
Kevin pun tak sengaja menggebrak meja di depan kami. Kami sontak terperanjat melihat tingkah Kevin, dari arah kamar yang terdekat dengan ruangan ini muncul sosok wanita yang aku lihat saat sampai di sini.
"Kak Kevin, itu," ujarku sembari menunjuk.
Semua orang yang ada di sini sontak melihat ke arah yang aku tunjuk.
"Ada apa, Key?" tanya Kak Kevin.
"Mamanya Kakak," jawabku.
Kak Kevin sontak berlari ke arah kamar itu. Dia berteriak memanggil arwah mamanya dia terlihat begitu sangat merindukan mamanya.
"Ma, aku akan balas perbuatan wanita itu. Aku akan usut kelakuan busuknya!" ujar Kak Kevin sembari bersimpuh ke lantai.
Kami yang mendengarnya sontak terenyuh, kami nggak tega melihat Kak Kevin seperti ini. Terutama aku, entah kenapa aku mendadak merasa bersalah sebab ini semua aku yang maksa.
"Kak, maafkan aku. Aku sudah membuat Kakak membuka kisah kelam ini," ujarku.
Kak Kevin menatapku, lalu dia berjalan menghampiri. Tiba-tiba dia memelukku, aku hanya mampu terdiam karena mungkin dia lagi butuh orang yang mengerti dirinya.
Ayah menghampiri lalu memegang bahunya dengan lembut
"Dek Kevin, yang sabar. Yakinlah semua asti ada balasannya," ujar ayah.
Kak Kevin pun melepas pelukannya lalu beranjak dari hadapanku.
"Eh, maaf ya," ujarnya dengan wajah tampak memerah.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Setelah itu aku kembali menatap ke arah sosok itu berdiri. Walaupun wajahnya tampak menyeramkan namun dia terlihat sedih.
"Kevin apa ini bukti yang kamu ingin sampaikan ke kami?" tanya ibu sembari memegang kotak itu.
"Bukan hanya itu, aku ingat perkataan Keyla kalau wanita itu mengambil tali tambang. Ikut aku ke belakang," ujar Kevin sembari melangkahkan kaki ke rumah mereka yang lain.
Kami hanya mengekor di belakangnya, rumah ini begitu sangat besar. Namun sayang rumah ini hanya di kosongkan begitu saja.
__ADS_1
"Kevin, nggak sayang rumah ini di kosongkan?" tanta ibu sembari melihat-lihat di seluruh ruangan yang dapat dijangkau penglihatannya.
Kak Kevin pun jawab jika rumah ini dikosongkan pun berasa sayang. Tapi mau apa di kata, dia hanya ikut keputusan papanya, ada alasan tertentu sehingga semarah apapun dia ke papanya tak akan berpikir menjauhinya. Alasan itu karena si Kevin tak ingin wanita culas itu menyakiti satu-satunya orang tua yang ia miliki sekarang.
"Papamu memangnya nggak tahu tingkah Mama tirimu?" tanya ibu dengan kita yang tetap melangkah semakin jauh dari ruang tamu.
"Wanita itu pintar banget actingnya, dia pintar banget bersilat lidah dan memutar balikan fakta. Malah aku yang seolah-olah bersalah di hadapan Papa, tak pernah sekalipun ulah dia ketahuan Papa," jawab Kevin.
Kami hanya menggeleng-gelengkan kepala, baru kali ini mendengar wanita selicik ini selama hidup kami. Kami akhirnya di satu ruangan dibagian belakang rumah Kevin.
"Ini ruangan apa, Kak?" tanyaku.
Kevin mencoba membuka pintunya, namun terkunci.
"Sial terkunci," ujarnya.
"Memangnya ada apa di dalam?" tanyaku.
"Aku pernah di kurung di gudang ini, setelah itu aku sengaja pasang CCTV di dalamnya. Dan kebetulan orang rumah nggak ada yang tahu," jawab Kevin.
Kevin terlihat memikirkan sesuatu, mungkin caranya untuk membuka kembali pintunya. Lalu di pergi entah ke mana meninggalkan kami sendiri. Saat itu juga aku melihat sosok wanita yang menyeramkan yaitu Mama Kevin mendekatiku.
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengerti apa yang di ucapkan hantu ini. Saat ini Kevin kembali namun di wajahnya terlihat sedikit ada amarah.
"Sial! Nggak ada apapun untuk merusak pintu itu," ujar Kevin.
Aku pun mencoba memberitahukan apa yang di ucapkan mamanya, setelah itu semua orang bergegas ke sana, memindahkan kasurnya agar tahu ada apa di bawah kasur itu.
Kita begitu tercengang kala melihat ada beberapa memory card dan satu kunci.
"Memory?" ujar kami secara bersamaan.
Kak Kevin segera meraih beberapa card dan kunci yang ada di sana. Dia berjalan lagi dengan cepat meninggalkan kami. Lagi-lagi kami hany mengekor di belakang dia.
Dia berjalan menuju kamar belakang yang di sebut dia gudang. Dia mengotak-atik kuncinya tak perlu waktu lama akhirnya kebuka juga, kami pun bergegas masuk. Pertama kali yang kami rasakan saat masuk ke dalam gudang ini adalah pengap.
__ADS_1
Aku beberapa kali bersin karena debu ketika bernapas dan mencoba menyeruak masuk ke dalam hidungku.
"Keyla di luar aja ya, Dek," ujar ibu.
"Aku ikut, Bu," jawabku.
Kevin memencet saklar lampu yang ada di sini namun tak ujung nyala.
"Sial! Kenapa lampunya nggak nyala," ujarnya terlihat kesal.
"Pak, ada lampu senter atau apa gitu buat penerangan? Soalnya ponselku tertinggal di mobil," tanya Kevin.
Ayah mengambil ponsel yang sedari tadi di kantongnya, lalu menyerahkan ke Kevin.
"Cari tangga, Pak. Soalnya di ujung ruangan ini yang bagian sana terdapat CCTV. Ku harap card -nya nggak di ambil wanita itu juga," ujar Kevin sembari menunjuk ke salah satu sudut ruangan ini.
Ayah dan Kevin dengan penerangan seadanya mencari tangga di dalam gudang yang cukup luas ini. Cukup lama mencari, akhirnya ketemu tangga lipat yang di simpan di ruangan ini.
Ayah dan Kevin segera membawa tangga ke sudut ruangan yang di sebutkan Kevin tadi. Kevin yang menaiki tangga itu dan benar saja di sana ada kamera CCTV saat ayah menyorot senter hp itu ke arahnya.
Karena keterbatasan penerangan, hal yang dilakukan memerlukan waktu yang lama. Aku batuk tersengal-sengal karena sakin lama pernapasanku terasa sesak.
"Bu, tunggu di depan, yuk. Dadaku sesak banget," ujarku.
Kami pun memutuskan kembali ke ruang tamu, untuk sekedar menunggu. Setelah kami sampai, tak berselang lama mereka berdua ayah dan Kevin datang menghampiri kami.
"Kita ke rumahku yang baru, ya. Soalnya kita tidak bisa lihat rekaman itu di sini," ajak Kevin.
Kami saling memandang, terlihat wajah kedua orang tuaku tampak ragu.
"Tenang, Papaku dan wanita itu lagi di luar negeri besok baru pulang," ujar Kevin.
Kami pun mengiyakan ajakan Kevin, sebab ahar masalah ini segera selesai dengan bukti yang sekarang ada di tangan kita Semoga rekaman CCTV juga bisa memberatkan hukuman si wanita itu.
Aku dan orang tuaku hendak keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Namun sebelumnya lagi-lagi aku menatap sosok wanita itu yang saat ini berada di depan kamar lagi. Saat ini terlihat sosoknya tak menyeramkan seperti tadi, namun terlihat anggun dan cantik tersenyum ke arah kami yang berada di sini.
__ADS_1
Aku menganggukkan kepalaku sembari tersenyum ke arah sosok itu. Lalu pandanganku beralih ke Kevin yang sedang membereskan kotak yang diperlihatkan kami tadi.
Bersambung ....