
Kami masuk ke dalam gedung hotel ini, ayah melakukan check in. Sedangkan aku dan Ibu hanya menunggunya. Rasanya ingin sekali aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk, karena seharian ini aku tak merebahkan tubuhku sama sekali di atas kasur.
"Enggak lapar, Dek?" tanya Ibu.
"Enggak Bu, aku pengen tidur soalnya capek banget," jawabku.
"Iya, Dek," ucap Ibu lagi sembari mengelus puncak kepalaku.
Ayah pun datang menghampiri kami, segera mengajak kami untuk menuju kamar yang sudah di pesan. Kami masuk lift di lantai dasar menuju lantai tujuh.
"Dapat kamar di lantai tujuh, Bu. Kalau mau ke restorannya harus turun ke lantai dasar dulu," ucap Ayah.
"Enggak apa-apa, Yah. Yang penting Keyla bisa cepat istirahat," ucap Ibu.
Lift perlahan mulai naik dari lantai ke lantai yang lainnya. Saat ini yang aku ingin hanya tidur, karena ini sudah larut malam.
Sampailah kami di lantai tujuan kami, yaitu lantai tujuh. Kami berjalan menuju kamar kami. Sesampainya di depan pintu kamar ayah mencoba membuka kunci pintu, setelah itu kami mulai masuk.
Aku melihat ada dua bed di kamar ini, kamarnya yang luas dan tatanannya yang bagus membuat aku akan merasa nyaman.
Aku melangkahkan kaki menuju kasur yang tersedia. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur, akhirnya yang aku ingin tercapai.
"Alhamdulillah, bisa baring juga tubuhku ini," ucapku.
"Buruan tidur, Dek. Biar besok bangun lebih fresh badanmu," ucap Ayah.
Ibu meletakkan barang bawaannya di atas lantai, setelah itu beliau duduk di atas kasurnya.
"Bu, lama-lama di sini juga betah aku," ucapku.
"Apaan sih, Dek. Terus rumahmu siapa yang nempatin?" tanya Ibu.
"Jual aja Bu, beli rumah di sini biar dekat sama Ayah terus," jawabku.
Ayah dan ibu mendengar jawabanku sontak tertawa. Aku yang tak mengerti apa yang mereka ketawain hanya diam sembari memejamkan mataku.
"Dek-dek, kamu kira beli tempe mendoan yang hanya tinggal beli. Bisa aja kamu, Dek," ucap Ibu lagi.
Karena sedari tadi aku memejamkan mata, sehingga aku terbuai ke alam mimpiku. Aku tak mendengarkan ucapan ibu lagi.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, aku mendengar suara memanggil-manggil namaku.
"Keyla, bangun Nak," terdengar suara itu.
Aku membuka mataku secara perlahan mencari sumber suara yang aku dengar.
"Eh Ibu, jam berapa sih, Bu?" aku bertanya.
"Sudah hampir jam lima, buruan bangun Dek terus salat!" Ibu menyuruhku.
Aku pun tanpa menjawab ucapan ibu segera melakukan perintahnya, aku salat lalu mandi. Setelah semua selesai, aku duduk di samping ibu yang sedang menonton televisi.
"Ayah mana, Bu?" ucapku.
Setelah bertanya aku melihat ke arah jam tanganku. Jam sudah menunjukan pukul 06.00 WIB.
"Ayah baru saja keluar, soalnya baru saja di telepon pihak perusahaan," jawab Ibu.
"Ini masih pagi loh, Bu," ucapku.
"Iya tahu, kan dari kemaren ayah sudah bilang harus berangkat lebih awal," ucap Ibu.
Aku dan ibu masih tetap berbaring di atas kasur sembari menonton televisi. tiba-tiba sedang asik menonton, di samping televisi muncul Esther.
"Pagi, Keyla," ucap Esther menyapaku.
"Bu, Esteh," ucapku.
"Mau Esteh? Ayo turun ke bawah saja ya, Dek," ucap Ibu.
Aku menoleh ke arah Ibu yang sedang melihatku, aku tunjukan ekspresi manyun terhadap beliau.
"Oh iya, lupa kalau kamu selalu di ikutin setan yang nyegerin itu," ucap Ibu sembari mengejek.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ibu, lalu melihat ke arah Esther yang masih berdiri di tempat sebelumnya. Dia cemberut, sembari menatapku.
"Esteh sini, aku masih penasaran, semalam kamu kok bisa nyentuh orang itu?" aku bertanya.
Esther melesat ke sampingku dengan cepat.
"Kamu penasaran? Apalagi aku? Aku juga heran kenapa bisa seperti itu he-he-he," ucap Esther sembari tertawa.
Dalam batinku berucap, Temenan sama setan satu, sengkleknya enggak hilang-hilang pula.
__ADS_1
Aku menatap tajam ke arah matanya, jawaban dia terlalu konyol untuk dijabarkan. Lalu aku melihat Ibu, terlihat beliau nampak bingung karena melihatku seperti ngomong sendiri.
"Ibu turun dulu cari makanan, kamu nanti cepetan nyusul ya," ucap Ibu.
Aku tak menjawab hanya mengacungkan jempolku ke arah Ibu. Aku di kamar masih mengintrogasi si Esther, soalnya sudah kepalang rasa penasaranku.
Esther hanya bercerita kala dia melihatku terasa terancam, entah kenapa dia ingin sekali marah. Dia hanya tak ingin melihat keluargaku terluka, dia merasa harus balas budi terhadap keluargaku karena sudah menolongnya menyampaikan ke tunangannya waktu itu.
Entah aku harus percaya apa tidak dengan ucapannya, karena dia juga setan. Sebaik apapun dia, aku tidak mau sampai terjerat tipu dayanya.
Aku menyadari, dia bukan dari duniaku. Aku hanya perlu mendengarkan dan menjawab ketika dia bertanya.
Setelah Esther selesai bercerita, aku teringat kalau ibu menyuruhku untuk turun ke lantai dasar.
"Esteh, ayo ke bawah dulu cari sarapan," ajakku.
Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu berjalan keluar hendak menuju lift. Aku sendirian di dalam lift kali ini, perasaanku tiba-tiba berubah menjadi nggak enak.
Lantai enam ke lima lancar saja, tiba-tiba di lantai empat pintu lift terbuka. Sedangkan yang aku tahu pintu lift tak akan terbuka jika tidak ada yang memencet tombol dari luar. Sedangkan yang aku tahu lantai empat sedang di kosongkan karena sedang masa perbaikan.
Ketika pintu terbuka, aku melihat lorong yang gelap. Tak ada satupun orang di sana, rasa pengap entah mengapa begitu terasa di lantai ini.
Aku terus mencoba memencet tombol menuju lantai bawah, tetapi ketika pintu hendak menutup tiba-tiba kembali terbuka. Pintu ini seakan-akan ada yang menghalanginya.
"Ya Allah, masih pagi ini, biarkan aku makan dulu," ucapku bergumam sendirian.
Tiba-tiba di lorong, muncul satu makhluk tak kasat mata. Dia memperlihatkan eksistensinya, aku merasa ketakutan. Aku hanya sendirian di sini, yang aku rasakan aku terjebak ke alam mereka.
Aku terus mencoba melantunkan ayat-ayat suci alquran yang aku bisa, dan akhirnya pintu lift tertutup kembali.
"Alhamdulillah ya Allah, jangan biarkan aku bertemu mereka Ya Allah, mereka tidak punya akhlak tidak tahu waktu saja," gumamku.
Sembari menunggu untuk sampai lantai paling bawah aku berpikir-pikir, perasaan kata orang-orang setan tidak muncul kalau siang? Lah ini apa, setan gak tau tata krama deh nggak ngucapin salam dulu.
Tak berselang lama pintu lift pun terbuka, perasaan lega karena sudah berhasil sampai di lantai dasar. Aku berjalan menuju restoran di hotel ini.
Aku melihat ibu sudah duduk di tempatnya.
"Keyla, sini Nak," ucap Ibu sembari melambaikan tangannya.
Aku pun berjalan cepat untuk menghampiri Ibu, rasa lapar dan haus telah menerpaku. Tak sabar rasanya untuk segera memesan makanan dan menyantapnya secara bersamaan.
__ADS_1
Bersambung....
>>> Next Episode part 2.