
"Dedek, istirahat lagi, ya. Ayah dan Ibu juga akan beristirahat di bawah sini," ucap ayah sembari mengelus kepalaku.
Aku kembali membuka mata, lalu tersenyum ke arah mereka berdua. Saat ini ibu mendekat ke arahku, beliau mencium keningku.
"Jangan berpikir kamu beban untuk kami, ya. Kamu penyemangat kami, kami akan lebih sedih jika kamu putus asa. Semangat ya sayang," ucap ibu.
Setelah itu, ibu istirahat di bawah. Entah duduk atau berbaring aku tidak mengerti. Sebelum kembali menutup mata, aku melihat sosok menggantung menggunakan tali tepat di pojok ruangan ini.
Tapi aku tak ingin meresponnya, rasa kantuk yang kian mendera membuatku terlelap dalam tidur.
__________________
Ku kira, aku kembali membuka mata. Aku terbangun di lorong sebuah bangunan. Gelap dan hening pertama kali yang aku rasakan, tanpa ku sadari aku dapat beranjak dari tempatku terbaring.
Aku berjalan menyusuri lorong bangunan ini, hingga aku mendengar seperti ada orang yang berbicara di salah satu ruangan di lorong ini.
Aku mendekat dan mencoba menguping apa yang dibicarakan orang itu.
"Bangs*t ini semua tak boleh terjadi," ucap orang yang berada didalam ruangan.
Dug-dug-dug!
Terdengar ketukan sepatu orang yang sedang berjalan menuju ke sini.
Aku berlari di belakang sofa tepat di dekat ruangan itu, aku bersembunyi karena tak ingin orang yang memiliki bangunan ini tahu aku berada di sini.
Benar saja, aku melihat perempuan tinggi, berkaki jenjang, rambut dikuncir yang panjangnya sepinggang. Wanita itu mengenakan atasan blouse hitam dan rok span selutut, wanita itu terlihat anggun namun tetap terlihat judes di wajahnya. Di tangannya terlihat membawa lipatan kertas.
Tok-tok-tok!
Wanita itu mengetuk ruangan itu.
"Kevin." Panggil wanita itu dengan tegas.
Ternyata orang yang ada di dalam itu bernama Kevin.
"Apa!" jawab Kevin dengan nada tinggi.
"Keluar!" ucap wanita itu.
Pintu yang awalnya tertutup, saat ini perlahan terbuka. Saat terbuka tambak anak cowok di balik pintu itu.
"Ada apa?" tanya Kevin dengan suara ketus.
"Maksud kamu apa?" ucap wanita itu dengan memberikan kertas yang sedari tadi dibawanya.
Si Kevin mengambil kertas dari wanita itu, dia terlihat membaca isi kertasnya. Lalu Kevin mengembalikan lagi kertas itu.
__ADS_1
"Oh, Mama kan tahu sendiri isinya. Kenapa pakai bertanya lagi?" tanya Kevin dengan santai.
Dari ucapan Kevin, sekarang aku tahu bahwa wanita itu mamanya.
"Lalu, maksud kamu apa?" tanya wanita itu.
"Nggak apa-apa, sudahlah males debat," ucap Kevin, lalu dia kembali masuk ke dalam ruangan itu.
Brak!
Benturan pintu yang ditutup dengan kuat. Mamanya terus mengetuk pintu itu, menyuruh si Kevin keluar dan menjelaskannya tapi dia tak kunjung keluar.
Mungkin ruangan ini adalah kamar Kevin. gedoran pintu, tak membuat kevin bergegas membuka kembali pintunya.
"Pergi!" teriak Kevin dari dalam.
Wanita itu pun dengan anggun, melenggang pergi menjauh dari lorong ini. Aku yang sedari tadi bersembunyi, kembali mencoba mengendap-endap untuk pergi dari sini.
Aku beranjak dari tempatku hendak melangkah, tapi aku urungkan niatku. Aku merasa ada yang aneh dalam diriku.
"Astagfirullah, sejak kapan aku bisa berdiri lagi," ucapku.
Aku melangkah maju mundur untuk meyakinkan kalau aku bisa berjalan, lalu aku melihat ke telapak tanganku. Aku gerakkan tanganku memutar, lalu menyentuh pipi.
"Ini beneran nggak sih? Atau mimpi?" ucapku berbisik.
Karena hati terlalu senang sampai aku lupa kalau lagi di rumah orang.
"Emmm ... tes-tes, tes satu dua tiga. Yeee aku bisa bicara," ucapku sembari melompat.
Aku melompat ke sana kemari, lalu aku mendengar suara pintu yang di buka. Bodohnya aku tidak langsung bersembunyi, tetapi hanya berdiam menempel ke tembok.
Kevin keluar kamarnya, lalu pergi berjalan ke arah mamanya tadi pergi. Menurutku ini kesempatan yang bagus untuk aku pergi dari sini.
Aku mengendap-ngendap mencari jalan keluar, di ujung lorong ini hanya balkon, otomatis aku berada di lantai atas. Aku berjalan menuju tempat Kevin dan mamanya pergi, mungkin di sana aku dapat mengetahui jalan keluar.
Lantai atas begitu luas dan banyak kamar, tetapi di sini terdengar begitu hening tak ada aktifitas apapun. Gelap karena lampu tak kunjung dinyalakan, hanya sinar rembulan yang menembus kaca jendela yang menyinari lantai atas ini.
"Orang kaya kok nggak bisa beli lampu, gelap banget," celetukku.
Karena gelap membuat pandanganku menjadi terbatas. Aku melihat ke lantai bawah begitu terang, penerangan di sana dinyalakan semua.
"Alhamdulillah, pintu di sana. Aku harus keluar," ucapku kala melihat pintu yang berada di lantai bawah.
Aku segera berlari, suara kakiku tak akan terdengar karena tak memakai alas kaki apapun. Aku melewati sofa, di mana di sofa itu ada mamanya kevin sedang duduk sembari membaca majalah.
"Tunggu!" teriaknya.
__ADS_1
Seketika aku berhenti sesuai perintah.
"Mati ... mati, udah kejebak di rumah orang, ketahuan pula. Nenek lampir akan segera marah-marah," ucapku berbisik.
"Apa lagi!" terdengar suara Kevin.
Lalu aku menengok ke sumber suara. Aku melihat Kevin yang sedang berdiri di dekat tangga. Dia menatap ke mamanya dengan sinis.
"Siapa yang ngizinin kamu keluar?" tanya Mama Kevin.
"Maumu apa sih, Ma?" Kevin berucap dengan nada tinggi.
"Masuk kamar!" bentak Mama Kevin.
Kevin mengambil kunci dari meja lalu melenggang menuju pintu utama, dia berlalu tanpa mendengarkan perintah mamanya.
Setelah kepergian Kevin, aku menatap tanganku kembali.
"Aku nggak kelihatan?" aku bertanya-tanya.
Aku tak ingin kehilangan jejak Kevin segera ikut masuk ke dalam mobilnya, karena aku merasa tidak ada yang melihatku jadi dengan leluasa bisa mengikuti orang.
Aku yang awalnya duduk di kursi belakang, saat ini melangkah ke kursi depan. Aku tertawa terbahak-bahak.
"Hehehehe, berasa jadi esteh ya," ucapku.
Kevin adalah cowok yang saat ini mungkin berusia sembilan belas sampai dua puluh tahun. Dia berpenampilan modis dan keren, harum semerbak dari parfum yang ia kenakan.
"Ganteng banget ini cowok," ucapku sembari melihat ke arahnya.
Aku yang masih berusia smp aja bisa terpikat ketika melihat tampangnya yang keren. Kulit putih, lesung di pipi menambah indah di wajahnya.
"Hei, Kakak Kevin. Kamu ganteng-ganteng nggak sopan, ya," ucapku.
"Kamu jadi Kakakku, udah ku karungin kamu," tambahku.
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mungkin amarah yang ada dalam hatinya, membuat dia tidak bisa mengontol diri.
Untung jalanan begitu lenggang ketika malam, tiba-tiba mobil direm secara mendadak.
Sittttt!
Terdengar suara rem yang begitu kencang ketika dipaksa untuk berhenti.
"Eh, copot ... copot," ucapku karena kaget.
"Sialan!" ucap Kevin dengan berteriak.
__ADS_1
Bersambung ....