Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Perjalanan


__ADS_3

Sosok gadis itu perlahan menghilang, tetapi aku tetap menatap ke arah tempat gadis kecil itu berdiri tadi.


"Dek, lihatin apa?" tanya Ibu.


"Tadi gadis kecil itu ada di sana, tetapi sekarang sudah hilang Bu, tadi dia tersenyum ke arahku," ucapku sembari menunjuk ke tempat tadi.


"Mungkin itu caranya untuk mengucapkan terimakasih Dek," ucap Ibu.


Aku menatap ke arah Ibu, aku tersenyum ke beliau. Rasanya aku juga ingin berterimakasih padanya, karena selama ini sudah selalu mempercayaiku. Mungkin orang lain hanya bilang takhayul dengan penglihatanku, atau pun kelebihanku yang lainnya.


Orang yang sedang melihat olah TKP, mereka berbisik-bisik sembari melihatku. Lagi-lagi aku hanya seperti patung tidak mengerti yang mereka ucapkan.


Dari belakang tempatku berdiri, ada salah satu ibu-ibu yang menghampiri kami. Dia berbicara dengan ibuku menggunakan logat khas daerahnya.


Aku hanya mendengarkan, mereka sesekali menatapku.


"Ada Apa, Bu?" aku bertanya ke Ibu.


"Ibu ini, meminta bantuan ke kamu karena anaknya sering di ganggu makhluk halus," jawab Ibu.


Aku melihat ke arah Ibu yang meminta bantuan, dia dari sorot matanya terlihat memohon.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa apa-apa, mungkin lebih baik di panggilkan Pak Kyai yang ngerti spiritual," jawabku.


Ibu itu hanya melemparkan senyumannya ke arahku, terlihat kekecewaan dari sorot matanya. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa, memang aku tidak bisa menyembuhkan gangguan dari makhluk tak kasat mata. Aku tahu batas kemampuanku, aku juga tidak ingin membahayakan diriku sendiri.


"Bu," aku memanggil Ibu sembari menatap wajahnya.


"Iya, Dek. Tidak apa-apa, memang bukan tempat kamu untuk di mintai pertolongan perihal itu," jawab Ibu.


Setelah olah TKP selesai, polisi menghampiri kami. Mereka mengucapkan terimakasih atas bantuan yang kami lakukan. Terutama Pak Yadi, beliau sangat berterimakasih, sampai-sampai dia memberikan uang yang berada di kantungnya, dengan niatnya untuk membalas apa yang aku lakukan saat ini.


"Tidak perlu, Pak. Untuk Bapak saja, saya ikhlas membantunya," ucapku sembari menolak pemberian itu.


"Matursuwun sanget (Terimakasih banyak)," ucap Pak Yadi sembari meneteskan air matanya.


"Iya, Pak. Sama-sama," jawabku, kali ini aku sudah bisa menjawab karena tahu artinya.


Pihak kepolisan membawa kerangka jasad gadis kecil yang malang itu. Aku berharap dia tenang di alamnya karena masalahnya sudah di usut pihak kepolisan. Dan untuk ibu sambungnya, semoga diberi hukuman yang setimpal.


Dengan perginya pihak kepolisian, kami pun juga segera kembali ke rumah kak Ega. Kami memasuki mobil, ketika ayah hendak melajukan mobilnya tiba-tiba ponselnya berdering.


Ayah dengan cepat menjawab panggilannya, beliau berbicara dengan orang di seberang telepon. Sepertinya dari pihak perusahaan yang menghubungi Ayah, tak terlalu lama mereka saling bertukar pertanyaan akhirnya selesai.


"Ada apa, Yah?" Ibu bertanya.


"Besok lusa Ayah harus sudah masuk bekerja, mungkin nanti Ibu dan Keyla sementara waktu ikut Ayah ya," ajak Ayah.


"Siap, Bos. Lama tidak makan kue lapis kesukaanku," ucapku.


"Iya, nanti di belikan," jawab Ayah.


Ayah pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Kak Ega. Sesampainya di rumah, aku langsung beristirahat karena entah mengapa hari ini aku merasa capek.


Hari berlalu dengan cepat dari siang ke malam. Kami seperti biasa, berkumpul di ruang keluarga bersama keluarga besar dari ayahku.


Kami membicarakan perihal rencana jalan-jalan besok. Setelah semua rencana sudah di persiapkan matang, kami satu persatu pergi ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Aku segera memejamkan mataku, berharap segera tidur tak ada gangguan sama sekali. Aku juga berharap esok hari yang aku tunggu-tunggu bisa terlaksana tanpa gangguan dari makhluk apapun. Aku berada dalam angan-anganku, sehingga tidak terasa aku pergi dalam alam mimpiku.


****


Pagi pun tiba, aku mendengar suara adzan yang berkumandang. Aku dengan bersemangat langsung menunaikan kewajibanku. Aku tidak sabar ingin segera pergi ke beberapa tempat wisata di kota Malang ini.


Sesuai rencana Kak Zahra dan aku beberapa hari lalu.


Aku sudah tidak sabar menunggu para kakakku untuk berkumpul. Aku sengaja mengenakan pakaian kasual ala anak remaja seusiaku, ditambah topi pantai. Aku keluar dari kamarku hendak turun ke lantai dasar untuk menunggu mereka.


Aku menuju ruang tamu, sesampainya di ruang tamu aku segera duduk manis sambil menunggu Kakak-kakak yang akan pergi bersamaku.


"Aduh, cucu Uti semangat sekali ya, padahal kakak kamu masih mendekam di kamarnya," kata Nenekku.


"Oh, Nenek. Iya, Nek. Kan ini pertama kalinya aku liburan di sini bisa jalan-jalan," jawabku.


"Pesan Uti, sebaiknya kamu bawa jaket, di Batu udaranya bisa dingin sekali," pesan Nenek.


"Gak keren dong, Nek, kalau pakai jaket," keluhku.


Saat aku sedang asik mengobrol dengan Nenek, tak ku sadari Kak Zahra sudah berada di sampingku. Kak Zahra mulai bertanya-tanya perihal kesiapanku untuk pergi jalan-jalan hari ini, tak lupa nenekku juga memberikan pesan-pesan yang harus kami taati.


Tak berapa lama Kak Ega menuruni tangga dengan setelan kasual kaos pendek yang sepertinya couple dengan Kak Zahra dipadukan dengan celana pendek warna cokelat.


"Cie, bajunya couple," ucapku sembari menunjuk ke arah Kak Zahra dan Kak Ega.


"Iya, dong," jawab Kak Ega.


Seperti biasanya Aku dan Kak Ega selalu saling mengejek ketika bersama. Tepat waktu sedang becanda, akhirnya yang kami tunggu pun datang. Mereka sampai sini langsung datang ke arah nenek dan menyalaminya.


______________


Seharian ini berkat semuanya yang mengajakku jalan-jalan, aku merasa bahagia. Aku bisa melupakan rasa traumaku soal teror sebelum berangkat ke sini.


Ketika kami pulang, aku pun tertidur di dalam mobil. Rasa senang, lelah semua menjadi satu. Aku tak tahu harus mengucapkan terimakasih seperti apa ke mereka, aku tidak akan pernah melupakan kegiatanku hari ini.


Aku tidak tahu berapa lama kami menempuh perjalanan ini. Sesampainya di rumah hari sudah malam. Aku sudah terbangun ketika hampir sampai perumahan Kak Ega.


Sesampainya di rumah, aku melihat ayah dan ibuku sudah selesai berkemas. Aku melihat mereka sudah siap menunggu kepulanganku saat ini.


"Berangkat sekarang, Yah?" tanyaku ke Ayah.


"Iya, Dek. Besokkan Ayah harus bekerja lagi, nanti takut kemalaman," ucap Ayah.


Dengan sigap Kak Ega, membawakan barang bawaan kami menuju mobilnya. Kak Ega dan Kak Zahra akan mengantarkan aku kembali ke stasiun.


Setelah semua barang di rasa sudah masuk semua, kami berpamitan untuk pulang. Setelah itu, kami masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat.


"Kereta berangkat jam berapa Om?" tanya Kak Ega.


"Masih Nanti jam 21.00 WIB, Ga," jawab Ayah.


"Dari pada telat, mending kita menunggu saja, takutnya jalanannya macet kalau tidak segera berangkat," sahut Ibu.


Cukup memakan waktu lama, entah kenapa jalanan hari ini cukup macet. Tetapi tak sampai padat merayap di jalanan.


Sesampainya di Stasiun sudah menunjukan pukul 20.24 WIB. Sebentar lagi kami sudah akan berangkat ke kota asal. Sedangkan Kak Ega sengaja menunggui kami sampai kami benar-benar berangkat menaiki kereta.

__ADS_1


Sembari menunggu kami saling mengobrol, tak jarang pula aku menggoda Kak Ega.


"Kak Zahra, kalau Kak Ega buat Kakak sedih laporin ke polisi aja, ya," ucapku.


"Loh kok polisi, Key?" tanya Kak Zahra.


"Iya Kak, itu tindakan Kriminal karena sudah berani-beraninya mematahkan hati Kak Zahra sampai sedih," jawabku.


Mereka yang mendengar jawabanku, sontak tertawa terbahak-bahak. Kecuali Kak Ega, dia manyun sembari menatapku.


Tak terasa jam keberangkatan pun sudah tiba, kami segera menuju kereta. Sebelum pergi kami berpamitan ke Kak Ega dan Kak Zahra.


"Kami pulang dulu," ucap Ibu.


"Iya, hati-hati Om, Tante, Keyla juga," ucap Kak Zahra.


"Kalian juga hati-hati, ya," ucap Ayah.


Setelah itu, kami segera memasuki kereta. Kami menuju tempat duduk kami. Aku berharap kejadian di kereta waktu berangkat tidak terulang kembali.


"Langsung tidur aja, Dek, kamu kan capek," ucap Ibu.


"Tapi, Bu," ucapku.


"Nggak usah tapi-tapi, jangan lupa berdoa," ucap Ibu lagi.


Aku pun menuruti perintah ibu. Kali ini kami bisa duduk di kursi yang sama dengan ayah dan ibuku. Aku memejamkan mataku tetapi masih tetap bisa mendengarkan obrolan ayah dan ibuku.


"Nanti, kita ke tempat Ayah tidur di mana?" tanya Ibu.


"Nanti kita nyewa hotel terdekat untuk dua hari Bu, setelah itu kita kembali pulang ke rumah," jawab Ayah.


"Kenapa nggak langsung pulang saja, Yah?" tanya Ibu.


"Nanti ayah terlalu capek, Bu. Untuk mengemudikan mobilnya, besok ada meeting pagi jadi jangan sampai telat," jawab Ayah.


Ayah selama di Malang juga membawa perlengkapan kerjanya. Ayah bisa mengirimkan file -nya lewat email. Berhubung besok ada meeting yang penting, jadi harus datang lebih pagi.


"Lalu, kita naik apa Yah, menuju hotel?" tanya Ibu lagi.


"Ayah akan pesan ojek mobil untuk itu, dan kebetulan samping perusahaan tempat Ayah bekerja banyak hotel," Jawab Ayah lagi.


Setelah itu aku tak mendengar lagi ucapan mereka, karena aku sudah terbang melayang menuju alam mimpiku. Aku bermimpi ketika aku sedang asik berjalan-jalan seharian ini.


Aku tidak tahu kereta ini akan melaju ke mana.


Bersambung....


Ikutin ceritanya ya semuanya. Oh iya, Esteh di sini juga ikut ya, tetapi maaf jika sengaja tidak di munculkan.


Oh iya jangan lupa baca juga novel karya teman Author.


Cinta Untuk Zahra - Kiki rizki



>>>Next Episode

__ADS_1


__ADS_2