
Dinar dan Dita kembali melanjutkan jalan hingga sampai di depan rumah barunya.
"Loh, kenapa, Nak?" tanya ibunya.
"Mau sholat jamaah di masjid, Bu. Di dekat sana, ada masjid. Kita gantian aja ya, Bu," ujar Dinar.
"Iya, Nak. Ajak Kak Andre sekalian, biar Ibu dan Ayah yang di sini. Lagian sepertinya aman, soalnya sudah subuh banyak orang berlalu lalang." Ibunya Dinar menyuruhnya.
Kak Dita berjalan menghampiri Andre yang sedang duduk di teras sembari menatap ke arah sekitar.
"Yang, sholat dulu, yuk. Masjidnya dekat banget dengan rumah ini. Kata Ibu, biar beliau dan Ayah yang di sini," ajak Dita.
Andre pun beranak dari tempat duduknya, lalu melangkah menghampiri Dita. "Iya, Sayang."
Mereka setelah mengambil mukena, segera kembali ke Masjid untuk melakukan sholat berjamaah. Dinar dan Dita sengaja belum memberitahukan apa yang diperintahakn RT untuk mereka bersama. Sepanjang perjalanan, mereka hanya melihat daerah sekitar hingga sampai di masjid.
Mereka ikut berjamaah di sana. Awalnya tak ada yang menyadari jika warga baru ikut bersama mereka, hingga saat sholat dan doa selesai, mereka baru sadar kala Dinar dan Dina melepas mukenanya.
"Kok nggak pernah lihat ya, Dek?" tanya perempuan yang duduk berdampingan dengan Dita.
"Kenalin, Bu. Saya Dita dan ini Dinar, adik saya. Kebetulan kami warga baru, dan baru sampai malam tadi," jawab Dita.
Ibu RT menatap ke arah mereka. "Adik yang ketemu saya tadi, ya?"
"Iya, Bu." Dinar pun tersenyum.
"Tinggal di mana, Dek? Siapa tahu, dekat dengan salah satu rumah kami. Biar sering-sering main ke rumah Saya, saling mengenal," ujar yang lain.
"Kami yang akan menempati rumah kosong, yang jaraknya dekat sama rumah Bu RT," jawab Dita.
Tiba-tiba mereka terdiam dan bahkan salah satu dari mereka matanya terbelalak.
"Kenapa, Bu?" sahut Dinar.
__ADS_1
Mereka hendak mengatakannya pun ragu. Mereka nggak ingin, mengusik kehidupan orang lain dan menakut-nakutinya.
"Enggak apa-apa, Dek. Sudah tahu kalau rumah itu kosong cukup lama?" tanya Bu RT dengan tenang.
"Iya, tahu kalau kosong. Tapi untuk berapa lama kurang begitu paham, Bu," jelas Dita.
"Oh untuk pemilik, kamu sudah tahu?" tanya Bu RT lagi.
Dinar hanya menggelengkan kepala.
"Yang saya tahu, hanya sebatas rumah itu milik saudara teman Ayahku. Katanya rumah itu dikosongkan sebab harus pindah keluar kpta. Hanya sebatas itu, Bu. Memang ada apa ya, Bu?" Dita semakin penasaran. Dia berpikir, nggak mungkin jika tak ada apa-apa di balik rumah itu, mereka sampai syok seperti itu. Dita hanya ingin tahu, ada apa sebenarnya.
"Oh, ya nggak ada apa-apa, sih. Saran saja ya, Dek. Rumah itu cukup lama kosong, nanti setelah membersihkannya segera dilakukan pengajian. Kalau bisa jangan hanya sekali ya, Dek. Rumah itu cukup lama kosong, namanya orang nggak tahu ada penghuninya atau tidak. Ya nggak mau suudzon, kita hanya berjaga-jaga. Juga demi kebaikan Adek sekeluarga." Bu RT menyarankan itu, beliau sengaja menutupi segala hal yang ia ketahui, sebab bukan ranah dia untuk melarang orang menempati.
"Oh, iya, Bu. Makasih atas sarannya, kami usahakan melakukan yang di sarankan, ya." Dita tersenyum, sebab orang di sini terlihat baik dan respect terhadapnya.
"Iya, Dek. Kalau butuh apa-apa, datang aja ke rumah kami. Insyaallah jika sanggup, kami akan membantu semampunya. Semoga keluarganya selalu diberi perlindungan oleh yang Maha Kuasa ya, Dek," sahut ibu yang lain.
"Duluan ya, Dek. Jangan lupa, nanti ke rumah kami," ujar Pak RT.
"Baik, Pak," jawab Dita sembari tersenyum.
Andre dan Dinar melakukan hal yang sama. Tetapi Andre tak tahu maksud dari di suruh ke sana apa. Setelah rumah Pak RT berlalu, dia baru berani menanyakan ke istrinya.
"Ke sana, ke mana, Yang?" tanya Andre.
"Ke rumah Pak RT, Yang. Kita wajib laporan untuk di data beliau, hitung-hitung sambil silahturahmi," jawab Dita.
"Iya, Yang. Kukira ada apa, sudah beritahu Ibu?" tanya Andre.
Dita menoleh ke arah suaminya, lalu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Nanti cepat diberitahukan, agar Ayah dan Ibu tidak tergesa-gesa," saran Andre.
__ADS_1
Kak Dita pun mengiyakan ucapan Kak Andre. Sesampai di rumah, sembari beres-beres dan hendak memasukan barang, Dita memilih untuk mengatakan apa yang di minta RT tadi. Bukan hanya itu, dia juga memberitahukan perihal saran untuk diadakan pengajian beberapa kali untuk memastikan rumah ini aman dan kembali nyaman.
Beruntungnya Dita, orang tuanya memahami dan mengiyakan saran dari mereka. Menyadari tentang keselamatan Dita dan calon buah hatinya. Tak bisa di pungkiri, jika ibu hamil rentan akan bahaya. Entah dari segi kehidupan nyata ataupun mistis. Entah hanya mitos atau pun benar-benar nyata, mereka tak mau ambil pusing. Yang terpenting niat baiknya untuk menjaga janin dan ibunya dengan sebaik-baiknya.
Matahari menampakkan sinar terangnya, Kak Dita teringat apa yang dikatakan Pak RT tadi. Dia menyarankan agar bertandang ke sana secepatnya, sebelum beliau repot entah ke mana. Dia merasa tak enak hati, jika menyanggupi tetapi tak niat untuk menjalankan. Dia berjaga-jaga agar tak mengecewakan orang lain dengan perbuatannya. Apalagi, mereka warga baru, wajib untuk kenal baik ke mereka.
"Yah, Bu. Apa nggak sebaiknya kita ke sana sekarang? Sekalian nanti kita numpang mandi ke masjid. Air di rumahkan belum ada," ujar Dita.
"Iya, Dit. Barang-barang sebagian sudah di masukkan. Yang penting barang sudah aman di dalam rumah." Ibu Dinar memilik untuk duduk sebentar sebab cukup lelah untuk kembali menata barangnya. Walaupun belum di tempat yang semestinya.
Almari, kasur, sebagian masih di luar. Tetapi pakaian, buku-buku dan barang berharga sudah di masukkan ke dalam rumah dan mereka kunci saat hendak meninggalkannya. Mereka sengaja membawa tas kecil untuk dijadikan tempat pakaian.
"Apa nggak sebaiknya kita mandi terlebih dahulu, baru berkunjung ke rumah Pak RT. Nggak enak sama mereka, berkunjung badan masih kotor dan bau," ujar ibunya Dinar.
"Sepertinya begitu, tapi kita melewati rumahnya kok, Bu. Nanti kita sekalian izin untuk menggunakan air di masjid itu ke beliau," ujar Dinar.
"Nah, nanti sekalian bilang. Kalau kita bertamu saat sudah mandi, kan malu pagi-pagi masih lusuh bertamu." Dinar sembari tertawa saat mengatakannya.
"Bisa aja kamu, Dek. Biasanya kalau libur jarang mandi aja, kok. Gegayaan malu segala kamu," sahut Kak Dita.
Dinar hanya melirik kakak sembari cemberut.
"Dita, jangan mulai. Dia itu bukannya jarang mandi, tetapi itu cara Dinar untuk menghemat air, Sayang." Ibunya ikut mengejeknya.
"Ih, Ibu, nih. Itu biar kecantikanku yang paripurna tak luntur aja, kok. Sekalian menghemat juga. Ingat nggak kata-kata, hemat pangkal kaya?" Dinar tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
"Iyain ajalah. Bikin Dinar bahagia juga apa susahnya. Ya nggak, Dek?" ujar Andre.
"Nah ini, baru Kakakku. Hemat pangkal kaya ya, Kak," ujar Dinar dengan bangganya kala merasa Andre di pihaknya.
"Bilang iya, Yang." Andre meminta Dinar. "Nggak mandi pangkal bau. Iya kan, Yang?"
Sontak semua tertawa terbahak-bahak. Dinar mengira Andre membelanya, justru ikut mengejeknya. Dengan cara sederhana seperti itu, membuat keluarga ini terlihat bahagia.
__ADS_1