Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Misteri Cewek Dalam Angkot~2


__ADS_3

Aku dan ibu berjalan menuju arah pintu keluar pasar.


"Ibu, ini sudah semua belanjaannya? ada yang masih kurang tidak?"tanyaku ke Ibu.


"Sebentar Ibu ingat-ingat apa yang belum Ibu beli," jawab Ibu sembari mencoba mengingat.


"Sudah semua kaya nya Dek, nanti kalau ada yang kurang besok ke sini lagi Dek," ucap Ibu lagi.


"Hmm, iya Bu," jawabku.


Dengan menenteng tas belanjaan, kami tetap melangkahkan kaki keluar pasar dan berhenti dipinggir jalan, untuk menunggu angkot yang berjalan menuju arah rumah kami.


Dari kejauhan, aku melihat ada angkot yang sudah membawa aku dan ibu ke pasar ini.


"Bu, naik angkot itu," ucapku dengan jari menunjuk ke arah angkot.


"Kita beda arah Dek sama angkutan itu, jadi bukan naik yang itu. Tunggu sebentar ya," jawab Ibu.


Aku melihat samar-samar, cewek yang aku lihat tadi masih di dalam sana.


Aku mencoba melangkahkan kaki untuk menghampiri.


"Keyla, mau ke mana Dek?" tanya Ibu.


"Ke angkot itu Bu," jawabku.


"Jangan mulai deh, ayo pulang ini sudah sore!" ucap Ibu.


Ku hentikan langkahku dan kembali ke arah Ibu. Ku urungkan niatku untuk menghampiri hantu itu.


Dengan sengaja aku mengingat nomor kendaraan mobil angkot yang tadi aku naiki.


Karena terlaku fokus hingga tidak sadar aku di panggil ibuku.


"Keyla, keyla itu mobil angkotnya sudah datang," ucap Ibu dengan sedikit menepuk bahuku.


"Oh, iya Bu," jawabku dengan kaget.


Ku mulai mengekor di belakang ibu.


"Mikir apa sih Nak? sampai-sampai Ibu memanggil tidak kamu dengarkan," ucap Ibu yang berjalan di depanku.


"Masih mikir hantu itu?" tanya Ibu.


"Iya Bu," ucapku.


"Sudahlah Nak, tidak usah mengurus hal yang aneh-aneh," kata Ibu.


Aku tidak menjawab perkataan ibu, mulai ku naiki mobil angkutan yang akan membawa kami pulang.


Di dalam mobil kali ini terlihat ramai penumpang. Tetapi aku hanya diam, masih dengan pikiran yang sama.


Tak berselang lama, dari kejauhan sudah terlihat gang menuju rumahku.


"Kiri Pak!" ucap Ibu memberitahu sopir angkot.


"Kiri, kiri, kiri," Dengan nada ciri khasnya dan ketukan uang receh, kernet angkutan berteriak.


Kami berdua pun turun, kami mulai langkahkan kaki dengan perlahan untuk menyeberangi jalan yang cukup ramai. Kami terus melangkahkan kaki menuju rumah.


Di buka pintu rumah oleh ibu, aku berjalan menuju dapur. Aku menata barang bawaanku di dalam kulkas dan ke dalam almari di dapur.


"Sudah Nak, biar Ibu lanjutkan, kamu mandi terus ashar terlebih dulu!" perintah Ibu.


"Iya Bu,"jawabku.


Aku berjalan menuju kamarku, ku laksanakan perintah ibu dan kewajiban ku pada yang mahakuasa .


Selepas itu, aku keluar dari kamarku untuk menonton televisi. Ku cari chanel kesukaanku, sedangkan ibu masih di dapur.


"Keyla,"ucap Ibu menghampiriku.


"Iya Bu," jawabku sambil menoleh ke arah Ibu.


"Ibu, mau mandi dan ashar dulu ya," ucap Ibu sembari berlalu meninggalkan ku.


Aku asik menonton kartun kesukaanku, sampai-sampai aku tertawa sendiri. Ibu melangkahkan kaki lagi menuju ke arahku.


"Keyla, mau di masakin apa Nak?" tanya Ibu.


"Goreng nugget sama telur ceplok aja Bu," jawabku.


"Itu saja?" tanya Ibu lagi.


"Iya Bu, bingung mau makan apa hehehe," jawabku.


"Kamu yang tinggal makan aja pakai bingung, Ibu ini yang masak lebih bingung," jawab ibu dengan sedikit mencubit hidungku.


Aku pun tersenyum ke arah Ibu. Tak begitu lama ibu memanggilku untuk makan malam.


"Dek, sudah matang ayo makan dulu!" Ibu berteriak dari dapur.


Tanpa menjawab aku mematikan televisi, lalu menghampiri ibu yang sudah berada di meja makan terlebih dahulu.


"Hemmm, begini aja sudah kelihatan mantap Bu," ucapku dengan tangan yang sudah memegangi piring.


"Lauk begini saja kok enak Dek, tidak ada sayur sama sekali," ucap Ibu.

__ADS_1


"Sudah ada telur beserta ayamnya sudah komplit ini Bu," sahutku.


"Mana ayamnya? cuma telur sama nugget aja kok ayam," kata Ibu lagi.


"Lihat lagi deh Bu kemasan nugget itu," ucapku sambil menunjuk ke arah kemasan nugget yang masih di atas meja dapur.


"Tulisannya nugget ayam, berarti sudah ada ayam hehehe masih di bonussin tepung sama bumbu sekalian," ucapku sembari tertawa.


"Kamu bisa aja ngelesnya, sudah cepat makan Dek!" kata Ibu.


Aku pun melahap makananku, dengan di temani ibu di sebelahku sedang menyantap makanannya.


"Ibu, lauk apa?" tanyaku.


"Urap-urap, kamu mau?" Ibu balik bertanya.


"Tidak mau, aku ini saja Bu," jawabku.


kami pun melahap makanan sampai habis, selepas makan kami duduk di depan televisi.


"Kamu tidak ada tugas sekolah Dek?" tanya Ibu.


"Tidak Bu, sudah aku kerjakan tadi sekalian di sekolahan," jawabku.


Ibu hanya mengangguk dan diikuti senyuman di bibirnya. Ibu memelukku.


"Kamu sekolah yang pintar ya Nak! hanya kamu satu-satunya anak kebanggaan Ayah dan Ibu," ucap Ibu dengan mengelus kepalaku.


Aku hanya tersenyum di pelukan ibu. Dan disaat seperti ini aku merasa kedua orang tuaku sangat menyayangiku, mereka membanggakan aku walaupun ada keanehan dalam diriku.


"Jangan merasa jadi anak yang beda ya Nak, kamu sama seperti mereka, justru kamu lebih spesial karena sudah di anugerahi hal yang tidak bisa dimiliki orang lain," kata Ibu.


"Banyak bersyukur ya, selalu berdoa semoga kita selalu dalam lindungannya dan di beri kesehatan," kata Ibu lagi.


Aku hanya mengangguk, hingga tak terasa sudah malam. Kami pun beranjak dari tempat kami, menuju ke kamar masing-masing.


Aku baringkan tubuhku di atas kasur, ku rengkuh guling dan aku mulai pergi ke alam mimpiku.


***


Di dalam mimpiku aku melihat cewek yang tidak asing bagiku, tetapi siapa? aku tak mengenalnya.


Dia berdiri di seberang jalan bersama teman-temannya, mereka mulai melangkahkan kaki hendak menyeberangi jalan dengan sedikit bercanda.


Aku melihat ketika cewek itu menyeberang tiba-tiba ada mobil angkot melaju dengan kecepatan tinggi dan "Braaaak.." menghantam cewek itu dan terpental cukup jauh dari tempatnya berdiri semula.


Aku yang melihat itu seketika menutup mukaku dengan telapak tanganku dan sedikit berteriak "Aaaaaa," ucapku.


Ku buka kembali mukaku, cewek itu terbaring di tengah jalan dengan kepala yang mengeluarkan darah segar.


Teman-temannya berteriak, menangisi si cewek itu. Aku hampiri mereka, aku bertanya ke mereka tetapi, tak satupun dari mereka yang meresponku.


***


"Keyla, bangun Nak! Keyla," Ibu memanggilku dengan menggoyang-goyangkan badanku.


"Kak jawab aku Kak," teriakku.


Lalu aku terbangun, menatap sekelilingku.


"Ibu," ucapku dengan memeluk Ibu.


Keringat dingin menetes dari sela-sela pelipisku.


"Kamu mimpi apa Nak?" tanya Ibu sambil mengambilkan aku air minum.


"Ini kamu minum dulu!" ucap Ibu dengan memberikan air itu kepadaku.


Aku meneguk air itu dengan perlahan, aku mulai mengingat mimpiku satu persatu.


"Itu Bu, aku ingat mobil yang menabrak itu, aku ingat nomor kendaraannya," ucapku.


"Sudah, kamu tidur lagi jangan lupa berdoa masih malam baru jam 02:00 dini hari Dek," ucap Ibu.


"Tapi Bu," selakku.


"Sudah kamu tidur, Ibu juga mau tidur lagi! jangan lupa berdoa," ucap Ibu berlalu pergi keluar kamarku.


"Aku ingat itu cewek yang ada di angkot tadi sore kan, dan mobil angkot itu..." ucapku menggantung.


Ku baringkan lagi badanku di tempat tidur, aku bergegas tidur hingga fajar mulai menyambut hariku.


Pagi mulai tiba.


"Hoaaaam," aku menguap, dan aku bangun dari tempat tidurku.


Ku lihat jam baru menunjukan pukul 04:30.


Ku ambil handuk di gantungannya, aku bergegas mandi dan subuh sebelum waktunya terlewat.


Selepas itu, aku keluar kamar dengan baju seragam yang rapi. Aku hampiri ibu di tempat tugasnya yaitu dapur.


"Pagi Bu," ucapku.


"Pagi juga sayang," jawab Ibu dengan mengecup keningku.


"Masak apa Bu?" tanyaku.

__ADS_1


"Ini Ibu masakin anak kesayangan Ibu ayam kecap kesukaanmu," jawab Ibu.


"Mendadak lapar Bu, ayo makan hehe," ucapku.


Ibu mulai menyiapkan makanan di atas meja makan. Sembari menunggu aku mulai bertanya-tanya ke ibu.


"Ibu, di waktu dekat-dekat ini ada ga sih kejadian anak SMA tertabrak mobil angkot atau anak SMA korban tabrak lari gitu?" tanyaku.


Ibu melihatku dan mencoba mengingatnya.


"Ada Nak, Ibu dengar dari orang-orang di pasar waktu itu, kalau ga salah kejadiannya kemarin lusa, anaknya Sekolah di SMA dekat pasar sore itu Dek"


"Ada di koran kemarin pagi, kenapa memangnya?" ucap Ibu sembari bertanya.


Aku tidak langsung menjawab ibu, aku beranjak dari tempat duduk ku untuk mencari koran yang dimaksud ibu.


Aku mulai membaca koran itu, cewek itu korban tabrak lari mobil angkot tetapi, tidak ada satupun yang tahu nomor kendaraan mobil itu.


Aku hampiri ibuku lagi.


"Bu, aku tau siapa pelakunya!" ucapku.


"Kamu jangan mengada-ada, jangan bilang tahu dari mimpi! kalau Ibu sama kamu percaya Nak, tetapi kalau polisi tidak ada bukti kuat kamu yang akan salah dituduh mencemarkan nama baik orang," ucap Ibu.


Aku pergi ke kamarku mengambil tasku untuk pergi ke sekolah.


"Keyla, tidak sarapan Dek?" tanya Ibu.


"Tidak usah Bu, di sekolahan saja," jawabku.


"Berhenti sebentar, ini Ibu bawain kamu bekal," ucap Ibu dengan memasukan makanan ketempat bekalku.


Selepas itu aku berangkat ke sekolah, ku temui Dinar untuk ku ajak ke tempat kejadian nanti sepulang sekolah.


Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Dinar. Aku mencoba jelaskan satu persatu sampai dia mengiyakan ajakan ku.


***


sepulang sekolah, aku dan Dinar mengayuh sepeda sampai lokasi kejadian yang aku ingat.


"Terus kamu mau cari bukti apa Key?"tanya Dinar.


Aku celingukan, menoleh kanan, ke kiri.


ku lihat rumah dan pertokoan satu persatu.


"Keyla, kamu cari apa?" tanya Dinar lagi.


"Itu Din," jawabku sambil menunjuk ke satu toko yang dekat dari tempatku berdiri.


"CCTV Din, kita ke toko itu! Ayo," ajak ku ke Dinar.


Kita menghampiri toko itu, kita minta penjaga toko untuk memutarkan kejadian kemarin lusa dan benar, korban lakalantas siswi SMA itu ada di sini dan terlihat jelas pelaku dan mobilnya. Aku meminta penjaga toko untuk menyimpannya sampai aku kembali ke toko ini.


"Kita mau ke mana Key?" tanya Dinar.


"Bukti kita cukup kuat, kita ke kantor polisi terdekat,"


Dinar menuruti kemauanku. Sampainya di kantor polisi, kebetulan kita bertemu dengan keluarga korban yang meminta mengusut tuntas kejadian itu.


Aku mulai menjelaskan ke pihak yang berwajib, dan tidak menunggu lama kami semua termasuk polisi dan keluarga korban pergi ke toko tadi.


Di sana bukti di simpan oleh polisi, dan keluarga korban berterima kasih kepada aku dan Dinar sampai mengantarkan kami pulang, dengan sepeda kami yang dimasukan ke dalam mobil.


Sesampainya di rumahku, ibuku terkejut karena kami ramai-ramai datang. Ibu memelukku.


"Keyla, kamu kenapa sayang? Dinar ada apa Nak, jelaskan ke Tante lalu kenapa kalian jam segini baru pulang?" tanya Ibu tampak gelisah mengkhawatirkan kami berdua.


"Tidak ada apa-apa Bu, tenang saja. Perkenalkan ini keluarga dari kak Tari Bu, korban tabrak lari itu," jawabku.


"Ya Allah Nak, senekat itu kamu," ucap Ibu dengan mengelus kepalaku.


"Mari masuk," Ajak Ibu.


Kami semua duduk di ruang tamu, lalu ibu mengambilkan minuman untuk di hidangkan.


Ketika kami berkumpul, keluarga Kak Tari korban kecelakaan menjelaskan dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada kami.


Hingga hp ibu berbunyi, "Hallo, iya Bu Dinar di sini bersama Keyla," Ibu menjawab pertanyaan seseorang yang menelfon.


Tak berselang lama, bergantian dengan Hp keluarga Kak Tari yang berdering, lalu mengangkatnya di luar rumah kami.


"Sebentar ya Bu, saya angkat dulu," ucap Mama Kak Tari.


Lalu Mama Kak Tari menghampiri kami, dengan wajah bahagia. Beliau menyampaikan, kalau dari pihak yang berwajib sudah menangkap pelaku tabrak lari itu.


Dengan wajah senang keluarga korban kembali mengucapkan terima kasih.


Mereka memutuskan berpamitan pulang, sebelum pulang dengan uang di amplop yang mereka siapkan dan di taruh atas meja rumah kami.


"Tidak perlu repot-repot Bapak, Ibu anak-anak saya hanga berniat menolong, tidak perlu imbalan apapun," ucap Ibu.


Dengan kekeh mereka tetap meninggalkan uang itu di atas meja, mereka berpamitan dengan agak berlari karena ibuku terus memaksa mengembalikannya.


Mobil keluarga korban pun berlalu pergi, ketika kami mau masuk rumah, aku melihat Kak Tari ada di seberang jalan rumahku sedang tersenyum ke arahku.


Aku hanya membalas senyuman dan anggukan kepalaku hingga sosok itu perlahan hilang.

__ADS_1


__ADS_2