Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Esther Kembali


__ADS_3

"Hai, Keyla," ucapnya.



Dia melemparkan senyumannya sembari melambaikan tangan ke arahku. Dalam batinku berkata, Esteh?


"Iya, aku Esther? Keyla lupa, baru beberapa hari nggak ketemu," ucapnya sambil cemberut.


Si Esther menjawab ucapan batinku. Membuat aku bingung, aku membatin aja ni setan tahu ya?


Sedangkan di kamar ini, orang-orang masih sibuk dengan kejadian Tante Sita. Aku memutuskan untuk pergi keluar kamar ini, hendak menuju kursi ruang tamu. Saat baru melangkah keluar kamar, ibuku bertanya kepadaku.


"Keyla, ke mana?" tanya Ibu.


"Pengen duduk di ruang tamu, Bu," jawabku.


"Sudah malam, Dek. Ayo cepat tidur," sahut Ayah.


"Dedek, ikut Ayah saja ya," ucapku.


"Iya, Dek," jawab Ayah.


Aku pun melanjutkan untuk pergi ke ruang tamu dengan ayah mengekor di belakangku, aku tidak ingin menghiraukan Esther yang sedari tadi memanggil-manggil namaku.


Mungkin saja tadi yang membawa hantu di depan kaca juga si Esther ini. Tetapi aku terlanjur kecewa sama dia, sehingga aku tak menggubrisnya.


Aku pun duduk di kursi dengan di temani ayah di sampingku. Beliau sepertinya, mengerti jika mood-ku sedang buruk dengan melihat aku yang tampak cemberut.


"Kenapa, Dek?" tanya Ayah.


"Esteh, Yah?" jawabku.


"Esteh? Dedek minta Esteh atau Dedek melihat Esther?" tanya Ayah lagi.


"Yang kedua," jawabku singkat.


"Kenapa, Dek? tanya Ayah lagi.


"Iiih, Ayah kok kaya polisi, Dedek merasa di interogasi," jawabku.


Aku pun bercerita dengan ayah, saat ini aku merasa sebal dengan Esther. Karena dari kemaren-kemaren saat kami kerepotan dia tidak ada muncul walaupun sekali. Aku tahu tidak baik menggantungkan apapun dengan setan, tetapi ya sudahlah mungkin dia akan reinkarnasi tubuh barunya, sehingga dia menghilang beberapa waktu lalu.


"Keyla," Esther memanggilku.


"Apa?" ucapku dengan ketus sembari memalingkan wajahku dari Esther.


"Keyla jangan marah? Nanti aku temenan sama siapa?" tanya dia dengan nada memelas.


"Setan banyak, kita beda dunia. Kamu pergi saja," jawabku.


Suasana terasa hening ketika Esther tak lagi menjawabku, sedangkan ayah hanya memperhatikan aku. Aku mencoba menoleh ke arah Esther, dia tampak tertunduk sembari mengusap pipinya.


Dalam batinku bertanya-tanya, Esteh nangis? Aku salah bicara ya?


"Keyla jahat, aku mau berteman denganmu. Aku aja mencoba keluar dari dunia mereka demi kamu. Malah kamu mengusir aku, sakit tau," jawabnya dengan tersedu-sedu karena menangis.


Aku memutuskan berkomunikasi dengan Esther menggunakan batin, sebab aku baru tahu dengan batin pun dia bisa berinteraksi denganku.


"Dunia mereka? Mereka siapa?" tanyaku.


"Kamu nggak tahu kemarin aku hilang di mana?" tanya dia.


"Kalau tahu namanya nggak hilang, tapi ketinggalan," jawabku.


"Oh, iya ya," ucapnya sembari tertawa.

__ADS_1


Sebenarnya aku pun tak menyadari jika Esther hilang lumayan lama, sebab dia kerjaannya selalu menghilang dan muncul semaunya.


Saat ini, Esther pun bercerita. Jika dia itu ketarik di dunia alam lain di hotel itu. Dia ingin keluar dari sana pun merasa tak bisa, karena energi alam mereka yang di sana cukup kuat.


"Apa energi kamu tak sebesar mereka?" tanyaku.


Aku tetap berinteraksi dengan Esther menggunakan suara batin.


"Kamu ingat nggak saat aku nolongin kamu waktu perjalanan hendak ke hotel?" Esther kembali bertanya.


Aku mengangguk secara perlahan, aku tidak ingin orang lain menyadari jika aku sedang berinteraksi. Sebab saat ini di ruang tamu sudah ada kedua orang tuaku dan kedua orang tua dari Tante Sita.


"Aku butuh tenaga banyak untuk bisa muncul di hadapan orang yang tidak bisa melihatku, aku pun butuh energi yang lebih banyak lagi untuk memegangnya!" jawab Esther tampak serius.


"Terus?" tanyaku.


"Nggak semudah itu untuk mengembalikan energi-ku, butuh waktu yang lama. Sehingga aku ketarik ke alam mereka pun aku tak bisa kembali dengan semudah itu," jawab Esther.


Aku sebenarnya tak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapannya itu, tetapi aku ingin menghargainya aku hanya mengiyakan semua perkataannya.


"Lalu kamu kok bisa tahu aku ada di sini?" tanyaku.


"Kan kamu punya aura tersendiri, aku sudah menghafalnya sehingga dengan mudah aku menemukan kamu," jawabnya.


"Jadi, kamu mencariku?" tanyaku.


"Iya, Keyla kita berteman lagi ya?" ucapnya memelas.


Aku menggelengkan kepala.


"Kenapa?" tanya Esther.


Aku hanya mengisyaratkan dengan mengedikan bahuku. Entah Esther mengetahuinya aku juga tidak tahu.


Esther memohon, dan terus memanggil-manggil namaku. Dia berulang kali meminta maaf. Aku merasa dia tidak ada salah denganku, toh kami beda dunia. Aku sebenarnya ingin dia hidup di dunianya sendiri dari pada terus ngikut ke mana pun aku pergi.


"Tapi...," ucapnya menggantung.


"Aku bantuin kira doa, biar kamu sampai ke alammu. Semua pesanmu kan sudah tersampaikan, apa lagi yang membuatmu tetap berada di dunia ini?" tanyaku.


Esther cemberut kala mendengar ucapanku, lalu dia menundukkan kepala sembari menggelengkannya. Bukannya aku tidak suka berteman dengan dia, tetapi sebenarnya aku lebih ingin dia hidup dengan tenang di alamnya.


"Aku pun sudah di bantu doa, entah kenapa aku nggak bisa ke alamku," ucapnya.


"Karena kamu tidak pernah mau untuk pergi," jawabku.


"Iya, aku ingin selalu melihat kedua orang tuaku. Aku pun ingin selalu berteman denganmu," jawabnya.


Terlalu banyak alasan dia untuk pergi, karena dia lebih berat meninggalkan dunia nyata ini.


"Iya, kamu boleh berteman denganku. Dengan syarat jangan berpengaruh buruk untuk kehidupanku kelak," ucapku.


"Baik," ucapnya sembari menampakan senyumannya.


***


Hari sudah menjelang pagi, ayahku pun segera menyuruhku untuk beristirahat. Ayah ingin mengajak aku dan ibu untuk kembali ke kota kami, agar kami hidup dengan tenang seperti sedia kala.


Ayah memeluk sembari mengelus kepalaku.


"Dek, maafkan Ayah. Semula Ayah ingin kita berlibur kala berada di sini, tetapi rencana Ayah tak terlaksana," ucap Ayah.


"Nggak apa-apa, Yah. Yang penting kita semua sehat walafiat aku sudah bahagia," ucapku.


__________

__ADS_1


Setelah itu aku mencoba memejamkan mataku di pelukan ayah. Dengan cepat aku menuju alam mimpiku.


Aku melihat seperti ada Om Boby di mimpiku. Dia di dalam penjara, dia termenung sembari mendekap lututnya entah sedang memikirkan apa. Setelah itu, dia seperti memanggil salah satu pihak kepolisian.


Beliau nampak berbincang-bincang, tetapi tanpa di sadari pihak kepolisian Om Boby mengambil senapan dari polisi itu.


Lalu Om Boby pun tampak menyudahi percakapannya ketika mendapatkannya. Beliau kembali duduk seperti semula, lalu tanpa ada yang menyadari senapan itu di arahkan ke perutnya.


"Jangan Om," teriakku dalam mimpi ketika melihatnya.


Tapi apa daya itu hanya dalam mimpi, aku tak bisa apa-apa.


Doooor!


Pistol itu ditembakkan mengenai perutnya sendiri, tampak orang yang mendengar suara itu bergegas menghampirinya, termasuk aku.


"Om Boby!" teriakku.


___________


Kala aku berteriak seperti ada yang menggoyangkan tubuhku.


"Keyla, bangun Nak," terdengar seperti suara Ibu.


Aku perlahan membuka mata, lalu memeluk ibu. Tanpa ku sadari ternyata aku meneteskan air mataku.


"Kenapa?" tanya Ibu.


Keluarga Tante Sita pun menghampiriku, ayah pun juga melihat ibu yang sedang menenangkan aku. Setelah itu, barulah aku bercerita tentang mimpi yang baru ku alami.


"Tenang ya, Nak. Itu hanya mimpi, mungkin kamu trauma," ucap Ibunya Tante Sita.


Aku mencoba berpikir jernih, mungkin iya semua itu hanya mimpi aku tak perlu takut.


Tok-tok-tok!


Terdengar ketukan pintu.


Dengan cepat Ayahnya Tante Sita bergegas untuk membukanya. Kami hanya mengekor di belakang, karena ingin memastikan siapa yang bertamu dini hari seperti ini.


Pintu mulai di buka, terlihat dua anggota kepolisian sedang berdiri.


"Mari masuk, Pak," ajak Ayahnya Tante Sita.


Polisi mengiyakan ajakannya.


"Ibu Sitanya ada?" tanya Polisi.


"Ada, sebentar ya Pak," sahut Ibunya Tante Sita.


Ibunya pun menghampiri Tante Sita yang berada di kamar untuk beristirahat tadi. Tak berselang lama, aku melihat Tante Sita dan ibunya berjalan secara beriringan. Lalu mereka duduk di kursi dekat dengan pihak kepolisian.


"Ada apa ya, Pak?" Tanya Tante Sita.


Beliau tampak heran, karena ini dini hari kenapa ada pihak kepolisian di sini?


"Kami ingin menyampaikan kabar tentang Pak Boby," jawab salah satu pihak kepolisian.


"Ada apa dengan suami saya?" tanya Tante Sita lagi.


"Pak Boby ... dia bunuh diri," jawab pihak kepolisian.


Saat ini, aku melihat mata Tante sita terbelalak, terbuka lebar lalu mulai berbinar karena sudah terisi dengan air mata.


Kami semua kaget mendengar ucapan dari pihak kepolisian. Apa lagi aku, aku bingung karena di mimpiku pun seperti itu.

__ADS_1


Bersambung....


Yang kangen Esteh, riquestnya sudah aku munculin beserta visual cantiknya lagi ya😍😍😍


__ADS_2