Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Bertemu Kevin


__ADS_3

"Wah, check up pertama sudah melihat perkembangan seperti ini, ku harap check up kedua sudah mampu berlari," ucap dokter sembari tersenyum.


Aku lagi-lagi hanya menganggukkan kepala, setelah itu dokter menuliskan resep obat untuk menunjang kesembuhanku. Setelah itu kami keluar dari ruang pemeriksaan, lalu hendak menebus obat yang sudah di resepkan.


"Biar Ibu saja, lebih baik ayah menghubungi Kevin," perintah ibu.


Ibu pun bergegas untuk segera menuju ke apotik untuk menukarkan obatnya, sedangkan ayah mengotak-atik ponselnya hendak menelepon Kevin.


"Halo, Dek Kevin. Ini saya sudah mau pulang," ujar ayah bicara sama Kevin di telepon.


Ayah terlihat mendengarkan ucapan Kevin.


"Oh, iya baiklah. Sampai jumpai di sana," ujar ayah lagi sembari memutuskan panggilannya.


Aku yang memperhatikan ayah ingin memastikan apa yang diucapkan oleh Kevin.


"Bagimana, Yah?" tanyaku.


"Kita nggak jadi bertemu di resto tadi, Dek. Kita pindah tempat di resto jalan Anggrek di depan," ujar ayah memberitahu.


Saat bersamaan dengan jawaban ayah, ibu pun datang menghampiri.


"Dekat sini dong, Yah?" sahut ibu.


"Iya, Bu. Kebetulan dia habis main ke rumah temannya di daerah sana, jadi lebih dekat kita bertemu. Oh iya, kalau ibu sudah mari kita pulang," ajak ayah.


Ayah kembali mendorongku menuju mobil kami yang terparkir dan ibu mengekor di belakang kami. Perasaanku tak sabar ingin segera bertemu Kevin dan menceritakan semua hal yang berkaitan dengan hantu mamanya.


Kami sudah masuk ke dalam mobil dan ayah mulai melajukan mobilnya secara perlahan.


"Yah, nanti bantu mulai bicara ya ke Kevin. Semoga dia percaya dengan ucapanku," ujarku.


"Iya, Dek. Semoga dia percaya dan masalah si Kevin terselesaikan," jawab ayah.


Perjalan kami hingga ke tempat tujuan bertemu Kevin tak perlu memakan waktu yang lama, karena jarak dari tempat periksa tadi cukup dekat.


Akhirnya kami pun sampai, kami turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran. Di ujung ruangan terdapat pemuda yang sedang duduk sendirian sembari memainkan ponselnya. Dia terlihat melambaikan tangan saat melihat kami sudah berada di dalam restoran ini.


Kami berjalan menghampirinya dan dia pun beranjak berdiri menunggu kami mendekatinya. Dia dengan ramah menjabat tangan kami satu persatu.

__ADS_1


"Silahkan duduk, kalian mau makan apa?" ujarnya sembari tangannya melambai ke pelayan restoran.


Pelayan pun datang dengan membawa menu makanan yang ada di sini.


"Kalian pesan saja, saya traktir" ujar Kevin lagi dengan senyum merekah dari mulutnya.


"Jadi merepotkan kami, Dek Kevin," ujar ibu.


"Nggak apa-apa, aku bahagia bisa bertemu dengan kalian," jawab Kevin.


Kami pun enggan memesan, akhirnya si Kevin yang memutuskan memesan makanan untuk kami. Pelayan pun melenggang pergi dengan beberapa menu yang telah di pesan.


"Ini yang namanya Keyla, Pak?" tanya Kevin ke ayah sembari memegang kursi rodaku.


"Iya, Dek Kevin," jawab ayah.


Kevin pun menatapku dengan senyumannya.


"Kamu cerita saja, tadi Ayahmu sudah menyampaikan jika kamu mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan hantu dan katanya kamu bertemu Mamaku, apa itu Benar?" tanya Kevin memastikan.


"Iya, Kak. Rumah dekat rumah sakit itu benar rumah Kakakkan?" tanyaku memastikan juga.


"Iya, sejak kejadian Mama bunuh diri, wanita itu mengajak Papa pindah tempat. Tapi aku nggak percaya kalau Mama bunuh diri, aku yakin itu pembunuhan," ujarnya dengan nada sedikit tinggi.


Aku terbelalak kala mendengar keyakinan si Kevin.


"Memang iya pembunuhan, tapi kalau nggak ada bukti kita bisa apa?" ujarku.


Kevin menatapku dengan sorot mata yang tajam.


"Benarkan dugaanku, siapa yang bunuh Mama? Apa wanita itu?" tanya Kevin.


Lagi-lagi aku menganggukkan kepala, memang dugaannya dengan penglihatanku sama.


"Apa di rumah lama kamu nggak ada CCTV, untuk mengusut kasus itu?" sahut ayah.


Kevin pun menjawab jika di rumahnya ada CCTV setiap ruangannya, namun rekaman itu hilang saat polisi mengusut kasus itu. Sepertinya wanita pembunuh itu sengaja membuang barang bukti yang memperkuat kelakuannya. Dugaan Kevin pun mengarah Ke Candra istri baru Papanya, namun Papanya malah memihak ke istrinya itu.


"Sekarang kamu yang cerita, kamu melihat apa," ujar Kevin saat selesai bercerita.

__ADS_1


Saat ini juga makanan pun sudah di hidangkan namun kami memilih untuk bercerita dulu dengan Kevin, agar semua terasa tuntas olehku.


Aku pun menceritakan, saat berada di lorong ruangan dan ternyata itu kamar Kevin. Aku melihat juga saat dia pergi ke diskotik menghabiskan minuman beralkohol hingga di jemput oleh papanya.


"Kamu tahu itu semua?" tanya Kevin.


Aku menganggukan kepala, lalu kembali melanjutkan bercerita. Jika Bi Asih dan sopirnya merawat dengan dengan baik saat dia mabuk. Tetapi lagi-lagi wanita bernama Candra itu tak suka atas perlakuan mereka ke Kevin.


"Iya, Dia sangat membenciku. Dia seolah-olah ingin menyingkirkanku, tetapi selalu gagal. Aku menceritakan itu semua ke Papa, lagi-lagi Papa malah memihak ke Wanita busuk itu dengan alasan itu semua rekayaku karena aku tak pernah menyukai wanita itu," sahut. Kevin.


"Jadi kamu pernah di bunuh juga?" tanya ibu.


"Tepatnya mencoba di bunuh, namun dengan perantara orang. Cerita nanti setelah Keyla selesai saja ya, Bu," jawab Kevin.


"Ayo, Key. Lanjut cerita," ujar Kevin lagi.


Aku pun mempercepat ceritaku mulai dari Kevin menjemput mamanya di rumah itu, setelah itu Kevin meninggalkan mamanya di rumah dengan wanita itu dengan Bi Asih.


Saat itu aku pun melontarkan beberapa pertanyaan ke Kevin agar dia benar-benar percaya dengan cerita yang aku lontarkan. Dia pun mengiyakan semua pertanyaanku.


Aku pun melanjutkan bercerita, jika wanita itu menyuruh Bi Asih membeli suatu makanan dan saat itu juga dia melancarkan aksinya.


"Lalu Kenapa Mama begitu lemah sampai wanita itu mampu membunuhnya dengan mudah?" tanya Kevin terlihat memendam amarahnya.


"Mamamu di beri minuman yang sudah wanita itu beri dengan obat tidur dan saat Mamamu tertidur, wanita itu mengambil tali tambang untuk membunuh Mamamu," jawabku.


Kevin mengepalkan jarinya seperti hendak meninju sesorang, wajahnya begitu terlihat jelas menahan amarah karena terlihat memerah.


"Sabar, Dek Kevin. Doakan saja Mamamu tenang di sana," ujar ibu dengan mengelus bahu Kevin.


Kevin terlihat meneteskan air matanya, dia tak tahan membendung rasa sedih yang mungkin sudah ia coba kubur dalam-dalam.


"Maaf, ya. Bukannya aku mau ngungkit, tapi aku hanya ingin menyampaikan saja, sepertinya Mamamu ingin aku menceritakan itu padamu dengan dia membawaku kilas balik di kehidupannya," ujarku.


Kevin hanya menganggukan kepala tak sanggup mengatakan sesuatu. Tiba-tiba kevin terlihat seperti mengingat sesuatu.


"Aku tahu, ada bukti yang mungkin tertinggal. Kalian makan dulu, nanti ikut aku ke rumah lamaku," ujar Kevin.


*Bersambung ....

__ADS_1


Ingin tahu kisah pembunuhan Mama Kevin(Baca part seutas tali-penyelesaian*)


__ADS_2