
Aku duduk di samping ragaku tergeletak, tak jarang sesekali jiwaku mencoba ingin masuk ke dalam ragaku lagi. Tetapi perbuatanku tetap sia-sia, aku berharap aku bangun dari alam mimpiku ini.
Aku kembali meneteskan air mata dan ragaku pun memberikan respon yang sama.
***
Tak terasa hari sudah berganti esok, tak ada perkembangan apapun dari tubuhku. Jiwaku tak dapat menyatu lagi dengan ragaku. Aku ingin menangis, aku ingin mengeluh tapi aku tak tahu harus dengan siapa?
Ibu dan ayah menungguku secara bergantian, tetapi aku melihatnya mereka tak dapat beristirahat dengan layaknya. Aku takut berdoa dengan semua ini, tetapi aku tak mau harus kehilangan mereka saat ini.
Dokter masuk ke dalam ruangan tempatku di rawat, dan di belakanganya ada perawat yang membawa peralatan untuk memeriksaku.
Pertama-tama memasukkan beberapa cairan ke dalam selang infusku, entah berapa banyak jumlahnya, aku tidak tahu. Mungkin itu untuk menunjang agar aku tetap hidup, setelah itu perawat membawa suntikan lumayan besar yang isinya putih pekat.
Cairan itu di suntikan ke selang yang berada dalam hidungku saat ini, dari pihak medis menyebutnya susu untuk asupan giziku. Aku tak tahu apa yang dirasakan tubuhku saat ini, entah selang itu membuat aku sakit atau enggaknya aku tidak memahaminya.
Selang yang begitu panjang, saat ini hanya terlihat sedikit berada di hidungku. Selang itu seolah-olah menancap ke tubuhku. Tapi suntikan demi suntikan tak membuat tubuhku meresponnya.
Dokter bergantian memeriksa dua orang yang sama dirawat di ruangan ini. Setelah, selesai ruangan ini terasa hening kembali. Ibu terlihat sayu melihat ke arah wajahku sembari mengelus rambutku yang saat ini tak tertutup dengan jilbab.
Ibu pun mungkin terlalu lelah, sehingga beliau terlihat matanya terpejam. Tanpa ibu sadari aku menggerakkan tanganku sehingga selang oksigen yang tertancap di hidungku saat ini tercabut.
Aku mencoba memeluk ibuku yang sedang terlelap, tetapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan ibuku.
Tiiiiiiiiiiit ....
Suara berdengung yang panjang, lalu mesin pendeteksi jantungku mati. Ibu yang mendengarnya sontak panik, lalu keluar untuk memanggil ayah. Tetesan air mata kembali terlihat di mata mereka berdua.
"Esther, kenapa ini? Apa aku mati?" tanyaku.
"Aku nggak tahu," jawabnya.
Ada Dokter dan beberapa perawat yang masuk ke dalam ruangan ini. Mereka menuju tempatku dan orang yang berada di sebelah ranjangku.
"Gimana, Dok?" tanya ibu.
Perawat mengotak-atik alat pendeteksi jantungku, sedangkan dokter memeriksa dan memasang kembali selang oksigen yang terlepas tadi.
Terlihat alat pendeteksi jantung kembali menyala, raut muka ibuku yang tadi terlihat sayu, sekarang ada senyum di wajahnya.
Perawat yang berada di pasien sebelah, sekarang menghampiri dokter yang berada di tempatku.
__ADS_1
"Dok, pasien di sebelah meninggal dunia. Mungkin alat pendeteksi pasien ini terkena dampak alat yang sebelah, karena di sebelah juga alat pendeteksinya mati bersamaan dengan terakhir kalinya menghembuskan nafasnya," ujar perawat.
Dokter tanpa menjawab langsung berlalu pergi menghampiri pasien itu.
"Innalilahi wainailaihi roji'un. Semoga Dedek cepat sadar ya, andai Dedek tahu saat alat itu mati, hati Ibu terasa runtuh seketika," ucap ibu.
Beliau tetap meneteskan air mata, entah aku tak tahu apa yang saat ini ibu rasakan. Aku ingin melihat kembali senyuman yang biasa ibu berikan kepadaku.
Ayah berada di luar masih terlihat panik. Beliau menunggu kabar dari kami yang berada di dalam. Ibu beranjak dari tempat duduknya hendak menghampiri ayah.
"Ayah, Dedek nggak apa-apa kok. Ibu mau cari makan dulu, Ayah tunggu Keyla ya," ucap ibu berpamitan.
Mereka melangkahkan kaki secara bersamaan, namun berbeda arah. Ayah duduk di kursi tepat di sebelah kasur yang aku tempati.
Ayah terlihat bingung ketika melihat, perawat mendorong brankar yang di atasnya ada jenazah pasien yang berada di sebelahku. Lalu ayah menghampiri anaknya orang yang meninggal itu sedang membereskan peralatan mereka selama di sini.
"Mbak, Ibunya...," ucap ayah menggantung.
"Iya, Pak. Semoga tenang Ibu saya, kasihan sudah sakit lama, semoga adeknya cepat sadar ya, Pak," ucap ibu itu sembari berlalu meninggalkan ayah.
Setelah itu, ayah kembali ke tempatku. Beliau mengelus kepala lalu menciumi kening dan pipiku.
Ayah kembali meneteskan air matanya, jiwaku yang saat ini hanya bisa duduk di samping raga yang terkulai lemah tak berdaya. Hanya Esther yang saat ini mampu menenangkan dan menemaniku.
"Keyla, terus berdoa ya. Semoga yang Maha Kuasa selalu mendengar doamu, semoga ada hasil terbaik untuk hidupmu," ucap Esther.
"Esteh, makasih sudah selalu mengingatkan aku," ucapku, lalu memeluknya.
Esther melepas pelukanku, dia perlihatkan senyumannya sembari mengelus kepalaku.
"Aku tahu, kamu anak yang kuat. Kamu harus yakin sama dirimu sendiri." Ujarnya
Pintu mulai terbuka, terlihat sosok Dinar yang berada di balik pintu itu. Dia dengan mata yang berlinang air mata menghampiri ayah.
"Om," Dinar memanggil ayahku.
Dia berlari, lalu memeluk ayahku. Terdengar suara sesenggukan orang menangis, mungkin itu suara dari Dinar. Aku yang melihatnya pun ikut menangis, saat ini aku sudah membuat sahabatku khawatir dengan keadaanku.
Orang yang aku sayangi semua terlihat sedih, rasanya aku ingin menenangkannya tapi aku sadar, aku tak mampu. Setelah itu, ayah melepas pelukan Dinar.
"Dinar, jangan menangis. Kasihan Keyla kalau mendengarnya, mungkin dia juga bersedih," ucap Ayah.
__ADS_1
Dinar berbalik melihat ragaku. Dia bergegas memeluk dan menciumnya. Terisak suara tangisnya, tanpa ku sadari ragaku pun ikut menangis.
"Dinar, Om keluar ya. Nggak boleh lebih dari satu orang yang menjaganya," ayah berpamitan.
Dinar yang terisak tak merespon ucapan ayahku, sehingga ayah memutuskan untuk keluar tanpa menunggu jawabannya.
"Key, bangun ... kamu harus bangun," ucap Dinar.
Dia menggoyang-goyangkan badanku, semakin terpukul kala melihat dia sesedih ini.
"Aku menunggu kamu pulang, ada banyak hal yang nantinya akan aku ceritakan. Kenapa sekarang kondisimu seperti ini hiks hiks," ucapnya lagi.
"Din, aku di sini. Jangan menangis, aku ada buat kamu," ucapku, tetapi tak mungkin dia mendengarnya.
Esther lagi-lagi memelukku, dia mencoba menenangkanku. Aku terpukul, melihat semua ini. Saat ini dalam hatiku hanya terucap kata, ini semua nggak adil Ya allah, kenapa harus aku?
Aku menangis, tak tahu harus berusaha seperti apa lagi. Jiwaku terasa tak di terima oleh ragaku sendiri, aku ingin segera kembali tetapi yang Maha Kuasa tak mengabulkannya.
Aku ingin mengeluh, aku ingin berteriak, aku ingin melampiaskan amarah dan rasa sedihku. Aku merasa kecewa dengan semua yang aku alami.
Dinar menatap wajahku, di sana dia melihat tetesan air mata yang terjatuh ke pelipisku.
"Key, aku yakin sekarang kamu mendengarku. Aku mohon cepat bangun, aku ingin kita bersama-sama lagi," ucapnya sembari menangis tersedu-sedu.
Dinar terus menerus memanggil namaku, sesekali dia menggoyangkan tubuhku. Saat itu juga aku hanya sanggup berkata-kata tapi tak mengharapkan responnya.
"Din, aku sedih melihatmu hancur. Aku ingin memelukmu, menenangkanmu tetapi aku nggak bisa," ucapku.
"Ya Allah, kenapa semua ini terasa tak adil bagiku. Kenapa harus aku hiks hiks?" dengan lantang aku mengucapkannya.
Esther menamparku, sontak aku melihatnya. Dia menatapku dengan tajam, aku merasa kecewa dengan perbuatannya.
"Kenapa? Kamu nggak ngerti perasaanku," ucapku dengan ketus.
Dia hanya membuka matanya semakin lebar, tanpa menjawabnya dia berlalu pergi meninggalkan aku.
Aku kembali mencoba naik di atas ragaku, lalu mencoba berbaring berharap jiwaku diterima oleh ragaku saat ini juga. Berulang kali aku mencoba tetapi hasilnya sama, aku tidak bisa.
Aku berteriak sekuat tenaga, aku menangis tersedu-sedu. Hatiku terluka, kecewa dan amarah yang saat ini menguasai hatiku.
Bersambung ....
__ADS_1