
Aku kembali ke rumah Kak Ega, sesampainya di rumah segera aku mencari ayahku. Aku ingin menceritakan tentang penglihatanku yang baru terjadi.
"Ayah," aku mencari Ayah.
"Iya Dek, Ayah nonton televisi," jawab Ayah.
Aku segera menghampiri ayahku, berharap beliau dapat membantu gadis kecil itu. Ibu yang sedari tadi menemaniku hanya mengekor di belakangku.
Ibu pun juga ingin tahu penglihatan apa yang baru saja terjadi. Setelah berada di ruang tempat nonton televisi berada, aku segera duduk di samping ayah.
"Jalan-jalan ke mana Dek sama Ibu?" tanya Ayah.
"Rumah kosong di belakang perumahan ini, Yah," jawabku.
"Memangnya ada rumah kosong? Lalu kamu mau apa Dek dari sana?" tanya Ayah dengan menatap mataku.
"Ada Yah, biasa dia lagi tertarik dengan satu hantu," sahut Ibu.
Ayah pun tetap menatap mataku, di sana aku melihat tatapannya penuh dengan pertanyaan.
"Iya Yah, dia korban pembunuhan dan pembunuhnya Ibunya sendiri," ucapku.
"Jangan bilang kamu mau membantu menguak misterinya," ucap Ayah.
Aku hanya mengangguk, mungkin ayahku sudah hafal dengan keinginanku.
"Nggak usahlah Dek, ini di kota orang yang tidak tahu seluk beluknya," ucap Ayah.
Aku mendengar ucapan ayah seketika memanyunkan mulutku. Memang aku tidak tahu daerah sini, tetapi aku ingin membantu menguak misteri itu.
Ibu dan ayah saling bertatapan melihat aku yang sedang cemberut. Aku melihat ibu menganggukkan kepalanya ke arah ayah.
"Baik, Ayah izinkan, tetapi tidak boleh terlalu jauh bertindaknya," jawab Ayah.
Aku langsung melemparkan senyuman ku ke ayah. Setelah itu aku pun bercerita ke ayah perihal penglihatanku. (Penglihatan Keyla baca di Part.Misteri Gadis Kecil (2) ).
Ayah dan ibu dengan antusias mendengarkan ceritaku. Tak jarang pula ayah dan ibu mengernyitkan dahinya, apa lagi ketika mendengar ceritaku tentang ibunya dengan tega mencongkel kedua bola matanya. Setelah aku selesai bercerita, mereka berdua mulai memberikan responnya.
"Ada kemungkinan mayat gadis kecil itu masih di sana, kuburannya di bawah pohon sekitar rumah itu," ucap Ayah.
Aku menganggukan kepalaku lagi.
"Ini kriminal Yah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya polisi yang berhak atas kasus ini," sahut Ibu.
"Ayo lapor polisi aja, Bu," ucapku.
"Nggak bisa asal lapor Dek, apalagi kita nggak punya bukti kuat untuk menyeret Ibunya ke ranah hukum," ucap Ayah.
Kami semua terdiam, aku pun tak tahu harus bagaimana.
"Kenapa kita nggak tanya warga sekitar dulu sih Yah soal penculikan atau pembunuhan? Siapa tahu Ayahnya gadis kecil itu belum mengetahui perbuatan istrinya itu," ucapku.
Ayah dan ibu saling bertatapan mata, mereka tampak memikirkan sesuatu.
"Bagaimana Yah, Bu," ucapku lagi.
"Ibu inget, Pak Udin sudah lama kerja di sini, siapa tahu beliau mengetahui soal penculikan," usul Ibu.
Pak Udin adalah tukang kebun di rumah ini. Aku beranjak dari tempat dudukku, segera mencari Pak Udin. Ayah dan Ibuku hanya mengekor di belakangku.
"Pak Udin," aku memanggil Pak Udin yang tengah bekerja merapikan kebun rumah ini.
Beliau pun menoleh ke arahku.
"Iya, Non," ucap Pak Udin sembari berlari ke arahku.
"Iya Non, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Udin.
"Ayo masuk dulu ke rumah, Pak," ajak Ibuku.
Kami semua duduk di sofa, Pak Udin saat itu hanya duduk di lantai.
"Loh, kok di bawah Pak? Sini duduk di atas," kata Ayah.
"Tidak Tuan, saya duduk di sini saja," jawab Pak Udin.
__ADS_1
Aku yang mendengar jawaban Pak Udin, seketika ikut beliau duduk di lantai dan orang tuaku pun mengikuti caraku.
"Loh, jenengan sedoyo lenggah teng sofa mawon (Kalian semua duduk di sofa saja)," ucap Pak Udin.
"Pak Udin, pakai bahasa indonesia saja ya, aku nggak ngerti," ucapku.
"Iya Non, kalian duduk di atas sofa aja biar Pak Udin duduk di lantai," ucap Pak Udin.
"Kami nggak sopan dong jadinya nanti, oh iya kalau ke kita mending panggil nama aja Ya Pak," sahut Ibu.
"Inggih Bu. Ada apa to Pak, Bu, kok manggil saya ke sini?" jawab Pak Udin dengan suaranya yang medok khas orang jawa timuran.
"Bapak sudah lama kerja di sini? Apa Bapak pernah mendengar kasus anak kecil yang di culik di sekitar perumahan ini?" tanyaku.
"Saya kebetulan orang asli sini, rumah saya di kampung sebelah perumahan Mbak," jawab Pak Udin dengan santun.
Pak Udin di suruh memanggil nama ke kita yang usianya lebih muda dari beliau, tetapi beliau tetap memanggil kami dengan sebutan Mbak, Ibu atau pun Bapak.
"Terus soal penculikan, bagaimana Pak?" tanyaku lagi.
"Di sekitar sini tidak pernah mendengar soal penculikan Mbak, yang saya tahu itu ada di kampung sebelah dan anak yang di culik itu sampai sekarang belom pernah di temukan," jawab Pak Udin.
"Bapak tahu rumah orang tua yang di culik?" Ibu bertanya.
"Saya tahu rumah Bapaknya anak itu," jawab Pak Udin
"Ayo Pak antar kami ke sana," ajakku.
Sebelum Pak Udin menjawab, aku beranjak dari dudukku dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Ibuku pun ikut berdiri, sembari menggelengkan kepala setiap melihat tindakanku.
****
Kami semua memasuki mobil Ayah, Pak Udin duduk di sampingku si kursi belakang. Ayah mengemudikan mobil menuju rumah Bapak gadis kecil itu dengan di pandu Pak Udin.
Tidak terlalu jauh rumah yang kami tuju dengan perumahan Kak Ega. Tak perlu waktu lama kami pun sampai.
Aku dengan cepat turun dari mobil. Sehingga aku hendak terjatuh karena terlalu tergesa-gesa ketika berjalan.
"Keyla, hati-hati," ucap Ibu.
Aku mengetuk pintu rumah yang di maksud Pak Udin.
"Inggih, sekedap (Iya, sebentar)," terdengar suara dari dalam menjawab ketukan pintu.
"Sekedap?" aku bertanya-tanya sembari melihat ke arah orang tuaku yang berdiri di belakangku saat ini.
"Sebentar Dek," jawab Ibu.
Aku mengetahui jawaban Ibu, lalu tersenyum. Pintu rumah mulai terbuka, dari balik pintu terlihat Bapak-bapak yang mungkin usianya tidak jauh dengan ayahku.
"Monggo mlebet (silakan masuk)," ucap Bapak itu.
Aku yang tak mengerti hanya diam berdiri di depan pintu sebelum ayah dan ibuku mengajakku masuk ke dalam rumah.
"Ayo Dek, suruh masuk," ajak Ayah.
"He-he-he, jangan bicara jawa dulu, aku nggak ngerti," ucapku.
Bapak yang punya rumah ini, mendengar ucapanku sontak tersenyum ke arahku.
"Ada apa Ya?" tanya pemilik rumah.
"Saya Dimas Pak, ini Alifia istri saya, ini Keyla anak saya dan ini Pak Udin saudara saya," ucap Ayah sembari menunjuk ke arah kami satu persatu.
Ayah mengenalkan kami satu persatu ke pemilik rumah, sepertinya Ayahku sengaja menyebut Pak Udin saudaranya, karena beliau sangat menghargainya. Pak Udin yang mendengar ucapan ayah hanya bisa diam sembari melihat ke arah ayah.
"Saya Yadi," jawab Pemilik rumah.
Tak mau banyak kata, aku langsung bicara tujuanku ke sini.
"Istrinya Bapak ke mana?" tanyaku.
Aku waktu tahu penglihatanku, mereka menggunakan bahasa jawa. Jadi apa yang mereka katakan tidak tahu sama sekali.
"Saya sudah pisah, ada apa ya?" tanya Pak Yadi.
__ADS_1
"Apa anak Bapak yang di culik sudah di temukan?" Ibu Bertanya.
"Dereng," jawab Bapak Yadi terlihat sedih di wajahnya.
"Kami ke sini hanya ingin memberitahukan soal penglihatan anak saya, kebetulan anak saya termasuk anak indigo dan anak saya sedikit tahu tentang jasad anak Bapak," ujar Ayah.
Pak Yadi mendengar ucapan ayahku sontak kaget, karena ayah mengucapkan kata jasad. Pak Yadi menangis sejadi-jadinya.
"Apa salahmu Nak, sehingga ada orang yang tega membunuhmu," ucap Pak yadi sembari menangis.
Pak Yadi pun terus berucap tetapi aku tak memahaminya.
"Pelakunya Ibunya sendiri Pak," ucapku lagi.
Beliau sontak melihatku.
"Ibunya sudah meninggal ketika melahirkannya, dulu sebelum penculikan kami tinggal bersama Ibu sambungnya," ucap Pak Yadi.
"Apa yang di maksud Nak Keyla, Ibu sambungnya yang membunuhnya?" tanya Pak Yadi.
Aku hanya mengangguk.
"Siti!" ucap Pak Yadi dengan menekankan suaranya.
"Sabar Pak," ucap Ibu.
Pak Yadi bergegas berjalan sedikit berlari entah mau pergi ke mana. Kami semua hanya mampu mengejarnya tak ingin bertanya. Aku tahu beliau lagi sedih bercampur amarah.
Kami sampai di satu rumah yang tidak jauh dari rumah Pak Yadi.
Tok-tok-tok....
Pak Yadi mengetuk pintu dengan keras.
"Siti, buka lawang e (pintu)!" ucap Pak Yadi dengan nada berteriak.
"Koe tego mateni anakku (kamu tega membunuh anakku)," ucap Pak yadi lagi.
Tetangga terdekat dengan rumah ini pun berkumpul karena mendengar teriakan Pak Yadi. Mereka saling berbisik entah apa yang mereka ucapkan.
Pintu pun terbuka, terlihat seorang wanita yang sama persis dengan orang yang ada dalam penglihatanku. Mereka bertengkar menggunakan bahasa jawa lagi.
"Sabar Pak, kita bawa ke ranah hukum saja," ucap Ibu.
Ketika mendengar ucapan Ibu, wanita itu hendak berlari. Dengan cepat Pak Yadi menangkapnya.
"Aku nyilih motore Pak (Aku pinjam motornya Pak)," ucap Pak Yadi ke tetangganya.
"Ndamel mobil e kulo kemawon, kulo pendet rumiyen (pakai mobil saya saja, saya ambil dulu)," ucap Ayah sembari berlari.
Setelah mobil datang, kami segera membawa wanita itu ke kantor polisi. Wanita itu hanya tertawa tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
Sesampainya di kantor polisi, si wanita juga mengakui perbuatanya. Dia juga berbicara perihal kelakuannya sebelum gadis kecil itu meninggal, bahkan dia berbicara soal mata anak itu.
Pak Yadi menangis, ketika menyadari yang ternyata yang di dalam kantong kresek di taruh di gagang pintu itu bola mata anak kesayangannya.
Pak Yadi hendak memukul wanita itu, tetapi berhasil di hentikan oleh Ayah.
"Ini hukum Pak, jangan main kekerasan," ucap Ayah.
Polisi dengan sigap menurunkan pasukannya untuk melakukan olah TKP di rumah kosong itu. Aku diajak mereka ke tempat untuk menunjukannya, ketika sampai di rumah kosong itu, warga sekitar berbondong-bondong melihat aktivitas kami.
Polisi menggali di bawah pohon di dekat rumah ini. Aku melihat ke arah teras rumah kosong ini, sosok gadis kecil itu muncul. Dia melemparkan senyumannya ke arahku. Mungkin dia sudah bahagia kasus ini tuntas.
"Matursuwun (Terimakasih)," ucap gadis itu.
Sebelum menjawabnya, aku terlebih itu tanya ke Ibuku.
"Bu, Matursuwun apa?" tanyaku.
"Terimakasih, Dek," jawab Ibu.
Setelah tahu artinya, aku segera melihat ke arah gadis kecil itu. Aku menganggukkan kepalaku sembari tersenyum. Perlahan gadis kecil itu hilang.
>>>Next Episode
__ADS_1