
"Kenapa kalian diam? Kalian yang setiap hari ketemu, bersama, saat dihadang badai seperti ini saling mementingkan egois masing-masing. Bagaimana kalau kalian di posisiku dan suami? Baru nikah beberapa bulan, bisa hamil dengan cepat malah diterpa isu oleh orang yang sama. Bu Sumi nggak sekali memfitnahku selingkuh juga, suamiku percaya denganku walaupun kami berjauhan. Itu karena apa? Karena kami saling menjaga dan ngobrol dengan baik dan menyampingkan orang lain masuk ke ranah hubungan kami." Bu Heny terpaksa bicara ini dengan nada tinggi, semata-mata kasihan terhadap Ranti yang saat ini sedang down. Nando masih terlihat ragu menanyakan secara baik dengan istrinya.
"Bukannya aku mementingkan egoisku, Bu. Jika sudah tak dihargai dan lebih mendengarkan orang lain, untuk apa saya bertahan. Bukannya kepercayaan yang selalu kita junjung tinggi dalam sebuah hubungan? Jika sudah rapuh dan luluh lantak, untuk apa? Jika kita bersama untuk menyakiti, lebih baik aku pergi." Ranti bertekad dengan kemauannya.
Nando meraih tangan istrinya. "Sayang, maafkan aku. Bukannya aku tak percaya, tapi jika orang lain lebih dari satu mengatakan itu, hati mana yang tak sakit? Oke, saya minta maaf jika salah. Lalu, kenapa Ibu Sumi bisa-bisanya berkata seperti itu, kalau nggak ada sebab dan akibat?" Nando meminta penjelasan dari mereka.
Ranti saat ini tak sanggup untuk berbicara. Terlalu sakit menjelaskan apa yang dituduhkan orang di luaran sana. Sehingga, Bu Heny mengambil alih pembicaraan itu. Ibu Heny mengatakan jika selepas kepergian Nando waktu itu, Bu Sumi dan Bu Heny yang saat bersamaan sedang berbelanja memperhatikan mereka. Bu Sumi malah seenaknya membuat isu, jika Danti berselingkuh tetapi belum ada tuduhan siapa lelakinya.
Makanya, Bu Sumi melontarkan perkataan jika Nando mandul dan saat itu juga membuat Ranti mengalami kram perut hingga jatuh pingsan. Maka dari itu,Bu Heny yang merasa tak sanggup mengangkat memutuskan untuk meminta tolong. Kebetulan, rumah terdekat dengan mereka adalah milik Rizal. Dia yang baik dan cepat tanggap membantu untuk memindah Ranti ke sofa. Saat itu bukan hanya mereka berdua, melainkan beberapa orang banyak bergerombol di sana.
Soal Rizal kenapa tahu seluk beluk rumah Nando dan Ranti. Kemarin Bu Heny sempat bertemu dengan Rizal, beliau menanyakan soal itu. Rizal orang yang baik tak berpikiran apapun dan menjelaskan, jika tahu itu memang sebelumnya yang membantu mereka pindahan adalah Rizal. Rizal hanya bilang, mungkin mereka berdua melupakan hal itu dan Rizal yakin jika memang saat ini mereka semua diuji dan kebenaran secepatnya bakal terungkap.
"Ya Allah, kenapa aku bodoh!" Nando mencaci dirinya sendiri sembari memukul kepalanya.
"Emang nggak ada salahnya jika memiliki rasa curiga itu. Tetapi kalian harus ingat, pertanyakan terlebih dahulu ke orang yang dimaksud dan selidiki perlahan. Jika langsung melontarkan cacian, apa bedanya dengan orang yang membuat isu," tambah Bu Heny.
Nando hendak merengkuh tubuh istrinya, tetapi Ranti dengan cepat malah mendorong tubuh Nando dengan kuat.
"Berikan aku waktu. Nggak semudah itu menyembuhkan rasa sakit itu. Tunjukan kalau memang benar-benar mempercayaiku. Aku tak ingin, kamu merasa terpaksa dengan mulut mengiyakan tetapi hati menolaknya. Lebih baik kamu pulang dan renungkan itu semua!" gertak Ranti yang sudah merasa kecewa dengannya
__ADS_1
"Nando, mengertilah. Biarkan dia sementara di sini. Kamu tenangkan diri dulu, begitu juga dengan Ranti. Yang terpenting, kalian sudah membicarakan ini. Ranti dan Nando, pertimbangkan hubungan kalian demi janin yang ada di dalam perut," nasihat Bu Heny.
Nando pun beranjak dari tempat duduknya, lalu berpamitan. Meski Ranti memalingkan ke arah Lain, tapi Nando masih berniat berpamitan dengan tulus.
"Pulanglah," pinta Bu Heny.
Berbeda dengan saat melihat Ranti meninggalkan rumah. Kali ini, hatinya benar-benar merasa berat kala harus meninggalkan Ranti. Nando dengan wajah ditekuk, melangkahkan kaki menuju rumahnya. Dari kejauhan ia melihat Bu Sumi berjalan ke arahnya.
"Eh, Mas Nando. Nggak udah dihampirinlah, cewek nggak tahu diuntung. Cowok cakep seperti ini malah disia-siakan." Bu Sumi mencoba menggoda Nando.
"Lebih baik diam!" gertak Nando dengan nada tinggi.
"Kenapa aku bodoh? Ranti sebelumnya menjelaskan kepadaku, kenapa aku malah tersulut amarah dengan mendengar perkataan orang lain. Memang aku lemah!" cecar Nando pada dirinya sendiri.
Nando menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Ia menatap langit-langit rumahnya, saat itu pula ia teringat senyum dan gelak tawa istrinya. Bertahun-tahun mereka saling menguatkan, tetapi entah kenapa ia mendadak merasa bodoh dengan perkataan itu semua.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu utama rumahnya.
__ADS_1
"Masuk!" teriak Nando mempersilakan masuk.
Saat pintu terbuka, terlihat Rizal di balik pintu itu. Nando dengan cepat beranjak dari tempat duduknya. Nando dengan tangan mengepal berjalan mendekat ke arah Rizal.
"Mas, saya ke sini hanya ingin meluruskan masalah ini. Jangan salah paham denganku," ujar Rizal.
Nando pun sama sekali tak merespon ucapan Rizal. Ia tetap melanjutkan berjalan semakin dekat dengan dengan Rizal yang berdiri mematung di tengah pintu masuk rumahnya.
"Mas, sadar, Mas." Rizal ketakutan, jika Nando gelap mata terhadapnya. Rizal sengaja menghampiri rumah Nando, sebab ia hanya ingin meluruskan ini semua. Dia tahu, jika Nando sebelumnya berkunjung ke rumah Bu Heny. Rixal tak ingin, masalah mereka berlarut-larut dan bahkan diambang kehancuran hanya karena satu orang yang lid ke mereka.
Rizal selama ini merasa hutang budi ke mereka sebab Nandolah yang membawanya ke kota saat ini. Rizal di perkenalkan kerjaan di kota itu, saat mereka sama-sama masih ngontrak di daerah yang sama. Tak ada maksud lain perihal itu, dia hanya bersungguh-sunggu menganggap Ranti dan Nando sebagai keluarga sendiri.
Begitu pula, saat mereka secara bersamaan mampu membeli rumah di area yang sama pula. Rizal tak tahu, jika akhirnya dengan kebaikan mereka terhadap Rizal malah menimbulkan masalah sebesar ini.
Nando, saat ini menatap dengan sorot mata yang tajam ke Rizal. Kepalan tangannya pun masih sempurna dan otot tangannya pun terlihat dengan jelas. Dengan kedatangan Rizal ke rumah itu, lagi-lagi membuat Ibu Sumi penasaran dan menimbulkan dugaan-dugaan baru.
"Eh, Rizal sama Nando mau berantem lagi itu. Kita lihat, yuk." Bu Sumi mengajak-ngajak ibu yang lain untuk mendekat.
"Bu, jangan buat ulah," tegur yang lain tetapi tak di gubrisnya. Bu Sumi tetap melangkahkan kaki mendekat ke halaman rumah Ranti dan Nando.
__ADS_1