Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Bersih-bersih


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, saat becanda ternyata sudah samapi di depan rumah Pak RT. Terlihat istrinya sedang menyapu halaman.


"Mari, Bu," ujar mereka hampir secara bersamaan.


Seketika Bu RT menoleh ke arah mereka. "Loh, mau ke mana ini?"


Mereka oun menghentikan langkahnya. "Mau ke masjid dulu, Bu. Kami mau numpang mandi di sana. Boleh nggak, Bu?" tanya ibunya Dinar.


Ibu RT berjalan menghampiri ke arah mereka, lalu membuka pintu pagarnya. "Boleh saja kok, Bu. Itu masjid memang untuk umum. Tapi lebih baik mandi di rumah kami saja, yuk. Sembari bertamu, di sini."


Terlihat Pak RT keluar dari dalam rumah.


"Loh, kok nggak diajak masuk, Bu." Pak RT juga menghampiri mereka. "Mari masuk."


Mereka yang merasa segan, memilih untuk masuk untuk menghormatinya.


"Niatnya mau numpang mandi ke masjid, Pak. Sekalian lewat dan meminta izin, soalnya di rumah kami belum ada air." Ayah Dinar menjelaskan.


"Loh, kenapa harus ke masjid. Di sini lebih dekat dengan rumah kalian. Lebih baik, selama belum ada persediaan air, bisa ambil dari sini, kok. Kami malah senang membantunya," jawab Pak RT dengan senang hati.


"Baik, Pak," jawab Ayah Dinar. Beliau tak mau menolak kebaikan orang, sehingga memilih menerima bantuan Pak RT.


Mereka pun mengekor di belakang Pak RT dan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Silakan, duduk. Yang mau mandi dulu, silakan," ujar Bu RT.


"Aku mandi dulu, ya. Lengket banget badanku," ujar Dita.


Mereka menyadari, jika perempuan hamil memang lebih cenderung berkeringat berlebih. Dita pun berjalan mengekor di belakang Bu RT yang akan menunjukan letak kamar mandi rumah mereka. Letak kamar mandi tak begitu jauh dengan dapur, sehingga Bu RT mempersilakan sembari hendak membuat minuman dan cemilan untuk mereka.


"Silakan, Nak. Jangan segan-segan," ujar Bu RT.


Dita pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan yang lain mengobrol dengan Pak RT di ruang tamu. Pak RT hanya meminta data mereka dan jumlah banyaknya orang yang tinggal di sana.


"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu dapat rumah itu dari siapa, ya?" Pak RT merasa penasaran. Walaupun beliau sudah mendengar sedikit cerita dari istrinya perihal cerita yang dilontarkan Dita dan Dinar. Tetapi, hal itu tak cukup detai dan membuat hatinya puas.


"Dari teman saya, Pak. Kebetulan, saudara beliau yang memiliki rumah itu." Ayah Dinar memberitahukan.


"Oh, jadi saudara keluarga Sasongko. Maaf kalau bertanya-tanya, itu teman kerja atau hanya mengenal gitu saja, Pak?" tanya Pak RT lagi.


"Teman kerja, Pak. Untuk saudaranya siapa atau seluk beluknya saya kurang tahu menahu. Sebab saya tak menanyakan yang bukan menjadi hak kamu ketahui. Saya hanya mendengar jika itu milik saudaranya, mereka pindah ke luar kota sehingga terpaksa mengosongkan rumah itu. Untuk berapa lama dan dari kapan pun, saya kurang begitu menanyakan," jawab Ayahnya Dinar.


"Memangnya kenapa, Pak?" sahut Dinar.

__ADS_1


Pak RT sontak menoleh ke arah Dinar kala ia menanyakan itu.


"Ti-tidak apa-apa. Nggak biasanya, jika orang membeli rumah yang dikosongkan cukup lama. Kadang namanya orang yang berpikiran ada inilah, itulah gitu. Baru kali ini, melihat orang yang acuh soal itu semua." Pak RT tersenyum ke arah mereka.


"Oh iya, Pak. Mumpung ada rumah yang cukup luas dan murah, makanya saya berminat untuk membelinya. Niatnya, nanti meminta tolong warga sekitar bantu datang saat pengajian rumah kami. Tapi, ya nunggu selesai bersih-sedih dulu, Pak." Ayah Dinar tersenyum.


"Tentu saja, Pak. Bahkan, kalau meminta pertolongan untuk memindahkan barang, kami siap membantu. Kami menerima warga dengan senang hati, biar saling mengenal juga," jelas Pak RT.


Mereka melanjutkan berbincang, sembari di temani minuman dan cemilan dari Bu RT. Mandi juga pun secara bergantian mereka lakukan, tak ada obrolan yang membuat mereka ketakutan ataupun mengurungkan niat untuk menghuni rumah itu.


Cukup lama mereka di sana, hingga semua sudah selesai akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang.


"Makasih atas kebaikan Bapak dan Ibu. Kami berpamitan untuk pulang, sebab juga ingin menyelesaikan beres-beres sebelum nanti bertemu dengan senja lagi," ujar Ayahnya Dinar.


"Iya, Pak. Untuk pihak PLN, kebetulan anak saya kerja di sana, biar saya meminta tolong dia untuk menyalakann listrik di rumah itu kembali, jiika keluarga Bapak berkenan." Pak RT memberitahukan.


"Iya, Pak. Jika tak merepotkan, dengan senang hati saya memperbolehkan," ujar Ayah Dinar.


Mereka mengucapkan terima kasih hingga beberapa kali, kemudian mereka segera pulang. Saat berjalan menuju rumah, tentunya mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang yang baru melihatnya.


"Kalian warga baru?" tanya salah satu tetangga mereka yang baru melihatnya.


Sontak, mereka berhenti untuk menghargainya.


"Loh, kalian tinggal di sana? Kok berani, sih?" sahut tetangga mereka yang lain.


"Memangnya kenapa, Bu?" sahut Dita.


Dua orang ini saling bertatapan mata. "Enggak apa-apa. Hati-hati, namanya rumah kosong takutnya ada penghuninya."


"Oh iya, Pak. Terima kasih," jawab Ayahnya Dinar.


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Jika perlu bantuan, silakan datang ke rumah kami. Letaknya jarak tiga rumah dari rumah kalian," pinta tetangganya.


"Baik, Pak, Bu. Terima kasih sekali lagi," sahut ibunya Dinar.


Mereka sedikit membungkukkan badan, kemudian baru pergi. Keluarga Dinar pun juga kembali melanjutkan langkahnya.


"Orang di sini baik-baik ya, Bu. Rasa pedulinya sangat tinggi, dijamin betah di sini aku kalau tetangganya aja seperti itu," ujar Dinar.


"Iya, Nak. Alhamdulillah, suatu bentuk rejeki bagi kita. Tetangga yang baik itu rejeki juga," jawab ibunya Dinar.


Sesampainya di rumah, mereka kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Mereka membiasakan untuk salah saat masuk rumah.


Dita tak diizinkan untuk terlalu banyak gerak, sehingga ia hanya duduk menemani mereka beberes sembari memainkan ponselnya.


Rumah yang luas, sehingga jarak mereka untuk bersih-bersih saling berjauhan. Tiba-tiba terdengar di telinga Dita, seorang anak perempuan memanggil namanya.


"Kakak," ujarnya lirih.


"Apa, Din?" teriak Dita, dia kira si Dinar yang memanggilnya.


"Apa, Kak?" Dinar berlari ke arah kakaknya, ia takut kenapa-kenapa dengannya.


"Apa ada, Kak?" tanya Dinar lagi saat berada di dekat Dita.


Kak Dita menatap ke arahnya. "Loh, bukannya kamu yang manggil, Kakak?"


Dinar mengernyitkan dahinya. "Enggak kok, Kak. Bicara aja enggak."


"Oh, mungkin Kakak salah dengar. Ya sudah, lanjutin aja." Dita mencoba berpikir positif.


Saat ini siang hari, aktivitas sudah mulai berjalan sehingga tak memungkinkan suara itu dari anak-anak yang main di luaran sana.


Barang-barang ini masih lengkap dan utuh. Mereka bingung, rumah ini seakan-akan tidak di tinggalkan ke luar kota untuk pindah tetapi seperti rumah yang di tinggalkan untuk kembali lagi. Ibunya Dinar yang membuka salah satu kamar di lantai atas, melihat kamar bernuansa merah muda. Cat sudah mulai memudar, tetapi tak membuat keindahan kamarnya berkurang. Dua kasur kecil yang mungkin berukuran 120x200cm terletak di sana.


"Oh, ini mungkin kamar dua anak keluarga ini. Boneka dan yang lain masih tertata rapi. Tapi, sayang berdebu," ujar ibunya Dinar.


Rumah ini, terkadang masih suka di bersihkan. Walaupun satu bulan hanya tiga sampai empat kali. Itupun saat siang hari saja, sebab kendala penerangan dan orang-orang kebanyakan takut dengan rumah yang sudah kosong.


"Kamar ini dominan leboh kotor dari pada ruangan yang lain. Ih, sayang banget. Kamar cantik, pasti anak-anaknya cantik," gumam ibunya Dinar sembari menghampiri meja yang berada di anatar kedua kasur ini. Terdapat sebuah lampu tidur dan foto kecil berdiri di sana. Terlihat foto dua anak perempuan yang terpaut terlalu jauh usianya. Mereka mengenakan pakaian atas yang berwarna senada.


"Cantik," gumam ibunya Dinar dengan spontan tersenyum.


"Terim kasih," suara itu terdengar lirih di telinganya.


Sontak ibunya Dinar menoleh dengan cepat. Tak ada siapapun di sini.


"Din," panggilnya ibunya, yang ia kira Dinar menyusulnya naik ke ruangan ini. Beliau meletakkan foto itu di atas kasur.


Ibunya berjalan menuju pintu kamar ini yang ia biarkan sedikit terbuka. Dia melongok keluar, tak ada siapapun di sana.


"Salah dengar kali, ya. Nggak ada siapa-siapa," gumamnya.


Beliau kembali menuju kedua kasur itu lagi. Terlihat foto itu sudah berdiri dengan rapi di tempatnya semula. 'Loh, bukannya tadi kutaruh di atas kasur? Sudahlah, aku bersihkan saja.'

__ADS_1


__ADS_2