Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Keluargaku


__ADS_3

Aku melihat Stevia pergi dari sini, pandanganku ke dia terhalangi saat dia keluar dan menutup kembali pintunya.


Setelah kepergian Stevia, ibu menyuruhku untuk segera tidur.


"Dek, ayo tidur," ujar ibu.


Aku hanya mengangguk, lalu tersenyum ke arah kedua orang tuaku. Aku bergegas memejamkan mata, berharap segera terlelap dalam tidurku.


****


Malam beranjak berganti, terdengar sayup-sayup suara adzan berkumandang. Aku buka mata secara perlahan, walau rasa kantuk enggan pergi aku tetap mencoba untuk melawannya.


Terlihat ibu pergi ke kamar mandi,sedangkan ayah membereskan kasur yang semalam digunakannya.


"Yah." Panggilku.


Ayah pun menoleh mendengar panggilanku.


"Eh, Dedek sudah bangun," ucap ayah.


Lagi-lagi senjataku hanya tersenyum.


"Uti dan Kak Ega mau ke sini loh," ujar ayah memberitahu.


Mata yang sebelumnya terasa mengantuk, saat ini terbuka lebar ketika mendengar ucapan ayah.


"Benarkah?" tanyaku mencoba memastikan.


"Iya, nanti ke sini," jawab Ayah.


Saat ini perasan bahagia yang ada di benakku, hingga lupa kejadian yang semalam terjadi padaku.


Tak berselang lama, ibu pun keluar dari kamar mandi. Beliau menatapku, sembari tersenyum.


"Dedek sudah bangun," ujar ibu.


"Iya, Bu," jawabku.


Beliau melangkah menghampiri, setelah itu memeluk tubuhku sembari mencium keningku.


"Cepat sembuh ya, Dek. Ibu salat dulu, kamu sama ayah sebentar," ujar ibu sembari melepaskan pelukannya.


Beliau pergi keluar ruangan dan saat ini aku hanya bersama ayah. Aku ingin menceritakan kejadian yang ku alami ke ayah.


"Yah." Panggilku ke ayah, yang masih sibuk dengan peralatannya.


"Iya, Dek," jawab ayah, namun masih sibuk di ngan aktivitasnya.


"Yah, aku mau cerita soal Stevia," ucapku.


Dan saat itu juga ayah menoleh.


"Stevia?" tanya ayah.


"Iya, si Pia, Yah. Dia sama dengan aku," ujarku.

__ADS_1


"Sama? Maksudnya bisa lihat sesuatu seperti kamu?" tanya ayah.


Aku mengangguk tanda mengiyakan. Setelah itu aku menceritakan semua hal yang baru aku alami semalam, tampak rasa yang khawatir di wajah ayah. Apalagi saat beliau mendengar cerita perihal makhluk itu mencoba menyakitiku.


"Lihat tanganmu," ucap ayah, setelah aku menceritakan soal genggaman tangan makhluk itu.


Beliau memandangku, sembari mengelus bekas genggaman makhluk jahat itu yang masih terlihat memar.


"Ya allah, Dek. Sampai biru kaya gini," ucap ayah.


"Iya, Yah. Aku mencoba berteriak dan memanggil nggak ada yang mendengarnya. Untung saja ada Stevia yang mendengar, walaupun makhluk itu mencoba menutup pendengaran semua orang yang berada di sini," ceritaku.


"Mungkin karena memiliki kemampuan yang sama denganmu, sehingga dapat mendengarnya," ucap ayah.


Aku kembali mengangguk, hingga tak kami sadari ibu sudah berada di dekat kami.


"Hayo, cerita apa? Kok ibu nggak diajak," ujar ibu mengagetkan kami.


Sontak kami terkejut saat mendengar perkataan ibu.


"Eh, ibu. Mengagetkan ayah aja," ucap ayah.


Ibu tertawa mendengar ucapan ayah.


"Dedek juga kaget loh," sahutku.


Ayah dan ibu pun tertawa saat itu, aku pun spontan ikut tertawa juga saat melihat mereka mampu tertawa seperti sedia kala.


"Cerita apa?" tanya ibu.


"Iya, kah? Kalau gitu Dedek lanjut cerita ke ibu ya, ayah biar salat dulu," ucap ibu.


Aku mengangguk, sedangkan ayah tanpa menjawab bergegas melaksanakan kewajibannya. Ibu melanjutkan aktivitas ayah yang tadi belum selesai, beliau memasukkan baju kotornya ke dalam tas kain.


"Ibu, mau ke mana?" tanyaku.


"Nggak ke mana-mana, Dek. Ini baju kotor, mau di antar ke laundry," jawab ibu.


"Oh, iya. Uti mau datang loh," ibu memberitahukan.


"Iya, Bu. Tadi sudah di beritahu ayah, kalau Nenek mau datang ke sini," ujarku.


Saat itu juga, pintu kembali terbuka. Terlihat dua perawat datang membawakan seember air yang biasanya untuk menyeka tubuhku dan makanan di nampan.


"Pagi, Bu. Ini untuk Adeknya," ucap perawat sembari meletakkan barang yang dibawa.


"Oh, iya sus. Terima kasih," ucap ibu sembaribtersenyum


Lalu, mereka pergi kembali.


"Ibu, membersikan badanmu dulu, ya," ucap ibu.


Beliau dengan sabar dan telaten menyeka tubuhku dengan air tadi. Perlahan menanggalkan pakaianku, lalu digantinya.


Setelah selesai, beliau menatapku dan tersenyum. Namun senyumannya tak sesumringah sebelum aku sakit, mungkin rasa lelah dan jenuh sudah menjadi langganan untuk ibu saat aku sakit.

__ADS_1


"Bu, ayah kok lama?" tanyaku.


"Oh, iya ya kok lama. Kamu makan dulu, ya," ucap ibu mengambil makanan yang berada di meja.


Beliau mulai menyuapiku.


"Jadi bayi besar, hahaha," ucapku mencoba menahan tangis, ketika mengingat pengorbanan mereka.


Ibu tak menjawab celotehanku, beliau hanya tersenyum.


___________


Ayah pun datang, beliau tersenyum selalu kala melihatku.


"Bu, baju kotornya mana aku antarkan, sekalian mau jemput ibu di depan," ucap ayah.


Ayah pun hanya mengambil pakaian lalu pergi lagi. Sedangkan ibu masih tekun menyuapiku.


"Bu, sudah. Aku mau belajar duduk," ucapku.


"Nanti dulu, baru selesai makan nanti perutmu sakit loh," ucap ibu.


Aku hanya menuruti ucapan beliau. Jam terasa memutar lebih cepat, ayah yang sedang keluar saat ini sudah kembali, namun bersama dengan keluargaku yang lainnya.


Ayah, Uti, Kak Ega dan orang tuanya beserta Kak Zahra tunangannya. Saat mereka datang, pertama kali ditanyakan kabar dan keadaanku. Sesekali Kak Ega mencoba menggodaku dengan ejekan yang biasanya di lontarkan kepadaku.


Mungkin tujuannya untuk membuatku semangat. Bahkan Kak Zahra berkata menunggu kedatanganku untuk pergi ke Malang lagi dan jalan-jalan lagi bersamanya.


Aku pun terkadang tertawa dalam hati, dari Kota Malang saja sampai detik ini aku belum sampai ke rumah. Hingga tak terasa aku menyunggingkan senyumanku.


"Kenapa?" tanya Uti.


"Aku sampai detik ini, belum sampai rumah ya, Nek. Lama sekali perjalananku, hahaha," ujarku.


Tak ada satupun dari mereka menanggapi celotehanku. Mungkin mereka tak ingin membuat aku bersedih sehingga mengingat kejadian yang sangat buruk aku alami saat ini.


Selama mereka berada di sini, kami bahas yang mungkin mampu memberikan semangat dan kebahagiaan untukku. Mereka memberikan energi yang positif untuk masa penyembuhanku.


****


Saking asiknya, tak terasa hari beranjak sore, tepatnya selepas ashar. Keluargaku yang dari malang berpamitan untuk segera pulang, agar mereka sampai ke kota tak larut malam.


"Uti pulang dulu ya, kamu cepat sembuh, sayang. Uti harus pulang, Om Adnan ada kerjaan yang tak bisa ditunda untuk besok," jelas Nenekku.


"Iya, Nek. Terima kasih udah menyempatkan ke sini, hati-hati ya," ujarku.


Mereka berpamitan, memeluk dan menciumku secara bergantian. Ucapan-ucapan semangat selalu mereka lontarkan, walau mereka berpamitan.


Ayah kembali mengantarkan mereka sampai depan rumah sakit. Hening kembali terasa saat kepergian mereka, namun harus bagaimana lagi karena kesibukan mereka tak mampu untuk menetap di sini lumayan lama.


"Ibu mandi dulu ya, Dek," ujar ibu sembari mengambil pakaiannya.


"Iya, Bu," jawabku.


Bersambung ....

__ADS_1


Yang mau tahu kisah Zahra dan Ega yuk kunjungi Cinta untuk Zahra - Kiki rizki


__ADS_2