Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Bimbang


__ADS_3

"Kalau misalkan dua hari lagi kita bertemu bisa nggak, ya? Atau kami yang bertamu saja begitu?" tanya ibu.


"Ada apa ya, Bu? Kok saya bingung. Besok majikan saya kebetulan keluar negeri baru pulang lusa, jika mau bertemu bisa. Tetapi kalau untuk bertamu maaf, saya nggak berani," jelas Bi Asih.


Ibu seketika menatap ke arahku.


"Tanya Kevin ikut nggak, Bu," ujarku.


Ibu pun mengangguk.


"Kalau Kevin apa juga ikut?" tanya ibu.


"Loh, kok kenal Den Kevin? Maaf sebenarnya kalian siapa? Jangan sakiti Den Kevin." Ujar Bi Asih terdengar khawatir.


Ibu terlihat bingung saat ingin menjelaskan ke Bi Asih. Mungkin ibu takut ada yang salah.


"Halo, kalau nggak terlalu penting maaf ya. Saya takut kenapa-kenapa sama Den Kevin," ujar Bi Asih sembari memutuskan panggilan teleponnya.


Ibu menatap kami secara bergantian.


"Kevin siapa, Tante?" tanya Jeje.


Namun ibu tak menjawab pertanyaan Jeje. Beliau hanya menatap ayah dan aku secara bergantian, seakan-akan butuh usulan kami berdua.


"Hubungin lagi saja, Bu. Bilang saja mau cerita perihal kematian Mamanya," ucapku.


"Tapi nggak semudah itu, Dek. Mereka orang kaya, mungkin dari pihak Bi Asih juga takut kalau ini hanya taktik orang yang tak menyukainya," ujar ayah.


Mendengar jawaban ayah, sontak pikiranku terasa buntu. Aku tak tahu lagi bagaimana cara menyampaikannya.


Saat ini hanya terdengar suara televisi yang menyala, dari kami satu pun tak ada yang berbicara. Malam semakin larut, namun tak ada pikiran yang melintas tentang bagaimana caranya memberitahu Bi Asih dengan mudah.


"Istirahat saja, yuk. Sudah jam sepuluh, kalian istirahat juga," ujar nenek memecah suasana yang hening ini.


"Iya, Bu. Ayo, Je." Ajak Tante Santi ke Jeje.


"Antar Keyla dulu ke kamar, ada yang perlu Ibu sampaikan ke kalian berdua," ujar nenek.


Wajah nenek terlihat serius saat mengucapkan sesuatu, itu yang membuat aku menjadi penasaran.


"Ngomong saja, Nek. Ada apa?" tanyaku.


"Keyla ke kamar saja, ya. Ini urusan orang tua," jawab nenek dengan lembut, tetapi terasa mengena di dalam hatiku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk pelan, kemudian ayah mengantarkan aku ke dalam kamar.


"Yah, ada apa sih? Kenapa aku nggak boleh ikut?" tanyaku.


"Bukannya nggak boleh ikut, Dek. Ini kan sudah malam, Dedek kan perlu istirahat," ayah mencoba memberi alasan.


"Tapi kan, yah ...," ujarku menggantung.


"Dedek perlu istirahat, siapa tahu besok pagi mukjizat lebih besar datang. Misalnya tiba-tiba bisa menggeser kaki sendiri, pasti Ayah dan Ibu bahagia sekali," ayah mencoba mengalihkan perhatianku.


"Iya, Yah. Siapa tahu besok tiba-tiba bisa berdiri sendiri, terus berjalan sendiri," jawabku sembari menoleh ke ayah yang sedang mendorong kursiku.


"Nah, iya kan. Kalau semua bisa kita buat syukuran kecil-kecilan ya, Dek. Biar semua bisa merasakan kebahagiaan Ayah dan Ibu," kata Ayah.


Saat ini kami berdua sudah berada di samping tempat tidur, ayah bergegas menggendongku. Beliau memindahkan aku di atas kasur, sedangkan ayah dan ibu nanti tidur di kasur yang lain tetapi masih satu ruangan denganku.


Kasur yang aku gunakan hanya cukup untuk dua orang. Makanya semenjak kami berada di sini dengan keadaanku yang masih seperti ini, ayah dan ibu memutuskan memindah kasur yang biasanya mereka gunakan di kamar lain.


Ayah membantuku mengambilkan obat yang harus aku minum sebelum tidur, setelah itu beliau pergi meninggalkan aku sendirian di kamar ini.


Terasa sepi dan hening saat aku berada di sini. Walaupun di kamar ini ada televisi, entah kenapa aku tak begitu tertarik untuk menontonnya.


Dalam benakku berkata. Andaikan Esteh ada di sini, pasti aku ada teman untuk mengobrol. Atau nggak ada orang yang bisa ku suruh untuk mendengarkan yang diucapkan Nenek.


Terkadang aku merasa lucu sendiri, kenapa seolah-olah aku merasa bergantung banget dengan kehadiran Esther di sampingku. Walaupun aku dan Esther berteman hanya sebentar, entah kenapa merasa begitu dekat dan merasa kehilangan.


Tiba-tiba air mata menggenang di mataku, perlahan air mata itu pun tumpah karena tak kuat untuk aku bendung lagi.


"Esteh, kamu ke mana? Kenapa kamu pergi, aku harap bertemu kamu lagi. Namun di dunia nyata, bukan hantu," celetukku.


Mungkin karena efek obat, entah sejak kapan aku pun tiba-tiba terlelap.


*****


Aku bermimpi duduk di depan teras bersama Jeje. Kami saling bercanda di depan rumah, sembari memakan cemilan yang sudah kami bawa.


Tak berselang lama, aku melihat dari kejauhan ada gadis cantik berkepang dua dan memakai baju berwarna kuning.


Wajah itu terlihat tak asing bagiku, dia sangat familiar dan aku kenal. Ku kira dia berhenti di dekat bunga matahari, yang ada di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah nenekku.


Dia memegangnya sembari tersenyum, tak tahu kenapa saat melihat gadis itu tersenyum, aku pun ikut tersenyum juga.


"Esteh." ucapku lirih.

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu menoleh dan tersenyum ke arahku. Mungkin terdengar sangat janggal, sebab aku hanya berucap lirih dan secara kebetulan gadis cantik itu menoleh ke arahku yang sedang memperhatikannya.


Ku kira dia melanjutkan berjalan, dia berjalan menghampiri kami. Aku pun mencolek Jeje yang sibuk dengan cemilannya.


"Je, Esteh. Dia kembali," ujarku.


Jeje tanpa menjawab apa pun hanya mengikuti aku yang beranjak dari tempat duduk. Aku kira gadis itu, melambaikan tangan ke arahku.


"Hai, Keyla." Panggilnya.


Aku pun tersenyum lebar saat melihat Esther kembali menemaniku.


"Esteh, sini. Jangan pergi-pergi. lagi" Aku melambaikan tangan ke arahnya


Dia berjalan secara perlahan, namun dia terlihat sangat nyata. Dia semakin dekat ke arahku, dari sorot matanya dia terlihat bahagia kala bertemu denganku lagi.


"Esteh." Panggilku lagi.


Tiba-tiba dia berhenti saat sudah berada di depan pintu gerbang rumah ini. Dia hanya tersenyum simpul ke arahku.


"Sini, kita main bareng," ujarku tetap dengan melambaikan tangan.


"Nggak bisa. Nanti kamu akan bertemu denganku, namun bukan aku yang seperti ini," ujarnya sembari melangkah pergi.


Aku bingung dengan ucapan yang dilontarkan Esther.


"Maksudnya bagaimana?" ujarku dengan sedikit teriak, sebab Esther berjalan semakin jauh denganku.


Ku lihat dia kembali melambaikan tangan.


"Tunggu saja, aku akan menemanimu. Tapi ingat bukan aku yang seperti ini." Teriaknya dari kejauhan.


"Esteh." Panggilku, yang ku kira sembari terpeleset di lantai.


*****


Aku pun bangun dengan kondisi kaget karena terpeleset dalam mimpi. Ku kira bukan aku saja yang mengalami hal ini, tetapi semua orang di dunia ini pernah mengalaminya.


"Astagfirullah, ternyata hanya mimpi," ujarku.


Aku melihat di tempat tidur yang lain, ternyata ayah dan ibu sudah terbaring di sana. Lalu aku melihat ke arah jam dinding, ku lihat waktu baru menunjukan pukul 03.00 sehingga aku memutuskan untuk tidur kembali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2