Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Pindah


__ADS_3

Dandi pun menoleh ke arah Dinar yang menghampirinya. Dinar lekas duduk di dekatnya.


"Sabar, ya. Aku ikut berduka," ujar Dinar.


"Kamu malam-malam begini mau ke mana?" tanya Dandi.


"Nggak penting aku mau ke mana, yang penting kamu yang sabar, ya. Aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita sayang. Aku yakin kamu kuat," ujar Dinar.


"Makasih ya, Din." Dandi saat ini sudah merasa tenang saat Dinar menemaninya. Sebelum pemberangkatan jenazah, Dinar memutuskan untuk berpamitan pulang, sebab tadi meminta izin ke orang di rumah jika keluar sebentar untuk membeli sesuatu ke swalayan yang kebetulan dekat dengan jalan rumah Dandi.


"Aku pulang dulu ya, Dan. Sudah larut, takut dicari orang rumah. Kamu yang sabar," ujar Dinar.


Dinar pun mengantarkan hingga jalanan besar, kemudian pulang. Dia kembali mengayuh sepedanya hingga sampai rumah.


"Assalamualaikum." Dinar mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam." Terdengar suara sahutan Kak Dita dari dalam rumah. Tak berselang lama, pintu rumah pun terbuka.


"Loh, katanya beli jajanan, nggak jadikah?" tanya Kak Dita.


Dinar berangsur masuk ke dalam rumah. "Tadi ada keramaian di rumah Dandi, jadi aku menghampiri. Eh, nggak tahunya, Neneknya meninggal dunia."


Kak Dita menutup pintu, lalu mengekor di belakang Dinar.


"Loh, lalu dia sama siapa?" tanya Kak Dita.


"Nah, aku nggak tahu, Kak. Aku mau tanya, takut dia tambah sedih." Dinar duduk di sofa, bersama Kak Andre dan ibunya.


"Apa, Din?" tanta ibunya.


Si Dinar pun menjelaskan pertanyaan ibunya seperti ia menjelaskan ke kakaknya.


"Terus, sekarang sudah dimakamin belum?" sahut Andre.


"Sudah, Kak. Kebetulan, tadi aku pamit pulang bebarengan sama jenazahnya diberangkatkan ke makam," jawab Dinar.


Setelah itu, mereka berembukan berencana untuk pergi ke rumah Dandi besok. Sebab, malam ini sudah larut, kasihan Dita juga yang saat ini sedang mengandung.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi buta mereka segera bersiap-siap untuk ke rumah Dandi sebelum berangkat kerja dan sekolah. Dinar membawa serta buku sekolahnya, berniat mengajak Dandi untuk berangkat bersama dengan diantar Kak Andre.


"Din, sudah siap belum?" tanya Dita menghampirinya ke kamar.


"Iya, lagi nyiapin buku," jawab Dinar dari dalam kamar.

__ADS_1


"Buruan, biar nggak kesiangan kalian berangkatnya," ujar Dita, lalu pergi meninggalkan kamar Dinar.


Setelah semuanya dianggap siap, Dinar segera keluar dari kamarnya dan menguncinya dari luar. Dinar pun segera menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di ruang tengah.


"Sudah?" tanya Dita.


"Sudah, Kakak. Yuk," ujar Dinar mengajak mereka berangkat.


Semua masuk ke dalam mobil. Walaupun jaraknya dekat, tetapi mereka membawa mobil guna lebih cepat sampai. Sesampainya di depan rumah Dandi, terlihat satu mobil pribadi dan satu mobil pengangkut barang. Beberapa barang di rumah itu di keluarkan, sontak menimbulkan pertanyaan dalam benar mereka.


"Kok diangkut semua?" gumam Andre.


Mereka bergegas turun dan menghampiri orang yang sedang mengangkut.


"Mau ke mana ya, Pak?" tanya Dita.


"Mau pindahan, Neng." Bapak-bapak yang ditanya memberikan penjelasan.


"Kemana?" sahut Dinar.


"Nggak tahu, Neng. Tanya pemiliknya di rumah," jawab bapak itu lagi.


Dinar yang mendengarnya, sontak berjalan cepat dan mencari Dandi di dalam rumah.


"Assalamualaikum. Dandi." Dinar mencarinya.


"Kamu kenapa? Kamu mau pindah ke mana?" tanya Dinar.


Dandi hanya menggelengkan kepalanya.


"Sama siapa?" tanya Dinar lagi.


"Ayah dan Ibuku. Dia datang menjemputku," ujar Dandi.


"Kok kemarin nggak bilang? Kamu nggak sekolah di sini lagi?" tanya Dinar.


Lagi-lagi Dandi menggelengkan kepala. Sedangkan Dinar menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Kenapa semua yang dekat denganku semuanya pergi. Sahabatku, kamu, semua pergi."


"Sebenarnya aku juga nggak mau, tapi harus gimana lagi, Din. Aku terlanjur nyaman di sini, kita bisa saling memberikan kabar di ponsel, ya." Dandi memberikan usulannya.


"Iya, Dan. Semoga kamu nyaman di tempat barumu, hati-hati, ya." Dinar tersenyum ke arahnya.


Ternyata selama mereka ngobrol, kedua keluarga mereka juga saling berbicara, walaupun entah apa yang akan mereka bicarakan.


"Kamu nggak sekolah hari ini?" tanya Dinar.

__ADS_1


"Nggak, Din. Kami harus pergi hari ini, padahal aku sudah mengatakan jika harus berpamitan dulu. Eh, mereka nggak mau mengerti keinginanku. Mereka mengajak kami pergi dengan terburu-buru. Apa yang menjadi alasan mereka pun, aku tak paham." Dandi merasa kebingungan dengan tingkah orang tuanya.


Mereka datang tanpa kabar dan pergi terburu-buru seolah-olah dikejar-kejar hantu. Dandi setiap kali menanyakannya selalu tak dijawab, bahkan tak mereka respon sama sekali.


"Sudah siap, Bu." Bapak pengangkut barang memberitahukan.


"Oke, baik." Ibunya Dandi mengiyakan. "Kami berangkat dulu, ya. Maaf, kami nggak bisa berlama-lama. Bukan bermaksud mengusir, memang kami memiliki kepentingan lain."


"Oh, oke. Baik, kalau begitu kami pulang dulu," jawab ibunya Dinar.


"Din, ayo," ajak Dita.


Dinar yang mendengarnya, sontak saling memandang dengan Dandi.


"Aku diajak pulang, Dan," ujar Dinar.


Dandi secara perlahan menganggukkan kepala. "Iya, Din. Kamu baik-baik di sini, ya. Aku suka berteman denganmu, semoga kamu tak melupakan aku, ya."


Dinar pun tersenyum, "Iya, Dan. Aku nggak akan melupakan kamu, aku juga suka memiliki teman sepertimu."


"Aku duluan, ya." Dinar berpamitan.


Dandi pun menganggukkan kepalanya lagi secara perlahan. Dia seperti enggan beranjak dari tempat duduknya, sebab ia merasa berat meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat berteduhnya sedari kecil.


"Dandi, kamu juga ayo, berangkat," ajak ibunya.


Dinar kembali menoleh ke arah Dandi.


"Ayo, Dan. Kita barengan," ajak Dinar.


Dandi malah menatap sekeliling tempat duduknya. Dia merasa tak sanggup untuk pergi. Malah terlihat jelas, dia menitikkan air matanya.


"Dan, kenapa?" Dinar menghampirinya lagi.


Deraian air mata Dandi terlihat jelas. Dia berusaha menutupinya dengan mengusap air matanya dengan cepat.


"Kamu nangis?" tanya Dinar.


"Aku nggak bisa ninggalin rumah ini. Aku nggak mau, menghilangkan segala kenanganku sama Nenek. Lebih baik aku tinggal sendiri, daripada meninggalkan rumah ini." Suara Dandi terdengar serak.


"Dandi, jangan gitu. Berarti kamu belum mengikhlaskan Nenek kamu, dong? Kasihan beliau yang ada di alam sana. Pasti dari atas sana, beliau ingin melihatmu sukses nantinya," ujar Dinar.


"Dalam hatiku dari dulu, aku ingin sukses dan ditemani Nenekku. Beliau yang dukung aku, biayai dan bahkan beliau melakukan segala hal untukku. Kenapa dia pergi meninggalkan aku, sebelum aku membalas semua kebaikannya? Ini nggak adil bagiku." Dandi menangis dengan derasnya.


"Dandi, nggak boleh bilang gitu. Allah sayang kamu, mungkin dengan cara seperti ini, agar kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Candra mengelus punggug Dandi.

__ADS_1


Orang tua Dandi pun saat ini masuk ke dalam rumah.


"Dandi, Ayo!" gertak mamanya dengan Nada tinggi.


__ADS_2