Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Boby


__ADS_3

Ketika kami hendak memasuki rumah Tante Sita,tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Tante Sita berbunyi.


"Halo," ucap Tante Sita.


Beliau tampak mendengarkan orang yang berada di seberang telepon, tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah.


"Apa? Kok bisa?" ucapnya tampak kaget.


"Kenapa, Ta?" tanya Clara.


Pertanyaan Clara pun tak dihiraukannya, beliau masih mendengarkan orang yang berada di seberang telepon dengan seksama.


"Oke, baik. Terimakasih infonya," ucap Tante Sita lagi sembari mematikan teleponnya.


"Kenapa, Ta?" tanya Clara tampak penasaran.


Tante Sita melangkah masuk ke dalam rumahnya, lalu beliau duduk di sofa ruang tamu sembari menyangga pelipisnya dengan telapak tangan.


Beliau menarik nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


"Boby, kabur dari kantor polisi. Sembari membawa senapan salah satu pihak kepolisian," ucap Tante Sita.


"Kok bisa?" ucap Clara juga terperanjat kaget.


Tante Sita hanya mengedikan bahunya tanda beliau tak mengerti.


"Ya Allah, kenapa seruwet ini," ucap Ibu.


Aku memeluk ibuku, entah apa yang tengah beliau rasakan. Wajah yang biasanya terlihat ceria, tapi hari ini berubah menjadi lesu.


Mungkin beliau capek dengan semua ini. Tiba-tiba aku teringat ayah yang tengah di luaran sana. Ada bahaya yang mengancam nyawanya.


"Bu, Ayah gimana?" tanyaku.


Ibu yang mendengar ucapanku, bergegas mengambil ponsel di saku celananya. Beliau tampak mencari nomor telepon ayahku.


Tuuuuut....


"Halo, ada apa, Bu?" tanya Ayah di seberang telepon.


"Ayah, di mana? Cepat ke rumah Sita, si Boby berhasil kabur dari kantor polisi dan dia membawa senapan salah satu polisi," ucap Ibu memberitahu.


"Apa, kabur? Kami lagi di jalan, jalanan hari ini cukup macet," ucap Ayah.


"Apa, Dim?" terdengar suara Om Deni menyahut omongan Ayah.


"Boby kabur dan dia membawa senapan," Ayah terdengar menjawab pertanyaan Om Deni.


Kami yang berada di sini hanya mendengarkan melalui ponsel ibu.


"Kalian berjaga-jaga, mungkin Boby semakin nekat dengan kejadian ini. Kami segera ke sana," ucap Ayah.


Setelah mendengar ucapan ayah, beliau segera mematikan ponselnya. Kami yang berada di sini gelisah mendengar kabar itu.


Kami tak tahu harus berbuat apalagi.


Tok-tok-tok!

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu.


Kami yang mendengarnya hanya bisa saling bertatapan mata, kami enggan untuk membukakan pintu.


Suara ketukan pintu yang awalnya biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi gedoran yang cukup keras.


"Sita sayang, buka pintunya. Aku sayang kamu," Terdengar suara laki-laki di depan pintu.


Mungkin suara itu dari Om Boby, kami semakin panik.


"Gimana ini, Ra," ucap Tante Sita.


"Ajak ngomong baik-baik saja, mungkin dia bisa kamu ajak bicara secara halus," ucap Clara.


"Aku takut, jika dia menyakitiku," ucap Tante Sita.


"Coba dulu, ayo aku antar," ucap Clara.


Mereka berdua menuju pintu depan, sedangkan aku dan Ibu hanya mengekor dibelakangnya.


Pintu secara perlahan dibuka Tante Sita. Benar saja, orang yang berada di depan adalah Boby. Ditangannya dia menggenggam satu senapan.


"Mau mu apa? Jangan sakit aku," ucap Tante Sita sembari menitikkan air matanya dan kepala yang tertunduk enggan melihat Om Boby.


"Aku tidak akan pernah menyakitimu, aku ingin hidup semati denganmu," ucap Om Boby sembari mengangkat dagu Tante Sita.


Saat ini wajah Tante Sita menghadap kearah Om Boby, tapi pandangannya dialihkan kearah yang lain. Deraian air mata terus mengalir di pipinya. Mungkin Tante Sita sedang menahan rasa takutnya.


Aku dan Ibu hanya saling berpelukan, sedangkan Clara berada tepat di belakang Tante Sita.


"Boby, aku tahu kamu tidak pernah sejahat ini. Apa penyebab semua ini? Kenapa kamu beda?" Desak Clara.


Dari kejauhan terdengar suara tembakan.


Om Boby yang mendengarnya sontak menarik Tante Sita. Om Boby menghimpit leher Tante Sita dengan lengannya.


Pihak kepolisian datang bersamaan dengan ayah dan Om Deni beserta istrinya. Kami panik ketika Om Boby mengarahkan senapan itu kearah kami, sembari menyeret Tante Sita mengikuti arahannya.


"Jangan mendekat, atau senapan ini akan aku tembakan kearah kalian!" ancaman Om Boby.


Tante Sita semakin deras meneteskan air matanya, beliau terlihat takut.


"Aku tidak akan seperti ini, kalau tidak karena perbuatan kalian," ucap Om Boby.


"Salah kami apa?" sahut Ayah.


"Kalian berani menggagalkan rencanaku, kalian telah membunuh anakku dan kalian juga yang membuat istriku jauh dari hidupku!" teriak Om Boby, terlihat beliau menitikkan air matanya.


"Mas, lihat dirimu sendiri. Itu bukan salah mereka, mereka juga yang melarang bosmu untuk melaporkanmu dengan kasus penggelapan uang," ucap Tante Sita.


Om Boby terlihat kaget mendengar ucapan Tante Sita.


"Mereka juga yang membantu, membayar sedikit hutangmu di kantor. Kamu harusnya bersyukur karena mereka, kamu hanya di keluarkan tidak sampai berurusan dengan kepolisian," ucap Tante Sita lagi.


"Diam, kamu jangan membelanya," ucap Om Boby yang tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Aku tidak pernah membelanya, kamu harusnya berkaca. Aku tidak pernah menuntut keuangan darimu, tapi kamu malah semena-mena menghambur-hamburkan uangmu untuk berjudi, mabuk!" ucap Tante Sita dengan teriak.

__ADS_1


Om Boby hanya Diam, dia tak mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Anakmu meninggal, itu karena sudah takdirnya. Aku sudah berusaha untuk membiayai pengobatannya, bahkan temanmu Hendra dan istrinya menyumbangkan sebagian tabungannya untuk membantuku. Kamu ke mana saat anakmu menghadapi sakaratul maut, Hendra dan istrinya yang ada di sisiku saat itu!" ucap Tante Sita dengan deraian air matanya.


"Ta-tapi kan, kamu tidak pernah membicarakan ini semua," ucap Om Boby terbata-bata.


"Tak ada satupun temanmu yang mau kamu mengetahuinya, mereka takut kamu merasa di rendahkan saat tahu kebaikan mereka. Mereka hanya menjaga persahabatan kalian dengan baik, tetapi apa balasannya, kamu kejam!" kata Tante Sita dengan tegas.


Om Boby bersimpuh dilantai, beliau tampak menyesali perbuatannya.


"Aku membunuh Hendra beserta anak dan istrinya, aku buang kubur mayatnya," ucap Om Boby.


"Apa?" Tante Sita terperanjat kaget.


Plak!!


Tamparan Tante Sita berhasil mendarat di pipi Om Boby.


****


Di sini Om Boby bercerita, beliau membunuh orang yang tidak di kenalnya dengan cara dicekik, lalu dibakar untuk merekayasa kematiannya. Bahkan saat korban di temukan, saat itu juga Om Boby berada di sana.


Awalnya Om Boby merasa frustasi karena merasa dunia tak mendukungnya, dia depresi ingin mengakhiri hidupnya. Di sisi lain dia ingin membalaskan dendamnya ke tiga temannya, yang ternyata semua itu hanya kesalah pahaman.


Lalu, beliau keluar rumah saat itu. Dia melihat orang gila di pinggir jalan, beliau menghampirinya lalu membunuhnya, terus Om Boby menulis surat seolah-olah itu memang benar dirinya. Beliau dengan kejam membakarnya, lalu menghampiri rumah tetangganya satu persatu, diketuk pintunya agar mereka mengetahui kasus rekayasa dia bunuh diri itu.


Dia berlari menjauhi kerumunan warga. Ketika orang-orang tidak mengetahui surat yang ditulisnya itu, beliau melemparkan batu kerikil dan tepat mengenai batu yang digunakan menindih tulisan itu agar tidak terbang.


Kemudian, salah seorang warga mengetahui surat itu, lalu di berikan oleh warga yang lain. Malam itu, Om Boby pergi ke hotel. Beliau tidak tahu lagi harus ke mana, dia bingung.


Saat berada di parkiran hotel, beliau melihat ada pria yang mungkin sebaya dengannya. Dia menghampirinya, lalu memukul punggungnya hingga tak sadarkan diri.


Lagi-lagi beliau menyeret pria itu tak jauh dari hotel, lalu Om Boby menggali lubang yang seukuran dengan orang itu, setelah itu Om Boby mengambil semua barang yang ada pada orang itu. Kemudian dengan kejamnya Om Boby mengubur orang itu dengan keadaan yang masih bernapas.


Om Boby meninggalkannya begitu saja, lalu memasuki hotel dengan identitas yang dimiliki korbannya. Tak hanya sekali, Om Boby berkali-kali membunuh korbannya hanya untuk merampas harta benda orang yang akan menginap di situ.


Om Boby dengan liciknya, selalu check in dan check out menggunakan tanda pengenal yang berbeda-beda. Dan pihak hotel pun entah kenapa tidak pernah mencurigainya.


Karena selama ini tak pernah Om Boby menampakan sikap buruknya. Malam itu, kebetulan Om Boby melihat keluarga Om Hendra berada di sini, keluarga Om Hendra menyewa kamar di lantai empat di hotel yang sama dengan Om Boby..


Awalnya terlihat biasa saja, waktu Om Hendra bekerja, Om Boby mengetuk pintu kamar Om Hendra, yang berada di kamarnya istri dan anaknya. Beliau mengaku sebagai cleaning service yang akan memperbaiki kran kamar mandinya.


Saat istri Om Hendra mengantarkan Om Boby ke kamar mandi. Dengan tega Om Boby menyeret istri Om boby, lalu menenggelamkan kepalanya ke bak mandi. Beliau melakukan itu sampai istri Om Hendra sudah tak bernafas lagi.


Om Boby juga melakukan hal yang sama kepada anak Om Hendra. Saat istri Dan anak Om Hendra sudah kehilangan nyawanya, saat itu juga beliau mengirimkan pesan kepada Om Hendra dengan kesan istrinya lagi bahaya. Sehingga Om Hendra bergegas kembali ke hotel, saat Om Hendra masuk ke dalam kamarnya, Om Boby bersembunyi di kamar mandi.


Saat itu, Om Hendra mencari keberadaan istrinya, saat Om Hendra membuka pintu kamar mandi beliau terkejut saat mendapati anak istrinya sudah tidak bernyawa. Saat itu juga Om Boby melancarkan aksinya dengan menusukkan pisau ke perut Om Hendra.


Om Hendra pun kehabisan darah, sebelum Om Hendra meninggal, kata Om Boby sempat mengucapkan sesuatu.


"Kau pembunuh, kau licik," ucap Om Hendra, lalu beliau menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat itu, Om Boby mendobrak satu kamar kosong yang ada di lantai empat. Mayat keluarga Om Hendra di masukan di kamar itu, lalu di sayat wajahnya hingga tak dapat dikenali lagi.


Om Boby saat itu juga melakukan check out menggunakan identitas Om Hendra, tetapi sebelumnya Om Boby mengembalikan baju cleaning servis ke salah satu loker di tempat pegawai.


Maka dari itu, saat pengungkapan kasus mayat yang ada di lantai empat, yang di tangkap adalah salah satu dari pegawai dari hotel itu. Padahal dia tidak mengetahui apapun.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Om Boby tetap di sana, tetapi selau melakukan kejahatan yang sama dan tujuannya untuk merampas harta benda milik orang yang menginap di sana.


Bersambung....


__ADS_2