Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Stevia (3)


__ADS_3

Saat kejadian itu, perlahan makhluk itu di perbolehkan mendekat, namun harus ada salah satu dari orang tuaku.


________________


Lain waktu pas sore hari, aku sedang keluar rumah bersama dengan kedua orang tuaku. Kami berjalan-jalan di sekitaran rumah. Senja mulai menyapa, namun makhluk tak kasat mata pun juga mengikutinya.


Aku berlari-lari selayaknya anak seumuranku, tertawa riang karena candaan ayah dan bunda. Tetapi saat itu dengan cepat satu makhluk tak kasat mata meraih dan membawaku melayang pergi. Tangan yang terasa kasar memegang pundakku, perlahan aku mencoba menoleh ke sosok ini.


Saat itu juga, aku melihat mata bolong yang mengucurkan darah kehitam-hitaman dan berbau anyir. Mulut yang menganga lebar membuat wajah hantu itu membuatku semakin takut dan meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Terdengar dari kejauhan kedua orang tuaku berteriak.


"Pia!" teriak kedua orang tuaku.


"Tolong! Tolong!" Aku berteriak.


Aku meronta-ronta ingin melepaskan diri dari hantu yang membawaku. Namun semua terlihat sia-sia karena aku tak mendapatkan hasil apapun.


"Bunda." Panggilku sembari menangis.


Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan tante hantu saat bermain bersamaku. Dia menyuruhku memanggilnya kala ada yang menggangguku.


"Tante!" Teriakku.


Dengan cepat hantu ini semakin menjauh dari perumahanku.


"Lepaskan!" ucapku sembari meronta-ronta.


"Diam! Kau akan jadi santapanku yang lezat, hahahaha," ujar hantu yang membawaku.


"Tante." Panggilku lagi.


Saat itu juga dari kejauhan aku melihat sosok makhluk yang terbang dengan cepat menghampiri. Dia langsung mengambil aku dari pegangan hantu yang membawaku tadi.


Lalu dia menurunkan aku di tanah sembari menatapku dengan tatapan yang menurut orang lain menyeramkan. Dia yang menolongku adalah hantu Tante Desy.



Setelah tante hantu meletakkan aku di tanah, aku mendengar hantu yang membawaku tadi menggeram. Hantu yang membawaku menurutku lebih menyeramkan, mata bolong, mulut menganga dan darah di mana-mana. Lebih parahnya, dia berbau anyir.


Saat itu perutku tiba-tiba terasa penuh dan mual kala mencium baunya. Hantu itu terlihat marah dan terus menggeram ke tante hantu temanku itu.


Aku melihat mereka saling mendekat, lalu melesat dengan cepat. Saat ini aku sendiri, hening yang aku rasakan. Suasana lebih menakutkan karena matahari sudah hendak tenggelam sepenuhnya.


Aku bersimpuh di tanah karena aku ketakutan karena merasa sendiri, aku menangis tersedu-sedu.


"Bunda, Ayah!" aku terus berteriak, berharap kedua orang tuaku mendekat dengan lokasiku saat ini.


Suara jangkrik mengerik, kunang-kunang berterbangan kelap-kelap ke sana kemari membuat aku semakin takut. Cukup lama aku sendiri di sini, hingga aku lelah dengan tangisanku. Tangisanku yang terlalu lama, hingga tak lagi aku mengeluarkan suara.


Semilir angin semakin lama kian kencang, tubuhku yang mungil menggigil kedinginan.

__ADS_1


"Bunda." Celetukku dengan suara bergemetar.


Terpejam mataku, namun saat itu juga aku merasakan tangan meraih badanku. Saat aku ingin membuka mata, entah kenapa terasa berat hingga aku larut di alam mimpiku.


_____________


Keesokan hari ....


Aku membuka mataku secara perlahan, aku melihat di sekelilingku. Tampak boneka-boneka yang sangat aku kenal, ruangan dan suasana yang biasa aku temui saat pagi hari.


Ternyata aku sudah berada di kamarku. Saat itu aku memutuskan untuk duduk, tak kutemui siapa pun di sini.


"Bunda." Panggilku.


Tak ada siapapun yang menyahutnya, lalu aku beranjak dari tempatku duduk. Aku pergi menuju lantai bawah. Anak tangga satu persatu aku turuni, saat itu aku kembali memanggil bunda.


"Bunda." Panggilku lagi.


"Iya, Nak. Bunda di dapur," jawab bunda.


Ayah yang mendengarnya, menghampiriku. Beliau meraihku ke gendongannya, sedangkan Kak Zaky keluar dari kamarnya.


"iih, bawel baru bangun. Malu sama ayam tuh," ejek Kak Zaky.


"Ayah, Kakak tuh," ucapku manja.


Ayah melihat ke arah Kak Zaky sembari tersenyum.


"Zaky!" ayah mencoba memperiangati kakak.


Saat ayah menegur Kak Zaky, malah dia menjulurkan lidahnya mencoba kembali mengejekku.


"Kak Zaky, jelek," ujarku.


"Eh, nggak boleh gitu dong. Nggak sopan loh," ayah menegurku.


Aku cemberut karena merasa ayah membela Kak Zaky. Aku memutuskan meminta turun dari gendongan ayah.


"Bunda." Panggilku.


"Iya, Nak," jawab bunda.


Dari kejauhan aku melihat bunda berjalan cepat menghampiriku. Beliau mengambilku dari gendongan ayah.


"Mandi dulu, yuk. Habis itu sarapan," ujar bunda.


Aku pun hanya menurut ucapan bunda. Beliau memandikan aku, selesai itu kami bergegas untuk turun kembali karena keluargaku sudah menunggu di ruang makan.


Kali ini aku turun berjalan kaki sendiri. Aku dengan tingkahku yang super aktif, aku melompat ke sana kemari. Sesampainya di lantai dasar, bukannya aku bergegas ke meja makan namun menghampiri Mak Ety terlebih dahulu.


"Pia, mau ke mana?" tanya bunda yang berada di belakangku.

__ADS_1


"Mak Ety, Bun," ujarku.


"Iya, panggil Mak Ety. Ajak dia makan bareng kita, ya," ujar ibu.


Aku tak menjawab hanya mengacungkan jempol ke arah bunda. Aku berjalan menghampiri Mak Ety yang berada di dapur.


"Mak." Panggilku.


"Iya, sini Neng Pia." jawa Mak Ety.


Beliau kerap kali memanggilku dengan sebutan itu, setelah itu aku segera mengajaknya untuk makan bersama kami. Keluargaku menganggap yang ada di rumah ini adalah keluarga, sehingga walaupun asisten rumah tangga dan sopir wajib makan bareng bersama kami.


Kami tak membeda-bedakan mana majikan mana asisten rumah tangga. Yang kami tahu hanya kita sama saja dan kita keluarga.


Aku menggandeng Mak Ety menuju meja makan. Aku melompat-lompat dengan perasaan gembira.


"Makan dulu, Mak," ujar ayah.


"Iya, Pak," jawab Mak Ety.


Mak Ety duduk tepat di sampingku. Beliau makan sembari menyuapi aku.


"Makan dulu aja, Mak. Pia biar saya yang nyuapin," ujar bunda


"Nggak apa-apa, Bu. Neng Pia biar saya aja yang nyuapin," ujar Mak Ety masi tetap makan sembari menyuapiku.


Tak berselang lama, makan pun selesai. Aku digendong bunda menuju ruangan yang biasa aku gunakan untuk bermain. Aku memainkan boneka yang berada di sana.


"Bunda, semalam aku nangis," ujarku.


"Nangis kenapa, sayang?" tanya bunda.


Aku menceritakan saat ketakutanku di bawa hantu yang semalam dan saat itu juga aku memberitahukan ke bunda perihal hantu tante itu menyelamatkan aku.


Tiba-tiba aku melihat ibu terperangah kaget.


"Jadi kemarin sore bukan Tante yang bawa kamu pergi?" tanya bunda.


Aku menggeleng sembari memainkan boneka.


"Lalu siapa?" tanya bunda lagi.


"Dia serem, Bun. Kata dia aku mau di makan, aku panggil-panggil Tante, dia datang ambil aku," ujarku.


Bunda saat itu juga memelukku. Beliau mengelus kepalaku secara perlahan, aku merasakan tetesan air mata jatuh tepat di lenganku.


"Bunda nangis?" tanyaku.


Beliau secara cepat mengelap tetesan air mata itu. Lalu beliau melepaskan pelukannya sembari menatapku.


"Enggak kok. Bunda kelilipan," alasan bunda.

__ADS_1


Aku saat itu hanya mengiyakan ucapan bunda, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya disembunyikan.


Bersambung ....


__ADS_2