Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Pulih


__ADS_3

Setelah itu, ayah masuk menemani kami. Saat itu juga aku mendengar ayah dan bunda berkata kalau mereka salah sangka ke tante hantu. Mereka menyangka jika dia yang membawaku pergi semalam, sebab yang membawaku pulang dia.


Aku mendengar cuma sebatas itu saja. Entah apalagi yang mereka bicarakan aku tak paham dan dengan kejadian itu, mereka mengijinkan tante hantu untuk berteman denganku hingga saat ini.


******


POV Keyla.


"Jadi gitu ceritanya, Key. Itu pengalaman singkatku, kalau aku cerita semua bakal panjang ini episode, hahaha," ujar Stevia.


Aku hanya tersenyum menanggapi cerita Stevia. Mungkin kurang lebih cerita hidupnya nggak beda jauh dengan aku.


"Ibu, aku mau belajar duduk," ucapku.


Ibu dan ayah saat itu juga mendekat ke arahku, memegang bahuku. Mereka membantuku untuk bangun. Perlahan tapi pasti terasa lebih enteng dari pada sebelumnya.


"Bu, Yah. Boleh nggak coba lepaskan," ucapku.


Mereka tak bergegas menjawab, namun saling bertatap mata terlebih dahulu.


"Nanti kamu jatuh, pelan-pelan saja," sahut Stevia.


"Iya, Dek. Benar kata Pia, bertahap saja ya," ujar ayah.


Aku melihat ke arah Pia, lalu tersenyum. Kita kenal baru semalam, entah kenapa seakan-akan merasa dekat. Apa mungkin karena kelebihan yang kita miliki?


"Oh, iya. Saya pamit dulu ya," ujar Stevia berpamitan.


"Pia, di kamar mana?" tanya ayah.


"Di anggrek yang paling ujung Om," jawab Stevia sembari bersalaman.


Untuk pasien keluhan dengan saraf memang di lorong kamar yang sama, sehingga memungkinkan jika kami ingin menjenguk neneknya.


Stevia pun pergi dan tidak lupa hantu yang di sebutnya tante selalu mengikutinya. Memang terlihat mengerikan, jadi aku tak habis pikir dia bisa luluh dengan Stevia yang tergolong masih kecil.


___________


Sore hari, ketika ayah dan ibu mulai aktivitas hendak membersihkan badan maupun salat, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Aku mencoba memiringkan badanku, lalu bertumpu dengan kedua tanganku mencoba untuk duduk.


Perlahan aku tetap mencoba, meski dengan susah payah akhirnya usahaku tak sia-sia. Aku dapat duduk, tetapi harus tetap bertumpu dengan kedua tanganku.


Aku tersenyum lebar, dalam hatiku berkata, "Alhamdulillah."


"Bu, Ayah. Lihat aku," aku memanggil mereka.


Sontak mereka melihat ke arahku, mereka terperangah melihat aku sedang duduk. Ibu yang berada di depan kamar mandi bergegas berlari menghampiri lalu memelukku.

__ADS_1


Sedangkan ayah terpaku melihat perkembanganku, beliau hingga meneteskan air mata.


"Ayah." Aku memanggil.


Beliau tersenyum lalu sujud syukur. Ibu saat itu menoleh ke arah ayah dan segera ikut sujud syukur.


Aku terharu melihat yang mereka perbuat. Aku merasa diistimewakan oleh ayah dan ibuku, ketika melihat perubahanku mereka seperti itu.


Setelah itu mereka bangun secara bersamaan, lalu menghampiriku. Mereka memelukku dengan tetap meneteskan air mata. Mungkin kali ini air mata kebahagiaan mereka yang tak mampu mereka bendung.


"Alhamdulillah, Dek. Semua yang dianggap tidak mungkin, saat ini terjadi. Kamu dapat duduk sendiri, kamu pasti bisa pulih seperti sedia kala," ujar ayah dengan suara bergemetar.


"Iya, Yah. Saat ini kita dapat melihat yang kita impikan selama di sini, kita dapat melhat senyum kebahagiaan putri semata wayang kita," sahut ibu.


Aku tak mampu menjawab, aku hanya menangis tersedu-sedu. Entah kebahagiaan ini tak dapat aku katakan, aku terharu, aku bahagia. Semua yang ku anggap mustahil sebelumnya bisa tercapai hari ini.


"Allah sayang aku, Bu. Allah memberikan kesempatan aku, alhamdulillah." Ujarku.


Tak henti-hentinya dalam hatiku mengucapkan rasa syukur, dengan apa yang aku alami hari ini.


"Yah, tolong panggilkan dokter," ucap ibu.


Ayah tak menjawab, tetapi langsung bergegas keluar ruangan. Tak berselang lama, ayah datang dengan dokter yang biasa menangani aku.


"Si cantik sudah bisa duduk sendiri? Untung Pak Dokter belum pulang tadi," ucap Dokter dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Pak, Bu. Sebenarnya semua perkembangan termasuk sangat cepat. Seperti janji saya, kalau dia bisa duduk besok sudah boleh pulang," dokter memberitahu.


"Beneran, dok?" tanyaku mencoba memastikan.


Dokter tersenyum.


"Iya, sebenarnya kalau bisa dikata kalau belum bisa ke tahap jalan belum boleh pulang. Tapi melihat perkembanganmu, dokter yakin kamu mampu, biar kamu nggak jenuh setiap hari harus ketemu Dokter," ucap Pak Dokter dengan senyumnya yang ramah.


"Makasih ya, Dok," sahut ibu.


"Iya, besok pagi sudah boleh pulang. Tapi ingat, harus rutin check up seperti yang saya jadwalkan nantinya," ujar dokter lagi.


"Iya, Dok," jawab ayah.


Rasa syukur secara bersamaan kami ucapkan kembali. Setelah itu, dokter pun berlalu meninggalkan kami.


"Bu, aku jemput ibumu dulu, ya. Biar beliau bermalam di sini, kita besok pulang bersama-sama," ujar ayah.


Ibu hanya menganggukan kepala, beliau enggan menjawabnya. Ayah pun pergi meninggalkan kami berdua di sini.


"Bu, coba Esteh ada di sini. Pasti dia juga ikut senang, ya," ujarku.

__ADS_1


Aku tiba-tiba saat itu ke ingat Esther yang pergi tak tahu ke mana. Dia seakan-akan musnah dari dunia ini.


"Biarkan Esteh hidup dengan tenang di alamnya ya," ucap ibu.


"Iya, Bu," jawabku.


Setelah itu, ibu berpamitan untuk mandi. Sedangkan aku masih dalam posisi duduk seperti tadi.


Tiba-tiba, terdengar suara menggeram. Sore hari yang masih cerah, berubah menjadi mencekam.


"Bu, apa itu Ibu?" tanyaku.


Namun suara itu tetap terdengar, kian lama semakin terdengar kencang dan jelas. Pintu terbuka dengan lebar.


Sosok wanita berbaju merah ada di sana. Mataku sontak terbuka lebar, menatap ke arahnya.


"Tak ada yang boleh merasakan kebahagiaan di sini!" teriak sosok itu.


Namun beda dengan sebelumnya aku yang hanyut dengan auranya. Saat ini dalam hatiku sontak membacakan ayat suci Al-Qur'an yang aku bisa.


Namun bukannya malah pergi, dia malah tertawa jahat. Cahaya merah pun saat ini mengelilingi seluruh tubuh sosok ini.


Dengan perlahan sosok itu terbang menghampiriku. Tangannya dalam posisi di leherku, dia seakan-akan ingin membunuhku saat ini.


Dalam hatiku tetap terus membacakan ayat suci Al-Quran. Aku percaya pertolongannya akan datang menyelamatkan aku.


Kian lama sosok ini benar-benar mencengkeram leherku dengan kuat. Napasku tersengal-sengal, hidupku di ujung tanduk lagi.


"Le-paskan!" ucapku.


Sosok itu hanya tertawa.


"Lepaskan? Seperti ini, ya?" tanya sosok itu dengan melepaskan cengkeramannya.


Lalu dengan kuat kembali mencekikku.


"Apa mau mu? Salahku apa?" tanyaku.


"Hahahaha." Lagi-lagi makhluk itu hanya tertawa, namun kali ini lebih menyeramkan.


"Aku mohon lepaskan aku!" ucapku.


"Tidak akan. Aku tak suka kebahagiaan di sini, kamu harus mati!" gertak makhluk itu.


Terasa udara sudah tak dapat masuk lagi ke hidungku karena cengkeraman makhluk itu terlalu kuat.


"Berhenti!" teriak seseorang dari luar.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2