Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Rumah Keluarga Wijaya


__ADS_3

POV Esther


Aku menangis, kali ini tidak ada orang yang mampu menenangkan aku. Mereka semua tak mampu melihatku.


Tidak berselang lama, keluarga Bang Ismed dan Keluargaku pun datang. Dari pihak kepolisian kebetulan masih di sana.


Keluarga kami menghampiri pihak kepolisian di tempat.


"Pagi Pak, kami semua dari keluarga Ismed dan Esther, apa kami bisa melihat keadaan mereka berdua?" tanya Ayah Bang Ismed.


"Mohon maaf, kami dari pihak kepolisian hanya bisa memberitahukan, bahwa saudara Ismed sekarang sedang berada dalam kondisi kritis dan di rawat di ruang ICU," ucap salah satu polisi.


"Lalu anak saya di mana, Pak?" tanya Ibuku yang tampak khawatir.


Aku yang melihat ibuku hanya bisa menangis tersedu.


"Aku di sini, Bu," ucapku, tapi mereka tak mungkin dapat mendengarnya.


"Maaf sebelumnya, saudari Esther sudah meninggal di tempat kejadian dan sekarang masih dalam proses visum," jelas pihak kepolisian.


Ibuku yang mendengarnya tiba-tiba jatuh tersungkur ke lantai.


"Ibu, Ibu," Ayahku mencoba memanggilnya.


"Ayah, Esther Yah, anak kita," ucapku sembari menangis.


Aku yang melihatnya semakin tak kuasa membendung air mata.


"Ibu, Esther di sini Bu," kataku.


Tiba-tiba ada dokter yang menghampiri keluarga kami.


"Apa betul, ini dari keluarga saudari Esther?" tanya Dokter.


"Iya Dok, kami orang tuanya," jawab Ayahku.


"Jadi begini Pak, saudari Esther sudah meninggal dari tempat kejadian, selain karena kehabisan nafas karena tertimbun longsoran, saudari Esther juga ada pendarahan otak yang di sebabkan benturan yang terlalu kasar," ucap Dokter mencoba menjelaskan.


Mereka semua mendengarkan, aku melihat mereka tampak meneteskan air matanya. Terutama ibuku, beberapa kali tampak tidak sadarkan diri.


Setelah hasil visum selesai dan keluar, jenazahku segera di bawa pulang untuk di makamkan. Tak perlu waktu lama untuk memakamkan aku.


Aku melihat ibu dan ayahku, rasanya aku ingin memeluknya ketika mereka bersedih. Tetapi apa mau di kata, dunia kami sudah berbeda.


Dalam kejadian ini tidak hanya membuatku meninggal dunia, tetapi juga membuat Bang Ismed koma selama 5 hari.


Setiap hari aku selalu menunggunya di rumah sakit. Mulai dari hari pertama, berharap Bang Ismed cepat sadar. Tak sedetik pun aku meninggalkannya.


Alhamdulillah di hari kelima, ketika itu yang menunggui Bang Ismed adalah ibunya, karena di ruang ICU pasien hanya boleh di tunggu oleh satu orang saja.


Aku melihat Ibu Bang Ismed tampak lelah, beliau tertidur di kursi di sebelah tempat tidur. Kala beliau tertidur, aku melihat tangan Bang Ismed mulai bergerak tanda dia akan sadar.


Aku berlari menuju luar ruangan untuk memanggil dokter.


"Dokter, Dokter," teriakku mencoba memanggil .


Tak ada satupun orang merespon ku, seketika aku menangis.


"Aku sudah beda alam sama mereka semua," ucapku sembari menundukkan kepala.


Aku kembali ke ruang ICU, ibu Bang Ismed tetap tertidur. Aku bingung bagaimana untuk membangunkannya. Aku melihat di meja ada gelas air, aku mencoba menjatuhkannya tetapi tidak bisa.


Aku masih mencari akal.


"Bu, bangun Bu," ucapku terus menerus.


Tak begitu lama beliau terbangun, tetapi itu bukan dari mendengar ucapanku tetapi karena memang beliau sudah bangun.


"Alhamdulillah," ucapku.


"Bu," ucap Bang Ismed perlahan.


"Alhamdulillah, Nak, kamu bangun," ucap Ibu Bang Ismed.


Ibu Bang Ismed beranjak dari tempat duduknya. Beliau bergegas melangkahkan kaki keluar ruangan.

__ADS_1


"Dokter, Dokter," teriaknya memanggil.


Perawat pun datang menghampiri.


"Anak saya sadar sus," kata Ibunya.


Suster mengkode temannya sesama perawat untuk memanggilkan dokter, sedangkan suster ini segera bergegas masuk ke dalam ruangan untuk mengecek keadaan Bang Ismed.


Setelah itu pun dokter datang segera mengecek kesehatan Bang Ismed. Bang Ismed beberapa hari masih di rawat di rumah sakit untuk memulihkan keadaan.


Setiap hari, dia selalu menanyakan keadaanku, tetapi keluarga sengaja bungkam karena kesehatan Bang Ismed belum stabil saat itu. Setelah hari terakhir dia di rawat dan di nyatakan boleh pulang, akhirnya ibunya sengaja memberitahukan keadaanku.


"Ismed," panggil Ibunya.


Bang Ismed melihat ke arah ibu.


"Kamu sayang Esther?" tanya Ibunya.


"Iya Bu, aku sayang banget sama Esther," jawabnya.


"Kamu yang sabar Nak, Allah lebih sayang dia," Ibu memberitahu sembari menitikkan air matanya.


"Maksud Ibu apa?" tanya Bang Ismed.


"Esther, sudah meninggal Nak," jawab Ibunya.


"Enggak mungkin Bu, aku yakin dia masih hidup," ucap Bang Ismed, tanpa di sadari air mata jatuh ke pipinya.


"Nanti, sepulangnya dari sini langsung Ibu antar ke makam Esther," ucap Ibunya.


Setelah semua selesai siap-siap dan menyelesaikan administrasi, keluarga bang Ismed segera menuju ke makam ku.


Di sana aku melihat Bang Ismed sangat terpukul karena kehilanganku.


***


POV Keyla


Aku masih mendengar cerita Esther, dia masih menangis.


"Bantu aku, tolong sampaikan ke Bang Ismed, tolong ambilkan cicinku yang terjatuh ketika di evakuasi, cincin itu jatuh tak jauh dari tempat kejadian," jawab Esther.


"Terus aku bagaimana cara menemui dia?" tanyaku lagi.


Saking seriusnya aku mendengarkan cerita Estber, sampai tak mendengarkan suara mobil orang tuaku datang.


Tok tok tok....


Terdengar suara ketukan pintu kamarku.


"Dek, kamu tidur?" terdengar suara Ibu dibalik pintu.


Aku terperanjat karena kaget, yang awalnya tidak ada orang tiba-tiba ada ketukan pintu.


"Tidak Bu," jawabku.


Ibu membuka pintu kamarku.


"Sudah makan?" tanya Ibu.


"Sudah Bu, Bu sini deh aku mau ngomong," ucapku.


Ibu menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Ngomong apa?" tanya Ibu.


"Jadi begini Bu, di situ (aku menunjuk ke tempat duduk yang di pakai Esther) ada temanku," ucapku.


Ibu melihat tempat yang aku tunjuk.


"Jangan mengada-ada, teman kamu siapa? Di situ tidak ada orang," ucap Ibu.


"Dia teman tak terlihat ku, Bu," jawabku.


"Keyla, kamu jangan aneh-aneh Dek," ucap Ibu.

__ADS_1


"Ayah," Ibu memanggil.


"Iya," terdengar suara Ayah.


Tak berselang lama ayah pun datang.


"Ada apa, Bu?" tanya Ayah.


"Duduk sini Yah," ucap Ibu.


Ayah menuruti perintah ibu.


"Ini si Dedek, bilang di situ (menunjuk arah yang aku kasih tahu tadi) katanya ada teman tak terlihat dia," Ibu mencoba memberitahu Ayah.


Ayah spontan melihat ke arahku.


"Kenapa kamu malah berteman dengan makhluk tak kasat mata Dek, hati-hati dengan tipu daya setan," ucap Ayah.


"Dia baik Yah, aku berteman dengan dia sedari kita pulang dari rumah nenek waktu itu, tapi ya gitu aku tidak pernah meresponnya lebih Yah," aku menjelaskan.


"Terus ada apa lagi dengan dia?" tanya Ayah.


"Dia meminta bantuan kita, untuk menyampaikan ke tunangannya kalau cincinnya terjatuh waktu mereka kena musibah tanah longsor waktu itu, Yah" ucapku.


"Tanah longsor? Apa pas waktu kita mau ke pantai itu?" tanya Ibu.


Aku mengangguk tanda mengiyakan.


"Terus, kita bagaimana cara mengetahui keberadaan tunangannya itu?" tanya Ayah.


"Nanti Esteh ngantar kita kok Yah, ke tempat kerja tunangannya itu," ucapku.


"Esteh?" tanya Ayah keheranan.


"Oh iya, temenku itu bernama Esther yah, aku sering banget manggil dia Esteh," ucapku sembari tertawa.


Tak gampang aku untuk membujuk kedua orang tuaku untuk membantu Esther, akhirnya mereka mengiyakan keinginan ku untuk membantu Esther saat ini juga.


***


Ayahku mulai melajukan mobil ke alamat yang sudah aku catat, aku sebelumnya sudah diberitahu oleh Esther.


Butuh waktu lama aku untuk sampai ke tempat keluarga wijaya yaitu tempat tunangan Esther bekerja.


Sesampainya di depan gerbang rumah keluarga wijaya, kami dibuat kagum melihat rumah yang begitu mewah. Lumrah karena keluarga ini di kenal termasuk di deretan orang terkaya di indonesia.



Kami bingung kita harus bagaimana cara masuknya ke rumah ini. Tiba-tiba ada satpam tua berambut putih menghampiri.


"Siang, ada yang perlu saya bantu? Saya Asep, satpam keluarga ini," ucap satpam itu.


"Kami ingin bertemu Ismed," jawab Ayahku.


"Baik, silahkan masuk, akan saya antar ke Ismed," ucap pak satpam.


kami pun diantar masuk ke dalam rumah yang besarnya bak istana dalam negeri dongeng ini. Kami diantar ke orang yang kami cari.


Setelah kami bertemu tunangan Esther aku menyampaikan keinginannya. Aku juga menjelaskan bahwa sebenarnya Esther berada bersama kami saat ini.


Tiba-tiba aku melihat Bang Ismed menangis tersedu-sedu.


"Esther sayang, Abang kangen kamu," ucap Bang Ismed sembari berjalan menuju luar ruangan yang terdapat bunga matahari.


"Ini bunga kesukaanmu," ucap Bang Ismed lagi.


Aku melihat Esther mendekat ke bunga matahari, dia dekatkan wajahnya ke bunga matahari ini.



"Ismed, kami hanya ingin membantu tunanganmu saja, kami sudah menyampaikan pesannya, tolong kamu penuhi agar dia lebih tenang di alamnya," ucap Ayah.


"Iya Pak," jawab Bang Ismed singkat.


Setelah itu, kami berpamitan untuk pulang. karena kami rasa tugas kami sudah selesai.

__ADS_1


__ADS_2