Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Bercerita (2)


__ADS_3

"Ih, nakutin banget," ujarku yang tiba-tiba merasa merinding.


Mendengar ucapanku, malah Kevin memicingkan matanya.


"Kamu bisa takut?" ujar Kevin sembari tersenyum.


Aku pun cemberut ke arahnya.


"Masuk, yuk. Nanti di tunggu keluargamu untuk makan," ujar Kevin.


Dia beranjak berdiri dan tertatih berjalan menggunakan tongkat. Dia melupakan aku yang ada di sini dan berlalu dulu hendak masuk rumah.


"Nyebelin banget, sih. Aku di bawa hantu nanti, bantu memutarkan kursiku dong," ujarku dengan ketus.


Dia hanya menoleh, lalu tersenyum sembari menggaruk kepalanya.


"Eh, iya. Lupa kalau ada orang," ujarnya dengan nada mengejek.


"Bukan, aku jadi pohon ini," ujarku sembari memalingkan wajah.


Walaupun dengan tertatih, dia tetap membantuku untuk memutar posisi kursi rodaku. Lalu, aku menggerakkan sendiri kursi rodaku hingga menuju ruang makan. Di sana aku melihat keluargaku sudah berkumpul dan hendak makan.


"Kevin mana, Key?" tanya ibu.


Aku menoleh kebelakang dan menunjuk ke arahnya. Kami semua memutuskan makan mala, selepas itu berkumpul di ruang tengah di depan televisi. Namun aku sengaja dekat dengan Kevin karena merasa penasaran dengan cerita horornya tadi.


"Eh, Kak. Cerita lagi dong, soal hantu jual jamu tadi," ujarku sedikit memohon.


Kak Kevin pun bercerita saat mereka hendak pergi mendaki.


*******


Pov Kevin.


Saat itu, seperti biasa. Aku selalu jenuh dengan keadaan keluargaku, di mana papa selalu mempercayai wanita ular itu, ketimbang aku anak kandungnya.

__ADS_1


Sehari sebelumnya, wanita itu mencoba mencelakai aku dengan memutus kabel rem mobilku. Hingga mobilku terjadi kecelakaan menabrak pohon di pinggir jalan. Aku sengaja membanting setir, sebab jalanan sedang macet dan saat aku mencoba mengerem tapi blong.


Untung saja, aku mengendarainya dengan pelan padahal sebelum-sebelumnya selalu mengendarai dengan kecepatan tinggi. Hanya bagian depan mobilku yang hancur, namun aku tak luka sedikit pun. Aku berbicara ke papa, namun beliau tak pernah mempercayai jika itu semua ulah wanita itu.


Papa malah memilih menghardik dan mencoba mengusirku karena hasutan wanita itu. Namun, aku tetap mencoba bertahan, karena tak ingin papaku juga terluka disebabkan wanita itu.


Karena perasaanku yang merasa jenuh dengan keadaan, sehingga aku memutuskan mengajak keempat temanku untuk mencari hiburan. Mereka mengusulkan untuk mendaki di salah satu gunung di jawa timur.


Kami memutuskan mencari daerah yang jauh dari tempatku tinggal. Dan sengaja untuk berangkat tengah malam, agar saat pendakian tak kesiangan. Becanda dan tertawa terbahak-bahak di sepanjang perjalanan. Hingga saat melewati jalan yang samping kanan kirinya hutan, tak sengaja melihat wanita menggendong bakul dan mengenakan kebaya. Wanita itu mengenakan atasan kebaya berwarna merah dan jarik selutut.


"Eh, Vin. Lihat wanita itu, kok jalan kaki," ujar Anton salah satu temanku.


Aku yang mengendarai, sebenarnya sudah melihatnya, entah dari awal aku memilih untuk bungkam.


"Eh, iya. Kita bantuin, yuk. Kasihan malam-malam," ujar Rizal temanku yang lain.


Rizal yang duduk berada di sampingku, sengajaku toyor kepalanya.


"Eh, ini tengah hutan. Mana ada wanita jalan sendiri, tahu-tahu komplotan begal. Bakal celaka kita," ujarku dengan ketus.


Kami berlima yang berada di dalam mobil, sontak berteriak sekencang-kencangnya. Ternyata mereka semua juga benar-benar melihat dengan jelas wanita itu. Wanita dengan rambut disanggul kecil, muka penuh darah dan salah satu matanya seakan-akan hendak lepas dari tempatnya.


Aku memutuskan untuk menambah kecepatan mobilnya karena kami ingat, kalau tak jauh dari sini ada perkampungan. Wanita itu pun masih tetap di sana, dia terlihat menyeringai dan memuntahkan darah bercampur belatung, membuat kami semua merasa takut.


Tanganku terasa bergemetar dan tubuhku berkeringat dingin. Ingin menghentikan mobilnya tetapi masih berada di hutan, kalau pun jalan takut jika tak fokus menjadikan sebab kecelakaan kami.


"Mbah, amit. Putumu arae liwat ( Mbah, permisi. Cucumu hendak lewat)," ujar Anton menggunakan bahasa jawa, dengan suara yang bergemetar.


"Ya Allah. Kenapa tu hantu masih nyangkut, cari tumpangan beneran dia," ujar Billy, dia merasa ketakutan masih bisa becanda.


"Lu kira, jemuran tu anak setan," sahut Rizal.


Hantu itu masih ikut bersama kami. Saat di dari kejauhan sudah terlihat dengan jelas perkampungan, kami semua memutuskan untuk meminta pertolongan.


"Di depan sudah perkampungan, kita minta bantuan mereka saja. Semoga ketemu orang," ujarku.

__ADS_1


Mereka semua mengiyakan ucapanku, sebab kita sudah benar-benar merasa ketakutan. Beruntungnya kita, saat pertama kali masuk perkampungan melihat beberapa pemuda sedang berada di pos sedang nongkrong.


"Kita berhenti di depan itu saja, Vin. Aku mau pingsan rasanya," ujar Anton.


Dengan cepat kami pun sampai di tongkrongan para pemuda itu. Kami satu persatu keluar dari mobil dan menghampiri mereka, tetapi saat kami turun sudah tak menemukan hantu itu di depan mobil. Kaca mobil yang sebelumnya terlihat penuh darah, saat itu juga terlihat bersih tak ada bekas apa pun.


"Kenapa, Kak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pemuda dengan raut wajah yang bingung.


"Hantu, Mas. Itu hantu nyangkut di sana. bentar-bentar, aku pengen pingsang dulu," ujar Anton, kemudian dia terkulai lemah dan tak sadarkan diri.


Kami semua memutuskan untuk mengangkat Anton ke pos ronda ini.


"Ada apa, Kak? Kenapa kalian terlihat sangat begitu ketakutan?" tanya pemuda itu lagi.


Kami yang duduk mendampingi Anton yang sedang pingsan saling bertatap mata. Hendak menjawab tetapi ragu, takut hantu itu kembali lagi.


"Apa kalian lihat hantu wanita penjual jamu juga?" tanya salah satu dari pemuda.


Kami semua secara bebaringan pun menganggukkan kepala. Tetapi aku merasa aneh dengan kata juga yang ada pertanyaan itu.


"Kok, juga? Memang ada yang dihantui selain kami?" tanyaku.


Sebelum menjawab, malah terlihat Anton sadarkan diri. Dengan cepat pemuda itu mengambil minuman gelasan yang ada di pos itu, untuk di berikan ke Anton agar segera di teguk.


Anton pun segera meneguknya, lalu duduk di sampingku.


"Vin, pulang. Aku takut, nggak mau mati sia-sia karena ketakutan," ujar Anton saat tersadar itu.


Terlihat beberapa pemuda di sana saling berbisik, terkadang juga melirik ke arah kami.


"Kak, mampir ke rumahku saja. Kalian bermalam saja di sana, kasihan temannya terlihat sangat shock," ujar salah satu pemuda.


"Ayo, Vin. Nggak usah mendaki aja, kita nginep dulu aja," rengek Anton.


Aku pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan permohonan Anton.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2