Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Orang itu (2)


__ADS_3

Kami hanya menunggu yang membuat mereka terpaku.


"Siapa, Yah?" tanya Ibu.


Ayah dan Om Deni pun menoleh ke arah ibu. Tak jarang pula mereka sesekali saling bertatap kembali. Kami menunggunya, tetapi tak satu katapun keluar dari mulutnya.


"Ayah, siapa?" sahutku.


"Boby," ucap mereka hampir bersamaan.


Aku dan ibu saling memandang, aku menatap mata ibu dengan penuh pertanyaan. Namun, tampaknya ayah mengerti apa yang sedang kami pikirkan.


"Boby itu, teman sekantor Ayah. Tapi sejak kejadian di kantor, dia di keluarkan dan kabarnya bunuh diri," ucap Ayah.


"Kejadian, apa?" tanyaku.


"Nggak perlu tahu, Key. Semua karena kerjaan kok," jawab Om Deni.


Telepon pun berhenti berdering. Namun, kali ini ganti ponsel Om Deni yang berbunyi. Om Deni pun segera menjawab panggilan itu.


"Halo, Sayang. Habis ini aku pulang," ucap Om Deni.


Om Deni tampak mendengarkan orang yang sedang berbicara di sana. Di wajahnya, tampak terlihat cemas.


"Jangan berani-beraninya kau sakiti Istriku! Di mana dia sekarang?" tanya Om Deni dengan nada membentak.


Om Deni meneteskan air matanya, lalu ayah menghampiri.


"Di mana Istriku?" tanya Om Deni lagi.


Lalu Om Deni me- Loud speaker panggilannya.


"Ucapkan selamat tinggal untuk istrimu," ucap orang itu.


"Mas, tolong aku," terdengar suara wanita seperti ketakutan.


"Sayang, kamu nggak disakiti kan sama si brengs*k itu?" tanya Om Deni.


"Belum ku apa-apain. Tenang, bentar lagi ya, bye-bye," ucap orang itu.


Panggilan pun terhenti, membuat Om Deni terlihat semakin panik.


"Halo .... halo. Brengs*k, siapa ini? Istriku bagaimana ini, Dim? tanya Om Deni.


Om Deni pun yang awalnya berdiri, sekarang bersimpuh dihadapan kami. Dia tampak terpukul setelah menerima panggilan itu.


"Pak Budi (Sopir taxi online), tolong antar saya," ucap Om Deni.


"Baik, Pak," jawab Pak Budi sembari mengambil kunci mobil.


Mereka pun segera menaiki mobil dan ayahku juga ikut.


"Ayah, aku ikut," ucapku sembari langsung masuk ke dalam mobil.


Ayah menatap Ibu, lalu ibu pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku juga akan ikut," ucap Ibu.


Kami segera berangkat menuju rumah Om Deni. Di sepanjang perjalanan, tampak wajah Om Deni yang cemas, panik dan takut menjadi satu. Mungkin, jika aku berada di posisinya juga akan merasakan hal yang sama. Bahkan keringat dingin juga pasti ku rasakan.


Tak jarang pula, Om Deni menyuruh Pak Budi untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan, Om Deni juga ingin beliau yang menyetir. Tetapi niatnya dihalang-halangi ayah, karena kami takut beliau terbawa emosi jadi tidak fokus.


Jarak rumah Pak Budi ke rumah Om Deni lumayan jauh, apalagi ditambah kemacetan di kota kala jam berangkat kerja tiba. Hari ini, ayah dan Om Deni sengaja izin ke atasannya untuk tidak masuk kerja.


"Ya Allah, kok pakai macet sih," ucap Om Deni.


"Sabar, Den," ucap Ayah.


"Mau sabar bagaimana, Dim? Istriku lagi dalam kondisi bahaya seperti ini," ucap Om Deni.


Wajahnya nampak kemerahan, seperti menahan cemas dan amarah yang sudah jadi satu. Mobil ini pun tak bisa bergerak walaupun sejengkal.


Om Deni pun membuka pintu mobilnya.


"Mau ke mana, Den?" teriak ayahku.


"Aku nggak bisa harus menunggu lagi," ucapnya, sembari berlari menerebos mobil di kemacetan ini.


Ayah pun segera menyusulnya.


"Bu, aku kirim lokasinya nanti kalian langsung ke sana. Ingat, kalian hati-hati," ucap Ayah.


"Oh, iya. Pak Budi, titip anak Istri saya," ucap Ayah lagi sebelum beliau lari tunggang langgang menyusul Om Deni.


Triingg...


Terdengar suara pesan masuk ke ibu.


"Iya, Bu. Saya tahu persis di mana alamat ini," ucap Pak Budi.


Perlahan mobilnya mulai bergerak. Aku melihat ke arah ibu yang sedang memainkan ponselnya.


"Kenapa, Bu?" tanyaku.


"Masalah seperti ini tidak bisa di biarkan," jawab Ibu.


Ibu terlihat menghubungi seseorang. Terlihat dari percakapan ibu, beliau nampak telepon ke pihak yang berwajib. Ibu menjelaskan dengan detail yang di alami ayah kemaren itu.


Bahkan, ibu saat ini meminta pihak yang berwajib bertindak ke alamat yang sudah beliau beritahukan.


Mobil perlahan tapi pasti kembali berjalan. Kata Pak Budi, jarak rumah yang kami tuju sebentar lagi sampai.


"Kita dari kejauhan aja ya Bu, atau kita berhenti di gang masuk di depan itu," ucap Pak Budi, ketika kami sampai di gang masuk sebelum alamat rumah itu.


"Baik, Pak," jawab Ibu.


Kami menunggu, kami merasa cemas dengan keadaan ayahku dan Om Deni. Kami pula juga tidak tahu mereka sudah sampai atau belum. Yang kami tahu mereka tadi berlari, entah ada halangan tidaknya juga tidak paham.


Ibu mencoba menghubungi ayah, tetapi tak diangkat. Aku melihat ke arah ibu, tambah mata beliau berbinar karena menahan air mata yang akan menetes. Mungkin rasa khawatir di pendam, agar aku tidak menyadarinya.


Aku yang menyadari itu, memeluk ibu dengan erat. Beliau mengelus kepalaku, sesekali juga menciumku.

__ADS_1


"Bu, jangan sedih. Ayah pasti baik-baik saja," ucapku mencoba menenangkan rasa khawatir Ibu.


Beliau mengangkat wajahku, sehingga aku dapat menatap mata ibu.


"Aku yakin, kamu anak spesial. Doamu pun cepat diijabah sama yang Maha Kuasa, Nak," ujar Ibu sembari kembali memelukku.


Terasa ada tetesan air yang jatuh mengenai tanganku. Aku kembali menatap Ibu, tiba-tiba terdengar dering ponsel yang berbunyi.


Ibu segera mengambilnya di saku bajunya.


"Halo, Yah. Kalian di mana? Aku sudah di gang depan alamat itu," ucap Ibu memberitahu.


Ibu mendengarkan ucapan Ayah di seberang sana.


"Iya, baik," ucapnya tergesa-gesa, sambil memutus panggilan itu.


"Bagaimana, Bu?" tanyaku.


"Pak, kita menjauh dari sini. Kita cari tempat yang ramai," ucap Ibu memberitahu.


Pak Budi pun segera melaksanakan perintah Ibu. Sedangkan aku tak mengerti, kenapa? Ada apa? Bagaimana Ayah saat ini? pertanyaan-pertanyaan itu yang tersirat di otakku.


Kami menuju ke depan swalayan yang jaraknya tidak jauh dari lokasi itu. Pak Budi memarkirkan kendaraanya.


Ibu terlihat menghubungi seseorang lagi.


"Halo, Yah. Aku sekarang di depan swalayan, kamu di mana?" tanya Ibu.


Ternyata ibu memberitahukan lokasi kami ke ayah. Setelah panggilan itu, kami hanya menunggu ke datangan Ayah.


Tok-tok!


"Cepat buka pintunya," ucap Ayah sembari mengetuk kaca mobil.


Ayah kali ini terlihat sendirian, aku celingukan mencari keberadaan Om Deni. Pintu pun segera di buka dan ayah masuk ke dalam mobil.


"Om Deni mana, Yah?" tanyaku.


"Deni di belakang swalayan ini. Ayo, kita ke sana?" ujar Ayah.


Aku semakin bingung dengan keadaan ini.


"Sebenarnya kenapa, sih? Aku bingung," ucapku.


Ayah menatapku sembari mengelus kepalaku.


"Jadi begini, tadi ada orang dengan sengaja menembak ke arah kami, tetapi naasnya peluru itu terkena kaki Deni," ucap Ayah.


Ayah bercerita, bahwa beliau berlari sembari memapah Om Deni yang sekarang tertatih cara jalannya, karena terkena tembakan itu.


Mereka bersembunyi di dekat kuburan, yang letaknya tepat di belakang swalayan ini. Orang itu, tetap mengejar mereka. Tak jarang pula tetap berusaha menembakan pistol itu kearahnya.


Tetapi mereka tertolong ketika ada orang yang mengadakan hajatan tepat di gang itu, ayah menerobos melewati kerumunan orang menuju kuburan.


Lalu, Om Deni di sembunyikan oleh ayah di suatu tempat. Sedangkan ayah bergegas meminta pertolongan ke tim Medis di klinik tak jauh dari swalayan itu. Karena ayah tahu Om Deni sudah tidak kuat untuk berjalan lagi.

__ADS_1


Bersambung....


Apa yang akan terjadi? Tunggu Next Episode. 🤗🤗


__ADS_2