
Kabar duka bagi semua orang yang mengenal baik dengan keluarga Keyla. Salah satunya aku, Dinar sebagai sahabatnya. Aku nggak nyangka, teman baikku akan pergi secepat itu.
Belum juga dia pulih seperti sedia kala, paska kecelakaan yang membuatnya koma sampai satu bulan. Awalnya kukira, itu awal bagus buat kehidupan keduanya. Tetapi, ternyata tuhan berkehendak lain, kehidupan keduanya hanya berjalan beberapa bulan saja.
"Key, kehamilan Kak Dita sudah memasuki empat bulan. Kenapa saat aku hendak menyampaikan kebahagianku, malah keduluan kamu seperti ini," ujar Nadira sembari melihat ke foto mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB, pertanda malam sudah kian larut. Mata tak kunjung tertutup, karena sama sekali tak ada rasa kantuk. Dalam hatiku berkata, 'Apa kamu bisa melihatku, sedang memikirkanmu, Key? Kenapa sejak hari kematianmu hingga hari ini, sama sekali tak pernah mengunjungiku. Kalau kamu sayang aku, perbolehkan aku untuk melihatmu lagi walau hanya di mimpi."
Aku memaksakan mataku untuk terpejam, sebab tak ingin besok telat untuk pergi ke sekolah. Cukup lama, aku mencoba tetap nggak bisa tertidur.
"Ya Allah, kenapa mata ini nggak mau diajak tidur. Nggak sopan banget!" aku terus menguap, namun tak kunjung pergi ke alam mimpi.
Hingga cukup lama, mungkin satu setengah jam akhirnya baru bisa tidur. Benar saja, keinginanku bertemu Keyla terwujud.
***
Aku kira saat itu seperti malam ini. Aku sedang berbaring di kasur dan tak kunjung tidur. Terdengar suara ketukan pintu, walaupun lirih. Aku melirik jam sudah menujukkan pukul 01:30 WIB.
"Siapa, sih?" gumamku dengan kesal, lalu beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju pintu.
Perlahan mencoba membuka pintu dan terkejudnya aku, melihat Keyla di depan pintu dengan menggunakan celana jeans dan atasan blouse putih, tentunya berjilbab senada dengan pakaiannya.
"Keyla?" ujarku. Aku juga tahu dan ingat jika dia sudah meninggal, tetapi entah karena rasa rinduku yang teramat sangat tinggi membuatku tetap menarik tangannya menuju ke dalam kamar.
"Sini, kamu masih hidupkan? Kemarin salah orangkan, waktu di makam itu?" tanyaku.
Keyla hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian aku bergegas menuju salah sagu laci di kamar dan mengambil sesuatu di sana.
"Key, aku mau nunjukin ini ke kamu," ujarku sembari duduk di sampingnya.
Aku membawa foto USG calon anaknya Kak Dita. Walaupun belum terbentuk jelas, tetapi aku bangga kala bisa memperlihatkan ini kepada sahabat terbaikku.
"Apa?" tanya Keyla dengan lirih.
"Ini, calon keponakanku. Calon keponakanmu, juga. Semoga dia bisa seperti kamu, ya," ujarku.
Aku menatap ke Keyla, dia tetap tersenyum ke arahku. Wajah yang terlihat selalu bahagia dan lebih cerah dsri biasanya.
"Aku pamit pulang, ya. Aku sayang kamu," ujar Keyla sembari beranjak sari tempat duduknya.
"Keyla! Jangan pergi!" teriakku, kukira Keyla hanya diam berdiri di tempatnya namun terlihat menjauh dariku.
***
"Keyla!" teriakku dengan suara lantang dan terbangun dari tempat tidur.
Ternyata, teriakanku sampai terdengar ke telinga Kak Dita.
Tok tok tok!
"Din, kenapa? Bangun, Din?" ujar Kak Dita dari balik pintu terdengar panik.
"Masuk, Kak," jawabku.
Kemudian terlihat Kak Dita dan Kak Andre masuk dan bergegas duduk di pinggiran kasurku.
"Kenapa, Din?" tanya Kak Andre.
"Aku mimpi Keyla, Kak. Kukira dia datang dan anehnya aku tuh, ingat banget kalau dia meninggal. Aku beritahu dia soal kehamilan Kak Dita, dengan cafa memperlihatkan hasil USG itu," jawabku.
__ADS_1
Saat aku berbicara, dengan anehnya Kak Dita memandang sesuatu bukan ke diriku.
"Lihat apa sih, Kak?" tanyaku.
"Kamu tadi cerita, lihatin Keyla apa, Din? Hasil USG?" tanya Kak Dita.
Aku hanya menganggukkan kepala, sebab nggak paham dengannya.
"Lihat itu," ujar Kak Dita sembari menunjuk ke arah bajuku.
Seketika, aku melihat ke arah yang Kak Dita tunjuk. Aku begitu terkejut, kala melihat foto USG itu ada di bajuku, tepatnya di pangkuanku.
"Kok bisa?" ujarku.
Aku pun bingung, kenapa foto ini ada di sini. Padahal sebelumnya tetap di dalam laci.
"Kamu terbayang-bayang, Din. Mungkin, kamu lagi lihat foto itu dan berharap bisa tunjukin ke Keyla, jadinya kebawa mimpi," sahut Kak Andre.
Aku menggelengkan kepala, lalu berkata, "Ini tadi ada di laci, Kak. Beneran, aku nggak pernah ambil lagi setelah Kakak simpan di sana."
"Jangan mengada-ngada, Din. Baru jam 03:00 WIB, tidur lagi sana," suruh Kak Dita, sembari dia beranjak pergi dari kamarku.
Sedangkan Kak Andre masih di dalam kamarku, sembari berkata, "Tidur aja, Din. Besok kamu ujian, loh. Kamu lupa, mungkin."
"Nggak, Kak. Aku jelas-jelas ingat sebelum tidur ngapain saja. Aku nggak lupa." Aku tetap mengeyel.
Kak Andre hanya tersenyum, lalu ikut Kak Dita pergi meninggalkan aku sendirian di kamar. Aku kembali berbaring, sembari melihat foto ini. Dalam hatiku berkata, 'Apa kamu benar-benar datang, Key? Lantas, kamu sekarang di mana? Kenapa nggak menemui aku saat ini?"
Antara percaya dan tidak percaya dengan diriku sendiri. Aku benar-benar ingat, tadi hanya memandai foto Keyla dan diriku, lalu aku kembalikan saat hendak tidur. Kemudian, kenapa foto ini kenapa ada di sini? Apa iya, aku ngigo dan ambil foto ini.
"Ah, sudahlah. Pikiran macam apa, ini?" ujarku kembali memejamkan mata.
"Ya Allah, kesiangan!" aku bergegas mandi, lalu bersiap-siap untuk segera berangkat sekolah.
Setelah semua selesai, segera keluar dari kamar dan pergi begitu saja tanpa menghampiri keluargaku.
"Eh, Din. Kenapa nggak sarapan?" tanya Kak Dita.
Aku yang berjalan, seketika terhenti.
"Keburu siang, Kak. Sarapan di sekolah aja. Berangkat dulu, Bye!" ujarku sembari berjalan cepat.
"Din, tunggu!" teriak ibu.
Aku kembali menoleh, lalu menjawab, "Apa, Bu?"
Ibu berjalan menghampiri, sembari membawa sepotong roti ke arahku.
"Ini, dibuat ganjal perut. Kamu mau ujian, takutmya nggak konsen," ujar ibu.
Aku pun segera memeluk dan mencium ibu. Kemudian meraih roti dan berangkat sekolah kembali.
"Berangkat dulu, Bu. Makasih," ujarku.
Dengan mengayuh sepeda, berharap segera sampai di sekolahan dengan cepat. Walaupun begitu, aku tetap berusaha melahap roti yang diberikan ibu saat berangkat tadi.
Saat di perempatan jalan hendak menyeberang ke sekolah, tiba-tiba ada anak yang naik sepeda cukup kencang juga sehingga kami berdua terlibat kecelakaan.
Brak!!
__ADS_1
"Aduh," ujarku karena tersungkur di jalanan beraspal.
Terasa bahuku ada yang menyentuh untuk membantuku bangun.
"Eh, maaf-maaf. Nggak sengaja, soalnya kesiangan," ujarnya.
Saat menoleh terlihat dia cowok tampan, tinggi, berkulit sawo matang sedang membantuku untuk kembali berdiri.
"Eh, iya sama. Aku juga meleng, kesiangan juga. Maaf, ya. Aku Dinar," ujarku sembari mengajaknya bersalamaan.
"Aku Dandi, maaf, ya" ujarnya.
Aku menganggukkan kepala sembari tersenyum.
"Sekolah di mana?" tanya Dandi.
Aku menunjuk ke arah sekolahanku.
"Oh, oke. Nanti pulang sekolah, bareng ya. Aku berangkat dulu, salam kenal ya," ujar Dandi sembari kembali menaiki sepedanya.
Entah kenapa, malah aku tersenyum-senyum sendiri. Dalam hatiku berkata, 'Kesel sebenarnya pagi-pagi, badan terasa sakit. Tapi, aku juga sih yang salah. Sudah naik sepeda ngebut, masih makan pula. Ketemu Dandi, kok malah senyum-senyum sendiri."
Aku segera meletakkan sepeda di parkiran, lalu masuk ke dalam kelas yang mana sepuluh menit lagi ujian akan dilaksanan.
"Huh, untung masih sepuluh menit. Masih bisa buat belajar," gumamku saat duduk di kursi.
"Din, tumben siang baru sampai?" tanya Dewi.
"Iya, sini deh. Aku ceritain," ujarku, saat itu juga ketiga temanku menghampiri. Dia adalah Dewi, Bella dan Selly. Tampak di wajah mereka tampak penasaran.
"Kenapa?" tanya Bella, saat duduk di sampingku.
Padahal yang awalnya aku ingin belajar terlebih dahulu, malah bercerita tentang kejadian semalam aku alami.
"Aku malam tadi, Eh jam tigaanlah itu pagi apa malem? Mimpiin Keyla, kukira dia datang ke kamarku," ujarku.
"Terus?" sahut Shelly.
"Aku tuh, ingat banget kalau dia sudah meninggal. Tetapi kenapa anehnya, tetap kekeh mengajaknya masuk ke dalam kamar dan menunjukkan hasil foto USG Kak Dita ke dia. Tahu nggak, saat aku terbangun itu foto USG ada di pangkuanku," ujarku.
Mereka terkejut saat mendengarkan itu.
"Benarkah? Kamu lupa mungkin, saat tidur sudah ambil," ujar Dewi.
"Enggak, Wi. Aku tuh ingat, kalau terakhir meletakkan itu saat Kak Dita selesai USG," jawabku.
Mereka tampak diam sejenak dan mencoba berpikir apa itu, entahlah.
"Bukkannya usia kandungan Kakakmu masih kecil? Kok sudah USG?" tanya Shelly.
"Iya, katanya buat lihat perkembangan anaknya aja. Nggak tahu jugalah, nggak paham soal itu," jawabku.
Kami semua juga merasa heran, kenapa foto itu ada di sana. Mencoba untuk mencari jawaban yang masuk akal tetapi susah.
"Apa mungkin, kamu ngigo dan jalan mengambil foto itu?" Bella menduga-duga.
"Selama ini nggak pernah loh, aku seperti itu. Lagian, kalau ngigo, ya kali balik lagi berbaring?" ujarku.
Saat asik berbicara, tanpa kami sadari waktu berputar dengan cepat. Bel tanda pelajaran sudah berbunyi, masih dengan rasa penasaran harus kami kubur dalam-dalam sejenak karena harus melewati ujian kelulusan.
__ADS_1
Bersambung ...