
Pintu pun di buka, di sana terlihat wanita yang mungkin usianya lebih tua dari ibu. Dari wajahnya terlihat tampak bingung, melihat kehadiran kami. Apalagi ketika sorot matanya diarahkan ke bahu Om Deni yang sedang terluka.
"Ya Allah, Pah. Ini kenapa?" ucapnya dengan panik.
"Diajak masuk dulu, Mah. Nanti Papa jelaskan di dalam," ucap Pak sopir taxi.
"Mari, masuk," ucap Istri pak sopir.
Kami pun segera masuk, setelah itu duduk di kursi ruang tamu. Terdengar kedatangan kita yang cukup ramai, anak pak sopir pun keluar dari dalam kamarnya. sedangkan Istri dari pak sopir pergi ke belakang.
Dia duduk di atas kursi roda, terlihat wajahnya yang sedikit pucat, badan yang kurus.
"Loh, Pah. Ada tamu?" tanya Kakak itu, sembari mengayunkan tangannya untuk melajukan kursi rodanya ke arah kami.
Dia terlihat anak yang sopan, ketika berada di dekat kami terlihat menjabat tangan kami secara bergantian. Setelah itu, istri pak sopir kembali dengan membawa kotak peralatan p3k yang keluarga ini punya. Sembari mengobati Om Deni kami pun mengobrol-ngobrol.
"Saya, Vina," ucapnya ketika bergantian salaman terhadap kami.
"Adek ini, yang kemaren Bapak ceritain?" sahut Ibu.
Pak sopir taxi mengangguk secara perlahan.
"Iya, Bu. Ini anak yang tempo hari saya ceritakan," ucap pak sopir.
Dia sunggingkan senyumannya ke kami. Setelah itu, pak sopir menceritakan tentang apa yang kami alami. Dan pak sopir memberitahukan, bahwa keluargaku yang kemarin memberinya sedikit untuk menolong beliau. Dengan itu, istri pak sopir dengan senang hati memperbolehkan kami untuk menginap.
________________
Malam itu, kami semua menginap di rumah pak sopir ini. Kalau di kota sudah biasa jika setiap malam ada orang mengetuk tiang listrik untuk menandakan jam malam.
Teng-teng-teng-teng!
terdengar suara tiang listrik di ketuk.
Aku yang mendengarnya segera membangunkan ibu.
"Bu, sudah jam empat," ucapku.
Ibu pun membuka matanya, beliau meraih ponsel di sebelahnya untuk melihat jam, lalu ditunjukan kearahku.
"Masih jam satu, Dek," ucap Ibu.
Aku pun heran, yang aku dengar sudah empat ketukan. Ibu mengajakku untuk segera tidur lagi.
Teng-teng!
Terdengar ketukan itu lagi.
Aku hanya berpikir, mungkin itu ada orang yang jail. Entah kenapa, semakin kesini suara itu semakin terdengar.
"Bu, bangun. Denger nggak?" aku bertanya.
__ADS_1
Aku sengaja membangunkan ibu ketika ketukan itu berbunyi. Ibu kembali membuka matanya, beliau juga mendengar suara itu.
"Mungkin anak-anak sini, mereka iseng," ucap Ibu.
Ibu kembali tidur karena masih dini hari. Tetapi tidak dengan aku, aku sengaja ingin melihat orang-orang jail itu.
Teng-teng-teng!
Terdengar kesekian kalinya.
Aku berjalan ke arah jendela, aku mengintipnya dari balik gorden. Aku melihat di sana ada satu orang berdiri, tepat di samping tiang listrik yang letaknya tepat di seberang rumah pak sopir ini.
orang ini menundukkan kepalanya, lalu membenturkan kepalanya ke tiang listrik.
"Ya Allah," aku sontak kaget melihat kejadian itu.
Aku berlari ke arah ibu tidur.
"Bu, ada orang bunuh diri," ucapku mencoba memberi tahu apa yang aku lihat.
Aku menggandeng ibu ke arah jendela, dengan tujuan untuk memberitahukannya ke beliau. Setelah itu, kami berjalan kembali ke arah jendela.
Aku mencoba kembali menyibakkan gorden itu. Aku dan ibu masih melihat orang itu berdiri di sana, tetapi kali ini dia hanya mematung.
"Orang yang berdiri itu, Dek?" ucap Ibu sembari melihat ke arahku.
Aku membalas pandangan ibu, lalu mengangguk tanda aku mengiyakan pertanyaannya. Pandangan kami pun kembali melihat ke orang tadi.
(Sumber: google)
"Aaaaaaa," teriak kami berdua.
Sontak teriakan kami membuat seisi rumah terbangun. Mereka menghampiri kami.
"Kenapa?" pertanyaan demi pertanyaan silih berganti mereka lontarkan ke kami.
"Itu," ucap Ibu sembari menunjuk kearah luar jendela.
Ayah pun mencoba melihat apa yang membuat kami ketakutan, tetapi sepertinya kala ayah melihat tak menemui siapapun di luar sana.
Ayah menggandeng kami untuk duduk di kursi.
"Siapa? Orang itu lagi?" tanya Ayah.
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Lalu, siapa? Tidak ada orang di luar," ucap Ayah.
"Ada hantu," ucapku.
__ADS_1
"Hantu?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Iya," ucapku sembari menganggukkan kepala.
****
Setelah aku bercerita apa yang aku dengar dan lihat. Tetapi, ternyata anaknya pak sopir juga mengalami hal serupa dengan kami. Hantu itu seakan-akan menghantuinya setiap hari. Ketukan demi ketukan selalu ia dengan menjelang dini hari.
Pak sopir pun bercerita, ternyata tidak hanya kami yang mendengar tetapi pak sopir juga salah satunya. Bahkan beliau memberanikan diri untuk bertanya-tanya perihal itu ke tetangga sekita rumahnya.
Tetangganya menjelaskan, satu bulan sebelum pak sopir tinggal di sini, ada kejadian pembunuhan di tiang listrik itu.
Dulunya ada pasang kekasih, mereka berhenti tepat di depan tiang itu. Mereka bertengkar hebat, entah apa yang membuat mereka sampai seperti itu. Katanya si cowok dengan tega membenturkan kepala cewek itu berkali-kali ke arah tiang listrik.
Tetangga sekita yang mendengarnya sontak keluar untuk melihat. Tetapi, saat ada warga mulai datang, pria itu pergi tunggang langgang menaiki motornya. Si wanita pun tersungkur ke tanah dengan kepala yang penuh darah.
Mereka tak mengenali muda-mudi itu. Mereka mencoba mencari tanda pengenal di tubuhnya pun tidak ada. Warga sekitar dengan cepat membawa wanita itu ke rumah sakit. tetapi naas, di pertengahan jalan wanita itu menghembuskan napas terakhirnya.
Tetapi, sudah tanggung perjalanan warga itu. Mereka tetap melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit. Setelah sampai, mereka minta tolong untuk membersihkan jenazahnya dan melakukan visum terhadap jenazah itu.
Mereka menunggu dokter keluar dari ruangan. Dokter pun keluar.
"Pagi, apa di sini ada salah satu keluarganya?"
Mereka semua kebingungan, sehingga salah satu dari mereka mencoba mengaku sebagai keluarnya. Dokter pun mengajaknya ke ruangan dokter itu. Ternyata, dokter itu menyampaikan sebenarnya si wanita tengah mengandung tiga bulan.
Dengan keterangan-keterangan dokter, sehingga warga sekitar menyimpulkan kalau pasangan kekasih ini bertengkar karena si jabang bayi ini. Warga sekitar sini pun hanya membantu penguburannya, sampai sekarang pun mereka tak mengetahui siapa namanya.
Yang mereka tahu sebelum wanita itu meninggal, mengucap satu nama yaitu Tari. Entah itu namanya atau bukan, mereka juga tidak tahu. Tetapi sebagai julukan enaknya mereka selalu memanggil wanita itu dengan sebutan hantu si Tari. Mereka menyarankan, jangan pernah melihat hantu itu kalau tidak pengen di usik si hantu itu.
Tetapi ternyata anak pak sopir selama ini melihatnya dan tidak membicarakan apa yang dilihat kepada kedua orang tuanya.
****
Setelah itu, kami pun kembali untuk tidur. Pagi pun tiba, terdengar dering ponsel ayahku.
Tetapi, setelah melihat nama yang ada di layar ponsel, ayah bergegas memberitahukan ke Om Deni.
"Den," ucapnya sembari memperlihatkannya.
"Aku sepertinya mengenali nomor ponsel ini?" ucap Om Deni.
Tenyata ayah mendapatkan telepon dari nomor orang yang tidak di kenalnya.
"Diangkat tidak?" tanya Ayah.
"Sebentar," jawab Om Deni.
Om Deni pun meraih ponsel yang ada di sakunya, lalu mencari kontak dengan nomor yang sama. Lalu, menunjukkan ke ayah. Setelah itu, mereka hanya saling bertatap mata.
Bersambung....
__ADS_1