
Tak biasanya Dinar datang lebih pagi. Dia duduk sendiri di bangkunya. Bahkan bangku di sebelahnya memang dibiarkan kosong, sejak kematian Keyla. Dia selalu ingin merasakan, jika Keyla duduk bersama dengannya.
"Key, jika kamu sih hidup. Mungkin, saat ini kita saling bertukar cerita. Kamu ceritakan masalahmu dengan apa yang kamu lihat kemarin. Dan hari ini, aku juga ingin cerita denganmu, Key. Aku kangen banget denganmu," gumam Dinar.
Dia menatap ke arah meja, lalu bergegas mengambil buku lalu mencoretkan nama Keyla di sana.
"Key, aku anggap kamu ada di sini, ya. Key, hari ini aku mau cerita denganmu. Tahu, nggak, sih. Kemarin itu, aku kenal dengan satu cowok. Dia baik banget sepertimu. Dia menceritakan keluh kesahnya. Tapi sayang, pertemanan kita nggak lama, Key. Dia hari ini pergi dibawa keluarganya. Dia kemarin baru saja kehilangan nenek yang selama ini mengasuh dan membesarkannya. Pasti dia sedih seperti aku, saat kehilangan kamu. Dia pasti kuat, seperti aku mencoba selalu tegar saat mengingatmu." Dinar berkata seperti itu, dengan deraian air mata membasahi pipinya.
Tanpa Dinar sadari, salah satu gurunya mendengar saat Dinar berkata itu sendirian. Bu Evi, orang yang juga sangat mengenal Keyla dan Dinar dengan baik.
"Key, terkadang sampai sekarang aku masih ingin engkau ada di sini. Aku tahu seperti apa dosaku, kala dalam otakku bilang jika semua ini tak adil untuk kita berdua. Kau orang yang baik, bahkan kau sahabatku dari kecil. Kenapa kau harus diambil terlebih dahulu. Keyla, kenapa kita tak pergi nanti bersamaan. Hal seperti ini selalu aku takutkan dari dulu. Aku tak bisa menggantikanmu posisimu dengan orang lain. Hanya kamu sahabatku satu-satunya. Key, kenapa?" Dinar terisak, membuat Bu Evi tak tega melihatnya. Beliau segera masuk dan duduk di kursi yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dinar dan tak ada satu pun orang yang boleh menempatinya.
"Bu Evi?" ujar Dinar, sembari menyeka air matanya.
"Iya, Sayang. Sini, menangislah jika itu sanggup membuat hatimu lebih tenang. Nggak ada salahnya, jika saat ini kamu menangis. Suatu saat, kamu pasti menjadi orang yang sangat kuat." Bu Evi merengkuh tubuh Dinar dalam pelukannya.
Dinar pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan Bu Evi, sehingga tanpa Bu Evi sadari beliau juga ikut menitikkan air mata.
"Dinar, ikhlaskan Keyla, ya. Biarkan dia hidup tenang," ujar Bu Evi.
"Nggak bisa, Bu. Bertahun-tahun bersama dia, tak pernah ada pertengkaran apapun dengan dia, tiba-tiba dia pergi untuk selamanya. Bu, ini nggak adil buat dia," ujar Dinar.
"Dinar, umur nggak ada orang yang tahu. Tak pernah di minta, tak pernah diharapkan, jika semua sudah di gariskan sama yang maha Kuasa, siapa yang mampu menolaknya. Dinar, hadirkan Keyla dalam setiap doamu. Niscaya kau akan bahagia, kalau kamu mau menuntun dia dengan doa-doamu." Bu Evi menasihatinya.
"Bu, terima kasih, ya. Aku hanya rindu dengan dia. Aku tahu semua ini salah, aku selalu menyalahkan takdir kala aku mengharapkan dia ada di sini." Dinar menyeka kembali air matanya.
"Iya, Sayang. Hapus air matanya, jangan buat yang lain sedih juga, ya. Kasihan Keyla, jika kalian berat melepaskannya," ujar Bu Evi lagi.
"Iya, Bu," jawab Dinar.
"Kalau gitu, Ibu keluar dulu, ya. Kamu baik-baik, ya. Jangan lupa apa yang tadi dikatakan Ibu, ya," ujar Bu Evi.
Dinar pun tersenyum sembari menganggukkan kepala. Setelah perginya Bu Evi, Dinar kembali menatap ke arah tulisan ini.
"Key, baik-baik di sana, ya. Maaf, jika tangisku malah memberatkanmu. Jujur, susah buat relain kamu pergi," gumam Dinar lagi.
__ADS_1
Tak berselang lama, beberapa temannya sudah mulai berdatangan. Dinar yang sedari tadi masih menitikkan air mata, bergegas mengusap air mata itu dari pipinya.
"Dinar!" teriak Dewi dari arah pintu masuk kelas.
Dinar pun menoleh. "Eh, Dewi. Tumben sudah sampai?"
"Eh, kamu tuh, yang pagi-pagi sudah nyampek. Mata kamu kenapa, sembab? Habis nangis?" tanya Dewi.
Dewi yang tahu, kursi kosong itu tak boleh di tempati siapapun. Dia memilih untuk duduk di tempat lain.
"Kamu teringat Keyla, lagi?" tanya Dewi.
Dinar pun menganggukkan kepalanya.
"Din, relain Keyla pergi, yuk. Kasihan dia, jika melihatmu terus-menerus sedih seperti ini. Kamu kuat, kok." Dewi mencoba menguatkan Dinar yang saat ini rapuh.
"Dewi, aku maunya juga gitu. Tahu nggak sih, susah banget buatku," ujar Dinar lagi.
Saat ini di dalam kelas hanya ada Dewi dan Dinar, tiba-tiba di papan tulisnya ada coretan yang bertuliskan datang.
"Wi, lihat itu." Dinar memberitahu.
"Keyla datang, Wi." Dinar tersenyum.
"Din, nggak mungkin. Jangan terkecoh, yang ada makhluk lain yang menggunakan kesempatan ini. Keyla sudah tenang di sana," ujar Dewi memberitahukan.
"Nggak, Wi. Keyla datang, dia tahu kalau aku merindukannya." Dinar beranjak dari tempat duduknya. Di telinga Dinar pun terdengar bisikan. "Kemarilah, sahabatku. Aku juga merindukanmu."
Dewi dengan cepat meraih tangan Dinar dan menahan dia agar tak melangkahkan kaki ke depan.
"Aku datang khusus untukmu. Kemarilah!" Bisikan itu masih terdengar jelas di telinga Dinar.
"Dia benar Keyla, Wi. Dia datang merindukanku juga," ujar Dinar tetap kekeh hendak jalan menuju papan tulis.
"Dinar, sadar, Din. Keyla sudah tenang di sana. Yang kamu dengar itu bisikan iblis jahanam. Jangan dengarkan dia!" gertak Dewi menggunakan nada tinggi.
__ADS_1
"Pukul dia. Dia tak akan pernah tahu rasa sayang kita. Puku!" perintah bisikan itu.
Tiba-tiba Dinar menarik tangan Dewi untuk menjauh.
"Pergi! Kau bukan Keyla. Dia tak mungkin mengucapkan seperti itu. Pergi!" teriak Dinar.
"Kau tahu, Din?" tanya Dewi.
"Aku Keyla, sahabatku. Jangan dengarkan orang di sampingmu. Dia hanya manusia bodh yang ingin menjauhkan** kita***." Suara bisikan itu terus terdengar dengan jelas di telinganya.
"Pergi! Kau makhluk jahat," teriak Dinar.
Tiba-tiba beberapa kursi yang ada di depan berterbangan hingga mengenai Dinar.
Brak! Beberapa kursi mengenai lantai dan tembok sekolahan.
Suara keributan itu terdengar dengan jelas hingga ke ruangan lain. Saat mereka hendak masuk dan menghampiri, tiba-tiba pintu kelas itu tertutup dengan rapat.
Brak! Pintu tertutup.
"Aku Keyla, Dinar. Aku yakin, kamu ingin bersamaku untuk selamanya, kan?" bisikan itu semakin terdengar jelas di telinga Dinar, namun tak terdengar sama sekali oleh Dewi.
"Kau bukan, Keyla! Pergi!" teriak Dinar kembali.
Di luaran sana riuh, sebab pintu itu tak dapat terbuka.
"Dinar, Dewi, bantu kami berdoa. Kalian menjauh dari pintu juga!" teriak Pak Andi memperingatkan mereka.
"Dewi, aku lagi berhalangan. Bantu mereka," pinta Dinar.
Dewi juga ikut membacakan ayat alquran sesuai yang diperintahkan dari luar kelas. Dia terdiam, kala tak bisa melantunkan beberapa ayat yang lain. Mereka hanya mampu memohon meminta perlindungan sembari saling menjaga, kala bangku dan meja itu masih berterbangan. Bahkan, beberapa kali tubuh dan kepala mereka terkena lemparan itu.
"Dinar!" teriak bisikan itu. Lama-lama, pintu bisa terbuka dan barang-barang yang ada di dalam kelas tak berterbangan lagi. Pak Andi dan Bu Evi segera menghampiri mereka berdua.
Darah mengalir dari pelipis Dinar. Badan mereka yang terkenal kursi pun terlihat membiru.
__ADS_1
"Bu Evi, minta tolong obati merek. Yang lain, tolong di tata kembali ruang kelasnya." Perintah Pak Andi.
Selly dan Bella, mengekor di belakang mereka. Banyak pertanyaan dalam hati mereka.