
Dandi menatap ke arah ibunya. Sorot mata yang tajam, malah membuat ibunya ketakutan. Bola mata dan di menghitam seluruhnya, Dinar yang menatapnya sontak ketakutan.
"Dandi!" teriak Dinar sembari berjalan mundur.
Seketika keluarga Dinar pun masuk ke dalam rumah, beserta ayahnya Dandi.
"Dinar mundur! Dandi sepertinya kerasukan," tegur Kak Andre sembari menarik tangan Dinar.
Dinar pun matanya lekat dengan Dandi, meski dia sedikit menjauh. Namun, ibunya malah mendekat dan merengkuh tubuh Dandi.
"Dandi, sadar, Nak. Ini Ibu, Nak," ujar ibunya sembari mengguncang tubuh Dandi. Tetapi, Dandi yang kerasukan malah marah dengan ibunya, kemudian mendorong tubuh ibunya dengan kuat.
"Yang, buruan panggil orang yang bisa nyembuhin. Siapapunlah terdekat dengan rumah ini," pinta Kak Dita.
Sontak Kak Andre berlari menuju tetangga terdekat dengan rumah itu. Dia meminta tolong ke mereka, sebab Andre tak mungkin memanggilnya sendiri. Dia takut, keluarganya yang dominan perempuan semua kenapa-napa.
Saat keluar dari halaman rumah Dandi Andre bertemu salah satu tetangganya yang kebetulan lewat.
"Bu, mau tanya." Dandi menghentikan langkah ibu-ibu itu.
"Iya, Dek. Kenapa?" tanya ibu itu.
"Bisa minta tolong panggilkan kyai atau orang pintar, nggak? Dandi soalnya kerasukan, keluarga saya di sana perempuan semua, apalagi istri saya lagi hamil. Bisa minta tolong Ibu nggak?" tanya Andre.
"Bisa, Dek. Saya panggilkan dulu, ya. Minta tolong jaga Dandi juga." Ibu-ibu itu segera pergi meninggalkan Andre dengan terburu-buru.
Andra kembali berlari menghampiri mereka. 'Alhamdulillah, masih ada orang yang baik. Aku harus jaga mereka, terutama kandungan Dita.'
__ADS_1
Terdengar Dandi berteriak-teriak, entah apa yang diucapkannya. Andre pun meminta semua agar menjauh dari Dandi hingga orang yang akan menyembuhkannya datang. Tak perlu menunggu lama, terlihat ibu-ibu yang dimintai tolong tadi, datang bersama seorang pria. Mereka segera menghampirinya.
"Bantu saya memegangi Dandi," ujar pria itu kepada Andre, sedangkan ayahnya Dandi tak berani mendekat. Terlihat Andre kualahan, semua pria yang ada di sana dikerahkan untuk membantunya termasuk bapak-bapak yang mengangkut barang.
Ustadz itu membacakan ayah suci alquran dan saat itu juga tubuh Dandi terus meronta dan berteriak-teriak. Ustadz itu terus melafazkan ayat suci alquran itu. Dandi semakin marah, hingga menendang ayahnya yang kebetulan memegang bagian kakinya. Beliau tubuhnya terpental hingga punggungnya mengenai meja.
Beberapa menit dilakukan penyembuhan, akhirnya lambat-laun Dandi perlahan mulai tenang. Bola mata yang awalnya hitam keseluruhan, saat ini normal kembali. Tubuhnya terlihat lemas terkulai.
"Ini kalian mau ke mana? Bukannya Bu Ranti semalam baru saja meninggal dunia," tanya Pak Ustadz.
"Saya tahu, tapi itu bukan urusan kalian. Kami hanya mau membawa anak kami pulang ke rumah kami," jawab ayahnya Dandi.
"Bukan saya ikut campur, tapi apa nggak sebaiknya di sini dulu?" tanya ustadz lagi.
"Di sana atau pun di sini sama sajalah. Terima kasih sudah membantu. Kami mau pergi, silahkan pulang!" usir ayahnya Dandi.
Dinar merasa kasihan, malah spontan ingin mengejar Dandi, tetapi dengan cepat Andre meraih tangannya. "Jangan, Dek. Bukan hak kita untuk melarangnya. Bantu doa untuk Neneknya Dandi sudah cukup."
Dinar pun sembari menatap Dandi dan keluarganya masuk ke dalam mobil, dia menganggukkan kepala. 'Aku tak tahu di kehidupanmu mendatang seperti apa, aku hanya berharap kau akan selalu mengingatku. Semoga kau baik-baik saja dengan keluargamu.'
"Din, Ayo pulang. Kita berangkat," ajak Kak Dita.
Mobil keluarga Dandi dan mobil pengangkut barang pun sudah berlalu pergi meninggalkan rumah ini. Sedangkan keluarga Dinar dan tetangga Dandi masih berdiri di sini.
"Pak, saya mengucapkan terima kasih, sudah bersedia membantu kami. Untuk Ibu, terima kasih banyak, maaf jika merepotkan," ujar Kak Andre mewakili.
"Itu seharusnya yang bilang bukan kamu, Dek. Tapi mereka, makam orang tuanya masih basah, bisa-bisa seenaknya saja meninggalkan rumah ini. Apalagi, dengar kabar dari semalam kalau rumah ini mau dijual," sahut ibu-ibu tadi.
__ADS_1
"Biarkan, Bu. Bukan hak kita untuk mengurusi kehidupan mereka. Terima kasih juga untuk adek sekeluarga, sebab sudah mau menolong Dandi tadi. Semoga kehidupannya mendatang akan lebih baik daripada ini," ujar Pak Ustadz.
"Ya sudah, Pak. Kalau begitu, kami pamit dahulu, ya. Mari," ujar Andre, lalu diikuti mereka semua sembari menjabat tangan Pak ustad dan ibu-ibu itu.
Andre dan keluarganya masuk ke dalam mobil. "Mari, Pak. Saya duluan."
"Hati-hati, Dek." Ibu-ibu tadi tersenyum.
Dinar menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil. Dia menghela napas panjang, lalu berkata. "Anaknya masih lemah tubuhnya, kok bisa-bisanya mereka menarik tangan Dandi dengan kuat sampai badannya terhuyung. Dia masih sedih, bukannya diberi pengertian, malah kata-katanya kasar banget."
"Biarkanlah, Din. Bukan urusan kita," tegur ibunya.
"Bukannya gitu, Bu. Aku tuh kasihan lihatnya. Dia tadi bilang denganku, kalau dia berat ninggalin rumah ini. Bu, ini rumah tempat ia dibesarkan oleh neneknya, apalagi pasti banyak kenangan yang ia lalui. Jadi, nggak heran juga kalau dia merasa berat ninggalin rumah ini. Apalagi, dengan kata ibi tadi, kalau rumah neneknya Dandi bakalan dijual sama mereka," celetuk Dinar.
"Dinar-Dinar, bilang aja kamu nggak mau jauh sama Dandi. Heleh, kamu suka, ya," ejek Kak Dita agar adiknya tak larut dengan emosi kala pagi.
"Ish, apaan sih, Kakak. Bu, Kak Dita, tuh," gumam Dinar.
Ibunya membelai rambut Dinar. "Loh, anak Ibu sudah suka sama cowok, ya. Sudah gede, nih."
"Ibu, apa-apaan, sih. Sama aja kaya Kak Dita, awas aja kalau Kak Andre ikut-ikutan," ancam Dinar dengan nada becanda.
"Loh, Kak Andre diam, loh. Memang cowok tempatnya salah, ya. Sudah diam, masih aja di salahkan. Nasib-nasib." Dari perkataan Andre sontak membuat isi satu mobil tertawa.
Andre mampu mengalihkan perkataan dengan cepat. Dita melihat Dinar tertawa terasa bahagia. Dia tahu, rasa sedih sepeninggal Keyla pasti masih terasa, apalagi dia baru saja berteman dengan Dandi. Memang belum lama, tapi dari sorot mata Dinar dan Dandi sama-sama menaruh rasa simpati satu sama lain.
Mereka tak pernah melarang Dinar untuk menaruh rasa suka, simpati ke orang lain. Mereka tahu, jika takdir yang membawa rasa itu tanpa diminta. Bahkan yang berusaha menolaknya pun, tak sanggup terlepas dari itu. Jika memang itu terjadi di perasaan Dinar saat ini, mereka hanya mampu memberi pengertian, membimbing agar dia tak salah melangkah.
__ADS_1