah Dinar, tak butuh waktu lama kami untuk menempuh menuju perjalanan.


Sesampainya di rumah Dinar, ayah parkiran mobilnya tepat di depan rumah. Kami satu persatu pun turun dari mobil.


Tok tok tok...


“Assalamualaikum,” Dinar mengucap salam sembari mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam, iya sebentar,” terdengar suara dari dalam rumah.


Pintu pun mulai terbuka, terlihat Ibu Dinar dari balik pintu.


“Oh, Ibu dan Ayah Keyla, mari masuk,” ucap Ibu Dinar.


Kami satu persatu mulai menjabat tangan Ibu Dinar.


“Malam Tante,” ucapku sembari menjabat tangan.


"Malam juga Key, mari semua masuk," ucap Ibu Dinar lagi.


"Dinar sayang, ganti baju dulu ya," suruh Ibu Dinar.


"Iya Bu," jawab Dinar.


Dinar pun masuk terlebih dahulu dan di belakang nya di susul kami yang mengekor.


Dinar pun berlalu pergi ke kamarnya.


"Silakan duduk, sebelumnya ada apa ya kok tumben rame-rame buat nganterin Dinar?


"Maaf ya, Pak, Bu kalau Dinar seharian ini merepotkan," kata Ibu Dinar.


"Tidak kok Bu, Dinar anaknya tidak merepotkan, justru saya berterima kasih pada Dinar karena sudah mau ikut dengan Kami,"jawab Ibu.


"Saya juga berterima kasih kepada Ibu, karena sudah mengizinkan Dinar," ucap Ibu lagi.


"Iya Bu, sama-sama," ucap Ibu Dinar.


Tak berselang lama, Dinar pun menghampiri kami.


"Ayo Om, Tante... Dinar sudah siap," kata Dinar.


"Sebentar-sebentar, ini mau ke mana lagi ya?" ucap Ibu Dinar dengan wajah yang tampak bingung.


"Begini Bu, sebenarnya kami mau ke rumah teman saya, dan di sana kami bermaksud ingin membantu anaknya yang lagi di ganggu makhluk tak kasat mata," jawab Ayah.


"Nah, si Dinar kebetulan juga ingin ikut lagi bersama kami, apa Ibu mengizinkannya lagi?" tanya Ayah.


Ibunya Dinar seketika menatap mata anaknya.


"Bu, aku mohon... Dinar ikut ya? nanti keluarga Keyla kemungkinan juga bawa kyai kok Bu, insyaallah aman," Dinar mencoba membujuk Ibunya.


"Tapi, Nak," jawab Ibu Dinar menggantung.


"Aku mohon Bu, nanti kalau kemalaman aku tidur di rumah Keyla saja, nanti Ibunya Keyla pasti tetap ngabarin Ibu kok," ucap Dinar sembari memegang tangan Ibunya.


Dinar pun menoleh ke arah ibu dan ayahku.


"Iyakan Tante, Om," ucapnya.


"Iya Tante, sepulangnya kami dari sini, kemungkinan kita panggil pak kyai untuk membantu kita," sahutku.


Aku melihat Ibu Dinar tampak memikirkan sesuatu.


"Iya, saya izinkan kamu Nak, tapi Ibu mohon kamu jaga diri baik-baik," kata Ibu Dinar sembari mengelus kepala Dinar dengan lembut.


"Iya Bu, makasih ya," ucap Dinar sembari memeluk Ibunya.


Ibunya Dinar membalas pelukan anaknya sembari tersenyum, di wajahnya terlihat mata yang sayu.


"Pak, Bu, saya titip anak saya," ucap Ibu Dinar.


"Pasti kami menjaganya Bu, Kalau Ibu mengizinkan Dinar, kami semua hendak berangkat ya, soalnya sudah di tunggu teman saya," sahut Ayah sambil melihat jam tangannya.


Ibu Dinar hanya menjawab dengan anggukan kepala. Selepas itu, kami semua pun beranjak dari tempat duduk, lalu melangkahkan kaki menuju mobil yang terpakir.


Kami memasuki mobil, tampak dari depan rumah Dinar, ibunya melambaikan tangan tanda perpisahan dan kami pun membalasnya.


Ayah kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Yah, kita mampir ke rumah pak kyai dulu ga?" tanyaku.


"Iya Nak, coba Ibu menelfon Pak Kyai terlebih dahulu biar beliau bisa siap-siang langsung berangkat nanti," ucap Ayah.


"Iya Yah," jawab Ibu.


Aku melihat ibu dengan hpnya mulai menelfon Pak Kyai. Panggilan pertama tidak diangkatnya.


"Ga di angkat, bagaimana ini?" ucap Ibu tampak gelisah.


"Coba terus saja Tante," sahut Dinar.


Ibu pun kembali menelfon nya hingga beberapa panggilan baru tersambung.


"Alhamdulillah, akhirnya tersambung. Halo, Assalamualaikum, Pak?" ucap Ibu sembari loud speaker panggilannya.


"Halo, iya Bu waalaikum salam," jawab Pak Kyai dari sebrang telefon.

__ADS_1


"Jadi begini, kami hendak meminta bantuan Bapak. Apa Bapak bisa? kami akan menuju rumah Bapak," ucap Ibu memberitahu.


"Bisa Bu," jawabnya.


"Kami mohon, Bapak bersiap-siap ya. Karena Suami saya akan membawa Bapak ke rumah temannya, nanti lebih jelasnya saya jelaskan kalau sudah bertemu," ucap Ibu.


"Baik Bu," jawabnya lagi.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di depan rumah Pak Kyai. Kami melihat, beliau sudah berdiri di depan pagar rumahnya menunggu kami.


Ayah berhenti tepat di depan Beliau. Ibu yang awalnya duduk di kursi samping kursi kemudi sekarang turun.


"Mari Pak, silakan masuk," ucap Ibu ke Pak Kyai.


Beliau hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman, sedangkan Ibu berjalan menuju kursi belakang bersama kami.


Setelah itu, ayah kembali melajukan mobilnya dengan lumayan cepat.


"Sebenarnya ada apa Pak?" tanya Pak Kyai.


Kami mulai jelaskan satu persatu yang sudah kami alami dan juga permohonan dari teman ayahku untuk menolongnya.


Selama perjalanan kembali ke rumah Om Adi, entah kenapa tidak semudah waktu kita hendak pulang tadi. Seperti ada yang menghalangi jalan kami.


Beberapa kejadian ganjil berkali- kali kita alami. Salah satunya seperti saat kami mendengar dentuman keras di atas mobil kami. Semenjak kejadian itu kami tak henti-hentinya membaca istighfar.


"Sepertinya, ada yang sengaja menghalangi kita untuk datang Pak," ucap Pak Kyai.


"Terus, apa yang perlu kita lakukan Pak?" tanya Ibu.


"Kita semua jangan ada henti-hentinya untuk memohon perlindungan kepada yang mahakuasa," ucap Pak Kyai.


Cukup lumayan lama perjalanan kami kali ini.


Entah kenapa, Ayah sampai lupa jalan yang akan baru saja tadi kita lalui.


"Yah, sepertinya jalannya bukan ini deh?" ucap Ibu.


"Ayah juga merasa begitu Bu, entah kenapa Ayah bisa lupa," jawab Ayah.


Aku melihat pak kyai tak henti-hentinya melafadzkan Ayat suci Alquran. Tiba-tiba ayah pun kembali mengingat jalan yang akan kami tuju.


Cukup lama, kami baru sampai. Ketika Ayah memarkirkan mobil, dari dalam rumah terdengar suara yang gaduh.


Sontak kami semua berlari menghampiri.


Tok tok tok...


Ibu mencoba mengetuk pintu.


"Tolong, tolong kami," terdengar suara orang meminta tolong dari dalam rumah.


Ayah dan pak kyai yang mendengarnya langsung bergegas mendobrak pintu. Berkali-kali mereka mencoba mendobrak pun tak kunjung bisa.


"Bagaimana ini Yah?" tanya Ibu.


Ayah tak memberi jawaban, langsung mencoba mendobrak pintunya lagi, hingga terbuka.


"Alhamdulillah terbuka," ucap Ayah.


Kami semua pun lari ke dalam rumah, kami melihat isi rumah sudah berantakan.


"Tolooong," terdengar seperti suara Om Adi dari lantai atas rumah ini.


Kami bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas dan di sana kami di buat kaget.



Aku melihat, Kak sasa terbaring di udara.


Tak jauh dari Kak Sasa terlihat ibunya sedang menangis memeluk Om Adi suaminya.


Ketika mereka melihat kedatangan kami, mereka langsung menghampiri. Di sini Pak Kyai mencoba mengusir arwah yang menggangu keluarga ini dengan membacakan ayat suci Alquran.


Tapi itu semua nihil, Kak Sasa semakin mengamuk dan berteriak.


"KU BUNUH KAU ADI," ucap Kak Sasa dengan suara menggema.


"Saya mohon, jangan ganggu keluarga kami," ucap Om Adi dengan suara serak menahan air mata.


Tiba-tiba Kak Sasa bangun dengan wajah tersenyum yang mengerikan. Dia berlari menuruni anak tangga dengan cepat.


"Sasa," panggil Om Adi.


Sedangkan istri Om Adi hanya menangis di pelukan Ibuku.


Kami semua menyusulnya.


"Sasa, kamu di mana, Nak?" teriak Om Adi memanggil.


Praaaang....


Terdengar barang jatuh dari arah dapur.


"Sasa," Om Adi tetap memanggil.


Om Adi melangkahkan kaki menyusul anaknya. Dari kejauhan kami melihat, Kak Sasa membawa pisau dan di acungkan ke arah Papanya.

__ADS_1


"Adi, kamu menjauh, bahaya!" Teriak Ayahku.


Kak Sasa semakin mendekati Om Adi.


"Sasa, sadar Nak. Ingat ini Papa," ucap Om Adi dengan deraian air mata di pipi.


"HAHAHAHAHA, KU BUNUH KAU ADI," ucap Kak Sasa lagi.


Pak Kyai sedari tadi tetap membacakan Ayat suci Alquran. Tetapi hasilnya tetap nihil.


Kak Sasa dengan cepat berlari ke arah Om Adi dan mencoba menusuknya dengan pisau.


"Papa," teriak Istrinya.


Ayah dan Pak Kyai dengan sigap berlari menghampiri.


"KALIAN BERANI MENDEKAT, KU BUNUH JUGA KALIAN!" ucap Kak Sasa lagi.


Dengan gerakan cepat Kak Sasa berhasil menggoreskan pisau ke tangan Om Adi. Darah segar mengucur dari tangannya.


"HAHAHA, DARAHMU MEMBUAT AKU BAHAGIA ADI," ucap Kak Sasa lagi.


Dengan lengahnya Kak Sasa, Ayah dan Pak Kyai berhasil memeganginya.


"LEPASKAN AKU!" Kak Sasa mencoba memberontak.


"Ambilkan tali," teriak Ayah kepada kami.


Istri Om Adi bergegas meninggalkan kami untuk mengambil tali. Setelah itu, Kak Sasa dengan terpaksa di ikat.


Pak kyai terus menerus melafadzkan Ayat suci Alquran, mencoba untuk menyadarkannya.


"Kamu siapa?" tanya Mamanya Kak Sasa ke anaknya.


"KALIAN TIDAK PERLU TAU SIAPA AKU!" jawabnya dengan ketus.


"Mau mu apa? kenapa mengganggu keluarga kami," tanya Mamanya lagi.


"KALIAN BODOH, LAMA AKU MENGINCAR MU, INGIN MEMBUNUH MU ADI," kata Kak Sasa sembari melihat Om Adi.


"Apa salahku? sehingga kamu berbuat ini kepada kami," sahut Om Adi.


"HAHAHA, DIA DENDAM KE KAMU, KAU MERUSAK USAHANYA," jawabnya.


"Usaha?" terdengar suara Om Adi beserta Istrinya.


"Jangan-jangan, Bramono?" ucap Om Adi.


"HAHAHA IYA, KAMU TERLALU BODOH," ucapnya lagi.


Pak Kyai terus mencoba menyadarkannya dan akhirnya jin itu dapat dikalahkan. Sebelum jin itu meninggalkan raga kak Sasa dia hanya tertawa dan berteriak.


"HAHAHA, ADI BODOH,"ucapnya terus berulang ulang hingga dia sudah pergi dari tubuh Kak Sasa.


Aku melihat Kak Sasa pingsan, Mamanya Kak Sasa bergegas menghampiri anaknya.


"Sasa, bangun Nak," kata Mama Kak Sasa sembari menangis.


Aku mengambilkan air minum, setelah Kak Sasa sadar ku berikan air ke Mamanya.


"Mah, ada apa?" tanya Kak Sasa kebingungan.


"Minum dulu ya, Nak," Kata Mamanya sembari meminumkan airnya ke Kak Sasa.


Om Adi mengajak pindah kami ke ruang tamu, di sana dibaringkan Kak Sasa di sofa.


"Bramono? siapa Pa?" tanya Istri Om Adi.


"Dia sama-sama memiliki usaha seperti kita Ma. Di saat usaha kita naik, mungkin di kira kita menghancurkan usahanya karena selama ini usahanya terlihat sepi," jelas Om Adi.


"Tapi, kenapa dia setega itu," jawab istrinya.


Om Adi hanya menggelengkan kepalanya sembari mengelus kepala anaknya.


"Tante, apa Kak Sasa juga seperti aku? bisa melihat makhluk tak kasat mata?" tanyaku.


"Aku juga tidak tahu, Nak. Karena selama ini kami sibuk bekerja," jawab Istri Om Adi.


"Iya aku bisa," sahut Kak Sasa.


"Tapi mereka, orang tuaku hanya menganggap ku mengigau, menghayal karena mereka tak percaya makhluk tak kasat mata," ucap Kak Sasa lagi.


"Iya, memang dari kecil dia suka menggambar apa yang dia lihat katanya," sahut Om Adi sembari pergi ke arah kamarnya.


"Mau ke mana Om?" tanyaku.


Om Adi seketika berhenti dan menoleh ke arahku


"Sebentar aku ambilkan buku yang selama ini Om simpan, buku itu biasanya untuk Sasa menggambar," jawabnya.


"Jadi, Papa selama ini tak membuangnya?" tanya Kak Sasa tampak terkejut.


Tanpa menjawab Om Adi kembali untuk mengambil buku yang ingin beliau tunjukan ke kami.


Aku melihat Om Adi kembali dari kamarnya dengan menenteng sebuah buku. Setelah berada di dekat kita, beliau menunjukan buku itu.


__ADS_1


Buku itu terlihat kuno, Kak Sasa mengambil buku itu.


"Akan aku ceritakan, kisahku sedari kecil dengan buku ini," ucap Kak Sasa.


__ADS_2