
"Sayang, ramai banget. Aku sudah sampai di depan rumahnya Airin, tolong tunggu di balik pintu secepatnya," tulisnya dalam pesan singkat ponselnya.
Dita berjalan dengan santainya karena di kira tak akan terjadi apa-apa, namun ternyata tindakan dia salah. Dia malah menjadi bahan liputan mereka, para awak media mengira Dita salah satu kerabat atau pun teman dari korban.
"Kak, boleh minta keterangannya. Apa Kakak tahu siapa pria yang menjadi penyebab kematian Airin ini?" tanya salah satu awak media.
Dita tetap melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan pertanyaan itu. Walaupun banyak polisi, tetapi awak media terlihat lebih banyak sehingga tak mampu mengendalikan kerumunan ini.
"Kak, kalau boleh tahu Kakak ini siapa? Saudara atau sahabatnya? Boleh bertanya-tanya sedikit perihal kehidupan Airin?" tanya awak media secara bergantian.
Dita tetap berusaha menyerobot kerumunan orang-orang itu, tak ada sepatah kata pun dia utarakan. Dia tak mau masalah ini menjadi semakin runyam kala dia salah memberikan informasi.
Dia dengan susah payah menerobos kerumunan itu, tak jarang pula kakinya terinjak dan lengannya tergores sesuatu yang gak diketahuinya. Usahanya pun berhasil hingga pintu depan rumah Airin, dia mengetuk pintu untuk menandakan ke Andre kalau dia berada di depan pintu itu.
Andre pun dengan sigap membuka pintu itu, lalu menarik tangan kekasihnya itu. Saat pintu terlihat terbuka, beberapa awak media mencoba-coba untuk meliput sebisanya. Andre ketika Dita berhasil masuk rumah, segera menutup dan mengunci pintu itu seperti sedia kala.
Dita terlihat ngos-ngosan karena harus bersusah payah hingga bisa masuk rumah.
"Sayang, gimana Airin? Apa orang tuanya sudah tahu?" tanya Dita saat itu ke Andre.
Andre terlihat mengenduskan napasnya dengan cepat.
"Ya itu kendalanya. Papanya di hubungi, Bibi belom sampai menjelaskan malah Papanya bilang dia di luar negeri liburan, setelah itu segera mematikan ponselnya. Terus Mamanya belum bisa dihubungi sama sekali, nomornya tidak aktif," jawab Andre.
"Ya Allah, sampai kematiannya pun orang tua tak ada di sampingnya. Orang tuanya tak peduli," ujar Dita merasa heran.
Kami memutuskan berjalan menuju TKP tempat bunuh diri Airin yang berada di lantai dua, terlihat beberapa polisi juga ada yang berada di tangga.
__ADS_1
Kami tetap melanjutkan obrolan kami.
"Iya, tadi kebetulan Bibi ke ingat aku. Nah dia ambil ponsel Airin yang kebetulan nggak ada kunci khusus di ponselnya, sehingga memudahkan untuk mencari nomorku lalu menghubungi aku tadi," ujar Andre.
"Terus kok bisa buka pintunya itu gimana? Bukannya di koran di jelaskan, kalau kunci cadangan pintu kamarnya itu sudah nggak ada?" tanya Dita tampak penasaran.
"Itu yang menjadi berita ini menyebar, awalnya Bibi itu khawatir dengan Airin. Dia memanggil-manggil tak ada sautan apa pun dari dalam, bahkan sebelumnya dia terdengar menangis namun saat malam tak mendengarnya lagi." Andre menghentikan ucapannya sebentar.
"Terus, yank?" Dita bertanya-tanya.
Si Andre bercerita, bibi terlihat panik saat tak mendapat respon apa pun dari Airin. Sehingga beliau tanpa berpikir panjang segera keluar rumah untuk pergi ke rumah tetangganya saat pagi-pagi buta itu.
Suasana hening, saat masih gelap namun tak menyulutkan niatan bibi untuk tetap minta tolong tetangganya.
Kata bibi saat dia menengok ke arah lantai dua, terlihat ada sosok perempuan di balik gorden terlihat menatapnya. Namun sosok itu tak terlihat jelas, sehingga yang bibi kira itu adalah Airin.
Saat itu sebenarnya bibi ingin mengurungkan niat untuk ke tetangganya, sebab sudah melihat sosok wanita itu. Tetapi entah rasa khawatir yang mendorongnya untuk tetap ke rumah tetangganya.
"Ada apa, Bi?" tanya wanita yang mempunyai rumah.
"Gini Bu Nani, saya mau minta tolong Pak Santoso untuk membantu mendobrak pintu Non Airin. Sebab sudah dua hari dia nggak keluar kamar," jelas bibi.
Mereka terlihat bingung sebab masih dalam keadaan yang mengantuk. Mereka juga lama untuk meresponnya.
"Kan ada kunci cadangan? Kenapa ribet banget sih," jawab anak perempuan mereka dengan ketus.
"Iya, nih. Ganggu orang tidur saja," sahut anak lelakinya.
__ADS_1
"Maaf, kuncinya saya cari sudah nggak ada di tempatnya. Saya mohon bantu, saya," ujar bibi saat itu dari cerita Andre.
Andre mengetahui cerita itu dari bibi saat dia menemani. Sepasang suami istri itu tanpa basa-basi segera mengiyakan permintaan bibi. Mereka kembali berjalan menuju rumah Airin, saat bibi kembali mencoba melihat jendela lantai atas, tenyata sosok itu sudah tak ada berada di sana.
Bibi terlihat tergesa-gesa, akhirnya mereka sampau di lantai dua rumah itu. Pak Santoso dan anak laki-lakinya dengan susah payah mencoba mendobrak pintu itu, namun perlu waktu lama untuk bisa membukanya.
Saat pintu berhasil terbuka, mereka secara bersamaan pun berteriak.
"Aaaaaaaaa," teriak kami semua secara bersamaan.
Terlihat Bu Nani dan anak perempuannya berpelukan sedangkan bibi hanya terpaku melihat ke arah kamar itu.
Setelah itu, dia menangis histeris saat melihat Airin sudah menggantung di dekat kamar mandi menggunakan tali tambang. Bibi dengan cepat berlari ke arah Airin, setelah itu mencoba meraih kaki Airin yang menjuntai ke bawah. Namun tindakannya berhasil di hentikan oleh anak lelaki Pak Santoso.
"Eh, jangan di pegang. Aku hubungi polisi," ujar anak lelaki Pak Santoso sembari rogoh saku celananya. Dia terlihat serius dan selsama.saat mengobrol dengan orang yang dihubinginya.
Dia dengan cepat menghubungi pihak kepolisian, asisten rumah tangga Airin meihat ke adaan Airin mengalami shock.
Saat menunggu pihak kepolisian datang, keluarga pak santoso menyuruh asisten rumah tangga Airin untuk segera menghubungi orang tuannya, namu malah tak ada respon sama sekali.
Asisten rumah tangga pun bingung, selama ini dia tak pernah melihat Airin dekat dengan siapa karena posisi Airin yang jauh di luar negeri.
Tiba-tiba, asisten rumah tangga Airin teringat Andre teman baiknya dulu sewaktu sekolah. Dengan cepat dia mengambil ponsel Airin yang tergeletak di kasur, lalu dia mencari-cari nomornya. Saat dia membuka riwayat panggilan, dengan mudah dia menemukan nama Andre di sana.
Sebab ada riwayat panggilan yang tak di jawab oleh Airin. Asisten rumah tangga Airin beberapa kali menghubungi Andre, namun tak ada jawaban sebab pagi-pagi buta kemungkinan besar Andre masih tertidur.
Tetapi keluarga Pak Santoso menyarankan, agar terus tetap menghubunginya. Akhirnya dengan menunggu cukup lama, akhirnya si Andre pun mengangkat ponselnya dan segera mengiyakan ucapan asisten rumah tangga Airin untuk segera ke sana.
__ADS_1
Saat itu juga entah apa yang di perbuat anak Pak Santoso, sehingga media cetak bisa mengetahui kabar ini. Dengan cepat sebelum pihak kepolisian datang, ada dari media cetak ada yang datang untuk mengorek informasi itu.
Bersambung ....