
"Den, sabar," ujar Bi Asih sembari mengelus bahu Kevin.
Kevin memeluk Bi Asih yang berada di dekatnya, dia terlihat begitu terpukul kala melihat mamanya meregang nyawa dengan sadis seperti itu.
Di rekaman itu kami melihat wanita itu hanya tertawa dan tak ada wajah berdosa sama sekali. Aku nggak habis pikir ada orang yang begitu jahat, di sini ayah memutuskan mengambil alih laptop Kevin lalu memutuskan untuk mematikannya.
Kami melihat Kevin begitu terpukul dan terguncang.
"Kenapa dia jahat banget sama, Mama. Apa salah Mama?" tanya Kevin dengan posisi muka masih di tenggelamkan ke pelukan Bi Asih.
"Den, lebih baik kita ke kantor polisi sebelum Nyonya dan Tuan pulang," usul Pak Joko.
"Tapi Papa belum lihat rekaman itu, Pak. Papa harus tahu," jawab Kevin.
"Kak, benar kata Pak Joko. Ada baiknya kita segera ke kantor polisi nyerahin ini semua," ujarku.
Kevin menatap ke arah kami satu persatu, dia terlihat seperti orang linglung.
"Bagaimana kalau kita kirim hasil rekaman pembunuhannya saja ke Papamu?" usul ibu.
"Boleh, itu ide yang sangat bagus," ujar Kevin terlihat menyetujuinya.
Entah kenapa dengan usul ibu aku merasa keberatan, yang aku takut wanita itu malah dengan nekad mencelakai Papa Kevin atau nggak malah Candra yang menerima hasil rekaman itu.
"Tunggu, deh. Lebih baik jangan, takutnya wanita itu yang buka rekaman Papamu dan lebih takutnya dia dengan sengaja mencelakai Papamu," ujarku.
Kami semua merasa bingung dengan ini semua. Aku pun mengernyitkan keningku, mencoba mencari ide untuk kasus ini. Kasus yang sangat sulit untuk kami pecahkan.
Tiba-tiba di depan rumah terdengar Klakson mobil. Sontak kami semua yang berada di sini terperangah kaget.
"Siapa?" ibu bertanya-tanya.
"Biar saya bukain pintunya," ujar Bi Asih berlalu meninggalkan kami.
Sebelum membuka pintu, Bi Asih terlihat mengintip di dekat jendela.
"Mobil Tuan." Bibi memberitahu, lalu melangkahkan kaki untuk membukakan pintu pagar.
"Kesempatan yang bagus, lebih baik Papa tahu kebusukan wanita jala*ang itu," ujar Kevin sembari beranjak dari tempat duduknya.
Kevin berdiri dengan membawa laptop di tangannya. Namun kami malah mendengar ribut-ribut dari arah luar.
"Gawat, sepertinya Nyonya sendiri. Sebab kalau ada Tuan nggak akan marah-marah seperti itu," ujar Pak Joko terlihat panik.
__ADS_1
Kevin yang tadinya berdiri saat ini kembali duduk.
"Kirim file ke Papa nggak mungkin, wanita itu keburu masuk," ujar Kevin terlihat bingung.
Wanita itu pun masuk ke dalam rumah, berjalan dengan langkah pasti, rambut yang di kuncir seperti ekor kuda yang menjadi ciri khasnya lalu terlihat wajah yang begitu judes.
"Ada apa ramai-ramai!" ujar wanita itu dengan ketus.
Wanita itu menatap kami satu persatu, apa lagi saat menatapku terlihat seolah-olah jijik menatapku.
"Kalian siapa? Kalau nggak ada keperluan boleh pergi, kami nggak menerima sumbangan," ujarnya mengusir kami.
Ibu terlihat marah saat mendengar ucapan wanita itu, mulutnya sangat berbisa mudah sekali merendahkan orang.
"Mulutnya bisa di jaga nggak? Kamu yang silahkan pergi, kami nggak nerima pelakor dalam hidup kami," ujar Kevin sembari beranjak dari tempatnya duduk.
Plakk!
Tamparan keras wanita itu mendarat di pipi Kevin.
"Anak nggak tahu di untung! Kalian silahkan pergi," ujar wanita itu dengan menunjuk ke arah kami.
Ayah dan ibu terlihat beranjak dari tempat duduknya secara bersamaan. Wanita culas itu tetap ngoceh dan merendahkan kami, terlihat dari wajah ibu memerah yang menandakan beliau menahan amarahnya.
"Jangan sering-sering ke sini, kami bukan panti sosial. Kalian salah tempat," ujar wanita sembari memicingkan matanya.
Aku melihat ayah menarik tangan ibu agar cepat keluar dari rumah ini, sedangkan Kevin hanya diam tak berkata apapun namun tetap melangkah ke arah kami.
Kami diantar Kevin hingga menuju mobil, sedangkan wanita itu tak terlihat mengikuti kami. Kevin pun celingukkan seperti mengawasi seseorang.
"Pak, Bu, saya titip ini. Bukti itu pun saya salin di sini, saya harap kalian bisa membantu kami," ujar Kevin sembari menyerahkan flashdisk ke ayah.
Ayah hanya menganggukkan kepala lalu tersenyum.
"Kevin, kalau ada bantuan segera hubungi kami. Kami bersedia membantu, memang benar-benar Mama tirimu itu ...," ujar ibu menggantung.
"Maafkan perkataan dia, ya. Saya yang merasa nggak enak, kalian dihina seperti itu," ujar Kevin.
Ibu pun hanya tersenyum sembari masuk ke dalam mobil dan di pintu kemudi diikuti ayah masuk mobil.
"Kak Kevin, hati-hati. Jangan sampai salah langkah sehingga wanita itu merasa menang," ujarku.
"Makasih ya, Key. Semoga usaha kita berhasil," ujar Kevin.
__ADS_1
Setelah itu ayah segera melajukan mobilnya, kita menuju jalan pulang. Di dalam mobil, ibu tak henti-hentinya mengomel tentang wanita itu.
"Ih, wanita itu benar-benar menyebalkan. Pantes aja kalau Kevin geram ke wanita itu," ujar ibu terlihat kesal.
Ayah menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak, entah kenapa aku juga ketularan ayah tertawa.
"Kok malah diketawain sih, masa kita penampilannya kaya gembel? Masa iya kita di kira orang minta sumbangan, mulut itu orang pengen nampol tangan ibu," ujar ibu.
"Hahaha, biasalah, Bu. Orang seperti itu terlihat banget kalau OKB, orang kaya baru. Nggak usah diambil hati," ujar ayah tetap dengan tertawa terbahak-bahak.
Ibu terlihat cemberut, mood ibu terlihat jelek kala melihat wanita itu datang.
"Yah, kira-kira Mama tiri Kak Kevin tahu nggak ya perihal vidio itu?" tanyaku, sebab aku merasa khawatir dengan Kak Kevin.
Aku merasa wanita itu banyak akal licik untuk menyingkirkan semua orang yang dianggap menghalanginya.
"Ya nanti kita tanya-tanya perkembangannya ke Kevin, semoga Kevin sudah membawa vidio itu ke pihak yang berwajib," jawab ayah.
Aku mengernyitkan dahi, ingin memberikan usulan tapi takut tak di setujui oleh orang tuaku.
"Apa kita aja yang melaporkan itu ke pihak yang berwajib?" tanyaku ke mereka.
"Kita tunggu aja kabar dari Kevin, Dek," jawab ibu.
Kami kembali melalu perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke rumah nenek. Tiba-tiba terdengar suara ponsel ibu berbunyi.
"Halo, Assalamualaikum. Ada apa, Kak?" tanya ibu.
Kemudian ibu mendengarkan perkataan orang yang ada di seberang telepon itu.
"Oh iya, tadi masih ada keperluan. Ini sudah perjalanan pulang, kok," ujar ibu lagi.
Lagi-lagi ibu terlihat dengan seksama mendengarkan pembicaraan orang itu.
"Iya, Waalaikumsalam," ujar ibu sembari memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa, Bu?" aku bertanya-tanya.
Ibu menoleh ke arahku sembari berkata, "Oh, ini Tante Santi. Katanya ada tamu untuk kita."
"Tamu? Siapa, Bu?" tanyaku lagi.
Ibu hanya mengedikkan bahunya.
__ADS_1
Bersambung ...