
Beberapa hari setelah kejadian Bu Ranti pingsan, ternyata kabar kalau Bu Ranti selingkuh telah menyebar di seluruh kampung halamannya. Waktu itu, ketika suami Bu Ranti pergi ke warung untuk membeli lauk sebab Bu Ranti dilarang beliau untuk memasak.
"Nando, kok lama tumben beli lauk?" tanya ibu-ibu yang biasanya ngerumpi dengan Bu Sumi.
"Eh, iya, Bu. Si Ranti sengaja aku suruh istirahat, soalnya kata dokter nggak boleh terlalu banyak gerak, kandungannya rentan," ujar Nando suami Bu Ranti.
Ibu-ibu itu menyeringai dan menaikan sebelah alisnya.
"Ati-ati, Nando. Jangan-jangan yang dikandung Ranti bukan anakmu. Kalian kan nggak punya anak sudah lama, kok tiba-tiba punya anak kan mustahil. Harus curiga dengan tetangga terdekatmu, tuh. Siapa tahu mereka ada hubungan dan asal hap gitu." Ibu-ibu itu mencoba membuat panas hati suaminya Bu Ranti.
Nando sengaja diam tak menghiraukan apa yang dikatakan ibu-ibu itu. Beliau tahu, jika mereka biang gosip jadi nggak heran kalau mereka membuat isu yang ada di luar nalar mereka. Setelah makanan siap, Nando segera berpamitan ke mereka.
"Mari, Bu," ujar Nando.
"Nando, ingat kata-kataku. Tetangga cowok terdekat denganmu perlu dicurigai. Rizal misalnya," ujar ibu itu lagi.
Nando pun memilih pergi sembari menenteng kantong kresek yang berisikan makanan itu. Ketika beliau hendak masuk halaman rumah, saat itu juga Rizal peetanyaanku lewat depan rumahnya.
"Mari, Mas," ujar Riza dengan ramah.
Nando pun mengangguk sembari menyunggingkan senyumannya. Namun, entah kenapa dalam pikirannya malah terngiang dengan perkata ibu-ibu tadi. 'Ya Allah, pikiran macam apa ini? Rizal orang yang baik, nggak mungkin dia nikung aku dari belakang. Sudahlah.'
Nando meneruskan berjalan menuju rumahnya, terlihat Ranti saat ini sedang mengepel lantai rumahnya.
"Sayang, kok ngepel? Dibuat duduk aja, yuk," ajak Nando.
"Kurang sedikit ini, Yah. Jenuh nggak ngapa-ngapain, ngepel nyapu kan nggak berat. Itung-itung olah raga," jawab Bu Ranti.
Nando pun tersenyum, lalu menunggu istrinya duduk di ruang tamu. Sedangkan Ranti masih melanjutkan mengepel rumahnya hingga sampai pintu utama. Selesainya itu, dia segera menemani suaminya yang sudah menunggu dia di ruang tamu.
"Beli apa, Yah?" tanya Bu Ranti, walaupun di ruangan yang sama tetapi mereka berbeda tempat duduk, sebab Bu Ranti jika dekat suaminya masih merasa mual.
__ADS_1
"Beli balado telur sama ayam goreng, Bu. Kamu mau makan? Biar Ayah ambilkan," ujar Nando.
"Nggak usah, Yah. Kalau lapar bisa aku ambil sendiri," jawab Ranti.
Setelah itu, Nando menceritakan ke Ranti perihal ucapan mereka yang ada di warung tadi. Ranti yang selama ini diam perihal cacian mereka, pun terasa memuncak amarahnya. Dia mencoba menutupi rapat cacian mereka, tetapi suaminya malah mendengar itu sendiri dari ibu-ibu itu.
"Ayah percaya sama mereka?" tanya Bu Ranti ingin tahu seberapa percaya suaminya terhadap dia.
Nando pun terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Tak bisa dipungkiri, jika hatinya juga terasa panas kala mendengar ucapan itu. Di dalam hatinya mencoba menolak, tetapi entah kenapa pikirannya malah meyakinkan itu semua benar. 'Ibu-ibu itu, nggak akan asal bicara, kalau mereka tak pernah melihat sesuatu itu.'
"Ayah, kok diam?" tanya Bu Ranti.
Nando pun tersadar dari lamunannya, "Eh, iya, Bu. Ayah keluar dulu sebentar, mau lihat sapi di bapak siapa itu rumahnya di ujung jalan. Ayah jalan dulu."
Nando pun meninggalkan rumah dengan perasaan yang bimbang. Hati dan otaknya seakan-akan berbeda pendapat akan hal itu. Dia tak tahu harus dengan keyakinan yang mana. Sesuatu hal yang tak mudah baginya, harus mendengar kenyataan pahit seperti ini. Dia berjalan, tetapi pikirannya melayang. Dia yang biasanya ramah kalau di sapa orang lain, tetapi kali ini diam tak menghiraukan.
"Nando!" teriak Bu Sumi.
"Eh, Nando!" Bu Sumi menepuk bahu Nando.
Nando pun terperanjat, beliau menatap mata Bu Sumi dengan lekat.
"Kau ini kenapa? Jalan kok bengong. Eh, sudah dengar belum, kalau istrimu dengan Rizal ada hubungan, loh," ujar Bu Sumi.
Nando pun tak menjawabnya, tetapi langsung bergegas meninggalkan Bu Sumi begitu saja.
"Eh, Nando. Ingat kata-kataku, jika mereka ada hubungan spesial, loh. Bisa jadi janin yang dikandung istrimu adalah hasil karya dia. Ingat itu, ya." Bu Sumi mengucapkan itu asal bicara tanpa memikirkan perasaan Nando.
Hati Nando berkecamuk dalam perasaan gundah. Tak tahu harus percaya dengan siapa. Sesampainya di rumah orang yang hendak ia beli sapinya, Nando istirahat sebentar. Dia duduk di teras rumahnya sembari menunggu pemilik rumah keluar.
"Eh, Nando. Masuk," ujar pemilik rumah.
__ADS_1
Nando segera masuk. Lagi-lagi dia tetap terlihat bengong.
"Nando, kenapa?" tanya pemilik rumah.
"Eh, enggak, Pak. Jadi semua berapa? Saya beri uang nanti sore, ya," jawabnya.
"Empat belas juta saja. Nggak kamu lihat terlebih dahulu?" tanya pemilik rumah lagi.
"Enggak usah, Pak. Saya percaya, dirawat sama Bapak sekalian, kan?" tanya Nando.
"Iya, silakan diminum dulu," ujar pemilik rumah kala istrinya menghidangan kopi untuknya.
"Terima kasih," ujar Nadin, sembari meraih kopi yang ada di hadapannya. Istri pemilik rumah pun ikut duduk bersamanya.
"Nando, maaf-maaf, ni ya. Emang benarkah kabar tentang istrimu hamil?" tanya istri pemilik rumah.
"Iya, Bu. Jalan dua bulan ini," jawabnya.
Istri pemilik rumah wajahnya terlihat ragu kala hendak mengatakan sesuatu.
"Kenapa, Bu?" tanya Nando lagi.
"Eh, enggak jadi. Nggak apa-apa," ujar ibu itu dengan terbata-bata.
"Ngomong aja, kenapa, Bu?" Nando merasa penasaran.
"Sebelumnya, saya minta maaf. Kemarin itu, aku dengar dari yang lain, katanya Rizal sama Ranti ada hubungan, ya? Sampek ada yang bilang, kalau yang dikandung Ranti itu bukan anak kamu, melainkan anak si Rizal. Apa itu benar?" ujar istri pemilik rumah itu.
Dada terasa sesak, Nando tak tahu harus bicara apa lagi. Pikirannya terasa buntu, kenyataannya lebih banyak yang mengatakan hal seperti itu kepadanya. Sang pemilik rumah pun mencubit istrinya, mencoba menegurnya sebab beliau tahu jika istrinya sedang berprasangka buruk kepada orang lain.
"Maaf, saya pulang dahulu." Nando berpamitan dan bergegas berjalan cepat keluar dari rumah itu. Dia ingin tahi seperti apa kebenarannya. Rasa sakit dalam hatinya tak bisa ia tutupi lagi. Dia berpikir hari ini juga harus tahu yang sebenarnya. Ia tak menyangka jika istrinya melakukan itu demi memiliki anak.
__ADS_1
Wajahnya memerah, dia berjalan dengan hentakan pasti. Rasa sakit dalam hatinya berkecamuk dengan amarahnya yang memuncak.