
Mereka bergantian menatap ke arahku dengan tajam, sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Bukan urusan kita, itu terlalu berbahaya," ucap Ayah.
"Masalahnya ini sama orang yang berkelainan kejiwaannya, Nak," sahut Ibu.
"Mereka membunuh tanpa peduli latar belakang seseorang," ucap Ayah lagi.
Tapi entah kenapa rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Siang itu, ayah kembali lagi untuk bekerja. Sedangkan aku dengan Ibu berada di kamar ini.
Sebelum ayah pergi, beliau memberikan pesan kepada kami.
"Ingat, jika nanti walaupun kalian berada di sini tetap berhati-hati," ucap Ayah memperingati.
***
POV Ayah.
Setelah mengajak anak dan istriku pergi dari hotel, siang itu aku kembali untuk bekerja. Aku berjalan menuju kantor tempatku bekerja.
Setelah sampai kantor, aku kembali melanjutkan pekerjaan hingga sore tiba waktunya pulang. Jam kerja pun telah usai, aku menata barangku untuk segera pulang.
Tring...
Suara pesan masuk di ponselku.
Aku mengambil ponsel yang sedari tadi sudah ku masukan di dalam tas. Aku menatap layar ponsel, ada pesan dari nama Hendra teman sekantorku.
Kebetulan Hendra dari beberapa hari yang lalu, kata teman-teman kantorku tidak ada kabar. Mungkin ada kesibukan lain atau apalah aku juga tidak mengerti.
Aku baca pesannya.
"Dimas, sudah masuk kerja belum?" tanya Hendra di dalam pesan singkatnya.
"Sudah, Hen. Memangnya ada apa?" aku membalas pesannya.
"Boleh minta bantuan?" ujarnya lagi.
"Kalau aku bisa, insyaallah aku bantu," jawabku.
Setelah melihat pesan dari dia, aku menatap kearah teman kantorku yang sedang menata barangnya juga.
"Deni!" aku memanggil temanku.
Deni menoleh ke arahku sembari berkata, "Iya, ada apa?"
"Ini, aku dapat pesan singkat dari Hendra," ucapku sembari memberikan ponselku ke Deni.
Si Deni pun membaca pesan singkat dari Hendra.
"Bagaimana, kalau ku telepon saja?" ucap Deni.
"Iya, telepon saja," jawabku.
Deni segera menghubungi Hendra menggunakan ponselku.
Tuuuut-tuuuut!!
Deni mencoba menghubungi, tetapi panggilan pertama tak diangkat Hendra.
"Nggak diangkat," ucap Deni.
"Coba panggil sekali lagi. Kalau masih tidak bisa, ya sudah," ucapku.
Tuuuuut!!
"Halo," terdengar suara di seberang sana.
Tetapi suara Hendra, terdengar beda tidak seperti biasanya. Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia lagi sakit.
"Kamu ke mana saja, kok nggak pernah masuk kerja?" ucap Deni.
"Lagi ada kepentingan yang mendesak," jawabnya.
__ADS_1
"Ini aku Deni. Ngomong-ngomong ada apa? Oh iya, kenapa suaramu kok jadi beda?" tanya Deni, yang ternyata dia mempunyai pikiran sama denganku.
"A-aku lagi nggak enak badan. Kalian bisa menolongku?" ucap Hendra terbata-bata.
Kami masih mendengar ucapan Hendra dari seberang telepon. Kata Hendra, dia ingin minta bantuan ke kami, tetapi tak bisa ia bicarakan lewat telepon. Maka dari itu malam ini, dia ingin mengajak aku dan Deni bertemu.
Dia mengajak kami bertemu di taman, yang letaknya tepat di sebelah hotel bintang lima yang pernah keluargaku tinggali.
Kami mencoba bernegosiasi untuk bertemu di tempat lain. Karena di sana kami rasa tempatnya kurang efektik, gara-gara rumor di hotel itu beberapa hari ini.
"Bagaimana, Dim?" tanya Deni.
"Mau bagaimana lagi? Dia sepertinya lagi mendesak sehingga nggak bisa menjelaskannya langsung," ucapku
Tapi ternyata Hendra hanya bisa bertemu di sana, dan kami pun mengiyakan permintaannya. Kami sepakat bertemu nanti jam tujuh, aku dan Deni setuju kalau kami berdua sebelum berangkat ke taman, terlebih dahulu bertemu di dekat kantor ini lagi.
__________
Aku pun kembali ke hotel.
Tok tok tok....
"Bu, ini Ayah," ucapku.
Tak perlu waktu lama pintu pun mulai terbuka, terlihat anak kesayanganku yang membukanya.
"Ayah," ucapnya sembari menyalami tanganku.
Aku segera mengajaknya masuk. Setelah berada di dalam, aku membicarakan perihal Hendra tadi. Kali ini aku mendapatkan protes dari anak dan istriku.
****
POV Keyla.
Ayah pulang kerja langsung bercerita perihal teman kerjanya yang bernama Hendra, dia lama tidak masuk kerja. Kata ayah temannya itu meminta bantuan, tetapi yang membuat aneh dia tidak bisa menjelaskan alasannya saat di telepon.
Ayah dan temannya yang bernama Deni, nanti akan bertemu Om Hendra di dekat hotel mengerikan itu. Tetapi entah kenapa perasaan was-was menyelimuti hatiku.
Ternyata ibu merasakan apa yang aku rasakan, beliau juga khawatir. Kami berdua mencoba menghalangi niat ayah untuk pergi.
"Iya, dia seharusnya bisa menjelaskan alasannya di telepon. Kenapa harus bertemu? Apalagi di daerah sini udah terkenal rumor tentang hotel itu," sahut Ibu.
"Aku dan Deni juga tidak tahu, Bu. Mungkin ada alasan yang membuat dia tidak bisa memberikan alasan itu," ucap Ayah lagi.
Aku dan Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, ketika ayah berbicara kalau temannya bernama Hendra orang yang cukup baik. Selama ini dia yang selalu membantu temannya sekantor ketika kesusahan.
Memang Om Hendra, Ayah dan Om Deni berteman dengan baik. Dan mereka bertiga pula memiliki jabatan yang cukup penting di perusahaan. Sehingga aku dan ibu menyadari jika Ayah dan Om Deni tidak bisa menolak ketika salah satu temannya itu meminta bantuan saat ini.
Jam berputar begitu cepat bagiku, saat ini sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ayah bersiap-siap akan berangkat ke kantor, selain itu ayah juga harus menunggu kedatangan Om Deni.
Ayah berpamitan ke kami, tetapi entah kenapa rasanya aku ingin mencegah ayah untuk tidak berangkat. Rasanya ada yang tidak beres dengan semua ini.
"Ayah berangkat dulu, ya. Kalian harus hati-hati," ucap Ayah sebelum pergi.
"Tetapi Yah. Rasanya ada yang tidak beres deh ini," ucapku.
"Doakan Ayah selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa, ya," ucap Ayah sembari mengelus kepalaku.
Setelah itu, aku dan ibu mencium tangan ayah secara bergantian. Lalu ayah pergi meninggalkan kami di dalam kamar.
"Bu, rasanya ada yang tidak beres deh. Nggak mungkinkan orang sekitaran sini tidak tahu rumor itu? Bahkan semua orang mencoba menjauhi tempat sekitaran hotel itu," ucapku.
"Iya sih, Dek. Ayo kita berkemas, kita bawa semua barang, lalu segera pergi mengikuti Ayah," Ibu menyuruhku.
"Tetapi kenapa harus bawa semua barang?" tanyaku.
"Sudahlah, Ibu tidak bisa menjelaskan sekarang. Cepat berkemas," ucap Ibu sembari menata barang bawaan kami.
Ibu pun memesan taxi online dari bapak yang waktu pertama kali mengantar kami ke hotel itu. Aku mengekor di belakang ibu untuk melakukan check out dari hotel ini.
Tak perlu menunggu lama, mobil bapak itu datang. Beliau pun dengan sigap turun dari mobil, membantu memasukan barang bawaan kami ke bagasi mobil.
Kami pun masuk terlebih dahulu, lalu disusul bapak itu.
"Mau di antar kemana, Bu?" tanya Pak sopir.
__ADS_1
"Ke taman sebelah hotel waktu pertama kali bapak mengantar kami," ucap Ibu.
"Pak, ada kain untuk menutupi nomor kendaraan nggak ya?" tanyaku.
"Kenapa, Dek?" tanya Pak sopir.
"Untuk berjaga-jaga, Pak," ucapku sembari turun dari mobil.
Aku mengambil satu kaosku, sengaja aku robek untuk menutupi nomor kendaraan mobil bapak ini. Setelah itu, kami berangkat ke taman sebelah hotel mengerikan itu.
"Pak, nanti parkirnya agak jauh aja ya," ucap Ibu.
"Iya, Bu," jawab pak sopir.
Setelah mendekati taman, aku menyuruh bapak sopir untuk parkir di tempat yang biasanya untuk sopir taxi online mangkal.
Dari dalam mobil, aku melihat ada mobil yang sudah terparkir di depan taman, Mungkin itu mobil Om Deni. Tak berselang lama dari kami datang, aku melihat ada orang memakai hoodie hitam dan menggunakan topeng mendekati mobil itu. Kami sengaja bersembunyi di dalam mobil.
"Bu, orang itu," ucapku.
Orang itu terlihat mengempeskan ban mobil itu. Tidak cukup satu, tetapi dua ban mobil sebelah kanan. Setelah itu, dia masuk ke dalam taman.
Dari tempat mobil ini parkir, terlihat ayah dan Om Deni sedang duduk di kursi taman.
"Bu, orang itu terlihat menghampiri Bapak dan temannya," ucap Pak sopir sembari menunjuk ke arah mereka.
Aku melihat orang itu mengeluarkan senjata tajam dari dalam hoodie yang ia kenakan. Dengan cepat, senjata tajam itu digunakan untuk melukai tangan Om Deni.
Darah terlihat bercucuran dari bekas sabetan senjata tajam itu. Mereka berdua berlari ke arah mobil yang terparkir di depan kami. Aku yang melihatnya merasa gelisah, takut orang itu melukai ayahku juga.
"Bu, Ayah," ucapku panik.
Bapak sopir pun dengan spontan keluar dari mobil, beliau meneriaki ayah untuk segera masuk ke mobil ini.
"Bapak, ke sini," ucap pak sopir sembari melambaikan tangannya.
Mereka berdua terus di kejar orang itu. Orang itu sembari terus mengacungkan senjata tajamnya ke mereka. Kami semua panik dengan situasi ini.
Om Deni dan Ayah pun dengan cepat masuk ke dalam mobil sebelum orang itu berhasil menangkapnya. Pintu berhasil di tutup, ketika orang itu mencoba membacok ke arah ayah, sehingga senjata tajam terkena kaca mobil.
Pak sopir pun dengan cepat melajukan mobilnya.
"Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Ibu.
Aku melihat darah yang terus mengalir dari celah luka Om Deni, walaupun beliau mencoba menutupi luka itu dengan tangannya. Aku melihat wajah Om Deni menahan rasa sakit itu.
Ayah melepas baju yang dikenakannya, lalu berhasil beliau robek. Kemudian, robekan kaos itu digunakan untuk menutupi luka Om Deni.
"Lalu kita ke mana? Sepertinya orang itu sengaja untuk merencanakan ini semua," ucap Om Deni.
"Sepertinya, iya. Soalnya tadi dia sudah berhasil mengempesi mobil yang terparkir di depan mobil ini," ucap Ibu.
"Itu kan mobil kamu, Den. Dari postur tubuh orang itu, sepertinya bukan Hendra," sahut Ayah.
"Untuk keamanan kalian semua, kalian ke rumah saya saja," sahut Pak sopir.
Kami hanya mengiyakan niat baik dari pak sopir. Beliau membawa kami ke sebuah rumah, lalu memarkirkan mobil itu di depan rumah yang menurutku agak kecil.
"Silakan Pak, Bu. Ini rumah kontrakan saya, tetapi maaf jika kecil," ucap Bapak sopir.
"Makasih ya, Pak," ucap Ibu.
"Mari, masuk," ajak pak sopir.
Kami semua mengekor di belakang pak sopir.
Tok tok tok....
"Assalamualaikum." ucap Pak sopir sembari mengetuk pintu.
"Iya, sebentar," terdengar suara dari dalam rumah.
Kami hanya bisa menunggu pintu ini dibuka, memang sesekali kita juga menoleh untuk melihat situasi saat ini.
Bersambung....
__ADS_1