Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Rumah sakit


__ADS_3

Aku merasa aura itu terasa dekat denganku. Aku mencoba menggerakkan kepala dengan sekuat tenaga agar dapat melihatnya. Tetapi kepalaku tak sepenuhnya bergerak, hanya dapat menggeser sedikit dari tempatku berbaring.


Mataku melihat ke atas, terlihat sedikit seperti sosok anak kecil yang duduk tepat di atas kepalaku. Aku tak bisa melihatnya secara keseluruhan, hanya dapat melihat dia dengan kepala menunduk dan tangan yang mendekap lututnya sendiri.


"Esteh, siapa?" tanyaku sembari menatap Esther yang berada di tempatnya sedari tadi.


Esther secepat kilat datang di sampingku, dia menatap dengan tajam sosok yang ada di atas kepalaku.


"Esteh!" panggilku.



(sumber: google)


Sosok yang berada di atasku mulai bergerak dan menampakan wajahnya walau hanya dari samping. Terlihat mata kosong tanpa bola mata, wajah yang pucat pasi dan hancur dan darah ada di mana-mana.


Awalnya ku kira adalah sosok anak kecil yang duduk dan memegangi lututnya, tetapi aku salah, mungkin dia lebih tua dariku.


Di mukanya begitu jelas, sirat wajah yang sedih. Jantung berdegup lebih kencang, karena rasa kaget saat pertama kali dia tampakkan wajahnya.


"Siapa?" tanyaku.


Sosok itu hanya terdiam, tak memberikan respon apapun. Dengan posisinya tetap seperti awal menunjukan wajahnya, membuat aku lama-kelamaan merasa tak nyaman.


Aku yang sekarang di ruangan ini hanya bersama ibu tak dapat meminta tolong apapun, sedangkan ayah mengantar nenek ke penginapan selama aku dirawat di sini.


"Esteh, bisa nggak sih ini makhluk suruh pergi," ucapku tetap dalam hati.


Karena keadaanku, yang membuat aku susah untuk berinteraksi dengan manusia, sehingga hanya dengan esther aku mampu untuk memberitahukannya.


"Tolong aku!" ucap makhluk itu.


"Kenapa? Dan tolong apa? Aku pun tak bisa berbuat banyak hal dengan keadaanku yang seperti ini," jawabku.


"Izinkan aku masuk ke dalam tubuhmu!" ujar makhluk itu.


"Tidak! Tidak bisa! Aku tak mau terpisah dengan ragaku kembali, aku ingin hidup tenang," jawabku dengan tegas.

__ADS_1


Esther dengan kuat menarik sosok itu menjauh dari diriku, perasaan lega kembali terasa di dalam hati. Aku mencoba memejamkan mataku, aku tetap berharap yang ku alami saat ini hanya mimpi.


___________________


Aku ingin bangun dari tidurku, dan terlepas dari mimpi buruk ini. Baru terpejam mata, belum hilang kesadaranku, terasa ada tetesan air jatuh tepat mengenai keningku.



(Sumber: google)


Aku buka mata menatap ke atas, terlihat sosok menyeramkan dan darah di mana-mana. Jantungku kembali berdegup kencang, ingin aku teriak dan berlari untuk saat ini.


Lagi-lagi keadaanku yang membuat aku pasrah dengan semua ini. Kepanikan membuat aku lupa untuk membaca ayat suci Al-Qur'an. Aku ingin berteriak untuk saat ini saja.


Sosok itu semakin mendekat dan terus mendekat ke arah wajahku, darah yang terus menetes dan terasa jatuh di wajahku.


"Pergi!" ucapku tetap dalam hati.


"Hahaha, dasar makhluk lemah!" ucap makhluk itu dengan suara menggema.


Ibu yang tertidur dalam posisi duduk dan kepala disandarkan dalam brankar yang aku tempati, membuat beliau tak mengetahui kepanikanku.


"Apa maumu?" tanyaku.


"Ragamu!" jawab makhluk itu.


Aku coba meronta dan terus meronta untuk membangunkan ibu, tubuhku penuh dengan keringat yang membasahi. Aku terus berusaha meski rasa lelah sudah terasa.


Dari kerja kerasku, alhasil jemariku dapat bergerak dan mengenai pergelangan tangan ibu. Ibu terperanjat kaget ketika terjadi sentuhan itu. Beliau menatap wajahku yang penuh dengan keringat.


"Dedek, tangannya bergerak?" ucap ibu dengan senyuman tersirat di wajah cantiknya.


Tanganku mampu bergerak, namun masih tetap belum teratur. Beliau menciumi tanganku saat itu juga. Aku berharap ibu juga mengerti kepanikanku saat ini.


"Dedek, kok berkeringat banyak sekali? Dedek ketakutan lagi?" tanya ibu.


Aku yang belum bisa berbicara dan tangan belum bisa bergerak secara teratur sehingga aku memberitahukan dengan isyarat mata.

__ADS_1


Aku memberikan isyarat dengan cara menatap ibu, lalu menatap makhluk itu. Aku lakukan itu secara bergantian dan terus menerus.


"Hahaha, kau akan jadi budakku. Ragamu tak bisa berbuat apa-pa, akan ku ambil alih!" ucap makhluk itu dengan suara yang menakutkan.


Ibu dengan cepat mengambil Al-Qur'an yang sedari tadi di tinggal nenek di meja di ruanganku ini. Beliau membaca ayat suci Al-Qur'an itu dengan seksama, sesekali melihat ke arahku.


Keringat bercucuran semakin deras, terasa makhluk itu mencengkeram tubuhku dengan kuat. Meronta aja tak mampu apalagi untuk berlari, aku berpikir mungkin ini akhir hidupku kembali.


"Ya Allah, aku ikut segala kuasamu," ucapku dalam hati sembari menutup mataku.


Dada kian sesak karena himpitan dengan energi makhluk itu, aku batuk-batuk, napasku tersengal-sengal. Ibu dengan kuat mencengkeram tanganku, sembari terus membaca ayat suci Al-Quran. Mungkin itu cara ibu untuk memberi semangat untukku agar tetap bertahan.


Secara perlahan dadaku yang sesak terasa sedikit lega dan tarikan makhluk itu yang sebelumnya terasa kuat, saat ini secara perlahan kian melemah.


Aku mencoba kembali membuka mataku, sosok itu meronta-ronta tanpa mengeluarkan suara. Cengkeramannya lama-kelamaan sudah tak terasa dengan hilangnya makhluk itu. Setelah itu, aku mencoba mengatur napasku, lalu menatap ke arah ibu.


Beliau masih membaca Al-Qur'an, dan menggenggam tanganku erat. Tetesan air mata kembali jatuh di pipinya.


Aku dengan sekuat tenaga mencoba untuk berbicara, satu kali percobaan tak membuahkan hasil apapun. Tetapi itu tak membuatku patah semangat untuk tetap mencoba, berkali-kali aku mencoba bersuara akhirnya bisa.


"B-b-b ... bu," ucapkan dengan susah payah.


Beliau menghentikan bacaannya, lalu menatap ke arahku. Beliau segera mengakhiri bacaan ayat itu dengan ucapan, "sadaqaallahuladzim."


Beliau meletakkan Al-Qur'an tepat di samping tangannya, lalu mengelus kepalaku.


"Dedek, alhamdulillah hari ini ibu kembali mendengar suaramu, meski dengan terbata-bata," ucap dengan tersenyum dan tetesan air mata yang terjatuh.


"A-a-a-yah." aku mencoba berbicara lagi sebisaku dan ibu terlihat menunggu ucapanku.


Ibu dengan cepat memelukku, terdengar suara tangis ibu pecah saat ini. Beliau beranjak dari tempat duduknya, lalu melakukan sujud syukur sama yang maha pencipta.


"Alhamdulillah, ya Allah. Kau kabulkan doa kami, maafkan kami jika selama ini kurangnya rasa syukur di hati atas nikmat yang kau berikan pada kami," ucap ibu.


Aku kembali meneteskan air mata, kala mendengar ucapan ibu. Aku menyadari jika hidupku selama ini terlalu banyak mengeluh. Saat ini aku sudah bisa hidup, bernapas dan berkumpul dengan keluarga, itu termasuk rasa nikmat yang diberikan sang Maha pemberi kehidupan Allah SWT.


Terkadang kami sebagai manusia lupa untuk bersyukur atas nikmat itu. Mungkin di luar sana masih banyak orang hidup lebih parah dari keadaanku saat ini, mungkin juga ada orang yang bernasib sama denganku, tapi tak seberuntung aku yang hidup dengan layak.

__ADS_1


Aku meneteskan air mataku, aku ingin melakukan sujud syukur seperti yang dilakukan ibu.


Bersambung ....


__ADS_2