Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Perjalanan


__ADS_3

Malam itu, ayahnya Dinar pulang saat yang baru selesai beres-beres.


"Kita berangkat malam ini," ajak ayahnya.


"Katanya besok, Yah. Kenapa mendadak sekali?" tanya Dinar.


"Besok hari minggu, Nak. Takut macet, kasihan Kakakmu yang sedang mengandung. Malam ini lancar banget, sehingga mempercepat perjalanan," jelas Ayah Dinar.


Mereka akhirnya mengikuti apa yang di mau ayahnya. Ayahnya sengaja sudah membawa mobil angkutan barang, memang tadi sore sebelum pulang berpikir untuk pulang malam ini. Kandungan Kak Dita masih muda dan rentan. Ayahnya khawatir, jika berangkat esok dan macet malah berefek ke janinnya.


Malam itu pun, setelah memindahkan barang ke dua mobil angkutan dan yang lain taruh di mobil pribadi, mereka bergegas berangkat saat itu juga. Dinar, Kak Dita dan Kak Andre di mobil yang sama, Sedangkan ibunya satu mobil dengan ayahnya. Dinar memilih untuk berbaring di kursi belakang sembari memainkan ponselnya.


"Kira-kira, kita sampai tempat tujuan sekitar jam berapa, Kak?" tanya Dinar.


"Kalau lancar, kita tempuh dalam waktu tiga jam, Dek." Kak Andre menjawabnya.


"Hah, lama juga ternyata. Kalau macet, bisa-bisa seharian di mobil dong?" tanya Dinar lagi.


"Ya begitulah, makanya Ayah memilih berangkat malam ini sebab alasan itu," jawab Kak Andre.


"Okelah, aku paham," ujar Dinar.


Mereka berkendara menerobos gelapnya malam. Melewati jalanan yang semakin malam kian sepi. Rintik hujan tiba-tiba jatuh untuk menemani perjalanan mereka. Separoh perjalanan sudah terlewati.


"Sayang, kamu sama Dinar kalau ngantuk tidur aja dulu," pinta Kak Andre.


"Tapi sayang, kamu nggak ada temannya takut ngantuk nanti." Kak Dita menghawatirkan suaminya itu.


"Kak, telepon Ayah atau Ibu, kalau misal Kak Andre nanti sudah ngerasa ngantuk. Mending menepi dulu," sahut Dinar.


Kak Dita pun segera menghubungi, agar berhenti jika saat salah satu dari mereka, entah pengangkut barang ataupun Andre dan ayahnya yang merasa ngantuk.


"Halo, Bu," ujar Kak Dita.


"Iya, Nak. Kenapa?" tanya Ibunya Dinar dari seberang telepon.


"Kalau salah satu dari yang nyopir ngantuk, mendingan istirahat dulu aja. Semakin larut soalnya, kalian juga belum istirahat dari tadi." Kak Dita mengusulkan itu.


"Iya, Nak. Ayahmu lihat di depan ada warung, kita menepi di sana saja. Kita ngopi sebentar," jawab ibunya.


"Iya, Bu." Kak Dita pun memutuskan panggilannya.


Terlihat jarak beberapa meter setelah telepon, mobil ayah Dinar pun berhenti di pinggir jalan. Di sana terdapat pondok kecil dan di hiasi lampu bohlam berwarna kuning redup. Mobil Kak Andre dan dua mobil pengangkut barang sontak menghentikan kendaraan di tempat yang sama. Rintik hujan tak selebat tadi. Hanya gerimis tetapi terasa awet sedari tadi.


Satu –persatu dari mereka pun turun dan berjalan cepat di pondok itu. Pondok satu-satunya di sepanjang jalanan hutan ini. Ada beberapa jajanan dan minuman yang tertera di pondok dan warung ini.


“Permisi,” ujar ayahnya Dinar.


Berbeda dengan yang lain, justru Kak Dita saat memasuki are pondok ini malah terasa mual. Dia ingin muntah sedari tadi.

__ADS_1


“Kenapa, Sayang?” tanya Kak Andre.


“Nggak tahu ini, Yang. Mual banget,” jawab Kak Dita.


Tak berselang lama, datang seorag wanita paruh baya dan gadis menghampiri mereka dari dalam pondok itu.


“Butuh apa?” tanya wanita paruh baya itu.


“Ada kopi dan teh panasnya, Bu?” tanya ibunya Dinar.


Dinar menemani kedua kakaknya, sebab sedari turun dari mobil wajah Kak Dita terlihat pucat.


“Ada, berapa?” tanya wanita itu lagi.


“Enam kopi hitam dan tiga teh panas, ya,” jawab ibunya Dinar.


“Yang empat pahit,” sahut sopir mobil angkutan.


Setiap mobil angkutan berisi dua orang, gunanya untuk bergantian kala salah satu dari mereka sudah mulai lelah.


“Aku nggak usah, Bu. Tadi sudah bawa air putih, numpang neduh saja,” ujar Kak Dita.


Ibunya Dinar menatap ke arah Dinar.


“Aku juga nggak usah, Bu.” Dinar pun tak ingin minum teh malam itu.


Kak Dita berkali-kali ingin muntah, tetapi nggak bisa. Dinar nggak tega dan merasa kasihan jika dia terus memaksakan diri di sana. “Aku temanin di mobil ya, Kak. Mungkin cuaca yang dingin buat Kakak masuk angin.”


“Ini, Kak.” Dinar menyerahkan minyak itu.


“Nggak usah, Din. Di sini sudah mendingan, kok. Sumpah, masuk ke pondok itu hidungku kaya mencium bau anyir yang menusuk begitu.” Kak Dita memberi pengakuan.


“Anyir?” tanya Dinar sembari menggabungkan dua alisnya. Dinar merasa heran, sebab dia tak mencium apapun di sana.


“Kau nggak mencium?” tanya Kak Dita.


Dinar pun menganggukkan kepala, sebab memang dia tak mencium apa yang dikatakan oleh Dita.


“Sumpah, Dek. Baunya anyir banget, kaya bau darah begitu,” jelas Dita lagi.


Dinar sontak menatap ke arah pondok itu, tetapi yang bikin aneh itu ketika Dinar menatap ke arah mereka yang di sana, cewek yang bersama wanita tua itu terlihat menatap ke arahnya. Yang lebih menakutkan malah kala Dinar menatap ke arah cewek itu, seolah-olah pandangan Dinar dan cewek itu saling bertemu.


Sontak Dinar menundukkan kepalanya, tetapi justru membuat Kak Dita merasa heran. “Kenapa?”


“Cewek itu, ngeliatin kita tahu. Dia natap aku, terlihat nyeremin,” ujar Dinar.


“Nggak usah ngada-ngada, deh. Kaca ini, kalau nggak disengaja untuk mengintip nggak akan terlihat dari luar. Tengah malam ini, Dek. Jangan asal kalau bicara.” Kak Dita mengingatkan Dinar.


Setelah mendengar jawaban Kak Dita, Dinar baru teringat akan hal itu. ‘Eh, tapi beneran, deh. Mata cewek itu terlihat menatapku, malah dia tadi sebelum aku menunduk terlihat menyeringai ke arahku.’

__ADS_1


“Jangan, bengong. Minum sana, kalau ngantuk tidur saja,” pinta Kak Dita.


Dinar pun segera memejamkan mata. Sebenarnya apa yang di rasakan Dinar juga di rasakan oleh Dita. Dia hanya tak ingin membuat adiknya ketakutan, sehingga memilih untuk menyangkalnya. Bahkan yang mengejutkan, kala dua wanita itu menghidangkan minuman terlihat di dalam gelas bukan kopi hitam dan teh. Tetapi terlihat darah segar yang memenuhi gelas itu.


“Astagfirullah, bangun, Dek. Kita harus segera pergi dari sini, sepertinya ada yang nggak beres dengan pondok itu.” Kak Dita memilih untuk turun dari mobil dan meninggalkan Dinar di dalam sendirian.


Pintu yang tertutup, saat Dinar hendak menyusul kakaknya malah dia kesulitan untuk membuka.


“Loh, kenapa pintunya ini?” Dinar yang ada di dalam mobil panik. Sedangkan Dita berteriak untuk melarang mereka menenggak minuman itu.


“Stop! Jangan minum itu. Kita pergi dari sini, sekarang!” gertak Dita.


“Tolong!” Dinar yang ada di dalam mobilnya berkali-kali membuka pintu itu tetap tak bisa. Dinar memukul-mukul kaca itu dengan tangannya. “Kak, cepat pergi!”


Di dalam mobil yang kedap, membuat Dinar kualahan ketika berteriak. Dia mencoba membuka kaca pun tak bisa.


“Ya Allah, kenapa ini?” gumam Dinar merasa panik.


Terdengar suara di telinga Dinar mengatakan. “Aaaaa.” Tetapi suara itu terdengar berat dan hanya mendesis pelan.


“Tolong jangan ganggu, kami,” ujar Dinar memohon.


Untung saja, Dita dan yang lain kembali ke mobil masing-masing dengan cepat.


“Din, buka, Din.” Dita kesusahan kala membuka pintu itu dari luar.


Dinar mengisyaratkan dengan menggedor kaca lagi, agar mereka tahu jika ada yang nggak beres dengannya. Tiba-tiba ada sosok wanita yang duduk di kursi bagian depan dan menggunakan kemben batik, serta rambutnya terurai panjang hingga ke pinggul.


“Apa maumu? Kami hanya numpang lewat dan berteduh, jadi jangan ganggu kami,” ujar Dinar memohon.


Dinar terus menatap wanita itu, tiba-tiba dengan cepat wanita itu melesat hingga wajahnya berada tepat di hadapannya. Separuh wajahnya remuk, darah mengucur dengan deras dari keningnya hingga mengenai seluruh wajahnya itu. Badan Dinar tiba-tiba terasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan kaku. Dia tak mampu berteriak, tetapi kesadaranny masih terjaga penuh.


Dia melantunkan ayat suci alquran dalam hati untuk membentengi tubuhnya. Butuh waktu hingga hampir sepuluh menit, kepanikan itu memudar dengan sendirinya. Tubuhnya kembali terasa ringan dan pintu pun bisa di buka.


“Ayo, kita segera pergi dari sini,” pinta Ayah Dinar meminta semuanya untuk pergi.


Mereka pun masuk ke mobil sendiri-sendiri. Saat Dinar menoleh ke arah pondok itu, ternyata tak terdapat pondok di sana. Tetapi, di sana hanya terlihat satu kuburan, yang di berikan rumah kecil untuk menutupinya. Kak Dita yang saat ini, duduk di dekat Dinar hanya mampu mengelus kepalanya agar dia merasa lebih tenang dari sebelumnya.


“Bagaimana, Dit?” terdengar suara ibunya dari seberang telepon.


“Baik-baik saja dia, Bu. Mungkin syok, sehingga dia belum bisa di ajak berbicara,” ujar Kak Dita dengan napas tersengal-sengal.


“Dinar berikan minum dulu, Yang.” Kak Andre memberikan sebotol air minum yang ia bawa tadi.


Dita meraihnya dan membantu memberikan itu ke Dinar. “Kalau bisa, buat tidur lagi saja, Dek. Kak Andre dan Kak Dita menemanimu di sini.”


“Iya, Din. Perjalanan masih satu setengah jam lagi. Lebih baik kamu istirahat,” sahut Andre.


Dinar tak menjawab apapun, tetapi dia hanya melakukan perintah dengan memejamkan mata. ‘Kenapa aku jadi peka terhadap makhluk seperti itu? Key, sekarang aku tahu apa yang kamu rasakan dulu. Berdosalah mereka yang sering mencemoohmu dengan sebutan anak yang suka berhalusinasi.’

__ADS_1


Dia menitikkan air mata, dia menyadari jika apa yang di hadapi Keyla semasa hidupnya itu pasti terasa tersiksa. Apalagi, banyak orang di luaran sana, selalu menganggapnya remeh dan bahkan cenderung menghinanya dengan kata mengada-ngada.


__ADS_2