Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Terbangun


__ADS_3

Aku mencoba membuka mataku secara perlahan, aku menatap orang yang berada di depanku. Aku melihat ada ibu, ayah dan Dinar di sana.


"Key, bangun. Aku nungguin kamu lama tapi nggak bangun-bangun," ujar Dinar.


Aku dengan rasa malas mencoba tersenyum.


"Di-dinar," ucapku terbata-bata namun terdengar cadel.


Namun, setelah itu aku melihat Esther sedang menggandeng makhluk yang aku lihat kala sebelum tidur. Makhluk itu tergantung menggunakan tali, namun kali ini dia terlihat senyum ke arahku.


"Dia ambil alih jiwamu, Key. Berdoa agar makhluk ini cepat pergi," ucap Esther.


Ketika aku mendengar ucapan Esther, aku mengingat mimpiku. Mungkin makhluk ini mencoba memperlihatkan kisah hidupnya sebelum meninggal secara tragis seperti itu.


Tapi apa gunanya, aku tak bisa bergerak dan berbicara. Dalam hatiku berkata, apa mungkin kasusmu tak terungkap hingga kamu menyuruhku flashback kehidupanmu.


Aku melihat makhluk itu mengangguk, lalu secara perlahan makhluk itu mulai memudar dari penglihatanku.


"Keyla." Panggil Dinar lagi.


Aku tersenyum kembali.


"Jangan bengong, aku ngaji ya buat kamu. Aku takut hari ini kamu tidur hampir setengah hari, makanya aku meminta Ibumu untuk membangunkan kamu," ucap Dinar.


Aku tersenyum tanda mengiyakan ucapan Dinar. Setelah itu, Dinar segera mengaji. Aku yang mendengarkan begitu tenang dan damai dalam hati.


_____________________


Pintu ruanganku mulai terbuka, terlihat dokter dan perawat berjalan menghampiri.


"Sore, Keyla. Bagaimana keadannya?" tanya dokter.


Aku ingin menjawab pertanyaan dokter, aku berusaha berbicara walaupun tertatih.


"Ba-baik ... dok," ucapku sedikit lancar.


"Alhamdulillah, terdengar lebih lancar ya. Mulai sekarang coba menggerakan tubuhnya ya, nanti kalau bisa duduk bisa pulang," ucap dokter sembari memeriksaku.

__ADS_1


Saat ini terasa kepala sudah mulai bisa menoleh walaupun secara perlahan.


"Ka-ya ro-robot," ucapku secara terbata-bata sembari tertawa.


Ucap syukur dalam hatiku tak ada henti-hentinya. Aku harus meyakinkan diri sendiri kalau aku bisa sembuh seperti sedia kala.


Dokter melemparkan senyumnya, kala melihat semangatku untuk sembuh.


"Keyla, cepat sembuh. Biar nggak ketemu dokter di sini, kita ketemu di jalan atau di kampus nantinya. Ok!" ucap dokter sembari mengedipkan salah satu matanya ke arahku.


Aku membalas ucapan dokter dengan senyuman. Setelah itu, dokter dan perawat berlalu meninggalkan kami.


Dalam tubuhku sudah tak ada alat untuk membantu kehidupanku, sebab kondisiku semakin hari kian membaik. Aku berharap semoga bisa menjadi lebih baik, aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku yang kedua kalinya.


"Keyla, cepat sembuh ya. Aku ingin tahu ceritamu selama kamu koma itu ke mana saja," celetuk Dinar.


Ibu dan ayah tersenyum kala mendengar ucapan Dinar. Ibuku mengelus kepala Dinar, beliau memperlakukannya seperti aku.


"Dinar, jangan lupa berdoa untuk Keyla, ya. Biar Keyla bisa cepat sembuh, biar bisa kumpul dan bercanda seperti sedia kala," sahut ayah.


"Iya, Om. Kamu sudah lama tidur di sini, cepat pulang, ya. Jangan betah-betah di sini," ujar Dinar.


"La-ma?" tanyaku tetap terbata-bata, sembari menunjukan ekspresi bingung.


Dinar mengangguk.


"Iya, kamu sudah lama. Tahu nggak, kamu sudah dua puluh dua hari di sini," ucap Dinar memberitahu.


Aku terkejut mendengar ucapan Dinar, ternyata begitu lama aku berada di sini. Dalam benakku berkata, berapa banyak uang yang di keluarkan orang tuaku untuk pengobatanku? Aku terlalu membebani mereka.


Tanpa kusadari air mataku pun menetes. Aku menatap dengan sendu ke arah kedua orang tuaku. Aku ingin mengucapkan terima kasih dan memeluk mereka. Terlalu besar pengorbanan mereka untukku.


Aku kira dulu, kalau aku beranjak dewasa tak akan merepotkan dan membebani mereka. Ku kira aku bisa kian hari semakin dewasa bisa membahagiakan mereka dengan usahaku. Makanya, aku berharap bisa cepat dewasa semata-mata tak ingin membebani mereka dan dapat membantu mereka.


Tetapi ternyata aku salah, hari ini aku kembali mulai dari nol lagi. Mereka menjagaku layaknya anak bayi ketika aku beranjak mulai remaja. Banyak pelajaran yang aku dapat dari musibah ini, dalam hidup sampai kapan pun tidak akan bisa lepas dari pertolongan sesama manusia.


Mulai dari bayi, anak-anak, remaja ataupun dewasa, kita akan selalu menggantungkan hidup dengan orang lain. Kita hidup di dunia dalam setiap detik, setiap menit tidak boleh lupa akan syukur atas nikmat yang diberikan sang Maha Kuasa terhadap kita.

__ADS_1


Mungkin saat itu kita hidup dengan sehat, kuat dan dapat melakukan apapun. Siapa yang menyangka jika saat ini, aku sendiri pun mengalami hal yang sebaliknya. Tak dapat berjalan, duduk bahkan bergerak dan berbicara pun aku tak mampu.


Aku seakan-akan hidup tak mampu, mati pun tak mau. Hidupku saat ini diambang antara bertahan atau menyerah. Tapi, karena kedua orang tuaku alasanku bertahan hingga saat ini.


"Bu." panggilku.


Ibu menatapku, lalu mendekatkan wajahnya di hadapanku.


"Iya, Dek," jawabnya.


"Ma-makasih," ucapku.


Tidak hanya ibuku yang tersenyum saat mendengar ucapanku, tetapi Dinar dan ayah pun ikut serta.


"Iya, Dek. Kamu tanggung jawab kami berdua, kelak perbuatan Ibu dan Ayah saat ini akan dipertanyakan di akhirat nanti. Ayah dan Ibu tak mau menyia-nyiakan hidup dengan menelantarkan kamu, anak yang kami banggakan, anak istimewa yang dianugerahkan untuk kami," ucap Ibu.


Tangisku kian tersedu-sedu. Saat aku hendak berbicara tiba-tiba, pandanganku ke arah makhluk yang tergantung di pojok tadi.


Dalam hatiku berkata, maaf tidak untuk saat ini. Makhluk itu terlihat sedih, kala aku menolaknya, aku hanya tak ingin ragaku kembali di ambil alih dan di manfaatkan makhluk lain.


Jiwaku begitu rapuh, aku takut jika aku tak kunjung sembuh makhluk-makhluk itu dapat membawa jiwaku pergi bersamanya.


Aku melihat Esther membantuku dengan membawa makhluk itu pergi dari ruangan ini. Saat itu juga, aku melihat pintu ruangan ini kembali terbuka. Terlihat Kak Dita dan Kak Andre datang.


"Keyla." panggil Kak Dita.


Aku pun tersenyum.


"Maaf, Dinar kami ajak pulang, ya. Soalnya hari sudah beranjak senja, takut kemalaman kalau sampai rumah," ucap Kak Dita.


Aku yang sudah mulai bisa menggerakkan kepala, saat ini mengangguk secara perlahan. Dinar memeluk dan menciumku, seakan-akan dia berat untuk meninggalkanku pergi.


"Keyla, cepat sembuh. Kita main bareng lagi," ucap Dinar.


Aku kembali menganggukan kepala. Dalam hati, aku juga ingin pulang. Aku sudah mulai jenuh berada di sini. Setelah itu, Dinar dan kedua kakaknya pun berlalu pergi meninggalkan aku.


Perih kembali terasa, hatiku terasa tertusuk kembali. Aku merasa kesepian berada di sini, memang ada kedua orang tuaku. Tapi aku juga butuh hiburan dan suasana selain kamar ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2