
Kami mulai berjalan memasuki gang, gang ini terlihat lebih sepi dari jalan utama. Apalagi mendengar rumor yang beredar baru-baru ini.
Ini membuat nyali kita semua semakin menciut.
"Ini beneran mau dilanjutin ke jalan ini?" tanyaku.
"Iya dong, memangnya ada rumor apa sih?" tanya Dewi.
"Memangnya, kamu tidak mendengar soal penunggu sekolahan TK yang gangguin orang-orang itu?" tanya Dinar.
"Bagaimana mau mendengar, rumah aku saja jauh," jawab Dewi.
"Kamu cerita saja deh, Bell," ucapku menyuruh Bella.
"Jadi begini...." ucap Bella memulai bercerita.
***
POV Bella
Aku bercerita, kalau kemaren sekitar tiga harian yang lalu ada pedagang sate yang digangguin penunggu sekolahan itu.
Tetapi mereka menampakan eksistensinya tidak dengan wajah menyeramkan, tetapi dengan wajah yang cantik.
Malam itu seperti biasa, pedagang sate selalu berkeliling ketika malam tiba. Entah dari mana asal muasal pedagang sate harus keliling ketika malam, aku juga tidak tahu.
Beliau seperti biasa menjajakan dagangannya hingga laku dengan cara berkeliling memasuki gang-gang satu persatu.
Kala itu bapak penjual sate kebetulan lagi berkeliling di gang ini, beliau berteriak menawarkan dagangannya, " Te, Sate!" ucapnya.
Awal masuk gang dagangannya laku.
"Mang Sate, beli," ucap pembeli.
"Berapa?" tanya penjual sate.
"Sepuluh tusuk saja, mau dibuat lauk, kebetulan lagi tidak masak," jawab pembeli lagi.
Beliau mulai membuat pesanan. Setelah pesanan matang, beliau segera memberikannya ke pembeli.
"Ini Bu, silakan," ucap pedagang sate sembari memberikan pesanan pembeli.
"Berapa, Mang?" tanya Pembeli.
"Dua puluh ribu," jawab Penjual.
Pembeli segera memberikan uang dua puluh ribuan ke pedagang sate.
"Terimakasih, Bu," ucap pedagang sate ke pembelinya.
Pembeli pun segera meninggalkannya. Dengan hati bahagia karena mendapatkan uang penglaris dagangannya, pedagang sate pun mengucapkan kata syukur.
"Alhamdulillah, pelaris-pelaris," ucap pedagang sate sembari menepuk-nepukkan uangnya ke dagangannya.
__ADS_1
Di desa sudah biasa, mitosnya kalau uang penglaris ketika dagangannya laku pertama kali, ditepuk-tepukan dagangannya yang masih ada akan segera tertular cepat laku.
Dengan semangat pedagang sate segera menjajakan dagangannya kembali.
"Sate, sate!" teriaknya menawarkan dagangannya kembali.
Tak terlalu jauh, terlihat rumah mewah yang besar sekali. Di depannya terlihat perempuan yang sedang berdiri di sana.
"Alhamdulillah, sepertinya ada pembeli lagi," ucap Pedagang sate sembari mendorong gerobaknya menuju rumah mewah.
Sesampainya di depan rumah mewah itu, pedagang sate segera menawarkan dagangannya.
"Satenya, Mbak?" pedagang mulai menawarkan.
"Iya, Mang," kata perempuan itu.
"Mau berapa tusuk? Ini tinggal 190 tusuk Mbak, soalnya cuma membawa 200 tusuk saja hari ini," ucap pedagang sate.
"Semua," jawab perempuan itu lagi.
Mendengar ucapan perempuan itu, pedagang sate bergegas membuatkan pesanannya dengan hati yang bahagia. Beliau berpikiran, kalau hari ini dia bisa pulang lebih awal dari biasannya.
Memang butuh waktu yang lama untuk proses pembuatan sate, karena perlu dibakar hingga matang. Setelah semuanya selesai segera pedagang memberikan pesanan pembeli.
"Ini Mbak," ucapnya sembari memberikannya.
Pembeli tanpa basi-basi langsung menerima sate, lalu membayarkan dengan uang seratusan ribu rupiah dengan jumlah empat lembar uang.
Tetapi, pedagang sate itu tidak menemukan perempuan yang membeli satenya barusan.
"Loh, sudah pergi saja Mbaknya, mungkin ini kembalian aku antar besok saja," kata pedagang sate.
Pedagang sate itu, kembali mendorong gerobaknya. Tetapi kali ini tidak untuk menjajakan dagangannya, tetapi beliau mendorong gerobaknya untuk kembali pulang.
Tak begitu jauh dari rumah mewah itu, bapak penjual sate di berhentikan orang yang ingin membeli dagangannya.
"Mang, beli," ucap pembeli baru.
"Maaf, Pak sudah habis," jawab pedagang.
"Loh, kok tumben Mang, apa bawa sedikit hari ini?" tanya pembeli lagi.
"Tidak Pak, tetapi saya bawa seperti biasa, tadi baru saja ada yang borong dari rumah mewah yang gedenya bak istana yang ada di sana," ucap pedagang sate.
"Rumah mewah?" tanya pembeli merasa heran.
"Iya, di sana pembelinya cantik banget," ucap pedagang sate.
"Di gang ini tidak ada rumah mewah Pak, kalau rumah mewah semua ada di gang sebelah, di sana perumahan elit semua," kata pembeli.
Pedagang sate tampak bingung, karena dia benar-benar melihat rumah mewah gedenya bak istana negeri dongeng.
"Ayo deh Pak, saya antar ke sana," kata pedagang sate masih mengeyel.
__ADS_1
Calon pembeli itu hanya mengikuti keinginan pedagang sate. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju tempat yang di maksud pedagang sate.
Pedagang sate dibuat terkejut ketika sampai di tempat yang dia ingat sebagai rumah mewah tadi, di sana hanya ada bangunan sekolahan TK. Tiba-tiba ketika mereka di sana terdengar suara kikikan ketawa perempuan yang sangat menyeramkan.
Seketika mereka berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Hingga saat ini, rumor itu sudah menyebar ke daerah-daerah yang lain, yang dekat dengan bangunan itu.
***
POV Keyla
"Jadi begitu cerita yang aku dengar dari orang-orang," kata Bella.
"Ihh, serem deh, sudahlah jangan cerita-cerita begitu," ucap Dewi.
"Katanya enggak takut," kataku.
"Tenang Wi, kejadian itu sebelum puasa, sekarang kan sudah puasa semua setan di kurung," ucap Selly.
Aku mendengar ucapan Selly, tak mau meresponnya karena aku saja masih melihat hantu walaupun di bulan puasa seperti ini.
Kami melangkah semakin dekat dengan sekolahan TK, yang awalnya kita merasa berani, ternyata ketika mendekat nyali kita semakin menciut. Kami melihat bangunannya sudah terlihat tua walaupun masih di pakai.
"Ini sekolahannya?" tanya Dewi.
"Iya," jawabku.
Entah kenapa kami pun berhenti melihat bangunan sekolahan TK. Ketika malam tampak menyeramkan.
Ketika kita fokus melihatnya, tiba-tiba muncul hantu perempuan yang menyeramkan. Aku di buat terperanjat karena kaget. Saat itu bukan hanya aku yang melihat, tetapi semuanya melihat.
"Aaaaaaaaa," Semua berteriak kecuali aku.
Hantu itu tertawa cekikikan melihat kami semua takut, kami mencoba berlari sekuat tenaga. Kami berharap semoga segera sampai di depan gang jalan utama.
Walaupun rada jauh dengan bangunan itu, tertawa hantu perempuan itu masih terdengar keras di telinga. Bukan hanya aku yang menyadari tawa yang masih terdengar keras, tetapi kali ini semuanya pun dapar mendengar.
Tetapi semakin jauh kami pun tak mendengarnya, kami terus berlari sampai jalan utama. Sesampainya di jalan utama, kami beristirahat sejenak di depan emperan toko terdekat.
Dengan napas ngos-ngosan kami semua duduk di emperan toko.
"Katanya setan di kurung kalau puasa, itu buktinya masih bahagia itu Mbak-mbaknya," ucap Dinar.
"Ini juga, temannya setan kenapa ikut lari?" sahut Bella.
"Di kira aku tidak takut apa? Mending aku lari lah, daripada sama Mbak-mbak gak jelas itu," kataku.
"Sudah-sudah, nanti hantunya ke sini kalian baru tahu rasa," ucap Dewi menghentikan cerita kami.
Kami pun berjalan kembali menuju gang perumahanku. Karena di sana terlihat ramai tidak seperti gang sebelah.
__ADS_1