
Kevin pun duduk di sofa dekat dengan kursi rodaku.
"Tunggu Ayahmu dulu, ya," ujar Kevin.
Ayah menutup pintunya terlebih dahulu sebelum ikut bergabung bersama kami. Ayah kembali melangkah menghampiri kami.
"Apa itu?" tanya ayah kala melihat kotak yang di taruh meja oleh Kevin.
"Sini, Pak," ujar Kevin.
Ayah pun duduk di dekat Kevin, saat itu juga dia membukanya. Terlihat secarik kertas yang ada pada pembunuhan itu dan ada cincin di dalamnya.
"Saat isu bunuh diri Mama kami hanya menemukan ini," Kevin menunjuk ke arah kertas yang berada di dalam kotak itu.
Aku pun meminta kotak itu dari tangan Kevin. Aku memperhatikan dengan seksama.
"Kok kertas ini tidak di tahan pihak kepolisian?" tanya ibu.
"Awalnya di tahan di sana, aku memohon ke Papa untuk meminta kertas itu. Papaku menurutinya," jawab Kevin.
Setelah melihat kertas, aku melihat ke arah cincin namun tak memegangnnya.
"Cincin?" ujarku bertanya-tanya.
"Iya, kamu tahu?" tanya Kevin.
Aku mencoba menyentuhnya, tiba-tiba penglihatan membawaku ke wanita culas itu.
*****
Aku melihat cincin ini di kenakan oleh Candra mama tiri Kevin. Dia sedang duduk di sebuah ruangan dan ada lelaki yang membelakangi penglihatanku.
"Bagaimana, kamu suka?" terdengar suara berat dari seorang pria.
Aku melihat dengan seksama pria itu, dia beranjak dari tempat duduknya. Pria itu menghampiri wanita culas itu dan saat pria itu berbalik aku pun mencoba mengingat wajah pria itu.
Aku mengernyitkan dahiku dan tetap terus mencoba mengingat.
"Aku suka banget," ujar wanita culas itu dengan sedikit mencium cincin berlian yang ia kenakan.
Tiba-tiba aku mengingatnya, pria itu adalah Papa Kevin. Aku melihat dia begitu jelas, setelah itu dia mengecup bibir istrinya yang galak itu.
"Itu hadiah buat kamu, selama satu tahun ini sudah menemaniku, mensupport aku, bahkan kamu menyayangi anakmu seperti anakmu sendiri," ujar Papa Kevin.
Wanita itu menyunggingkan senyumnya.
"Pasti dong, Nadin kan sahabatku. Jadi sudah sepantasnya aku menyayangi Kevin, aku nggak tega melihatnya seperti ini jadi aku bersedia menggantikannya," ujar Candra.
Aku mendengarkannya sontak geram.
__ADS_1
"Ih, licinnya itu mulut," ujarku.
Papa Kevin sontak mencium kening istri mudanya itu. Wanita culas itu terlihat bangga karena perlakuan suaminya.
"Makasih, ya. Bagus banget," ujar wanita itu.
Aku melihat Papa Kevin berpamitan ke wanita culas itu. Lalu pergi meninggalkan wanita itu sendiri, sedangkan wanita itu terlihat menatap ke arah jam tangannya.
"Cukup waktunya, aku harus ke sana," ujar wanita itu.
Dia menenteng tasnya lalu bejalan keluar ruangan itu. Saat itu dia terlihat memegang ponselnya dan mengotak-atik ponselnya itu.
"Halo, Nit. Saya keluar dulu, nanti kalau Suami saya bertanya bilang saja arisan," ujar wanita itu menghubungi entah itu siapa.
Setelah itu segera memutuskan panggilannya, lalu dia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia berjalan berlenggak-lenggok, rambut yang di kuncir seperti ekor kuda pun bergerak berirama dengan cara jalan wanita itu.
Dia pun berjalan menuju parkiran, menghampiri satu mobil yang mungkin miliknya. Dia masuk ke dalamnya, lalu melajukan mobilnya entah mau ke mana.
Tangan kanannya mengendarai dan tangan kirinya meraba ke arah tas yang ia letakkan di kursi sebelahnya. Setelah mendapatkannya dia mencari satu kontak nomor yang ia ingin hubungi.
"Halo, sayang ciwi-ciwi. Aku dapat hadiah nih dari suamiku," ujarny terlihat bahagia.
Dia me- loud speaker panggilannya sebelum meletakkan ponsel itu ke dashboard mobil.
"Apa, nih? Bahagia dong punya suami konglomerat, mau dong satu," ujar wanita dari seberang telepon.
"Cincin berlian mahal dong, nggak rugi jadi istri kedua, ha ha ha" ujar Candra sembari tertawa terbahak-bahak.
"Ih, matre kamu," olok Candra.
Candra terlihat tertawa terbahak-bahak sembari mengendarai mobilnya. Aku saat melihat jalanan ini merasa tak asing, seakan-akan aku pernah melaluinya.
"Kamu tuh, tega ngerjain sahabat sendiri demi mendapat harta suaminya," ujar wanita itu.
Saat aku mendengar ucapan wanita yang berada di seberang telepon sontak bertanya-tanya.
"Nadin aja yang oon, masa ita di kerjain malah histeris sendiri. Dan suaminya juga bodoh, masa nggak curiga selama istrinya mengalami hal janggal selalu ada aku yang datang," ujar Candra tetap dengan tawanya.
"Hahaha, pasangan bodoh. Kuras aja hartanya, jangan lupa aku dong," ujar wanita itu.
Dari kejauhan aku melihat bangunan rumah terpencil yang pernah di hampiri Kevin.
"Bye dulu ya, aku ada urusan," ujar Candra.
"Bye-bye, jangan lupa ya bagi-bagi hartanya," ujar wanita itu lalu memutuskan panggilannya.
Si Candra sampai di rumah terpencil itu, dia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu. Dia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menentengnya.
Dia turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah itu. Dia buka secara perlahan pintu rumah itu, lalu menghampiri Nadin di satu ruangan. Aku ingat begitu jelas rumah ini, rumah yang terpencil banyak semak belukar di luaran sana namun terlihat sedikit rapi di dalamnya.
__ADS_1
Candra menghampiri Nadin yang diikat menggunakan rantai di satu kamar. Nadin terperangah kala melihat sahabat yang ia punya datang.
"Mau apa? Nggak puas ambil suamiku hah! Nggak puas fitnah aku gila seperti ini," ujar Nadin.
Candra malah tak menampakan wajah menyesal, justru dia tertawa terbahak-bahak.
"Makasih, deh. Sudah kasih suami yang tampan, kaya, baik tapi sayangnya bodoh!" ujar Candra.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Nadin.
Candra datang menghampiri Nadin, dia mendekat lalu mengangkat dagu Nadin untuk melihat ke arahnya.
"Hei sahabatku. Lihat ini, cincin pemberian suamiku. Ups suamimu ya, suka lupa," ujarnya terlihat mengejek dan menunjukkan jari manisnya yang mengenakan cincin barunya.
Nadin mencoba memberontak dan melepaskan tangan wanita itu dari dagunya.
"Pergi sana, sahabat macam apa, kamu? Nggak tahu malu," hardik Nadin.
"Eh namanya sahabat harus saling berbagi dong, masa iya aku terus yang terlihat miskin. Aku nggak suka semua hal memihak ke kamu," ujar Candra.
"Maksud kamu apa?" tanya Nadin.
Candra malah tertawa terbahak-bahak tak lantas Menjawab pertanyaan Nadin.
"Sadar nggak, aku iri sama kamu. Kamu punya segalanya, sedangkan aku nggak. Kamu terlahir dari keluarga kaya, kamu pintar dan selalu di banggakan guru dulunya, kamu pun mendapatkan pekerjaan dan suami yang begitu spesial. Lihat aku kebalikan dari kamu," ujar Candra dengan nada ketus.
Nadin menatap Candra dengan deraian air mata yang menetes di pipinya.
"Aku selama ini selalu berbagi apapun dengan kamu, aku pun juga memberimu tanpa kamu minta. Apa itu kurang?" ujar Nadin dengan nada cukup tinggi.
Wanita itu lagi-lagi tertawa terbahak-bahak.
"Aku ingin semuanya, aku nggak suka lihat kamu selalu bahagia," ujar wanita culas itu.
"Jangan gila kamu!" ujar Nadin.
Candra tak menjawabnya namun melenggang keluar dari kamar itu berjalan menuju pintu utama. Terdengar suara Nadin berteriak-teriak memanggil wanita itu lagi, namun dia tetap berjalan ke arah mobilnya.
Setelah kepergian wanita itu tak berselang lama aku melihat Kevin datang.
*******
Aku bergegas melepas cincin itu.
"Ya, aku tahu semuanya. Cincin itu milik Candra, dia pun datang ke rumah kecil itu sebelum kamu datang menjemput Mamamu," ujarku memberitahu.
Aku pun segera menceritakan apa saja yang ada di penglihatanku.
"Jadi semua rekayasa dia, sialan!" cecar Kevin.
__ADS_1
Bersambung ....