
Suara erangan kian keras, hingga memekakkan telinga Bu Sumi. Tangisan beliau serasa sia-sia.
"Jangan ganggu aku!" teriak Bu Sumi.
"Sumi, Hahaha." Suara perempuan yang terdengar serak dan berat memanggilnya.
Bu Sumi merasa ketakutan, tapi tak sedikitpun dalam pikirannya menyebut nama sang pencipta. Hati yang dari dulu diisi dengan kedengkian, iri dan suka mengadu domba membuat sang pencipta enggan mengingatkan kepadanya.
"Kau siapa? Bantu aku keluar dari sini!" teriak Bu Sumi.
"Nggak ada hak! Kau hanya manusia lemah, yang angkuh!" teriak suara itu.
"Ampuni aku," ujar Bu Sumi dengan meminta belas kasihan.
Dari langit terlihat cahaya merah terang benderang hingga ke tanah. Bu Sumi melihat cahaya itu dari sela-sela kakinya. Dia yang sebelumnya menunduk, tiba-tiba terpikat untuk melihat ke arahnya. Dia mendongak ke atas, tampak wanita yang pakaiannya berwarna merah darah menjuntai hingga ke tanah. Rambutnya terurai, namun tak tampak jelas wajahnya saat di ketinggian. Suara tawa yang nyaring lagi-lagi memekakkan telinga. Cahaya merah yang menyelubungi tubuhnya sangat lekat dengan dirinya.
"Hei, makhluk apapun kau. Tolong bantu aku!" teriak Bu Sumi.
Dengan cepat wanita itu sampai ke tanah. Wajah yang hancur dan darah yang mengalir dari sela-sela mata serta mulutnya, membuat Bu Sumi ngeri untuk melihatnya. Ditambah lagi lidah penuh belatung yang menjulur melebihi dagu, semakin memberikan kesan menyeramkan pada sesosok itu. Bahkan Bu Sumi sampai mual.
Hueek! Hueek!
Bu Sumi tak tahan melihatnya.
"Hahaha, kau katanya meminta bantuanku? Sini." Perlahan wanita itu melambaikan tangan kearahnya.
"Pergi!" teriak Bu Sumi.
Wanita itu hanya tertawa terbahak-bahak tanpa menghiraukan Bu Sumi yang ketakutan.
"Wanita buruk rupa, pergi!" usir Bu Sumi dengan mulut ketusnya.
Tiba-tiba sosok wanita itu terdiam dan marah. Warna merahnya menjadi semakin melebar ke mana-mana, hingga menjangkau posisi Bu Sumi saat ini. Dengan cepat wanita itu melesat dan mengangkat tubuh Bu Sumi dengan memegang lehernya menggunakan satu tangan.
"Le-pas-kan!" teriak Bu Sumi dengan terbata-bata sebab ia tercekik dengan tangan wanita misterius itu.
__ADS_1
"Kau berani menghinaku! Kau harus mati!" gertak wanita itu.
Napas Bu Sumi semakin tersendat karena cengkeramannya semakin kuat.
***
Di rumah tetangganya, anak Bu Sumi yang berusia lima tahun menangis tersedu-sedu. Sejak kepergian Ibunya sejak lima jam lalu, membuat ia mencarinya.
"Kenapa, Bu?" tanya suami tetangga yang dititipi oleh Bu Sumi.
"Mungkin cari ibunya, Pak. Sejak sebelum magrib tadi Bu Sumi pergi, hingga saat ini belum kembali juga," jawab Bu Ina yang dititipi anak Bu Sumi.
"Dia pamitnya ke mana to, Bu? Bawa apa saja?" tanya suaminya lagi.
"Cuma bilang ke tempat penting saja, Pak. Dia loh, nggak bawa apa-apa, kok. Ke mana, ya?Dia bilangnya cuma sebentar, kok." Bu Ina tampak bingung, sebab anaknya sedari tadi tak berhenti menangis.
Bu Ina beserta suaminya pun bingung harus ke mana mencari Bu Sumi. Suami Bu Ina pun berniat untuk menggantikannya untuk menggendong anak Bu Sumi itu.
"Biar Bapak yang gendong, kamu gantian duduk sana. Anehnya ini anak kenapa lihat ke atas terus ya, Bu?" gumam suami Bu Ina.
"Sedari dia bangun sudah begitu, Pak. Aku juga bingung, sebenarnya dia kenapa?" jawab Bu Ina.
"Alhamdulillah," ujar Bu Ina dengan lirih.
"Ibu ngantuk?" tanya suaminya.
"Iya, Pak. Nunggu adeknya tidur pules dulu, nanti sekalian tidurnya. Apa gara-gara hujan ini, ya?" ujar Bu Ina.
"Tak tahulah, Bu. Saya kira, kalau tak terlalu jauh, mungkin sudah pulang sejak tadi. Tapi, kita sama-sama nggak tahu, sih. Yang terpenting dia sudah tidur lagi," jawab suaminya.
Suami Bu Ina pun meletakkan anak Bu Sumi ke dalam kamar mereka, lalu beliau mempunyai keinginan untuk membeli susu untuk anak ini agar nanti malam tak kehausan.
"Di kunci jendela dan pintunya, Bu. Nanti, Bapak siap-siap pakai kunci cadangan. Bapak pergi dulu, Assalamualaikum." Suami Bu Ina pun segera melangkah keluar, dia sengaja menerjang rintikan air hujan demi membelikan susu untuk anak Bu Sumi.
Bu Sumi melihat semua jendela dan pintu untuk memastikan semuanya aman. Lalu, kembali masuk ke dalam kamarnya. Bu Ina membelai gadis cantik yang saat ini berusia lima tahun ini.
__ADS_1
"Ya Allah, Nak. Ibumu sebenarnya ke mana, sih? Apa mungkin ke rumah Ayahmu?" gumam Bu Ina sendirian.
Bu Ina, mendekap tubuh anak ini dalam pelukannya. Walaupun sudah berselimut tebal, malam ini masih terasa sangat dingin. Bu Ina yang anaknya sudah kelas lima sekolah dasar berani tidur sendiri, sehingga Bu Ina saat ini mementingkan anaknya Bu Sumi.
Bu Ina tahu, Bu Sumi bukan orang baik tapi beliau tahu jika anak sepolos ini tak pantas dilibatkan oleh masalah ibunya. Dia belum tahu apa-apa, tak berhak menanggung segala dosa yang ditanggung ibunya.
Bu Ina mencoba memejamkan mata, hingga beberapa menit setelahnya beliau akhirnya tertidur dengan pulas.
***
"Le-pas-kan!" Bu Sumi meronta mencoba melarikan diri dari makhluk itu.
Saat ini terasa sebentar, walaupun Bu Sumi melihat pentas dan berputar-putar diarea yang sama dalam waktu hampir lima jam lamanya.
"Hahaha, wanita lemah. Wajahmu yang cantik, mau kubuat seperti diriku?" ujar sosok itu.
Belatung yang menggeliat di lidah sosok itu, membuat Bu Sumi benar-benar mual. Bau busuk menusuk hidungnya, tapi beliau tak mampu mengelak sebab wanita itu saat ini berada persis di depan matanya.
"I-iya. Kamu, can-tik!" Bu Sumi yang tercekik membuatnya susah untuk berkata.
"Apa?" sosok wanita itu mendekatkan telinganya ke mulut Bu Sumi.
Napas Bu Sumi semakin tersengal-sengal dibuatnya.
"Kau cantik," gumam Bu Sumi.
"Yang keras!" gertak sosok itu lagi.
"Ka-u, can-tik!" teriak Bu Sumi dengan nada terbatas yang sanggup ia keluarkan dari mulutnya saat ini.
Wanita itu melepaskan genggamannya pada leher Bu Sumi. Tubuh Bu Sumi dengan cepat terjatuh ke tanah. Remuk, sakit yang saat ini ia rasakan.
"Tolong." Bu Sumi memaksakan tenaga.nya untuk berteriak meminta tolong, namun sesaat setelah itu segera tak sadarkan diri.
Sosok wanita itu hanya menyeringai, lalu tertawa kala melihat Bu Sumi tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Lemah." Suara wanita itu sangat berat dan menakutkan.
Lalu, dengan cepat sosok itu melayang dan pergi menghilang. Warna merah darah yang sedari tadi menjadi hias tubuh wanita itu, secara perlahan hilang bersamaan dengan hilangnya sosok itu.