Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Ayah


__ADS_3

Nenek pun datang menghampiri mereka berdua, beliau panik kala melihat ayah tergeletak di lantai. Saat bersamaan dengan kedatangan nenek, ayah membuka mata. Namun terlihat tatapan yang kosong yang di pancarkan.


"Le, sadar." Ujar nenek sembari menggoyang-goyangkan badan ayah. (Le sebutan yang dipakai orang jawa untuk menyebut anak laki-laki)


Nenek kata ayah dari cerita Pakde Hadi terlihat panik.


"Kenapa to, Le? Kok Adikmu bisa gini?" tanya nenek.


Ayah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, matanya melotot ke arah atas.


"Panggil Bapakmu, Le. Kenapa adikmu ini?" tanya nenek tampak panik.


Pakde Hadi menuruti kemauan nenek, setelah itu kakek pun datang dengan mata yang terlihat mengantuk.


"Kenapa, Adikmu?" tanya kakek ke Pakde Hadi.


"Katanya tadi dia diikuti setan, Pak. Tiba-tiba terjatuh gitu aja, aku nggak tahu kenapa," jawab Pakde Hadi saat itu.


"Pak e anakmu gimana? Kesurupan ini," ucap nenek.


Kakek dengan pengetahuan mengajinya mencoba menyadarkan dengan bacaan-bacaan yang beliau paham, dan tentu nya dibantu oleh Pakde Hadi.


Saat itu ayah sadar dan beliau ternyata sudah berada di kamar. Ayah celingukkan melihat semua yang terlihat panik.


"Ada apa to, Bu?" tanya ayah yang tak mengerti.


"Kok bisa? Kamu lakuin apa?" tanya kakek.


Ayah menunduk, ingin bercerita namun ragu. Beliau takut saat itu kakek memarahinya. Pakde Hadi tetap memaksa, bahkan beliau diancam Pakde kau mau coba tanya keteman-temannya yang biasa bersamanya.


"Aku tanya ke Rudi kalau nggak mau cerita," ujar Pakde Hadi.


Dan setelah itu, ayah pun mengakui jika sebenarnya ayah iseng dan mencoba-coba membuka mata batin. Beliau pun sebelum itu melakukan tirakat puasa seperti yang ditentukan. Ternyata dari keempat anak itu hanya ayah mata batinnya yang mampu terbuka.


Beliau oun juga kaget dan merasa heran. Ayah nggak menyangka bakal ada kejadian seperti ini. Ayah merasa menyesal.


Hari terus berganti, kakek dan nenek mencoba menutup mata batinnya namun tak semudah itu. Ayah pun sering kerasukan, tetapi kata ayah lambat laun pun bisa menerimanya.


Kendalanya ayah tak bisa mengendalikan kemampuannya itu. Hampir satu tahun berjalan, ayah mulai menerima semua itu tetapi tetap terkendala dengan seringnya kerasukan.

__ADS_1


Nenek dan kakek pun sudah beberapa ksli membawanya ke orang pintar untuk di tutup tapi tetap tak mampu. Hingga suatu hari, tetangganya memberitahukan ada ruqyah masal di kota dan bisa menyembuhkan dengan keluhan yang di miliki ayah.


Ayah sempat menolaknya, tetapi kedua orang tua ayah tetap memaksa karena tak tega selalu melihat ayah seperti itu.


Keesokannya ayah beserta keluarga pergi ke kota dengan menyewa mobil tetangganya. Mereka sengaja berangkat saat matahari bekum terbit, agar sampai kota tidak kesiangan.


Acara itu di mulai pukul 07.00. Mereka saat itu berharap tiba sebelum waktu itu. Dan benar saja, mereka sampai sana pukul 06.00 tetapi orang di sana cukup penuh.


"Sudah penuh orang, Pak. Kita kebagian tidak nanti?" ujar ibu.


"Aku sama Mas Hadi coba tanya ya, Bu," ujar ayah.


Ayah dan Pakde Hadi pun segera menghampiri segerombolan orang di sana. Beliau mencoba menanyakan perihal acara ini, ternyata mereka harus daftar ke panitia. Tanpa di suruh orang tua, mereka pun ke tempat panitia pendaftaran dan ayah mendaftarkan diri.


Setelah itu mereka menghampiri nenek dan kakek setelah daftar. Butuh waktu yang sangat lama hingga ayah dipanggil, ayah pun di tanyakan keluhannya dan keinginannya. Sehingga beliau ingin tak dapat melihat setan lagi dan tentunya untuk memagarkan badannya agar tak dirasuki lagi.


Ruqyah pun di mulai, perlu waktu yang tak sebentar untuk itu. Setelah selesai ayah di bekali beberapa surat ayat suci Al-Quran untuk memagari tubuhnya agar tak dapat kerasukan lagi.


Mereka pulang hari sudah terlihat sore, sejak saat itu ayah dapat lagi melihat lagi makhluk tak kasat mata. Beliau merasa asing lagi dengan ketidak mampuannya itu. Beliau awal-awal hanya tak bisa melihat makhluk tak kasat mata saja, namun masih bisa merasakan kehadirannya.


Namun setelah melakukan amalan yang di berikan pak kyai yang menanganinya, ayah tak bisa melihat hantu dan tak dapat merasakan kedatangannya juga. Kata ayah perlu waktu yang lama juga untuk adaptasi kembali.


Kata ayah beliau seakan-akan mencari sesuatu yang hilang dari tubuhnya.


*****


"Jadi cerita singkatnya kurang lebih gitu, Dek. Itu pun ayah dulu ketika kerasukan hanya mendengar dari cerita Almarhum Pakde Hadi," ujar ayah.


Aku tersenyum ke arah ayah.


"Lalu kenapa kalian mau nutup penglihatanku? Aku malah dari kecil loh bisa, butuh waktu berapa tahun untuk adaptasi? Bisa gila aku merasa ada yang hilang," ujarku sembari menyunggingkan sedikit senyumku.


"Ibumu itu, Dek. Ayah nolak dengan usulan itu," jawab ayah.


Aku pun bergegas menoleh ke arah ibu.


"Ibu nggak tahu kalau bakal begitu efeknya, Dek," ibu memberi alasan.


Aku mengernyitkan keningku.

__ADS_1


"Memangnya ayah nggak cerita?" tanyaku.


Ibu hanya menggelengkan kepala tanpa mengucapkan sesuatu.


"Ayah sengaja kubur dalam-dalam tingkah Ayah dulu, Dek. Nggak tahunya kemampuan itu turun ke kamu," ujar ayah.


Aku tersenyum, ternyata di hidupku sama seperti ayah. Aku baru sadar, ternyata ayah selalu mendukungku dan mengarahkan tentang kemampuanku karena beliau pernah memiliki kemampuan yang sama.


"Pantas saja Ayah selalu mengarahkan aku seolah-olah ayah tahu. Ternyata ini alasannya," ujarku.


Ayah mengelus kepalaku sembari tersenyum.


"Entah Ayah dari dulu memang ingin bungkam. Tadi kalau bukan kamu yang maksa Ayah, mungkin nggak akan pernah bercerita," jawab ayah.


"Kan kalau Ayah cerita dari dulu, mungkin aku nggak akan pernah merasa minder atau pun beda sendiri, Yah," ujarku sembari cemberut.


"Maaf ya, Dek," kata ayah.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu memeluk ayah. Tak terasa adzan magrib pun berkumandang, kami memutuskan menyudahi cerita ini dan segera bergegas untuk salat magrib berjamaah.


Setelah salat berakhir, kami pun keluar dari kamar dan ikut berkumpul dengan nenek dan Tante Santi.


"Halo, Key." Ujar Jeje.


"Halo, Je. Ngapain?" tanyaku melihat Jeje duduk di meja makan dan terdapat buku yang berjejer di depannya.


"Aku belajar, sembari ikut Nenek dan Mamaku masak, he he he," jawab Jeje.


Aku pun menggerakkan roda kursiku dengan tangan menghampiri ke arah Jeje.


"Kangen juga belajar, boleh aku bantu?" tanyaku.


Jeje malah melihat ke arah ibu tak bergegas menjawab pertanyaanku.


"Jangan dululah, Key. Jangan dipaksa, kasihan kamu," ujar Jeje melarangnya.


Aku menatap ibu dengan mulut cemberut.


"Boleh ya, Bu?" tanyaku.

__ADS_1


Ibu dan ayah ternyata menggelengakan kepalanya secara bersamaan.


Bersambung ....


__ADS_2