
"Iya, Sih. Ayahmu juga melarangnya, katanya beliau juga merasakan enggak enaknya kalau penglihatan di tutup, katanya sih merasa ada yang hilang gitu," ujar Jeje lagi.
"Ayah? Ayah bisa?" tanyaku.
Jeje menganggukan kepalanya. Dan saat bersamaan aku melihat pintuku kembali terbuka, tampak Tante Santi dari balik pintu.
"Jeje, ayo ganti baju. Keyla biar istirahat," ajak Tante Santi menghampiri.
"Nggak papa kok, Tante. Aku seneng ada temannya," ujarku.
Tante Santi tersenyum lalu mengelus kepala kami berdua. Jeje menatap mata mamahnya, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ganti baju sama makan dulu, ya. Soalnya aku juga belom bersih-bersih badan. Bye-bye, Keyla," ujarnya sembari melambaikan tangan.
Aku tersenyum lalu menganggukan kepalaku. Aku menikmati soreku dengan menonton televisi kesukaanku, hingga terdengar suara adzan berkumandang.
Ibu mulai masuk ke dalam kamar, menata pakaian yang aku gunakan. Beliau membantuku untuk berdiri untuk berpindah ke kursi roda. Aku menatap ke arah toilet, seperti ada orang lagi seperti yang aku lihat waktu itu.
Aku sengaja bungkam tak berbicara, aku tak ingin yang diucapkan Jeje perihal menutup kemampuanku bakalan dilakukan. Wanita menyeramkan keluar dari toilet menghampiriku, bola mata yang hitam sepenuhnya menambah seram penampilannya.
Aku memutuskan untuk menutup mata agar tak dapat melihatnya, ternyata tingkahku diketahui sama ibu.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu.
Aku bingung untuk menjawabnya.
"Ngantuk, Bu. Tadi keenakan nonton televisi sampai lupa tidur," jawabku mencari alasan.
Ibu mengelus kepalaku sembari terdengar tertawa. Aku secara perlahan membuka mata kembali, ternyata makhluk itu tepat di depan mataku.
"Aaaaaaaa," teriakku.
Sontak ibu terperanjat kaget karena mendengar teriakanku. Beliau malah bergegas memutar balikkan kursi roda menuju ke dalam kamar lagi, beliau dorong sembari berlari.
Beliau membuka pintu kamar, lalu menuju depan kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Braakk!
Napas ibu terdengar ngos-ngosan, jantungku pun berdetak kencang. Semua orang yang ada di rumah ini pun datang menghampiri.
"Ada apa, Bu?" tanya ayah yang tampak panik.
"Nggak tahu tu, Dedek. Dia teriak kenceng banget," jawab ibu.
"Loh, Al. Kalau kamu nggak tahu kenapa lari?" tanya Tante Santi sembari menahan tawa.
__ADS_1
Aku pun sontak tertawa karena mendengar ucapan ibu, aku kira ibu berlari sebab tahu makhluk itu. Ternyata beliau berlari karena kaget dengan teriakanku.
"Kaget aku, Kak. Udahlah ambil minum dulu, haus," ujar ibu sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
Mereka yang mendengar ucapan ibu tak ada hentinya tertawa, mereka merasa lucu dengan tingkah ibu.
"Keyla sudah mandi?" tanya ayah.
Aku menggelengkan kepala, ayah yang mendengarkan jawabanku bergegas mendorongku lagi menuju ke dalam kamar. Sedangkan yang lainnya kembali ke tempat masing-masing.
Ayah menemaniku di dalam kamar dan saat ayah baru duduk kasur ibu datang.
"Yah, aku mau tanya sesuatu," ujarku.
"Nanti dulu, ya. Kita mandi dulu, nanti setelah salat ashar baru kumpul lagi," sahut ibu.
Aku pun menganggukkan kepala. Dengan rasa ragu aku menatap kamar mandi saat ibu mendorong kursi roda menuju kamar mandi lagi, tetapi ku rasa sudah tak ada makhluk itu lagi.
Aku mandi dengan lancar tanpa gangguan apapun, setelah itu bergegas salat berjamaah. Seperti biasa, aku salat dengan duduk.
Lalu setelah slat selesai, kami bertiga memutuskan untuk tetap di kamar sembari menonton televisi.
"Yah, mau tanya?" ujarku.
Ayah menoleh ke arahku, sembari mengangguk.
"Ibu juga bisa," sahut ibu sembari tersenyum.
Aku melihat ke arah ibu, sembari mengernyitkan keningku. Saat itu juga ayah dan ibu tertawa secara bersamaan.
"Benarkah?" tanyaku mencoba memastikan.
"Yaiya dong. Ibu kan punya mata, jadi bisa lihat," ujar ibu.
Aku mendengar jawaban ibu sontak cemberut.
"Bukan itu, maksud aku bisa lihat hantu juga," ujarku sedikit kesal.
"Ha ha ha, iya Ayah ngerti maksud kamu. Tapi itu dulu, Dek. Sudah lama sekali," jawab ayah.
"Cerita dong, Yah," paksaku.
Namun di luar dugaanku, ternyata ayah menggelengkan kepalanya. Aku memohon-mohon ke beliau namun tetap menolak apa yang aku pinta.
"Ya sudahlah," ujarku menunjukan wajah murung.
__ADS_1
******
*Awal cerita Ayah*
Akhirnya dengan begitu ayah mengiyakan permintaanku. Ayah pun mulai bercerita tentang pengalamannya. Ayah beda dengan aku, beliau mendapat penglihatan tak dari kecil.
Beliau ingat jika awal mendapatkan penglihatan tidak dari kecil, namun dia peka akan hal itu soal rasa.
Awalnya beliau ikut bela diri-bela diri gitu, nah sekitar masih kelas tiga SMP. Menurut beliau juga usia segitu bersama teman-temannya mencoba membuka mata batinnya gitu, awalnya cuma iseng-iseng. Dan nggak tahunya beliau bisa, sedangkan teman-temannya nggak bisa.
Kata teman ayah dulu katanya, kemungkinan ayah bisa terbuka karena memang sudah mempunyai bakat untuk itu.
Malam itu pulang dari latihan, dia bersama tiga temannya dari desa yang sama namun rumah ayah jaraknya terjauh. Keadaan desanya tak seramai sekarang katanya, Mereka berempat berjalan bersama, tertawa, becanda di sepanjang jalan.
Beliau pertama kali melihat ya itu, ada sekelebat bayangan seperti sosok gadis namun terlihat melayang. Awalnya dihiraukan ayah, satu persatu temannya sampai di rumahnya. Saat itu tinggal ayah sendirian, berjalan di jalanan menuju rumahnya. Jalanan yang hening karena memang sudah tengah malam saat pulang, binatang malam nambah suasana menjadi terlihat menyeramkan.
Ayah sengaja mempercepat langkahnya, karena bayangan sosok wanita masih terlihat mengikutinya. Semakin lama sosok yang awalnya terbang dari kejauhan saat ini mendekat.
Sosok itu melihat ayah panik malah mengeluarkan kikikan tawa yang begitu nyaring dan melengking. Ayah berlari terbirit-birit hingga ke rumahnya.
Tok tok tok!
Ayah mengetuk pintunya tanpa ada jeda sedikitpun, beliau berharap pintu segera di buka oleh orang yang ada di rumah.
"Bu, buka pintunya," ujar ayah dengan suara bergemetar.
Cukup lama pintu itu di buka, semakin terdengar jelas kikikan sosok wanita itu.
"Mas, buka pintunya," ujar ayah gantian mencoba memanggil salah satu kakaknya.
Pintu pun terbuka, terlihat Pakde Hadi di sana.
"Kenapa, nggak biasanya pulang teriak-teriak kaya orang kesetanan," gumam Pakde Hadi saat itu.
Ayah pun lekas masuk dan mengunci pintunya dari dalam. Namun kikikan itu masih terdengar jelas.
"Kenapa, Dim?" tanya Pakde Hadi penasaran.
"Aku di kejar kuntilanak, Mas. Aku di kejar setan," jawab ayah.
Kata ayah, Pakde Hadi malah tertawa terbahak-bahak kala mendengar perkataannya. Pakde Hadi nggak percaya dengan ucapannya.
Tiba-tiba tubuh ayah merinding dan terasa begitu dingin. Saat itu juga ayah tersungkur ke lantai, beliau kehilangan kesadarannya. Pakde Hadi terlihat panik melihat adeknya tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Bu, Dimas ini loh!" teriak Pakde Hadi ke nenek.
__ADS_1
Bersambung ....