
Ayah dan ibu sontak berhenti kala aku menyuruhnya.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu.
"Bu, aku takut," ujarku.
"Takut apa, Dek?" tanya ayah.
"Takut hantu merah yang dulu," ujarku.
Ayah dan ibu entah tak memberikan respon apa pun, namun setelah itu ibu membawaku kembali ke depan rumah sakit. Sedangkan ayah memutuskan untuk tetap menemui papanya Kevin.
"Kita ke depan saja, ya," ujar ibu.
Aku hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya ada alasan lain yang mendasari untuk menjauh dari ruangan itu. Tadi, tak sengaja melihat ada Kevin tetapi terlihat samar berada di dekat ayahnya. Aku tak ingin memperumit masalah, sehingga aku memutuskan untuk menghindar.
"Dek, nggak mungkin tiba-tiba kamu berubah pikiran gara-gara hantu. Ibu tahu, pasti ada sesuatu," ujar ibu.
"Beneran, Bu. Aku nggak mau diganggu setan jahat itu lagi," ujarku mencari alasan.
Kami hanya bisa duduk termenung di sini, tanpa ada kata-kata yang membuat kami saling berbicara. Pikiranku terbang melayang ke mana-mana, takut kalau Kevin meninggal, takut Kevin dicelakai hantu yang sama sepertiku. Dan lebih parahnya, semua penyebab kekacauan ini, aku.
"Key," panggil seseorang terdengar dari arah belakangku.
Aku memutuskan untuk menoleh dan itu membuat aku terkejut. Sosok Kevin tanpa luka apa pun datang menghampiriku. Aku hanya mampu bengong dan terbelalak kala melihatnya.
"Keyla, kenapa? Lihat aku udah nggak sakit," ujar Kevin tampak bahagia, dia memutar tubuhnya, lalu menghentakkan kaki yang sebelumnya sakit.
Tenyata ibu menyadari saat aku terlihat menatap sesuatu.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu.
"Tante, aku sudah sembuh. Makasih, ya. Oh iya, Papa mana? Ayo, kita pulang," ujar sosok Kevin kegirangan.
Namun sudah pasti ibu takkan meresponnya sebab memang dia tak terlihat oleh ibu.
"Enggak apa-apa, Bu. Ayah kok lama, ya?" ujarku.
"Kami lihatin apa, sih? Ibu mau ke toilet sebentar, kamu di sini atau ikut ayah?" tanya ibu.
"Di sini saja, Bu," ujarku.
Ibu pun berlalu meninggalkan aku, sedangkan Kevin terlihat bingung dengan kami berdua.
"Keyla, kenapa? Kok Ibumu nggak meresponku? Aku salah, ya?" tanya Kak Kevin.
"Kak Kevin ngerasa ada yang aneh nggak, sih? Kaka merasa ada yang beda nggak sama diri sendiri?" tanyaku.
__ADS_1
"Aneh? Ya, sih. Soalnya cepat banget aku bisa berjalan. Tapi nggak apa-apa deh, aku bahagia kok, Key," ujar Kak Kevin belum menyadarinya.
Dari kejauhan terdengar suara ayah memanggilku.
"Dek," panggil ayah.
Aku pun segera menoleh dan melihat ayah menghampiriku.
"Iya, Yah. Bagaimana?" tanyaku sembari melirik ke arah Kevin.
"Tadi Ibu bilang ke Ayah mau ke toilet, sehingga Ayah buru-buru ke sini. Oh, iya Kevin masih kritis. Semoga dia bisa melewati semuanya dan di beri kesembuhan," ujar ayah memberitahu.
Saat itu juga aku menatap ke Kevin yang tampak melongo dan belum mempercayai perkataan ayah.
"Maksud ayahmu apa? Aku di sini, Om," ujar Kevin Ke ayah.
Aku hanya menatap Kevin yang terlihat celingukkan. Dia mungkin bingung dengan keadaannya.
"Apa Aku mati?" tanya Kevin.
Aku hanya menggelengkan kepala tanda tak tahu.
"Kamu tidak tahu atau aku enggak mati?" ujar Kevin.
Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala.
Dia terus menerus menanyakan hal yang sama denganku, sehingga membuat aku merasa jengkel.
"Diam!" teriakku.
Ayah yang mendengarnya sontak melihatku dan saat bersamaan ibu juga datang.
"Kenapa, Dek?" tanya ayah.
"Aku tak tahu kau mati atau belum. Tapi yang kulihat sosokmu yang berada di sini namun ragamu ada di sana," ujarku ke Kevin sembari menutup mata.
Ibu dan Ayah sontak merangkulku dan menanyakan yang sedang terjadi kepadaku.
"Ada apa, Dek? Kenapa?" tanya ibu.
"Kevin ada di sini, tepatnya ada di depanku. Aku nggak tahu dia mati atau belum, tapi yang kutahu dia di sini," ujarku.
Perlahan aku mencoba membuka mata, terlihat Kevin sedang bersimpuh dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Kak Kevin, sini," ujarku.
"Aku mati, Key. Aku jadi hantu," ujar Kak Kevin terdengar sesegukan menangis.
__ADS_1
"Kak, berdoa dan berpasrah. Semoga di beri kesempatan kedua, aku misalnya. Aku juga pernah ngalamin hal yang sama," ujarku mencoba menenangkan.
Ibu mengelus kepalaku, walaupun beliau sebenarnya bingung dengan apa yang aku lihat.
"Dek, Kevin di sini?" tanya ayah.
Aku menganggukan kepalaku.
"Bantu dia, Yah. Kasihan Kak Kevin, jangan sampai dia juga di ganggu makhluk lain," ujarku.
Ayah segera mendorongku dan ibu mengekor. Aku juga nggak paham apa yang akan dilakukan ayah, sehingga beliau terlihat tergesa-gesa.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
Aku ganti yang bingung, tanpa banyak kata beliau menghampiri papanya Kevin.
"Pak," panggil ayah saat melihat papanya Kevin merenung.
"Iya, Pak," jawab Papanya Kevin dengan suara tak bersemangat.
"Maaf sebelumnya. Kalau kita minta satu atau dua orang, untuk nemenin raga Kevin dan selalu mengaji di dekatnya gimana?" tanya ayah.
"Maksud kamu apa? Doain anak saya meninggal, hah?" tanya papanya Kevin dengan ketus.
"Bukan begitu, tapi ...," ujar ayah belum selesai dipotong papanya Kevin.
"Halah, bullshit. Kalian pergi sana kalau hanya memperkeruh suasana," ujar papanya Kevin dengan nada tinggi.
Ibu menarik ayah untuk segera pergi, untung saja ayah hanya menurut tanpa membantah apapun. Sedangkan aku melihat ke arah Kevin, dia berdiri tepat di depanku dan memohon.
"Key, aku mohon. Jangan pergi, aku takut. Aku nggak mau mati, Key," ujar Kak Kevin.
"Maaf, Kak. Tapi aku harus pergi, jangan lupa selalu berdoa dan meminta Allah selalu bersamamu. Aku pasti selalu berdoa untukmu," ujarku, lalu memalingkan wajah darinya.
Aku nggak tega melihat Kevin sendirian. Aku tahu, bagaimana rasanya jiwa berkeliling dan ada gangguan di sana. Aku masih beruntung ada nenek yang selalu menghadiahkan aku bacaan ayat suci Al-Qur'an, sehingga aku dapat hidup hingga saat ini.
Aku tak tahu, bagaimana Kevin nantinya, berharap dia seberuntung aku nantinya. Aku menatap dia yang saat ini bersimpuh di tempatnya sedari tadi, dia seakan-akan ingin kami terus menemaninya sebab hanya ke aku dia dapat berinteraksi.
"Yah, kasian Kevin," ujarku.
"Mau gimana lagi, Dek. Kita datang saat amarah papanya Kevin mereda, ya. Beliau sedang berduka, jadi kita beri pengertian saja ke Papanya Kevin," ujar ayah.
Aku hanya mengangguk. Lalu ayah membantuku untuk kembali masuk ke dalam mobil, kemudian perlahan berlalu pergi meninggalkan Kevin dengan kesedihannya.
Dalam hatiku berkata, *maafkan aku, Kak. Semoga nanti kita bertemu kamu dalam keadaan yang tersenyum bahagia dan kita mampu tertawa bersama lagi.
**Bersambung*** ....
__ADS_1