
Setelah kami semua mengatur siasat ibu memutuskan untuk menelepon seseorang untuk di mintai tolong.
Tuuuuut tuuuuut...
"Halo, assalamualaikum." ucap seseorang perempuan di seberang telepon.
"Halo, Feb ini aku Alifia," ucap Ibu.
"Iya Al, ada apa?" tanya perempuan itu.
"Feby bisa nggak ya aku minta bantuan kamu untuk beberapa hari?" tanya Ibu.
Tenyata ibu sedang menelepon Tante Feby, rumah tante Feby itu tepat di sebelah rumah Dinar.
"Bantuan seperti apa Al?" tanya Tante Feby.
"Jadi gini tadi Dinar sama si Keyla dapat teror dari seseorang, bisa nggak ya kamu buat mengawasi gerak gerik dia?" ucap Ibu.
"Caranya?" tanya Tante Feby.
"Jadi begini, sebenarnya teror itu di tujukan ke Dita, berhubung yang di rumah tadi Keyla dan Dinar, jadi mereka yang mengalami teror itu," ucap Ibu.
"Nah, kamu hanya perlu mengawasi jika ada mobil honda jazz terparkir di depan rumah Dita, jika ada seorang cewek muncul dari dalam mobil kamu poto saja orangnya," ucap Ibu lagi.
"Jadi intinya aku harus poto orang itu kan?" tanya Tante Feby.
"Iya, nanti terserah deh kamu atur bagaimana biar bisa mengambil gambar orang itu," ucap Ibu lagi.
"Baiklah," jawab Tante Feby.
"Ya sudah kalau begitu, terimakasih ya sudah mau membantu, assalamualaikum," Ibu memutuskan mengakhiri panggilannya.
"Waalaikum salam." Tante Feby menjawab salam sebelum panggilan berakhir.
***
Beberapa hari kami melakukan pengintaian, sekalipun ingin keluar rumah mereka hanya bisa menaiki mobil ibuku.
Pernah kapan hari pas siang cewek yang biasa di sebut dengan panggilan Airin si sahabatnya Kak Andre itu datang ke rumahku.
Ting tung....
Terdengar suara bel berbunyi.
Ibu yang mendengar segera melangkahkan kaki menuju pintu, sebelum membuka pintu ibu sengaja mengintipnya dari jendela.
Ternyata sahabat Kak Andre yang berada di depan pintu gerbang.
"Dita, sahabat Andre ke sini, kalian sembunyi di kamar saya saja!" Suruh Ibu.
Mereka pun menuruti yang diucapkan ibu.
Ting tung....
Suara bel kembali terdengar.
Ibu membuka pintu, lalu melangkahkan kaki menuju pintu gerbang.
"Iya sebentar," ucap Ibu.
Ibu semakin dekat dengan gerbang, pura-pura tak mengenal cewek itu. Ibu mulai membuka pintunya dan sedikit basa-basi.
__ADS_1
"Iya Dek, ada apa?" tanya Ibu.
"Mau tanya-tanya sebentar Bu, boleh?" tanya Airin.
"Boleh, silahkan masuk," ucap Ibu.
Ibu kembali melangkahkan kaki ke rumah dan Kak Airin itu mengikutinya di belakang. Ketika di ruang tamu ibu menyuruhnya untuk duduk.
"Silakan duduk Dek, ada perlu apa ya?" tanya Ibu penasaran.
Ibu menemani Kak Airin di ruang tamu.
"Apa ada cewek di sini?" tanya Kak Airin dengan sopan.
"Ada, anak saya si Keyla cewek," ucap Ibu.
"Keyla," Ibu memanggilku.
Setelah ibu memanggil aku segera menghampirinya.
"Iya Bu ada apa?" tanyaku.
Aku melihat ke arah Kak Airin, aku pura-pura tak mengenalinya juga. Aku pun duduk di sebelah Ibu.
"Ini anak saya Keyla," ucap Ibu.
"Bukan Bu, Ibu kenal Dita dan keluarganya?" tanya Airin.
"Kenal, tapi rumahnya bukan di sini ya Dek, masih jarak tiga rumah dari sini," ucap Ibu memberitahu.
"Iya Bu, saya tahu, sekarang mereka di mana ya?" tanya Airin mencoba menelisik.
"Kemarin sih cuma minta Antar ke rumah temannya begitu, katanya ada perlu di sana," jawab Ibu.
"Kalau itu saya kurang tahu ya, soalnya cuma dimintai tolong mengantarkan saja, kalau ingin ke rumah temannya saya bisa memberitahu alamatnya," ucap Ibu.
"Oh tidak perlu Bu, nanti saja kalau Dita sudah pulang saya temui saja dia, kalau begitu saya pulang dulu," ucap Kak Airin.
Dia pun pergi dari rumah ini, dia kembali mengendarai mobilnya. Setelah Kak Airin pergi, keluarga Dinar keluar dari kamar Ibu.
Kami semua duduk di depan televisi. Ibuku menunjukan rekaman handphone -nya. Ternyata sebelum Ibu membukakan pintu untuk Airin, Ibu sengaja menyalakan fitur rekam dari handphone -nya itu, lalu meletakkan ponselnya ke tempat yang dikira aman.
Ternyata dari teman Kak Dita dan Tante Feby juga sudah mengantongi gambar Kak Airin itu.
***
Pernah juga teman Kak Dita menghubungi kalau Kak Airin bertamu di sana dan dia tanya-tanya keberadaan Kak Dita. Temannya itu hanya menjawab keluarga Dinar ikut ke kota tempat ayahnya bekerja.
Semenjak hari itu, sahabat Kak Andre jarang datang ke perumahan Kami. Kami rasa semua sudah aman, Keluarga Dinar memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Tetapi keluarga Dinar tetap berjaga-jaga sehingga tidak melakukan aktifitas di luar rumah. Setelah sahabat Kak Andre benar-benar tidak pernah berkunjung, kami semua melakukan aktifitas seperti biasanya.
Kalau di hitung-hitung hampir sebulan sahabat Kak Andre itu mondar-mandir mencari keberadaan Kak Dita.
Tepat hari ini, puasa terakhir Dinar aku dan teman-teman untuk berjalan-jalan seperti biasanya di kala subuh. Tetapi tidak melewati gang seperti puasa pertama, kami hanya berjalan melewati jalan utama.
Saat itu Esther ikut dengan kami, waktu lagi asyik bercanda tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di belakang kami. Kami tak pernah menyadari ada bahaya yang mengintai.
Kami tetap berjalan seperti biasa, dari arah belakang ada seseorang yang mengikuti. Ketika kami menoleh ada seorang cewek menggunakan hoodie dan masker yang hendak menggoreskan pisau ke tangan Dinar, tetapi Dinar berhasil aku tarik kebelakang jadi pisau itu mengenai pergelangan tanganku.
Darah mengucur dari goresan, teman-temanku pun berteriak meminta pertolongan. Sontak cewek itu panik, lalu menyeretku ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Aku melakukan perlawanan, tetapi tenagaku kalah dengan dia. Setelah memasukan ku ke dalam mobil, cewek itu dengan cepat melajukan mobilnya.
Di dalam mobil dia tertawa terbahak-bahak. Aku yang terluka, tetap menutupi goresan lukaku dengan tangan.
"Mau mu apa?" tanyaku.
"Apa salahku?" tanyaku lagi.
Cewek itu tetap tertawa tanpa menghiraukan aku.
"Aku akan menggunakan kamu untuk mengancam mereka semua hahahaha," ucap cewek itu sembari tertawa.
Aku mendengarnya pun ketakutan.
"Keyla," ucap Esther.
Ternyata sedari tadi Esther mengikutiku.
"Esteh," ucapku.
Cewek itu yang mendengar aku bicara sontak menoleh kebelakang ke arah tempat dudukku.
"Ada apa?" tanya Dia.
"Siapa yang ngajak kamu bicara? Males ngomong sama orang jahat kaya kamu," ucapku.
"Hahahaha, jangan gila ngomong sendiri," ucap Dia sembari tertawa.
"Kamu itu, maunya apa sih? Obatin lukaku dulu, sebelum aku kehabisan darah," kataku dengan ketus.
Dia pun dengan cepat melajukan mobilnya ke sebuah rumah. Setelah sampai tepat didepan rumah itu, dia menggandengku dengan erat memasuki rumah.
Dia menyuruhku duduk di sofa ruang tamu, sebelum mengunci semua pintunya. Dia pergi meninggalkan aku di sini.
"Esteh, bantuin aku," ucapku dengan Esther yang sedari tadi menemaniku.
"Bantuin apa?" tanya Esther.
Sebelum aku menjawab Esther, cewek itu kembali dengan membawa sekotak peralatan p3k. Dia mengoleskan obat lalu membalutkan perban ke lukaku.
"Maaf, aku tak sengaja melukaimu," ucap cewek itu.
Aku berpikir cewek ini sangat baik, tapi kenapa sampai mempunyai pikiran yang dangkal untuk melukai seseorang.
Dia pergi lagi, saat dia kembali dia menenteng air putih di gelas.
"Ini kamu minum dulu, maaf ya sekali lagi, tapi aku perlu kamu saat ini," ucap Dia dengan nada halus.
"Maaf, aku lagi puasa," ucapku.
Dia menatap ke arahku, terlihat air mata menetes dari sela-sela matanya. Lalu dia pergi masuk ke dalam satu kamar yang dekat dengan ruang tamu ini.
Aku berpikir mungkin cewek ini tidak akan melukaiku lebih jauh, buktinya dia melihat aku terluka langsung mengobatiku.
Aku yang sedari tadi duduk di sofa, mengedarkan pandanganku di setiap sudut ruangan ini. Ketika pandanganku melewati tangga. Aku terkejut ada makhluk lain di sana yang sedang melihat ke arah kami.
(Sumber: Google)
Sontak aku memanggil Esther.
__ADS_1
"Esteh, itu Tantemu ada di sana," ucapku sembari menunjuk ke arah tangga.
Bersambung....