Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Kabar Airin (3)


__ADS_3

Andre saat itu juga bergegas pergi ke sana, tak perlu waktu yang lama dia pun sampai, karena jarak rumah Andre dan Airin cukup dekat.


Saat dia datang sudah ada pihak kepolisian yang membawa dari pihak media cetak untuk segera pergi dari sana, sebab asisten rumah tangganya merasa keberatan kalau kematian majikannya di ekspose.


Saat Andre datang, keluarga Pak Santoso segera berpamitan untuk segera pulang.


"Kami pulang dululah, kamu urus itu teman kamu. Pagi-pagi nyusahin orang saja," ujar anak Pak Santoso yang perempuan, sembari melangkahkan kaki menuju luar kamar.


Terlihat Bu Nani mentoel bahu anaknya kala itu. Namun anak perempuannya terlihat sangat keras kepala, sehingga terus bicara kalau Airin menyusahkan keluarganya.


"Apaan sih, Ma. Memang nyusahin, udah tahu masih pagi-pagi buta. Kenapa harus bunuh diri, nggak nanti aja kalau siangan," ujar anak perempuan Pak Santoso.


Bu Nani dan Pak Santoso berkali meminta maaf ke Andre dan asisten rumah tangganya, perihal ucapan yang di lontarkan anak perempuannya itu.


Mereka berdua hanya mengiyakan, sebab tak ingin masalah ini berbuntut panjang. Saat mereka pergi dan pihak kepolisian memasang garis polisi, Andre menemani dan sesekali bertanya ke asisten rumah tangganya sebelum Airin meninggal.


Dan asisten rumah tangganya, bercerita ke Andre. Dari pihak kepolisian mengerahkan pasukan lumayan banyak, untuk melakukan olah TKP dan mengamankan keadaan dari pihak media yang mencoba meliput berita ini.


*******


Kak Andre dan Kak Dita di sini bercerita secara bergantian.


"Oh, jadi begitu ya ceritanya. Tuh anak perempuan Pak Santoso berasa kalau meninggal bisa berangkat sendiri, orang meninggal kok di kata nyusahin," ujar Tante Santi yang geregetan saat mendengar cerita Kak Dita dan Kak Andre.


"Iya, tuh. Kesel banget dengan celotehannya, orang bunuh diri kok di suruh pending siangan. Di kira delivery makanan apa?" sahut Jeje yang juga tampak kesal.


Nenek hanya terlihat menarik napas panjang, beliau tak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang tak peduli.


"Kira-kira bagaimana tuh perasaan orang tuanya saat mengetahui anaknya meninggal?" tanya nenek.

__ADS_1


"Mereka tahu menjelang tujuh hari kematian Airin, Tante. Sebab mereka berdua itu tahunya Airin ada di luar negeri, sehingga dia lebih acuh gitu," ujar Andre.


"Itu aja makanya Andre bisa jawab seperti itu, karena Mama, Papa Airin datang ke rumahku," sahut Kak Dita.


Di sini Kak Dita bercerita kalau kedatangannya ke rumah Airin itu, membuat pihak media ada yang membuat kabar kematiannya pihak ketiga.


"Siapa lagi pihak ketiga, kalau bukan aku? Sebab aku kan waktu itu datang, mereka tahu pas ada Andre juga di dalam rumah. Mereka menulis dugaan-dugaan itu, bahkan beberapa kali pihak media mendatangi rumahku," ujar Kak Dita.


Kak Dita melanjutkan ceritanya karena kabar itu, sehingga yang membuat kedua orang tua Airin datang ke rumah Kak Dita untuk melabraknya, karena sudah merebut Kak Andre dari Kak Airin.


Dia juga berucap kalau beritanya heboh juga saat itu, bahkan ada orang tak kenal saat Kak Dita lewat pun melihatnya dengan wajah yang gak suka. Lebih parahnya, ada yang langsung mengecam Kak Dita perusak hubungan orang, dia di kata pelakor.


"Ada yang ngatain pelakorlah, ada pula yang ngecam wanita yang nggak lakulah. Entahlah, saat itu aku down banget sampai nggak berani ke mana-mana," ujar Kak Dita dengan ekspresi yang terlihat sedih.


Aku melihat Dinar hanya diam, dia hanya menyimak cerita kedua kakaknya.


"Kasihan banget kamu, Dit," ujar ibu.


"Kan di buku nikah, ada tanggal pernikahannya. Apa mereka nggak semakin heboh?" tanya Tante Santi terlihat penasaran.


Kak Andre menjawab, kalau mereka menikah itu bersyukurnya tak ada satu pihak media yang meliput. Sehingga mereka memberikan kesaksian itu, tanpa menyebut tanggal pernikahannya dan Kak Andre menjelaskan ke pihak media kalau hubungannya dengan Airin hanya sebatas teman saja. Dan untuk Kak Dita dia juga menjelaskan hal yang sama, dia teman dari Airin.


Tentunya nggak mudah dari pihak media percaya begitu saja. Mereka tentunya juga minta klarifikasi ke pihak tempat mereka berdua menikah. Tapi lagi-lagi beruntungnya mereka, pihak tempat dia menikah mau membantu untuk bungkam tentang data pernikahan Kak Andre dan Kak Dita.


"Nah, sejak saat itu. Semingguan berlalu deh, kabar itu pun hilang dengan sendirinya," sahut Kak Andre.


"Gara-gara kabar itu, aku pun nggak bisa ke mana-mana. Takut para orang-orang itu menanyakan itu ke aku, aku nggak mau jadi artis dadakan. Hehehe," sahut Dinar.


Karena ucapan Dinar itu, membuat kami semua tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kan bagus dong, jadi aku punya temen artis?" aku mencoba mengejek Dinar.


Dinar terlihat mengernyitkan dahinya.


"Ya kali, Key. Aku terkenal karena kasus bunuh diri Kak Airin, nggak ada prestasi sama sekali. Hahaha," jawab Dinar.


"Eh, sudah-sudah. Jangan ngomongin orang yang meninggal terus, kasihan," ujar nenek.


Kami pun saat ini memutuskan untuk tak membahas kejadian itu. Mereka saling mengobrol dengan topik sendiri-sendiri, sedangkan kami bertiga, Jeje, Dinar dan aku malah bahas soal sosok hantu cewek yang menakutiku di kamar mandi itu.


Aku menjelaskan apa yang aku lihat ke mereka, aku menjelaskan keseraman itu. Mereka malah sangat takut, tapi penasaran dengan apa yang aku ucapkan.


"Ih, Key. Jangan nakut-nakutin, nanti kalau dia bertamu ke kamarku bagaimana?" ujar Jeje dengan wajah yang terlihat takut dan cemberut.


Aku dan Dinar hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jeje saat ketakutan. Kami tetap melanjutkan obrolan kami hingga aku juga bercerita ke mereka perihal Stevia, orang yang memberi kalung itu ke aku.


"Jangan lupain aku, kalau kamu dapat teman baru atau pun sahabat batu," ujar Dinar dengan menundukkan kepala.


"Aku pun nggak tahu rumah dan nggak pernah ketemu dia, Din. Kita tetap sahabat kok, berharap suatu saat kita bisa bersahabat bertiga juga sama Stevia," jawabku.


"Janji ya, jangan lupain aku walaupun kita berjauhan. Kamu tetap sahabat terbaikku, Key. Kalau pun suatu saat kamu hanya bertemu dan dekat dengan Stevia, tolong bilang ke dia dapat salam persahabatan dari aku, ya," ujar Dinar dengan tanpa ia sadari dia meneteskan setitik air matanya.


Aku dan Dinar saling berpelukan. Seakan-akan tak ingin berpisah lagi. Tiba-tiba saat itu terdengar suara dering ponsel ayah berbunyi.


Beliau bergegas mengambilnya di saku celananya, saat beliau melihat layar ponsel malah beliau menatap aku dan ibu secara bergantian.


"Kenapa, Yah?" tanya ibu karena ponsel ayah tak kunjung di terima panggilannya.


"Kevin." Ayah memberitahu dengan mata yang terbelalak seperti kaget di sana yang aku lihat.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2